Chapter Sixteen
Ritual
POV: Rein Gray
Lorong bawah Colosseum Terapung terasa lebih sempit hari itu.
Sepuluh menit sebelum perempat final. Dua belas ribu penonton di atas kepala kami. Aku bersandar ke dinding batu dengan mata tertutup, mencoba menyusun sisa kewarasanku menjadi sesuatu yang bisa berdiri tegak selama dua puluh menit.
Langkah kaki mendekat. Badai mati.
“Rein.”
Kubuka mata. Elysia berdiri di depanku, sangat dekat, dengan seragam pertandingan biru-perak dan rambut yang sudah diikat rapi memakai pita cadangan.
“Berdiri diam,” katanya.
“Aku memang sedang berdiri diam.”
“Diam lebih diam.”
Dia melangkah maju. Satu langkah. Terlalu dekat. Lalu tangannya terangkat — dan menyibak poniku ke samping.
Aku membeku.
Tidak ada yang pernah melakukan itu. Tiga tahun, dua dunia, tidak satu orang pun. Poni itu adalah gorden, dan gorden itu adalah bagian dari benteng, dan dia menyibaknya seperti orang membuka tirai kamarnya sendiri.
Udara dingin lorong menyentuh dahiku.
“Kamu selalu menutupi wajahmu,” gumamnya, entah pada siapa.
Lalu dia berjinjit, dan mengecup dahiku.
Dunia berhenti berfungsi untuk sesaat.
Bukan ciuman yang lama. Dua detik, mungkin tiga. Bibirnya dingin dan lembut dan sangat, sangat nyata, dan wangi udara-setelah-salju itu memenuhi seluruh kepalaku, dan di dalam keheningan absolut yang selalu datang saat dia menyentuhku, satu-satunya suara di seluruh dunia adalah jantungku sendiri yang berdetak seperti orang menggedor pintu.
Dia turun dari jinjitnya. Wajahnya merah. Punggungnya tetap lurus.
“Itu,” katanya dengan nada paling formal yang bisa dia produksi, “ritual keluarga Frostheim. Sebelum pertempuran. Sudah dilakukan selama enam generasi.”
“...Oh.”
“Untuk keberuntungan.”
“Oh.”
“Jadi jangan salah paham.”
“Tidak,” kataku, dengan suara yang sama sekali tidak meyakinkan siapa pun. “Tentu tidak.”
Dia mengangguk sekali, berbalik, dan berjalan ke arah cahaya di ujung lorong dengan langkah yang terlalu cepat untuk disebut anggun.
Aku berdiri di sana selama sepuluh detik penuh dengan tangan menempel di dahi.
Aku baru mencari tahu tiga hari kemudian, di perpustakaan bawah tanah, di rak silsilah bangsawan utara, bahwa keluarga Frostheim tidak memiliki ritual apa pun sebelum pertempuran.
Aku tidak pernah menyinggungnya.
Dia melakukannya lagi sebelum semifinal. Dan sebelum final. Dan sebelum setiap ujian, setiap dungeon, setiap hal besar yang datang sesudahnya, selama sisa cerita ini.
Enam generasi, katanya.
Aku memilih percaya.
“PEREMPAT FINAL! ARCANUM SPIRE MELAWAN ARCANUM SPIRE! FROSTHEIM DAN GRAY, MELAWAN ASHFORD DAN DELACROIX!”
Cedric Ashford berdiri di seberang arena dengan tongkat rubi di tangan dan lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak dia sembunyikan lagi.
Di sebelahnya, Marianne Delacroix — gadis bertubuh kecil dengan rambut pirang diikat ketat, atribut Cahaya, dan ekspresi yang sepanjang tiga bulan ini tidak pernah berubah dari sopan dan kosong.
“Aturan! Menyerah, pingsan, atau keluar garis! MULAI!”
Dan Cedric melakukan hal yang tidak dilakukan siapa pun di turnamen ini.
Dia mengabaikan Elysia sepenuhnya.
“[Crimson Edict].”
Dua belas bola api muncul — dan semuanya, tanpa kecuali, berbelok ke arahku.
“Rein!”
“[Frostveil]!”
Dinding es Elysia naik tepat waktu. Api menghantam. Uap meledak ke seluruh arena.
Dan di dalam uap itu, telingaku menangkap masalahnya.
Aba-aba Cedric acak.
Bukan sekadar berbeda — acak per bola. Dua belas api, dua belas pola perintah berbeda, sebagian mengandung jeda kosong yang tidak berarti apa-apa. Empat ratus repetisi di lapangan gelap itu bukan latihan kekuatan.
Itu latihan supaya tidak bisa kubaca.
Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di dunia ini, ada sihir yang tidak bisa kuhafal dalam satu kali dengar.
“Dia menargetkanmu,” desis Elysia, punggungnya menempel ke punggungku di tengah uap. “Kenapa? Menang lebih mudah kalau menyerangku duluan—”
“Dia tidak sedang mencoba menang.”
“Apa?”
“Dia sedang memaksaku.”
Cedric tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban dengan bertanya. Jadi dia memilih satu-satunya cara lain yang tersedia: menekanku sampai aku tidak punya pilihan selain menunjukkan sesuatu.
Uap menipis.
Dan Marianne Delacroix, yang sejak awal berdiri diam di belakang partnernya, mengangkat kedua tangannya.
“[Lumen Cage].”
