Chapter Fourteen
Lima Huruf
Kampanye itu dimulai hari Selasa, dan berlangsung sebelas hari.
“Rein.”
“Hm.”
“Panggil namaku.”
Aku mengangkat wajah dari laporan teori. Perpustakaan bawah tanah, jam empat sore, dua roti isi di meja (satu sudah setengah dimakan olehnya). “Elysia.”
“Bukan itu.”
“Itu namamu.”
“Itu nama yang dipakai delapan ratus orang.” Dia meletakkan pena. “Aku mau yang lain.”
“Frostheim?”
“Rein.”
“Nona Frostheim?”
Dia melempar penghapus. Aku menangkapnya.
Hari kedua. Aula Resonansi, di tengah latihan aliran mana.
“Lys.”
“Hm?”
“Coba panggil aku begitu.”
“Kenapa?”
“Ibuku memanggilku begitu.” Dia menatap lantai sigil, dan suaranya turun sedikit. “Dulu. Sebelum beliau meninggal. Setelah itu tidak ada lagi yang pakai — ayahku bilang nama pendek itu tidak pantas untuk pewaris Frostheim.”
Aku diam beberapa saat.
“Kalau begitu itu nama yang penting.”
“Iya.”
“Kenapa aku?”
Dia mengangkat wajahnya, dan menatapku seperti aku baru saja bertanya kenapa air itu basah.
“Karena kamu satu-satunya orang yang tidak akan memakainya untuk mendapatkan sesuatu.”
Aku membuka mulut.
Lalu menutupnya, karena tenggorokanku mendadak tidak berfungsi, dan karena aku menyadari — dengan panik — bahwa kalau aku mencoba mengucapkan tiga huruf itu saat ini, suaraku akan pecah di tengah dan itu akan jadi hal paling memalukan yang pernah terjadi padaku di dua dunia.
“Lain kali,” kataku.
“Kamu bilang begitu kemarin.”
“Kemarin aku juga benar.”
Hari keempat. Kelas 1-C, di tengah pelajaran teori formula rangkap.
Selembar kertas digeser ke arahku di bawah meja.
Panggil aku Lys.
Kubalas.
Prof. Maren sedang melihat.
Kertas kembali.
Prof. Maren selalu sedang melihat. Panggil.
Aku menulis:
Nanti.
Kertas kembali dengan tulisan yang jelas ditekan lebih keras dari sebelumnya:
NANTI kapan.
Aku sedang menulis balasan ketika sebuah tangan mengambil kertas itu dari mejaku.
Prof. Maren Vale membaca kertas itu di depan kelas, dari atas kacamata setengahnya, dengan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun.
Lalu beliau melipatnya, memasukkannya ke saku jubahnya, dan berkata pada seluruh kelas:
“Formula rangkap gagal karena satu pihak menunda memberikan responsnya. Halaman delapan puluh dua.”
Elysia, di sebelahku, menyalin catatan dengan wajah merah padam.
Aku menatap papan tulis dan berdoa agar lantai menelanku.
Dari baris tiga, Gart Oakley memberi acungan jempol ke belakang tanpa menoleh.
Hari kedelapan. Taman atap. Sore. Dia sedang merajuk.
Merajuk versi Elysia von Frostheim terlihat seperti ini: duduk di bangku batu dengan punggung selurus tombak, menatap lurus ke depan, membalas semua ucapanku dengan satu kata, dan — ini bagian pentingnya — duduk lima senti lebih dekat dari biasanya.
“Roti?”
“Tidak.”
Aku menaruh roti di pangkuannya.
Dia memakannya. Masih menatap lurus ke depan.
“Kamu marah.”
“Tidak.”
“Manamu—”
“Kalau kamu bilang manaku bergetar sekali lagi,” katanya, masih tanpa menoleh, “aku bekukan pohon plum ini.”
Kami duduk dalam diam. Angin lewat. Kelopak kering jatuh.
“Kenapa sulit sekali,” katanya akhirnya, lebih pelan. “Cuma tiga huruf.”
Aku tidak menjawab, karena jawabannya terlalu memalukan untuk diucapkan.
