Chapter Seven
Syal
Musim dingin datang ke Arcanum Spire dalam semalam.
Aku bangun pagi Senin dan menemukan kaca jendela asrama berlapis embun beku, lantai batu koridor sedingin es, dan angin dari menara yang menusuk sampai ke tulang. Kontinen Aetheria, kupelajari dengan susah payah selama tiga tahun, tidak mengenal konsep musim dingin yang sopan. Di sini musim dingin datang seperti tamu yang mendobrak pintu.
Dan aku, tentu saja, tidak punya mantel.
Bukan karena miskin — well, iya juga — tapi karena selama tiga tahun terakhir aku hidup di gudang penggilingan yang hangat oleh mesin, dan anggaran tahunanku dialokasikan pada satu-satunya hal yang benar-benar penting: biaya pendaftaran akademi.
Jadi aku pergi ke kelas dengan seragam tipis, dua lapis kemeja, dan strategi yang kusebut “tidak apa-apa, dingin itu cuma di kepala.”
“Kamu biru,” kata Gart di kelas.
“Ini warna alamiku.”
“Bung. Bibirmu biru.”
“Turunan keluarga.”
Gart membuka mulut, menutupnya lagi, lalu — karena dia Gart Oakley — melepas syal rajut cokelatnya dan menyodorkannya padaku. Syal itu bau keringat dan tanah.
“Pakai.”
“Tidak usah.”
“PAKAI.”
“Gart, kalau aku pakai syalmu, aku akan bau sepertimu, dan aku belum siap untuk komitmen sebesar itu.”
Dia tertawa terbahak dan memukul punggungku sampai paru-paruku pindah tempat. Aku menahan senyum. Itu masalah dengan Gart Oakley: kau tidak bisa mempertahankan jarak dari orang yang tidak pernah mengakui adanya jarak.
Sesi latihan partner hari itu di Aula Resonansi, dan Aula Resonansi punya jendela tinggi tanpa kaca.
Angin masuk dari empat arah. Lantai batunya seperti balok es raksasa. Aku berdiri di tengah lingkaran sigil sambil mati-matian menahan gigi supaya tidak bergemeletuk, karena bergemeletuk itu terdengar, dan terdengar itu berarti diperhatikan.
Elysia datang lima menit kemudian, dalam mantel bulu putih dengan bordir perak di kerahnya, sarung tangan kulit, dan sebuah syal biru muda yang dililit dua kali di lehernya — pakaian musim dingin bangsawan Frostheim, yang harganya kuduga setara satu tahun gaji penggilingan.
Dia berhenti tiga langkah dari lingkaran.
Matanya bergerak dari wajahku ke seragam tipisku, lalu ke tanganku yang sudah memerah di ujung jari.
Wajahnya tidak berubah sedikit pun.
“Kita mulai dari latihan aliran,” katanya.
Kami berlatih empat puluh menit. Sync naik dua persen. Tanganku tidak lagi terasa seperti bagian dari tubuhku.
Lalu, saat kupikir sesi selesai dan aku bisa lari ke ruangan yang punya dinding utuh, Elysia berkata:
“Berdiri diam.”
“Hm?”
Dia melangkah maju. Dua langkah. Terlalu dekat.
Aku membeku — sebagian karena dingin, sebagian besar karena dia sekarang berdiri dalam jarak yang bahkan tidak dilanggar orang di antrean kantin, dan dari jarak ini aku bisa melihat bahwa bulu matanya berwarna perak pucat seperti rambutnya, bahwa ada tahi lalat kecil sekali di bawah sudut mata kirinya yang tidak akan pernah terlihat dari jarak normal, dan bahwa dia wangi sesuatu yang dingin dan bersih, seperti udara setelah salju.
Tangannya terangkat ke lehernya sendiri.
Dan dia melepas syal biru muda itu.
“Tunggu—”
Dia melilitkannya ke leherku. Dua putaran, rapi, seperti orang yang melakukannya untuk seseorang setiap pagi seumur hidupnya. Ujung jarinya menyentuh daguku saat merapikan lipatan terakhir — sepersekian detik, kulit ke kulit — dan seluruh dengungan dunia lenyap sekejap sebelum kembali saat dia menarik tangannya.
Syal itu masih hangat.
Itu detail yang membunuhku. Bukan syalnya. Kehangatannya — yang berarti kehangatan itu berasal dari lehernya, dan sekarang ada di leherku.
“Ini punyamu,” kataku, dengan suara yang keluar jauh lebih lemah dari yang kurencanakan.
“Iya.”
“Aku tidak butuh—”
“Sync kita turun kalau partnerku mati beku.” Dia mundur selangkah, merapikan sarung tangannya dengan sangat teliti, dan menatap ke jendela, ke lantai, ke mana pun kecuali ke arahku. “Itu... alasan yang logis. Terima saja.”
Dan telinganya merah.