Delapan pilar cahaya menancap di lantai arena mengelilingi kami. Cahaya menyilaukan meledak ke segala arah — bukan panas, bukan menghancurkan; sekadar terang, terang yang membakar retina, terang yang membuat mata tidak berguna sama sekali.
Tribun bersorak. Elysia mengumpat pelan — aku belum pernah mendengarnya mengumpat.
“Aku tidak bisa lihat—”
“Aku bisa.”
Karena telingaku menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik dari cahaya.
Aba-aba Marianne Delacroix.
Sempurna. Bersih. Presisi metronom. Setiap ketukan berjarak persis sama, setiap tarikan panjangnya identik, diulang tanpa satu pun variasi — jenis pola yang hanya bisa dimiliki orang yang berlatih formula yang sama sepuluh ribu kali sejak umur enam tahun karena disuruh, bukan karena mau.
Cedric menghabiskan tiga minggu membuat dirinya tidak terbaca.
Dan dia lupa bahwa dia bertanding berpasangan.
Aku meraih tangan Elysia. Kugenggam. Kualirkan.
“Lys. Dengarkan. Kiri-depan, tiga puluh derajat.”
Dia menegang. Lalu — tanpa satu detik ragu, tanpa bertanya, dengan mata tertutup di tengah cahaya yang membutakan — dia mengangkat tangannya.
“[Aurora Lance].”
Tombak cahaya-es melesat ke arah yang tidak bisa dilihat siapa pun di stadion itu, menembus dinding cahaya, dan menghantam pilar [Lumen Cage] ketiga tepat di titik jangkarnya.
Kandang cahaya itu retak.
Aku menjentikkan jari di dalam saku — sekali, sangat kecil, cukup untuk menyisipkan satu nada tandingan ke pola metronom Marianne yang tidak pernah berubah.
[Dissonance].
Tujuh pilar sisanya tidak padam.
Mereka terbalik.
Cahaya yang tadi menyembur ke dalam kandang berbalik menyembur ke luar — ke arah orang yang berdiri persis di luar batas kandang, mengandalkan penglihatannya untuk membidik.
Cedric Ashford menerima cahaya penuh di wajahnya.
“UGH—!”
Dan dua belas bola api yang sedang dia arahkan padaku kehilangan sasaran.
“Sekarang!” teriakku.
“[Stella Bloom].”
Medan bintang es meledak dari lantai arena.
Ribuan titik es melayang naik, berputar, berkilauan — lalu menutup serentak di sekeliling dua murid yang sama-sama tidak bisa melihat apa pun.
Es menelan mereka setinggi tiga meter.
Hening.
Lalu suara Marianne Delacroix, kecil dan sopan, dari dalam es:
“Kami menyerah.”
“PEMENANG! FROSTHEIM DAN GRAY! ARCANUM SPIRE MELAJU KE SEMIFINAL!”
Colosseum meledak.
Es dicairkan petugas. Cedric duduk di lantai arena, punggung bersandar ke bongkahan yang belum mencair, menekan matanya dengan lengan.
Aku berjalan mendekat sementara Elysia menerima sorakan di sisi lain arena.
“Matamu?”
“Buta sepuluh menit. Sudah biasa.” Dia menurunkan lengannya. Matanya merah dan berair, dan dia menyipit menatapku. “Delacroix.”
“Hm?”
“Kau membalik pilar Delacroix.” Dia terbatuk pelan. “Aku tidak bisa melihat apa pun, tapi aku bisa merasakan arah manaku sendiri. Apiku kehilangan sasaran tepat setengah detik setelah cahaya berbalik.” Dia menghela napas panjang. “Tiga minggu. Tiga minggu aku mengacak aba-abaku, dan kau cukup pindah ke partnerku.”
Aku tidak menjawab.
Cedric tertawa — pendek, serak, dan tanpa sedikit pun kepahitan.
“Kau tahu apa yang paling menyebalkan?”
“Apa?”
“Aku tidak bisa membuktikan satu pun dari ini.” Dia mengulurkan tangannya ke atas. “Bantu aku berdiri, Gray. Kakiku kesemutan dan aku menolak diangkat petugas medis di depan dua belas ribu orang.”
Aku menariknya berdiri.
Dia berdiri sambil memegang bahuku untuk keseimbangan, masih setengah buta, dan berkata pelan supaya cuma aku yang dengar:
“Semifinal lawanmu Ravenmoor. Yang sulung memakai artefak. Aku tidak tahu jenis apa, tapi manaku terasa salah setiap kali dia lewat.” Dia melepas bahuku. “Hati-hati.”
“Kenapa kamu memberitahuku?”
Cedric Ashford menyipit ke arah tribun yang masih bersorak, ke arah papan skor, ke arah namanya sendiri yang baru saja dicoret dari bracket.
“Karena aku sudah kalah,” katanya. “Dan kalau aku harus kalah, aku lebih suka kalah dari orang yang menang di final.”
Dia berjalan pergi, masih menyipit, menabrak satu petugas dalam perjalanannya.
Di seberang arena, Elysia menoleh padaku dari tengah kerumunan — rambut perak, bunga es di bahu, dan wajah yang untuk sekejap melupakan bahwa dua belas ribu orang sedang menontonnya.
Dia menyentuh dahinya sendiri dengan dua jari. Sekali. Cepat.
Ritual.
Aku menarik syal menutupi separuh wajahku, dan gagal total menyembunyikan apa pun.
(bersambung ke Bab 17)