← Chapters Ch. 40 / 45

Chapter Forty

Epilog: Kursi Paling Belakang

POV: Rein Gray

Tahun kedua dimulai di pagi musim gugur yang cerah, dan kelas 2-C mendapat ruangan baru: lantai tiga menara timur, dengan jendela menghadap danau.

Aku datang empat puluh menit lebih awal, karena beberapa kebiasaan tidak layak diubah, dan mengamankan properti paling berharga di ruangan itu: baris paling belakang, deret paling pojok, menempel dinding, di bawah bayangan rak arsip.

Bedanya dengan setahun lalu: aku mengamankan dua kursi.

Aku menggeser kursi kedua sampai menempel ke kursiku — celahnya nol, sudah diukur, sudah jadi standar — meletakkan dua roti isi di atas meja, dan duduk.

Murid-murid mulai berdatangan. Dengungan mana naik pelan seperti air mengisi bak — dan berhenti di tepi wilayahku, karena keheningan itu sudah datang lebih dulu, naik lewat tangga timur dengan langkah yang kuhafal melebihi namaku sendiri.

Dia masuk. Memindai ruangan sedetik. Menemukanku di pojok.

Dan Elysia von Frostheim — peringkat satu Akademi Arcanum Spire dua tahun berturut-turut, pewaris Stillfrost Vein, gadis yang esnya dipelajari empat negeri — berjalan melewati baris depan yang disediakan untuknya, naik ke baris paling belakang, dan duduk di kursi yang menempel ke kursiku dengan kewajaran orang yang pulang ke rumah.

“Selamat pagi,” katanya.

“Selamat pagi.”

Dia mengambil roti bagiannya, melepas pita rambutnya — di kelas sekarang; batas-batas itu sudah lama pindah — dan menyandarkan bahunya ke bahuku sambil membuka buku.

Tidak ada satu pun murid yang menoleh.

Tahun lalu, kami menggemparkan satu angkatan. Sekarang kami perabotan. Ada urutan alam di kelas 2-C yang diterima semua orang seperti hukum fisika: matahari terbit dari timur, ujian datang tiap bulan, dan dua kursi di pojok belakang itu satu benda.

Gart duduk tiga baris di depan — dia pindah secara resmi dan seremonial tahun lalu, lengkap dengan pidato — bersama dua murid Barisan Dinding yang menempel padanya ke mana-mana. Cedric di baris dua, dekat jendela, yang setiap pagi ditumpuki surat oleh murid-murid tahun pertama yang mengidolakannya dan yang setiap pagi dia baca dengan wajah tersiksa dan diam-diam senang.

Prof. Maren masuk jam delapan tepat, meletakkan buku, memandang kelas dari balik kacamata setengahnya, dan memulai tahun ajaran dengan kalimat yang sama seperti tahun lalu:

“Formula rangkap. Halaman satu.”

Beberapa hal tidak berubah. Aku mulai belajar bahwa itu justru kemewahan.


Yang berubah adalah hal-hal kecil, dan hal-hal kecil adalah tempat aku tinggal.

Syal biru itu sekarang bergantian. Tidak pernah dibahas, tidak pernah dijadwalkan: kadang ada di leherku, kadang di lehernya, dan perpindahannya terjadi lewat mekanisme yang tidak bisa dijelaskan ilmu mana pun — dia kedinginan dan aku melilitkannya, aku lupa dan dia memakainya, dan pada titik ini kepemilikannya sudah tidak bisa dilacak notaris terbaik kontinen.

Pita biru muda masih di saku kiri seragamku. Sudah pudar sedikit. Dia tahu ada di sana. Aku tahu dia tahu. Sistem yang bekerja tidak perlu diperbaiki.

Ritual tujuh generasi tetap berjalan — sebelum ujian, sebelum perjalanan, dan sejak musim gugur lalu, sebelum hal ketiga: sebelum setiap kunjungan.

Karena kami berkunjung sekarang.

Halvern di musim gugur — gadis kecil bernama Mira yang bertanya apakah dunia bisa diam, dan yang menangis waktu aku bilang aku juga dulu bertanya begitu, dan yang sekarang mengirim surat sebulan sekali dengan tulisan tangan yang makin rapi. Dua desa lagi di musim dingin. Kantor Resonansi menyebut kunjungan-kunjungan itu “program pendampingan perintis” dalam laporan resminya.