Bukan merah karena dingin — aku sudah empat puluh menit di ruangan ini bersamanya dan telinganya tidak merah sedikit pun. Merah yang ini datang dalam tiga detik terakhir, merambat dari cuping sampai ke pipi, dan tidak ada satu pun teori sihir di dunia ini yang bisa menjelaskannya sebagai fenomena termal.
“Kita lanjut besok,” katanya cepat.
Lalu Elysia von Frostheim, peringkat satu Akademi Arcanum Spire, keluar dari Aula Resonansi dengan langkah yang untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak anggun.
Aku berdiri sendirian di tengah lingkaran sigil selama entah berapa lama, dengan syal biru muda melingkar dua kali di leherku dan wangi udara-setelah-salju yang menempel di kain.
Kutarik syal itu sedikit ke atas, menutupi separuh wajahku.
Bukan karena dingin.
Aku memakai syal itu keesokan harinya.
Dan hari setelahnya.
Dan hari setelahnya lagi.
Sepuluh hari berturut-turut, dan tidak satu kali pun kami membicarakannya.
Elysia tidak pernah menyinggung. Aku tidak pernah berterima kasih. Kalau ada yang bertanya — dan Gart bertanya, tiga kali — jawabanku selalu: “beli di pasar.” Gart, yang tidak pernah dalam hidupnya melihat harga sutra Frostheim, menerima jawaban itu dengan gembira.
Tapi ada satu hal yang kuperhatikan.
Setiap kali kami duduk berhadapan di perpustakaan bawah tanah, dan aku menunduk membaca, Elysia akan mengangkat wajahnya dari bukunya dan menatap syal itu di leherku selama beberapa detik.
Dan setiap kali dia melakukan itu, sudut bibirnya naik satu milimeter, lalu dia kembali membaca seperti tidak terjadi apa-apa.
Dia pikir aku tidak tahu.
Aku selalu tahu. Karena setiap kali dia melakukannya, mananya bergetar sedikit — riak kecil di permukaan keheningan itu, satu-satunya kebisingan di dunia yang tidak pernah membuat kepalaku sakit.
Hari kesebelas, Sera Wyndale mencegatku di koridor timur.
Dia bersandar di dinding dengan gaya yang jelas sudah dilatih di depan cermin: satu kaki menekuk, tumpukan kertas di pelukan, pena bulu melayang berputar malas di sebelah kepalanya. Rambut cokelat kemerahannya hari itu dikuncir tinggi dengan pensil, dan beberapa helai lepas jatuh di pelipisnya. Dia tersenyum lebar begitu melihatku — senyum yang membuat dua murid tahun satu yang lewat menoleh dan menabrak satu sama lain.
“Rein Gray! Kawan! Sahabatku!”
“Kita bertemu sekali.”
“Sekali itu berkesan.” Dia mendorong dirinya dari dinding. “Aku mau tanya dua hal cepat. Pertama, soal duelmu Sabtu lalu—”
“Saya beruntung.”
“—kedua,” lanjutnya, tanpa jeda, “syal itu dari mana?”
Aku berhenti berjalan.
Sera menunjuk leherku dengan pena bulunya, dan matanya yang cokelat besar itu berbinar dengan cara yang sangat, sangat berbahaya.
“Sutra tenun Frostheim utara. Pewarna biru mineral, produksi terbatas, cuma ada di tiga toko di ibukota.” Dia menghitung dengan jari. “Harganya sekitar delapan bulan gaji seorang guru akademi. Dan kebetulan sekali, sebelas hari yang lalu, Nona Elysia von Frostheim berhenti memakai syal birunya.”
Koridor terasa lima derajat lebih dingin.
“Beli di pasar,” kataku.
“Pasar mana?”
“Pasar.”
“Pasar yang mana, Rein.”
“Pasar... yang jual syal.”
Sera menatapku selama tiga detik penuh.
Lalu dia menunduk ke tumpukan kertasnya, menulis sesuatu dengan cepat, dan ketika dia mengangkat wajahnya lagi, senyumnya sudah kembali — tapi ada sesuatu di baliknya yang berubah. Lebih pelan. Lebih ingin tahu dalam arti yang berbeda.
“Kamu tahu,” katanya, “aku sudah dua tahun menulis tentang orang-orang di akademi ini. Dan biasanya, kalau aku menekan seseorang seperti barusan, mereka marah, atau panik, atau membual.” Dia memiringkan kepala. “Kamu cuma bohong dengan jelek dan kelihatan ingin pulang.”
“Saya memang ingin pulang.”
“Itu yang membuatmu menarik,” katanya. “Orang yang punya rahasia besar biasanya menikmati rahasianya. Kamu kelihatan seperti orang yang kalau bisa, akan membuang rahasianya ke sungai.”
Dia mundur, melambaikan pena bulunya, dan berbalik pergi.
“Sampai ketemu, tuan pembeli-syal-di-pasar!”
Aku menatap punggungnya menghilang di ujung koridor, lalu menghela napas panjang dan menarik syal itu menutupi separuh wajahku lagi.
Sialnya, gerakan itu sudah jadi kebiasaan.
(bersambung ke Bab 8)