← Chapters Ch. 17 / 45

Chapter Seventeen

Interlude: Es yang Terlalu Sunyi

POV: Elysia von Frostheim

Ayahku pernah berkata bahwa sihirku cacat.

Aku berumur sembilan tahun waktu itu. Aula latihan rumah utama Frostheim, musim dingin, tiga instruktur berdiri di belakang beliau dengan buku catatan.

“Lagi,” kata Ayah.

Aku membentuk [Frostveil]. Dinding es naik. Sempurna — tebal, rapat, tanpa cela, lebih tinggi dari yang bisa dibuat anak seusiaku di seluruh kontinen.

Salah satu instruktur menuliskan sesuatu. Ayah tidak melihat dindingnya.

“Dengar,” katanya pada instruktur. “Tidak ada apa-apa.”

Aku tidak mengerti maksudnya sampai bertahun-tahun kemudian.

Sihir Frostheim seharusnya bergemuruh. Es keluarga kami terkenal karena suaranya — retakan yang menggelegar, dinding yang naik dengan raungan seperti gletser patah, gemuruh yang bisa didengar dari seberang lembah dan membuat pasukan musuh berbalik sebelum bertempur. Itu bagian dari legenda. Itu bagian dari nama.

Esku naik tanpa suara.

Setiap kali. Sekuat apa pun. Sedingin apa pun. Dinding setinggi dua puluh meter yang muncul tanpa satu pun gemuruh, seperti salju yang turun di malam tanpa angin.

Mereka menyebutnya Stillfrost Vein. Garis darah tua yang muncul sekali dalam beberapa generasi, dan yang menurut catatan keluarga kami adalah “pengenceran”: darah Frostheim yang kehilangan suaranya.

Ayah tidak pernah memarahiku karena itu. Beliau melakukan sesuatu yang jauh lebih efisien.

Beliau menyuruhku jadi peringkat satu di segalanya, supaya tidak ada yang sempat memperhatikan bahwa esku tidak bersuara.

Dan aku berhasil. Selama tujuh tahun, aku berhasil.

Aku peringkat satu di setiap ujian. Aku Rank S termuda dalam satu dekade. Aku berjalan di koridor dengan dagu terangkat lima derajat dan tiga ratus orang menyingkir tanpa disuruh.

Dan setiap malam aku pulang ke kamar asrama dan duduk di tepi ranjang dalam ruangan yang sunyi, dan menyadari bahwa aku tidak punya satu orang pun yang tahu apa makanan kesukaanku.


Lalu, di hari ujian masuk, sebuah bola api liar datang ke arahku.

Aku ingat semuanya dengan sangat jelas. Aku ingat menghitung: sigil pertahanan, tiga detik, cukup. Aku ingat berpikir ini akan menahan. Aku ingat sama sekali tidak takut, karena sejak umur sembilan tahun aku dilatih untuk tidak takut.

Dan aku ingat seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan poni terlalu panjang yang tersandung dari barisan tengah, menjentikkan jarinya, dan menghapus sihir tingkat empat dari udara seperti orang meniup lilin.

Lalu berbaring di tanah.

Dan berpura-pura pingsan.

Aku berdiri di tengah lapangan itu selama sepuluh detik penuh, menatap punggungnya yang tergeletak di antara debu cahaya keemasan, dan sesuatu di dalam kepalaku — sesuatu yang sudah tujuh tahun terkunci rapi — retak dengan suara yang sangat pelan.

Karena aku menghabiskan seluruh hidupku di antara orang-orang yang ingin dilihat.

Ayahku ingin dilihat. Para instruktur ingin dilihat. Setiap bangsawan yang mengirim surat ke asrama, setiap murid yang menyapaku di koridor dengan senyum terlalu lebar, setiap orang yang pernah memanggil namaku — semuanya menginginkan sesuatu, dan semuanya ingin terlihat sedang menginginkannya.

Lalu ada dia. Yang menyelamatkan nyawaku, dan yang reaksi pertamanya adalah memastikan tidak ada yang berterima kasih.

Aku ingin tahu siapa dia.

Aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu rasa penasaran.

Aku berbohong sejak hari pertama.


Yang tidak kuduga adalah bagian ini:

Bahwa aku bisa melepas pita rambutku di depan seseorang.

Bahwa aku bisa menguap.

Bahwa aku bisa mengeluh tentang surat ayahku dan orang itu tidak berkata “tapi beliau melakukannya untuk kebaikanmu, Nona” — dia cuma berkata “nilaimu tidak akan turun” dengan wajah datar, seperti sedang melaporkan cuaca, dan entah bagaimana itu adalah hal paling menenangkan yang pernah dikatakan siapa pun padaku.

Bahwa aku bisa tertidur — tertidur — di ruangan bawah tanah, di bahu orang lain, selama dua jam, dan bangun dan menemukan orang itu tidak bergerak satu sentimeter pun demi tidak membangunkanku.

