← Chapters Ch. 5 / 45

Chapter Five

Hening yang Punya Nama

“Partner Bond,” kata Prof. Maren, sambil menuliskan dua kata itu di papan dengan kapur yang mencicit, “adalah tradisi tertua Arcanum Spire. Selama satu tahun, kalian akan terikat kontrak sihir dengan satu orang. Latihan bersama. Ujian praktik dinilai bersama. Nilai partnermu adalah nilaimu.”

Kelas mulai berbisik. Aku sudah punya firasat buruk sejak kata pertama, dan firasat itu bertumbuh dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

“Kontraknya akan menumbuhkan sesuatu yang disebut Partner Sync — persentase sinkronisasi antara dua Core.” Prof. Maren mengetuk papan. “Sync rendah, kalian dua penyihir yang kebetulan berdiri berdekatan. Sync tinggi, kalian satu organisme. Di angka tertentu, kalian bisa membuka Duet Skill — sihir gabungan. Dalam sejarah akademi, hanya tujuh pasang yang pernah mencapainya.”

Tangan terangkat di baris depan. “Prof, Sync itu naiknya dari apa?”

“Tiga hal.” Prof. Maren mengangkat jarinya. “Waktu yang dihabiskan bersama. Kepercayaan. Dan kontak fisik saat menyalurkan mana.”

Kelas ribut.

Aku menyandarkan kepala ke dinding dan menutup mata.

Waktu bersama. Kontak fisik. Setahun.

Untuk seseorang yang membangun seluruh strategi hidupnya di atas prinsip jangan ada orang yang cukup dekat untuk memperhatikan, kalimat itu terdengar persis seperti vonis.

“Pengundian akan dilakukan sekarang,” lanjut Prof. Maren, menarik sebuah kotak kristal ke atas podium. “Sistem akan memasangkan berdasarkan kompatibilitas frekuensi Core. Tidak bisa diganggu gugat, tidak bisa ditukar, dan sebelum ada yang bertanya — tidak, tidak ada pengecualian untuk bangsawan.”

Kotak kristal menyala.

Nama-nama muncul di udara, berpasangan, satu per satu. Sorakan. Tepuk tangan. Erangan. Satu anak menangis (senang atau sedih, tidak jelas).

Aku memasang doa terakhirku. Siapa pun. Siapa pun yang membosankan. Anak yang tidur di kelas juga. Anak yang bahkan tidak akan ingat namaku dalam sebulan. Tolong—

┌──────────────────────────────┐
│ PARTNER BOND — KELAS 1-C │
│ │
│ Rein Gray ⇄ Elysia von │
│ Frostheim │
│ │
│ Sync Awal : 12% │
└──────────────────────────────┘

Kelas 1-C meledak.

Aku tidak mendengar apa pun dari ledakan itu. Aku sedang menatap dua nama yang melayang di udara dengan perasaan seseorang yang menonton rumahnya sendiri terbakar dengan sangat rapi.

Dari baris depan, kepala berambut perak itu berbalik. Elysia menatapku menembus keributan enam puluh orang, dan wajahnya seratus persen datar, seratus persen anggun, seratus persen tidak bersalah.

Dan matanya berbinar seperti anak kecil di pagi hari festival.

Kompatibilitas frekuensi Core, kataku dalam hati, sangat pelan. Tentu saja. Tentu saja frekuensi Core-ku cocok dengan satu-satunya orang di dunia ini yang membuat telingaku berhenti berdengung.

Tapi ada satu detail kecil yang mengganjal, dan detail itu terus mengganggu sepanjang sisa pelajaran.

Kotak kristal itu memilih berdasarkan kompatibilitas.

Elysia von Frostheim menawarkan diri “membantu mengurutkan kertas kuis” minggu lalu — di ruang guru, tempat data pengukuran Core seluruh angkatan disimpan.


Aula Resonansi terletak di lantai empat: ruangan bundar berlantai batu putih dengan lingkaran sigil raksasa terukir di tengahnya. Sore itu kosong. Cuma kami berdua dan gema langkah kaki.

Dan sebelum kami memulai apa pun, aku mengajukan satu pertanyaan.

“Kamu yang mengatur pengundiannya.”

Elysia sedang melepas pita rambutnya. Gerakannya berhenti setengah detik — setengah detik saja — lalu lanjut seperti tidak terjadi apa-apa. Rambut peraknya jatuh terurai ke bahu.

“Kotak kristal memilih berdasarkan kompatibilitas,” katanya.

“Kamu tidak menyangkal.”

“Aku tidak berbohong.” Dia menoleh, dan ada sesuatu yang jujur di wajahnya, yang justru lebih membuatku gugup daripada kalau dia mengelak. “Kompatibilitas kita memang tertinggi di angkatan. Aku cuma... memastikan datanya terbaca dengan benar.”

“Kenapa?”

“Karena kamu akan menghindar.” Dia mengatakannya sederhana, tanpa nada menuduh, seperti membacakan hasil pengamatan cuaca. “Kamu menghindari semua orang. Kamu punya tiga rute berbeda ke ruang kelas dan kamu memakainya bergantian supaya tidak ada yang hafal. Kamu makan siang di gudang sapu.” Jeda. “Kalau aku menunggu kamu mendekat, aku akan menunggu selamanya.”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

“Jadi mari bicara jujur satu kali saja, Rein Gray.” Dia berjalan ke tengah lingkaran sigil dan berhenti, menghadapku, tangan terlipat di depan. “Aku melihat apa yang kamu lakukan di lapangan. Aku tahu itu bukan tersandung, bukan kejang, dan bukan kebetulan. Kertas kuis itu ada di buku catatanku. Dan selama dua minggu ini aku tidak mengatakan apa-apa pada siapa pun.”

