Chapter One
Tiga Aturan untuk Tidak Dikenal
Ada tiga aturan untuk bertahan hidup di dunia ini.
Satu: jangan menonjol. Dua: jangan menonjol. Tiga: kalau kamu tidak sengaja menonjol, pura-pura pingsan.
Aku menyusun aturan itu tiga tahun lalu, di malam pertama aku terbangun di dunia ini — di tengah ladang gandum milik orang, dengan tubuh remaja yang bukan tubuhku, dan telinga yang mendadak bisa mendengar segalanya.
Bukan suara. Kalau cuma suara, aku tinggal beli sumbat telinga.
Yang kudengar adalah mana. Energi sihir yang mengalir di udara dunia ini seperti sungai tak terlihat. Bagi orang lain, mana itu hening. Bagi telingaku, setiap manusia adalah alat musik yang dimainkan terus-menerus tanpa pernah di-stem. Satu orang: dengungan. Sepuluh orang: keramaian pasar. Seratus orang?
Seratus orang adalah alasan kenapa pagi ini, di depan gerbang Akademi Sihir Arcanum Spire, aku berdiri sambil menghitung mundur dari sepuluh dan meyakinkan diriku sendiri bahwa muntah di hari ujian masuk itu melanggar Aturan Satu.
Sepuluh. Sembilan. Delapan.
Menara akademi menjulang di depanku, menembus awan, berlapis-lapis seperti kue pengantin yang dibangun dewa yang pamer. Konon makin tinggi lantaimu, makin tinggi rankingmu. Aku sudah tahu tempatku: lantai paling bawah, kelas paling pojok, kursi paling belakang.
Sempurna. Aku bahkan sudah menghafal denah gedungnya. Ada tiga rute dari asrama ke ruang kelas tahun pertama yang tidak melewati aula utama. Rute nomor dua punya bonus: tidak ada jendela, jadi tidak ada yang bisa melihatku dari lantai atas.
Kalian mungkin bertanya: kalau sebegitu bencinya keramaian, kenapa repot-repot masuk akademi paling ramai sekontinen?
Jawabannya sederhana dan menyebalkan: karena orang tanpa afiliasi itu mencolok. Pemuda enam belas tahun yang hidup sendirian di pinggir kota, tidak bekerja pada siapa pun, tidak sekolah di mana pun? Itu undangan terbuka untuk diperiksa. Dan diperiksa adalah hal terakhir yang boleh terjadi padaku.
Sedangkan murid Rank E di akademi raksasa? Tidak ada makhluk yang lebih tak terlihat di seluruh Aetheria. Bahkan sistem absen kadang lupa mereka ada.
Tiga tahun aku menabung untuk biaya pendaftaran. Tiga tahun kerja di gudang penggilingan tua di pinggir kota — pekerjaan yang kupilih dengan riset mendalam, karena cuma ada satu pegawai lain dan dia tuli.
Masa-masa yang indah.
“BERIKUTNYA! NOMOR 141 SAMPAI 160, MASUK KE AULA PENGUKURAN!”
Suara petugas menggelegar. Nomorku 157. Aku menarik napas, menunduk sedikit — postur yang sudah kulatih di depan cermin: cukup bungkuk untuk terlihat tidak meyakinkan, tidak cukup bungkuk untuk menarik simpati — dan melangkah masuk bersama sembilan belas calon murid lain.
Kebisingan mana menghantam seperti ombak.
Tahan. Senyum tipis. Bukan, jangan senyum, nanti dikira ramah. Wajah datar. Wajah tembok. Kamu adalah tembok, Rein. Tembok tidak punya bakat sihir. Tembok tidak diajak ngobrol.
Aula Pengukuran berbentuk lingkaran, dengan dua puluh pilar kristal setinggi orang dewasa berjajar melingkar. Appraisal Sigil. Alat pengukur Core. Kau letakkan tanganmu, kristalnya membaca inti manamu, lalu memuntahkan vonis yang menentukan sisa hidupmu: E, D, C, B, A, atau — kalau kau adalah anugerah dewa yang berjalan — S.
