← Chapters Ch. 42 / 45

Chapter Forty Two

Extra 2 — Festival (Side Story: Gart & Sera)

POV: Gart Oakley

Aku, Gart Oakley, Kapten Barisan Dinding, murid yang naik dua peringkat, pria yang pernah berteriak “KAMI DINDING” ke tiga ratus penyanyi Gereja tanpa gemetar sedikit pun —

sudah berdiri di depan pintu ruang Klub Jurnal selama sebelas menit.

Tanpa mengetuk.

“Kau menghalangi koridor,” kata sebuah suara di belakangku.

Aku menoleh. Cedric Ashford berdiri di sana dengan tumpukan berkas Barisan Kedua, menatapku dengan ekspresi yang dia pakai untuk formasi yang jelek.

“Aku sedang... memeriksa pintunya.”

“Sebelas menit?”

“Pintu ini bersejarah.”

“Gart.” Cedric memindahkan berkasnya ke satu tangan. “Festival musim gugur dua hari lagi. Kau memegang selebaran festival di tangan kananmu. Kau sudah melipatnya bolak-balik sampai gambarnya luntur. Bahkan formasi terjelek pun bisa kubaca.”

Aku menatap selebaran di tanganku. Memang luntur.

“...Kalau dia ketawa gimana?”

“Dia selalu ketawa. Itu setengah dari kepribadiannya.”

“Maksudku ketawa yang itu.”

Cedric menghela napas panjang, meletakkan berkasnya di kusen jendela, dan menyandarkan diri ke dinding dengan gaya bangsawan yang menyerah pada tugasnya.

“Dengar. Aku akan mengatakan ini sekali, sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan yang seluruh percakapannya adalah strategi.” Dia menatapku. “Perempuan itu jurnalis terbaik di kontinen ini. Dia membaca kebohongan untuk sarapan. Satu-satunya senjata yang tidak bisa dia lawan adalah orang yang jujur total tanpa taktik sama sekali.” Jeda. “Yang mana, kebetulan, adalah satu-satunya senjata yang kau punya.”

“...Itu pujian atau hinaan?”

“Iya,” kata Cedric, mengambil berkasnya dan pergi.

Aku menatap pintu itu satu menit lagi.

Lalu aku mengetuk — terlalu keras, seperti biasa, dan dari dalam terdengar suara tumpukan kertas jatuh dan umpatan kecil dan “MASUK! Kalau kau tagihan percetakan, aku sudah bayar!”

Aku masuk.

Sera Wyndale mendongak dari mejanya — rambut dikuncir pensil, tinta di pipi, dikelilingi draft edisi festival — dan mengangkat alis.

“Kapten Dinding. Tumben. Ada berita?”

“Ada.” Aku menarik napas, mengangkat selebaran yang luntur, dan menembakkan satu-satunya formasi yang kupunya: “FESTIVAL. LUSA. KAMU. AKU. MAU TIDAK.”

Hening.

Pena bulunya berhenti melayang.

Sera menatapku selama tiga detik penuh dengan mata cokelat besar itu, dan aku bisa melihat otak jurnalisnya bekerja — mencari sudut, mencari lelucon, mencari taktik —

dan tidak menemukan apa-apa, karena tidak ada apa-apa. Cuma aku, selebaran luntur, dan koridor yang kujaga sebelas menit.

“...Kamu serius,” katanya pelan.

“Aku selalu serius. Kadang-kadang.”

Dan Sera Wyndale — yang selalu tertawa lebih dulu, yang membaca semua orang, yang tidak pernah kehabisan kata dalam sembilan belas tahun hidupnya — menunduk ke mejanya, menyelipkan rambut ke belakang telinganya yang mulai merah, dan berkata dengan suara yang belum pernah kudengar darinya:

“...Jam berapa jemputnya?”


POV: Sera Wyndale

Untuk catatan: aku tidak berencana menerimanya.

Aku punya rencana hidup yang rapi. Lulus, koran ibukota (suatu saat, kalau ceritaku selesai), nama di sampul, ayah yang akhirnya menganggap pekerjaanku serius. Tidak ada kolom “anak petani sebesar gerbong yang berteriak di depan pintu klubku” di rencana itu.

Tapi jurnalis yang baik mengikuti fakta, dan faktanya begini:

Fakta satu: di dungeon gelap itu, saat sembilan belas monster mengepung dan semua orang mengandalkan telinga Rein, ada satu orang yang berdiri di tengah kegelapan tanpa bisa melihat apa-apa, tidak mundur satu langkah pun, dan menjadi dinding untuk kami semua — termasuk untuk seniornya yang menyelinap ikut demi sebuah cerita.

Fakta dua: saat perang, saat aku menyiarkan dari menara dan tanganku gemetar hebat sampai cermin ketiga hampir jatuh, orang yang sama meninggalkan posnya tiga menit — TIGA MENIT, di tengah perang, dia dimarahi Prof. Maren sesudahnya — untuk berlari ke menara jurnal dan menumpuk empat dinding tanah setebal satu meter di sekeliling kami, dan berteriak “LANJUTKAN SIARANNYA, SENIOR! DINDINGNYA URUSANKU!” lalu berlari kembali.

Fakta tiga: dia satu-satunya orang di akademi ini yang tidak pernah, sekali pun, memperlakukanku seperti orang yang harus diwaspadai. Semua orang berhati-hati di dekat jurnalis. Dia lupa aku jurnalis. Dia cuma ingat aku Sera.

Fakta empat — dan ini yang paling menyebalkan, dan yang kusadari lusa malamnya, di festival, saat orang sebesar gerbong itu memenangkan boneka dari stan lempar untukku dengan akurasi mengerikan hasil latihan melempar [Bulwark], lalu menyerahkannya sambil nyengir lebar tanpa taktik apa pun:

Aku sudah lama berhenti mencari cerita orang lain setiap kali dia ada di ruangan.

“Kenapa senyum-senyum?” tanyanya, mulut penuh permen apel.

“Rahasia jurnalis.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Dan kamu selalu percaya.”

“Iya,” katanya, dengan kejujuran total tanpa taktik yang merupakan satu-satunya senjatanya, “soalnya aku percaya kamu.”

...Dasar.

Beginilah cara tembok jatuh, para pembaca. Bukan didobrak.

Ditunggui.

(bersambung ke Extra 3) -e