← Chapters Ch. 38 / 45

Chapter Thirty Eight

Winter Requiem

POV: Rein Gray

Dia berlutut di depanku di tengah cahaya pemurnian, dan hal pertama yang dia lakukan bukan menyerang, bukan bertahan, bukan berteriak.

Dia menyibak poniku.

Tangannya gemetar, wajahnya kotor debu dan basah air mata, cahaya putih Solveig menggigit tepi seragamnya — dan Elysia von Frostheim menyibak poniku ke samping dengan dua jari, pelan, seperti kami sedang berdiri di lorong Colosseum dan bukan di tengah kiamat kecil.

“Berdiri diam,” katanya. Suaranya pecah total.

“...Lys—”

“Berdiri. Diam.”

Dan di tengah medan perang, di dalam cahaya yang menghapus, di depan dua pasukan dan satu entitas berduka dan seluruh kota yang menonton lewat dua belas cermin — dia mengecup dahiku.

Dunia mati.

Cahaya Solveig masih menyala. Himne masih menghantam. Tapi di dalam tubuhku, di tempat semuanya berisik dan robek dan terhapus, keheningan itu turun seperti salju — dan bersama keheningan itu, mengalir lewat titik kecil di dahiku tempat bibirnya menyentuh, datang seluruh isi ruangan itu: lima bulan, syal, roti, kertas kuis, dua jam di perpustakaan, sebelas hari, tiga puluh satu hitungan, tujuh generasi yang baru berumur tiga bulan.

“Ritual keluarga Frostheim,” bisiknya, dahi menempel di dahiku. “Tujuh generasi. Dan sekarang dengarkan aku, Rein Gray, karena aku cuma akan mengatakannya sekali.”

Dia menggenggam kedua tanganku.

“Kamu bilang keheninganmu sekarang satu ruangan penuh.” Matanya menatapku dari jarak sesenti, biru pucat dengan retakan cahaya, tidak berkedip. “Maka berhenti bertarung sendirian di luar ruangan itu. Bawa aku masuk. Seluruhnya. Bukan lewat genggaman, bukan lewat aliran — semuanya. Sync kita seratus persen sudah tiga bulan dan kita belum pernah sekali pun memakainya dengan sungguh-sungguh, karena kamu selalu menahan pintunya, karena kamu takut aku mendengar apa yang kamu dengar.”

“Itu akan menyakitimu—”

“AKU TAHU!” Dia berteriak, dan air matanya jatuh ke tanganku. “Aku sudah mendengarnya sekali di Aula Resonansi dan aku menangis dan kamu pikir itu alasan untuk melindungiku — dasar bodoh, aku menangis karena kamu menanggungnya SENDIRIAN! Jadi buka pintunya, Rein! Sekarang! Kita tanggung berdua atau tidak sama sekali!”

Cahaya Solveig menggigit lebih dalam. Entitas di Vault menjerit makin liar. Dunia mengecil menjadi satu keputusan.

Dan aku — anak yang tiga tahun membangun dinding, yang hidup dari tiga aturan, yang bahkan setelah lima bulan masih menahan pintu terakhirnya —

membuka semuanya.


Aku tidak bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang terjadi berikutnya. Sera menulis dua edisi khusus tentangnya dan tetap bilang tulisannya gagal. Prof. Maren menyebutnya “resonansi sempurna pertama yang tercatat sejarah”. Gart menyebutnya “waktu langit nyanyi”.

Yang kutahu adalah ini:

Aku membuka pintu, dan Elysia masuk, dan untuk pertama kalinya dua telinga mendengar dunia bersama-sama — kebisingannya terbagi dua, dukanya terbagi dua — dan dari sisi dia, mengalir balik ke arahku, datang sesuatu yang tidak pernah kumiliki:

Keheningan yang aktif. Bukan ketiadaan suara — Stillfrost Vein bukan kekosongan; ia adalah salju, keheningan yang turun dan menyelimuti dan meredakan, keheningan yang bisa dinyanyikan.

Dan kami menyanyikannya.

[WINTER REQUIEM—

Dua suara. Satu frekuensi.

—MOVEMENT FINAL].

Salju pertama jatuh di tengah musim semi.

Bukan dari awan. Dari udara itu sendiri — di seluruh halaman akademi, di atas dua pasukan, butiran es astral mulai terbentuk dan turun perlahan, masing-masing membawa satu nada keheningan, dan di mana pun butiran itu jatuh, suara mereda seperti dunia ditutupi selimut.

Cahaya [Hymn of Purgation] meredup — bukan dipatahkan; diselimuti, nada demi nada, sampai himne empat puluh tahun itu terdengar seperti nyanyian anak kecil di tengah salju turun, dan padam.