Jawabannya begini: karena selama tiga tahun aku tidak memanggil siapa pun dengan nama apa pun. Karena memanggil nama seseorang berarti mengakui bahwa mereka ada di hidupmu. Karena setiap kali aku hampir mengucapkannya, ada bagian dari otakku — bagian tua, bagian yang menyusun tiga aturan itu — yang berteriak bahwa begitu kata itu keluar dari mulutku, tidak akan ada jalan kembali.
Dan bagian itu benar.
Itu sebabnya sulit.
Hari kesebelas. Babak penyisihan kedua turnamen.
Lawan kami dari Akademi Ironhold: dua bersaudara, atribut Logam, dengan taktik yang telingaku baca dalam empat puluh detik pertama — mereka tidak menyerang Elysia. Mereka menyerang aku.
Masuk akal. Aku Rank E. Aku titik lemah pasangan mana pun.
Yang tidak mereka perhitungkan: Elysia sudah tahu itu akan terjadi, dan Elysia dalam mode melindungi adalah salah satu hal paling menakutkan yang pernah kulihat.
“[Aurora Lance].”
Tombak cahaya-es menembus perisai logam kakak beradik itu seperti menembus kertas. Dua kali. Tiga kali. Dia bahkan tidak memakai [Frostveil] — dia tidak bertahan sama sekali, dia menyerang terus-menerus supaya mereka tidak punya satu detik pun untuk melirik ke arahku.
Aku berdiri di belakangnya dan tidak melakukan apa-apa, sesuai perjanjian.
Sampai si adik memutar arah.
Dia melempar tiga bilah logam melengkung — bukan ke Elysia, tapi memantul dari dinding arena, jalur yang tidak terlihat dari sudut Elysia, ke punggungnya yang terbuka.
Aku melihatnya. Aku mendengarnya. Dan aku punya sekitar setengah detik.
Aku tidak bisa memakai [Dissonance] — dua belas ribu orang, artefak perekam, dan kepalaku masih belum pulih dari babak pertama.
Jadi aku melakukan hal paling sederhana yang bisa dilakukan seorang manusia biasa.
Aku menariknya.
Kutarik pergelangan tangannya sekuat tenaga ke belakang, dan tubuhnya jatuh menabrak dadaku, dan tiga bilah logam itu lewat sepuluh senti di depan hidungnya dan menancap di lantai arena.
Dua belas ribu orang berteriak.
Elysia mendongak menatapku dari posisi setengah jatuh di lenganku, mata membelalak, napas tersengal.
Dan tanpa berpikir, tanpa menyaring, tanpa satu pun lapisan pertahanan yang tersisa, aku berkata:
“Lys. Belakang.”
Waktu berhenti.
Bukan kiasan — aku bisa mendengar sendiri bahwa mananya berhenti mengalir selama satu detik penuh, seperti jantung yang lupa berdetak.
Matanya membesar. Wajahnya, di tengah arena, di depan dua belas ribu penonton, memerah dari leher sampai ke telinga.
“...Kamu—”
“BELAKANG!”
Si kakak sudah mengangkat palu logam.
Dan Elysia von Frostheim — dengan wajah merah padam, mata berkaca-kaca, dan senyum yang sama sekali tidak pantas ada di medan pertandingan — berbalik, mengangkat kedua tangannya, dan melepaskan sesuatu yang membuat komentator berteriak sampai suaranya pecah.
“[Stella Bloom].”
Lantai arena meledak jadi medan bintang.
Ribuan titik es sebesar kepalan tangan muncul melayang di seluruh arena, berputar pelan, berkilauan seperti langit malam yang jatuh ke tanah — lalu menutup serentak.
Kakak beradik Ironhold itu terkubur dalam kubah es setinggi lima meter dalam waktu dua detik.
“MENYERAH—! KAMI MENYERAH!”
“PEMENANG! ARCANUM SPIRE!”
Tribun meledak. Bunga es berjatuhan. Komentator meneriakkan sesuatu tentang [Stella Bloom] yang belum pernah terlihat sekuat itu, tentang Frostheim yang naik level di tengah pertandingan, tentang keajaiban tahun pertama.