Mira menyebutnya “hari kakak-kakak datang”.

Aku lebih suka versi Mira.


Sore itu, setelah kelas, kami naik ke taman atap.

Musim gugur menguningkan segalanya. Pohon plum tua berdiri dengan daun setengah gugur, bangku batu hangat oleh matahari sore, dan di bawah, di halaman yang dulu jadi medan perang, taman kecil dengan pohon plum muda menerima pengunjung hariannya — murid-murid yang belajar di bangkunya, anak kota yang datang membaca prasasti, dan hampir setiap sore, satu-dua orang yang cuma duduk diam, lama, dengan wajah orang yang akhirnya menemukan ruangan yang tidak berisik.

Elysia duduk di bangku batu. Aku duduk di sebelahnya. Bahu ke bahu — posisi yang sudah punya sejarahnya sendiri, koordinatnya sendiri, haknya sendiri.

“Rein.”

“Hm.”

“Aku menghitung tadi malam.” Dia menatap danau. “Setahun. Minggu ini tepat setahun sejak ujian masuk.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku orang yang menghitung,” kataku. “Setahun sejak kamu melihat orang tersandung ke arah bola api.”

“Setahun sejak orang itu pura-pura pingsan dengan sangat buruk.”

“Pingsanku profesional.”

“Kamu mengintip dengan satu mata.”

“Itu prosedur keamanan.”

Dia tertawa — bening, penuh, tanpa ditahan; tawa yang setahun lalu belum pernah didengar satu orang pun di akademi ini dan yang sekarang jadi suara paling kuhafal di dua dunia — lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku dan diam.

Angin lewat. Daun plum jatuh satu.

“Aku dulu berpikir,” katanya pelan, “kalau aku jadi peringkat satu di segalanya, suatu hari rasanya akan cukup. Ternyata yang kubutuhkan cuma satu kursi di sebelah kursi yang tepat.”

Aku menatap pucuk pohon plum.

Tiga tahun lalu aku tiba di dunia ini dengan telinga yang mendengar segalanya, dan aku menyusun tiga aturan untuk bertahan hidup: jangan menonjol, jangan menonjol, dan kalau terpaksa menonjol, pura-pura pingsan.

Aturan-aturan itu menyelamatkanku. Aku tidak akan menghina mereka. Tapi mereka dibangun di atas satu keyakinan yang butuh satu tahun dan satu gadis dan satu ruangan penuh orang untuk dibongkar: keyakinan bahwa tidak terlihat adalah satu-satunya cara untuk selamat.

Sekarang aku tahu yang benar.

Kursi paling belakang tidak pernah tentang bersembunyi.

Kursi paling belakang adalah tempat kau bisa melihat seluruh ruangan — semua orang yang kau jaga, semua pintu, semua jendela, seluruh dunia yang berisik dan berantakan dan berharga — sambil duduk di samping satu-satunya keheningan yang kau butuhkan.

“Lys.”

“Hm.”

“Kelas besok jam delapan.”

“Aku tahu.”

“Berarti kita harus turun sebelum gelap.”

“Aku tahu.” Dia tidak bergerak satu sentimeter pun. “Lima menit lagi.”

Aku menyandarkan kepalaku ke kepalanya.

“Sepuluh,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya di dua dunia, dalam seluruh keberadaanku sebagai orang yang selalu menghitung — aku berharap waktu berjalan selambat mungkin.


Di kejauhan, di gerbang akademi, seorang murid tahun pertama yang baru pindahan bertanya pada seniornya kenapa dua orang di taman atap itu tidak diganggu siapa pun.

Seniornya — anak buah Kapten Gart, dengan lencana Barisan Dinding di dadanya — menoleh ke atas, ke dua siluet di bawah pohon plum, dan menjawab dengan nada orang yang menjelaskan hukum alam:

“Oh, itu. Itu kursi paling belakang akademi ini. Semua orang tahu itu kursi berdua.”

TAMAT

(Bab 41–45: Extra & After Story)