Aku sudah menyiapkan diri untuk bagian ini selama berbulan-bulan. Latihan menekan resonansi Core-ku serendah mungkin, meniru “kebisuan” mana orang-orang tak berbakat yang kudengar di pasar. Hasil idealku hari ini: Rank E murni, tanpa catatan, tanpa keanehan.
“Nomor 157.”
Aku maju. Petugas pengukur — pria paruh baya dengan wajah orang yang sudah melihat sepuluh ribu remaja dan tidak terkesan pada satu pun — menguap sambil menunjuk kristal.
“Tangan.”
Kuletakkan tanganku di permukaan kristal, dan kutekan seluruh keberadaanku serendah-rendahnya. Aku tembok. Aku lumut di tembok. Aku debu di lumut di—
Krak.
...
Itu bukan suara yang seharusnya keluar dari alat pengukur.
Permukaan kristal meretak seperti kaca kena batu. Cahaya di dalamnya berkedip panik — hijau, biru, ungu, lalu warna yang kuyakin tidak punya nama — sebelum memuntahkan tulisan yang bergetar di udara:
┌─ HASIL PENGUKURAN ─────────┐
│ Nama : Rein Gray │
│ Core Rank : E (ERROR) │
│ Atribut : ---- │
│ Catatan : ####ERROR##### │
└────────────────────────────┘
Keringat dingin merambat di tengkukku.
Pura-pura pingsan? Belum. Aturan Tiga itu jurus pamungkas. Tenang. Analisis.
Petugas itu menatap layar retak, lalu menatapku, lalu menatap layar lagi. Aku memasang ekspresi yang sudah kulatih untuk skenario terburuk nomor empat: bingung-bodoh-tapi-sopan.
“Anu... apakah saya tidak lulus, Pak?”
Petugas itu mengetuk-ngetuk kristal, mendesah panjang, dan mengeluarkan buku catatan.
“Alat ini memang sudah tua. Minggu lalu juga error dua kali.” Dia mencoret sesuatu. “Hasilmu terbaca Rank E. Selamat, kau tetap bisa daftar. Akademi menerima semua rank.” Jeda. Tatapan iba yang sangat tipis. “...Meskipun, ya. Rank E.”
“Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha keras,” jawabku, dengan nada orang yang jelas-jelas tidak akan berusaha keras.
Aku berbalik dengan langkah ringan. Di dalam kepalaku, kembang api perayaan meledak sunyi. Lolos. Terdaftar sebagai Rank E. Error dianggap kerusakan alat. Hari ini dunia berpihak pada—
Saat itulah aku mendengarnya.
Atau lebih tepatnya: saat itulah aku tidak mendengar apa-apa.
Di tengah aula yang riuh oleh dengungan seratus Core remaja yang gugup — ada satu arah yang sunyi. Bukan sunyi kosong seperti batu atau mayat. Sunyi yang... dalam. Seperti salju turun di malam tanpa angin. Seperti detik pertama setelah orkestra berhenti, saat gema terakhir menghilang dan aula menahan napas.
Tiga tahun di dunia ini, aku belum pernah mendengar keheningan semacam itu keluar dari makhluk hidup.
Aku menoleh sebelum sempat melarangnya.
Di seberang aula, dikelilingi radius kosong dua meter — karena rupanya tidak ada yang berani berdiri terlalu dekat — seorang gadis sedang meletakkan tangannya di Appraisal Sigil. Rambut perak panjang, punggung selurus tombak, wajah yang tenangnya nyaris dingin.
Kristal di depannya menyala putih bersih tanpa satu pun kedipan, seperti alat itu sendiri berusaha memberi kesan terbaik.
Core Rank : S
Aula meledak oleh bisik-bisik. “Rank S—” “Putri Frostheim—” “Permaisuri Es yang itu?!”
Gadis itu menarik tangannya dari kristal tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, seakan-akan huruf S itu ramalan cuaca. Membosankan. Sudah tahu.
