Chapter Thirty Five
Fajar Hari Ketujuh
POV: Rein Gray
Aku mendengar mereka datang sebelum matahari terbit.
Bukan langkah kaki. Nyanyian.
Pasukan Kantor Pemeriksaan tidak berbaris seperti tentara — mereka berjalan sambil melantunkan himne, tiga ratus suara dalam harmoni sempurna, dan himne itu bukan untuk semangat. Himne itu adalah formula. Sihir kolektif yang dianyam dari tiga ratus tenggorokan sekaligus, saling menopang, saling memperkuat, bergerak seperti satu makhluk bersuara.
Aku berdiri di menara pengawas gerbang dan mendengarkan mereka menyeberangi jembatan danau, dan untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa institusi itu bernama Choir.
“Berapa banyak?” tanya Cedric di sebelahku.
“Tiga ratus dua belas penyanyi. Empat puluh perisai. Dan...” Aku memejamkan mata, memilah. “Tujuh yang lain. Di belakang. Mananya seperti Solveig — himne yang sudah tidak punya penyanyi di dalamnya. Itu para Inquisitor lapangan.”
“Dan Solveig sendiri?”
“Paling belakang.” Aku membuka mata. “Dia berjalan paling belakang, sendirian, sepuluh langkah di belakang semua orang.”
“Kenapa?”
“Karena dia satu-satunya yang benar-benar tidak ingin berada di sini,” kataku pelan. “Dan satu-satunya yang pasti tidak akan berhenti.”
Di bawah kami, akademi bersiap dengan caranya sendiri.
Lima ratus murid tidak diijinkan bertempur — itu keputusan pertama dan mutlak dari dewan pertahanan darurat. Mereka ditempatkan di menara dalam, di belakang tiga lapis pelindung. Yang berdiri di garis adalah relawan tahun ketiga, seluruh staf pengajar, dan — di gerbang paling depan, menolak semua perintah mundur — satu barisan yang membuat dadaku sesak setiap kali kulihat:
Gart Oakley, berdiri di tengah gerbang dengan perisai punggung terpasang, dikelilingi dua puluh murid atribut Tanah yang selama seminggu terakhir dia latih sendiri dengan satu doktrin yang dia ulang-ulang seperti mantra: “Kita bukan penyerang! Kita dinding! Dinding tidak mundur!”
Cedric Ashford, dengan [Crimson Edict] dan tiga puluh murid tempur yang secara resmi menyebut diri mereka Barisan Kedua dan secara tidak resmi menyebut diri mereka Pasukan Peringkat Dua — lelucon yang dibuat Cedric sendiri dan yang membuatnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dicintai orang-orang yang dipimpinnya.
Prof. Maren Vale di menara komando, dengan peta, cermin komunikasi, dan sembilan tahun kesabaran yang akhirnya menemukan kegunaannya.
Sera Wyndale di menara jurnal — dia menolak menyebutnya menara pengawas — dengan enam anggota klub, dua belas cermin penyiar yang dipinjam dari gilda dagang, dan sambungan langsung ke papan-papan pengumuman di seluruh kota Vellis. “Kalau mereka menyerang akademi ini,” katanya, “mereka melakukannya di depan mata satu kontinen. Aku pastikan itu.”
Dan di sebelahku, di menara gerbang, dengan seragam pertempuran biru-perak dan rambut yang diikat pita cadangan karena pita aslinya ada di saku seragamku:
Elysia von Frostheim.
“Mereka berhenti,” katanya.
Himne itu berhenti di ujung jembatan, tiga ratus meter dari gerbang. Barisan putih membentang di tepi danau seperti salju yang salah musim.
Dan satu sosok berjalan keluar dari barisan itu, melewati para penyanyi, melewati para perisai, melewati tujuh Inquisitor — sendirian, tanpa pengawal, dengan rantai emas berlapis tiga yang memantulkan fajar.
High Inquisitor Solveig berhenti di tengah jalan antara dua pasukan, dan berbicara. Tanpa sihir pengeras. Tapi suaranya sampai, karena tiga ratus penyanyi di belakangnya menggemakan setiap katanya dalam bisikan, dan efeknya seperti didengar dari dalam kepala sendiri.
“Murid-murid Arcanum Spire. Aku datang untuk satu orang. Serahkan dia, dan tidak ada satu pun dari kalian yang tersentuh. Kalian punya waktu sampai matahari sepenuhnya terbit.”
Keheningan.
Lalu, dari gerbang, satu suara menjawab — tidak diperkuat sihir apa pun, murni volume paru-paru seorang anak petani Rank C yang berdiri paling depan:
“KAMI DINDING!”
Jeda.
“DAN DINDING TIDAK PUNYA WAKTU SAMPAI MATAHARI TERBIT! DINDING CUMA BERDIRI!”
Dari sepanjang benteng akademi, lima ratus suara meledak — tawa, sorakan, dan teriakan “DINDING! DINDING! DINDING!” yang menggema sampai ke danau, dan aku menonton tiga ratus penyanyi Gereja yang terlatih menghadapi segala bentuk perlawanan berdiri kebingungan menghadapi pengepungan yang menertawakan mereka.
Di tengah jalan, Solveig menundukkan kepalanya sedikit.
Dari jarak ini, tidak ada yang bisa melihat ekspresinya.
Tapi telingaku menangkap mananya — himne tua yang tidak pernah beriak itu — bergetar satu kali. Dan aku bersumpah, sampai hari ini, bahwa getaran itu bukan kemarahan.
Itu sesuatu yang jauh lebih tua. Seperti orang yang mendengar lelucon yang dulu, empat puluh tahun lalu, mungkin akan ikut dia tertawakan.
Lalu getaran itu padam.
Solveig mengangkat tangan kanannya.
“Prosedur dimulai,” katanya. “Choir — Hymn of Purgation, bait pertama.”
Tiga ratus dua belas suara menarik napas serentak.
Dan fajar hari ketujuh pecah.
Aku ingin mencatat satu hal terakhir sebelum semuanya menjadi kekacauan, karena ini penting, dan karena tidak ada yang sempat memperhatikannya kecuali aku.
Saat himne pertama mulai naik — saat tiga ratus suara menganyam formula perang pertama mereka dan udara di atas danau mulai bercahaya putih — Elysia menggenggam tanganku di atas menara gerbang.
Dan dia tidak gemetar.
Sama sekali.
“Kamu tidak takut,” kataku.
“Aku sangat takut,” katanya, mata lurus ke barisan putih di tepi danau. “Tapi aku pernah lebih takut.”
“Kapan?”
“Waktu kamu mimisan di taman atap dan aku tidak tahu kenapa.” Dia menoleh, dan di wajahnya — di tengah fajar, di ambang perang — ada senyum kecil yang tenang. “Hari itu aku takut pada sesuatu yang tidak kumengerti dan tidak bisa kulawan. Hari ini aku cuma menghadapi tiga ratus orang bernyanyi.”
Dia mengangkat tangan kami yang tergenggam dan mengecup punggung tanganku — cepat, ringan, ritual kecil yang baru.
“Itu jauh lebih mudah.”
Himne bait pertama mencapai puncaknya.
Cahaya putih menghantam pelindung terluar akademi.
Dan perang untuk kursi paling belakang dimulai.
(bersambung ke Bab 36)