Aku tidak tidur nyenyak sejak umur sembilan tahun.

Dan malam itu aku tidur di bahunya seperti orang yang tidak punya satu pun beban di dunia.


Ada satu hal lagi.

Sesuatu yang belum kukatakan pada siapa pun, termasuk padanya.

Saat dia bilang “di dekat kamu, dunia sunyi” — di taman atap, dengan darah di bibirnya dan suara yang pecah di tengah — aku hampir menangis bukan karena kalimatnya.

Aku hampir menangis karena aku mengerti.

Seumur hidupku, “sunyi” adalah kata yang dipakai orang untuk menjelaskan apa yang salah denganku. Es yang tidak bersuara. Darah yang mengencer. Cacat yang harus ditutupi dengan peringkat satu.

Lalu datang satu orang di seluruh dunia yang bilang bahwa keheningan itu adalah hal terbaik yang pernah dia rasakan.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi di dalam dadaku saat itu. Aku sudah mencoba menulisnya tiga kali di buku catatan dan merobek ketiganya.

Yang paling dekat adalah ini:

Selama tujuh tahun aku dilatih untuk jadi sempurna supaya tidak ada yang mendengar bahwa aku sunyi.

Dan dia mencariku karena aku sunyi.


“Nona Frostheim. Suratnya.”

Petugas asrama menyerahkan amplop bersegel lilin biru. Segel Adipati.

Aku membukanya di kamar, sendirian, dengan lampu yang sudah kukecilkan.

Isinya seperti biasa — evaluasi peringkat, jadwal libur musim dingin, daftar keluarga yang harus kusapa. Lalu, di paragraf terakhir:

Aku mendengar tentang penampilanmu di turnamen. Baik. Namun aku juga mendengar laporan mengenai kedekatanmu dengan partnermu yang tidak sesuai dengan standar rumah ini. Ingat siapa dirimu. Ingat bahwa segala sesuatu yang kau sentuh akan dinilai dengan namamu.

Aku akan hadir di final.

Aku membaca baris terakhir itu empat kali.

Lalu kulipat suratnya, kumasukkan kembali ke amplop, dan kuletakkan di laci paling bawah bersama enam belas surat lain yang tidak pernah kubalas.

Aku duduk di tepi ranjang dalam kamar yang gelap untuk waktu yang cukup lama.

Aku memikirkan hal-hal yang tidak akan pernah kukatakan dengan suara keras.

Aku memikirkan bahwa Rein mimisan di lorong dan berhenti bernapas selama empat detik, dan bahwa aku berbohong pada petugas kesehatan tanpa ragu sedikit pun, dan bahwa aku akan melakukannya lagi seratus kali.

Aku memikirkan gadis tahun kedua dari Klub Jurnal yang memanggilnya dengan nama depan, yang tertawa terlalu keras, yang punya mata cokelat besar dan senyum yang membuat orang menoleh di koridor — dan yang, menurut informasi yang tidak kucari tapi entah bagaimana kudapat juga, menghapus rekaman yang bisa menghancurkan hidup Rein dan tidak meminta apa pun sebagai gantinya.

Aku tidak membencinya.

Itu bagian yang paling menyebalkan. Aku ingin sekali membencinya dan aku tidak bisa, karena dia melindungi orang yang sama denganku.

Tapi aku juga tahu satu hal dengan sangat jernih:

Aku tidak akan mengalah.

Bukan pada gadis Klub Jurnal. Bukan pada ayahku. Bukan pada Gereja Choir Suci, kalau mereka datang. Bukan pada seluruh kontinen ini kalau harus.

Selama tujuh tahun aku dilatih untuk memenangkan segalanya demi nama yang tidak pernah menanyakan kabarku.

Sekarang aku tahu rasanya menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri.

Dan aku Frostheim.

Kami tidak kalah dalam hal yang benar-benar kami inginkan.


Aku bertemu dengannya keesokan paginya di taman atap, dengan dua roti isi yang sudah kubeli duluan — untuk pertama kalinya, aku yang membeli — dan wajahnya waktu melihat itu, kaget dan bingung dan tidak tahu harus menaruh tangannya di mana, adalah hal yang akan kuingat sangat lama.

“Kenapa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa.”

“Kamu tidak pernah beli.”

“Sekarang beli.” Aku duduk di sebelahnya, bahu ke bahu. “Makan.”

Dia makan.

Angin lewat. Pohon plum tua menjatuhkan sesuatu ke pangkuanku. Di bawah kami, delapan ratus murid mulai berdatangan.

Dan aku duduk di sana di sebelah satu-satunya orang di dua dunia yang pernah mendengar keheningan dan menyebutnya indah, dan berjanji pada diriku sendiri — dengan tenang, tanpa drama, seperti orang menandatangani dokumen:

Apa pun yang datang nanti.

Aku tidak akan membiarkannya berdiri sendirian.

(bersambung ke Bab 18)