Di tengah arena, Elysia berbalik menghadapku.
Rambut peraknya berantakan. Wajahnya merah. Ada bunga es kecil menempel di bahunya.
“Sekali lagi,” katanya.
“Apa?”
“Panggil sekali lagi.”
“Kita masih di arena. Ada dua belas ribu—”
“Rein Gray.” Dia melangkah maju, satu langkah, dan sekarang jarak kami dua puluh senti dan dua belas ribu orang jadi sangat, sangat tidak penting. “Sekali. Lagi.”
Aku menghela napas.
“...Lys.”
Dan peringkat satu Akademi Arcanum Spire menutupi wajahnya dengan kedua tangan di tengah arena, di depan penonton sekontinen, sementara komentator dengan panik mencoba menjelaskan bahwa Nona Frostheim tampaknya sangat terharu atas kemenangan ini.
Malamnya, di perpustakaan bawah tanah, dia menaruh sesuatu di mejaku.
Sehelai pita rambut biru muda. Warna yang sama dengan syal.
“Untuk apa?”
“Untuk tidak apa-apa.” Dia duduk di seberangku, membuka bukunya, dan menyembunyikan wajahnya di balik halaman. “Simpan saja.”
Aku menatap pita itu.
“Kamu tidak bisa mengikat rambut tanpa ini.”
“Aku punya banyak.”
“Kamu memakai yang ini setiap hari selama dua bulan.”
“...Rein.”
“Ya?”
“Simpan. Saja.”
Kusimpan.
Dan sepanjang malam itu, setiap kali dia melirik ke arah saku seragamku tempat pita itu kumasukkan, mananya berdengung dengan nada yang — setelah dua bulan penelitian intensif — sekarang bisa kuidentifikasi dengan sangat percaya diri sebagai nada seseorang yang sedang sangat, sangat senang dan mati-matian berpura-pura tidak.
(bersambung ke Bab 15)
- 1 Tiga Aturan untuk Tidak Dikenal
- 2 Satu Detik yang Menghancurkan Tiga Tahun
- 3 Kursi Paling Belakang, Deret Paling Pojok
- 4 Kebetulan Tingkat Lanjut
- 5 Hening yang Punya Nama
- 6 Cara Menang Tanpa Menyerang
- 7 Syal
- 8 Hal-Hal yang Tidak Dilihat Orang Lain
- 9 Dua Jam yang Tidak Kuceritakan pada Siapa Pun
- 10 Di Dekat Kamu, Dunia Sunyi
- 11 Movement I
- 12 Aku Duluan
- 13 Hari Pertama Sebagai Sesuatu yang Belum Ada Namanya
- 14 Lima Huruf reading
- 15 Orang yang Bertanya dengan Benar
- 16 Ritual
- 17 Interlude: Es yang Terlalu Sunyi
- 18 Tiga Hal yang Terjadi di Hari yang Sama
- 19 Konduktor
- 20 Salju Pertama
- 21 Seratus
- 22 Utang Satu Roti
- 23 Adipati
- 24 Empat Puluh Tujuh Halaman
- 25 Semifinal
- 26 Final, Bagian Pertama
- 27 Requiem
- 28 Kalimat yang Diucapkan dengan Tenang
- 29 Tujuh Hari
- 30 Sidang
- 31 Yang Tidak Ditulis Sejarah
- 32 Kesaksian yang Sunyi
- 33 Dua Himne
- 34 Tujuh Hari Kedua
- 35 Fajar Hari Ketujuh
- 36 Dinding
- 37 Ikrar
- 38 Winter Requiem
- 39 Yang Tersisa Setelah Salju
- 40 Epilog: Kursi Paling Belakang
- 41 Extra 1 — Rumah yang Terlalu Besar
- 42 Extra 2 — Festival (Side Story: Gart & Sera)
- 43 Extra 3 — Kencan yang Direncanakan Terlalu Matang
- 44 Extra 4 — Gudang Penggilingan
- 45 Extra 5 — Tujuh Generasi (Penutup)