Dan aku, Rein Gray, enam belas tahun, pemegang tiga aturan keramat, berdiri mematung di tengah aula sambil menatap orang paling terkenal seangkatan.
BERHENTI MENATAP. Kau baru saja melanggar Aturan Satu, Dua, DAN semangat dari Aturan Tiga sekaligus. Putar badan. Jalan. Sekarang.
Aku memutar badan dan berjalan. Profesional. Tenang. Hanya menabrak satu kursi.
Tapi sepanjang jalan keluar aula, telingaku — pengkhianat itu — terus mencondong ke arah keheningan itu, seperti orang yang tiga tahun tidur di sebelah rel kereta lalu tiba-tiba mendengar seperti apa rasanya malam yang sepi.
Lupakan, perintahku pada diri sendiri. Dia peringkat atas. Kau lantai dasar. Orbit kalian tidak akan pernah bersinggungan. Dalam seminggu kau bahkan tidak akan ingat—
Ujian tulis berjalan sesuai rencana.
Ini bagian yang butuh seni, omong-omong. Orang bodoh mengira menjadi bodoh itu mudah. Padahal salah menjawab itu ilmu. Nilai nol justru mencurigakan — tidak ada manusia yang salah semua kecuali dia sengaja. Targetku: 41 dari 100. Cukup rendah untuk diabaikan, cukup tinggi untuk lulus ambang batas.
Soal nomor tujuh: Sebutkan tiga hukum dasar sirkulasi mana menurut Prinsip Aldric.
Jawaban benar: stabilitas, kontinuitas, resonansi. Aku menulis: stabilitas, kontinuitas, dan... percaya diri.
Sempurna. Salah dengan cara yang membuat pemeriksa mendesah, bukan penasaran.
Empat puluh satu. Tepat sasaran. Kadang aku menakuti diriku sendiri.
Yang tidak sesuai rencana adalah ujian praktik.
Ujian praktik diadakan di lapangan luar: dua ratus calon murid dibariskan berkelompok, masing-masing diminta mendemonstrasikan satu sihir dasar ke arah target boneka jerami. Rencanaku sudah matang — [Percikan Api] level satu, meleset lima belas senti dari sasaran, ekspresi kecewa yang tulus.
Aku sedang mengantre di barisan tengah, mengagumi betapa lancarnya hari ini berjalan, ketika telingaku menangkap sesuatu yang salah.
Di kelompok sebelah — kelompok para calon peringkat atas, yang ujiannya ditonton para profesor — seorang anak bangsawan gemetar maju ke garis demonstrasi. Mananya berdengung kacau, naik-turun seperti orang demam. Gugup. Terlalu gugup. Dia mengangkat tongkatnya, merapal formula sihir api tingkat tiga yang jelas-jelas di atas kemampuannya, jelas-jelas untuk pamer, dan formula itu—
—retak.
Aku mendengarnya sepersekian detik sebelum siapa pun melihatnya: nada sihir yang patah di tengah, mana yang berbalik memakan formulanya sendiri, membengkak, liar, lepas—
Bola api sebesar gerobak melesat keluar jalur.
Bukan ke boneka jerami.
Ke tribun samping. Ke barisan calon murid yang menonton.
Tepat ke arah gadis berambut perak yang berdiri paling depan — yang refleksnya jelas terlatih, yang tangannya sudah bergerak membentuk sigil pertahanan, tapi telingaku sudah selesai menghitung apa yang belum disadari siapa pun di lapangan ini:
Sihir liar itu tidak stabil. Sigil pertahanan es akan menahannya — lalu meledakkannya. Pecahannya menyapu tribun. Dia mungkin selamat.
Tiga puluh orang di belakangnya, tidak.
Satu detik. Waktu yang tersisa cuma satu detik, dan dalam satu detik itu tiga tahun kedisiplinan, tiga aturan keramat, rencana hidup yang kususun serapi denah gedung — semuanya menimbang diri melawan satu barisan orang yang akan terbakar.
...Ah, sial.
Tubuhku bergerak duluan sebelum aturan-aturanku selesai protes.
(bersambung ke Bab 2)