Solveig jatuh berlutut, menatap tangannya sendiri yang tidak lagi bercahaya.

Dan salju itu terus turun — melewatiku, melewati Elysia, bergulung naik menjadi badai putih yang lembut dan mahaluas — menuju satu titik:

Fatamorgana yang menjerit di atas Vault.

Entitas itu — duka tiga ratus tahun itu — menegang saat salju pertama menyentuhnya.

Dan aku bicara padanya untuk terakhir kalinya, dengan dua suara sekarang, karena Elysia ada di dalam frekuensiku dan aku di dalam frekuensinya:

Kau mencari sihir yang tidak pernah berbunyi.

Salju turun menembusnya, ke dalamnya, dan di setiap butir ada nada yang sama — nada gadis penenun tiga ratus tahun lalu, nada yang mengalir darah ke darah, generasi ke generasi, sampai malam ini:

Ini dia. Ia tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu seseorang yang bisa mengantarkannya kembali padamu.

Jeritan itu goyah.

Melembut.

Dan berubah — nada demi nada, seperti tangis yang kehabisan tenaga — menjadi sesuatu yang belum pernah didengar dunia ini dari makhluk itu:

Isakan. Lalu napas. Lalu hening.

Di seluruh halaman, mawar-mawar es mulai bermekaran — di ubin yang hancur, di dinding labirin Gart, di perisai pasukan Gereja yang terpaku, di pundak jubah putih dan seragam akademi tanpa membedakan — ribuan mawar es astral yang mekar tanpa suara di bawah salju musim semi.

Fatamorgana di atas Vault mengecil.

Menjadi seukuran manusia.

Dan untuk satu detik — satu detik saja, yang hanya terekam oleh satu cermin Sera dan yang diperdebatkan para sarjana selama puluhan tahun sesudahnya — ia punya bentuk: seorang pemuda kurus dengan poni terlalu panjang, berdiri di tengah salju, menghadap kami.

Dia menunduk. Dalam. Seperti orang berterima kasih.

Lalu dia duduk — di udara, di tempat yang selama tiga ratus tahun menjadi penjaranya, dengan gerakan orang yang akhirnya menemukan bangkunya —

dan buyar menjadi salju.

The Vault menutup dengan embusan napas panjang.

Dan di atas Arcanum Spire, salju musim semi terus turun selama satu jam penuh, sunyi total, ke atas dua pasukan yang sudah berhenti berperang tanpa ada yang memerintahkan, ke atas ribuan warga Vellis yang berdiri membeku di depan papan-papan cermin kota, ke atas seorang Inquisitor tua yang berlutut di tengah halaman dengan rantai emas yang padam.


High Inquisitor Solveig masih berlutut ketika kami menghampirinya.

Dia menatap salju di telapak tangannya — butiran es astral yang meleleh tanpa suara — untuk waktu yang sangat lama.

“Empat puluh tahun,” katanya akhirnya, kepada tidak siapa-siapa. “Empat puluh tahun aku bertanya kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kuselamatkan.”

Dia mengangkat wajahnya. Dan wajah itu — wajah yang selama lima hari sidang tidak bergerak satu milimeter — sudah runtuh sepenuhnya, dan yang tersisa hanyalah orang tua yang sangat, sangat lelah.

“Jawabannya bukan karena mereka tidak bisa diselamatkan,” katanya. “Jawabannya karena aku datang membawa pisau ke orang-orang yang membutuhkan selimut.”

Dia melepas rantai emas berlapis tiga dari lehernya, dan meletakkannya di ubin yang hancur, di antara mawar-mawar es.

“Kantor Pemeriksaan menghentikan seluruh operasi, atas wewenangku, terhitung saat ini.” Dia berdiri, tertatih, menolak tangan yang diulurkan ajudannya. “Dan aku akan berdiri di depan panel yang sama yang putusannya kusobek, sebagai terperiksa. Ada empat puluh tujuh keluarga yang berhak mendengar pengakuanku.”

Dia berjalan melewati kami menuju gerbang — lalu berhenti, sejajar bahuku, tanpa menoleh. Kebiasaan orang-orang yang tidak tahu cara mengatakan hal penting sambil bertatapan. Kontinen ini penuh dengan mereka.

“Nak.”

“Ya.”

“Aku pernah bilang aku tidak pernah salah.” Salju turun di antara kata-katanya. “Terima kasih sudah membuktikan bahwa aku pembohong.”

Dan High Inquisitor terakhir dari era lama Gereja Choir Suci berjalan keluar dari gerbang Arcanum Spire, di bawah salju musim semi, melewati barisan pasukannya sendiri yang satu per satu melepas tudung putih mereka — entah sebagai penghormatan untuk siapa, tidak ada yang pernah bertanya.

(bersambung ke Bab 39)