“...Kenapa tidak?”

“Karena aku ingin tahu.” Untuk pertama kalinya, suaranya bergerak sedikit — naik setengah nada, hampir bersemangat, hampir tidak anggun. “Semua orang di akademi ini ingin dilihat. Semua orang. Mereka bertarung, berlatih, saling injak demi satu peringkat, demi satu pandangan dari orang penting.” Matanya menyipit. “Lalu ada kamu. Yang bisa menghapus sihir tingkat empat dengan satu jentikan jari, dan yang memilih... duduk di pojok. Menulis jawaban salah dengan sengaja. Bersembunyi.”

Angin dari jendela tinggi masuk, mengangkat helai rambut peraknya.

“Aku tidak akan melapor. Tidak sekarang, tidak nanti. Aku tidak butuh apa-apa dari rahasiamu.” Dia mengulurkan tangan kanannya ke arahku. Telapak terbuka. “Aku cuma minta satu hal. Jadi partnerku dengan benar. Latihan denganku. Berdua saja, di sini, di tempat yang tidak ada orang lain. Itu saja.”

Aku menatap tangan itu.

Ini jelas jebakan. Bukan jebakan jahat — jenis yang jauh lebih berbahaya: jebakan yang ditawarkan dengan jujur.

Tiga aturan berteriak di kepalaku secara serentak.

Dan di bawah teriakan itu, ada satu suara kecil yang sudah dua minggu ini berbisik dan yang selama ini kuabaikan dengan sangat rajin: kamu bisa bernapas di dekat dia.

“...Latihan,” kataku. “Cuma latihan.”

“Cuma latihan.”

Aku mengangkat tangan kananku. Berhenti sepuluh senti dari tangannya.

“Kalau kamu ingkar—”

“Aku Frostheim,” katanya tenang. “Kami tidak ingkar janji. Itu satu-satunya hal yang keluargaku lakukan dengan baik.”

Aku menurunkan tanganku ke telapaknya.

Dan dunia mati.

Aku ingin menjelaskan ini dengan benar, karena tidak ada kata yang cukup.

Selama tiga tahun, setiap detik dalam hidupku di dunia ini disertai kebisingan. Setiap manusia, setiap batu bermana, setiap lampu sihir di dinding — semuanya berdengung, bergetar, menjerit pelan di telingaku tanpa jeda, tidur atau bangun, siang atau malam. Aku bahkan tidak lagi menganggapnya suara. Itu cuma... tekstur dunia. Latar belakang keberadaan. Aku lupa bahwa hening itu ada.

Lalu telapak tangannya menyentuh telapak tanganku, dan semuanya—

berhenti.

Bukan teredam. Bukan mengecil.

Hilang.

Delapan ratus Core di gedung ini, ribuan lampu sihir, arus mana di dinding menara, semuanya lenyap seketika, dan yang tersisa di seluruh dunia cuma: angin dari jendela. Gema pelan ruangan kosong. Napasku sendiri.

Dan detak jantungku, yang tiba-tiba terdengar sangat, sangat keras.

Aku pasti melakukan sesuatu dengan wajahku — mataku membelalak, atau napasku tersentak — karena ekspresi Elysia berubah seketika. Bibirnya terbuka sedikit. Rona percaya diri yang tadi memenuhi wajahnya runtuh dalam sepersekian detik, digantikan sesuatu yang jauh lebih rapuh.

“...Maaf,” katanya cepat, dan mulai menarik tangannya. “Kalau kamu tidak nyaman disentuh, aku—”

Tanganku bergerak sebelum otakku sempat memberi izin.

Aku menggenggamnya. Erat. Menahannya di tempat.

Elysia membeku.

Kami berdiri di tengah lingkaran sigil raksasa itu, dua orang, satu genggaman, dan keheningan pertama yang pernah kudengar sejak aku tiba di dunia ini.

“Jangan,” kataku. Suaraku keluar serak, dan aku benci betapa jujurnya suara itu terdengar. “Jangan dilepas. Sebentar saja.”

Dia tidak menjawab.

Aku mengangkat pandanganku dan menyadari kenapa.

Wajah Elysia von Frostheim — Permaisuri Es, peringkat satu, gadis yang menerima huruf S dari Appraisal Sigil dengan ekspresi orang membaca ramalan cuaca — sedang merah sampai ke telinga.

Rambut peraknya terurai, matanya membelalak sedikit, dan dia menatapku dengan ekspresi yang sama sekali tidak ada di repertoar publiknya: bingung, terkejut, dan tidak siap.

Dia cantik saat berjalan di koridor. Dia cantik dengan cara yang membuat orang berhenti bicara.

Tapi seperti ini — kacau, merah, tanpa satu pun lapisan pertahanan anggunnya — dia adalah sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara yang tidak bisa kujelaskan oleh satu pun teori sihir yang pernah kubaca.

Di udara di antara kami, sebuah jendela status berkedip pelan.

Partner Sync : 12% → 31%

Tidak ada dari kami yang melihatnya.

Angin masuk lewat jendela tinggi. Rambut peraknya bergerak. Kami berdiri seperti itu — lima detik, sepuluh, dua puluh — dan tidak ada satu pun dari kami yang mau melepas duluan.

(bersambung ke Bab 6)