Chapter Eleven
Movement I
Colosseum Terapung adalah kesombongan yang dibangun jadi arsitektur.
Cakram batu putih selebar dua lapangan, melayang dua puluh meter di atas permukaan Danau Vellis, ditahan oleh dua belas pilar sihir levitasi yang berdengung terus-menerus sejak dua ratus tahun lalu. Tribunnya melingkar naik ke atas dalam sebelas tingkat. Kapasitas dua belas ribu orang.
Hari itu, dua belas ribu kursi terisi.
Aku berdiri di lorong bawah arena, menatap cahaya di ujung terowongan, dan mencoba mengingat kenapa aku tidak melarikan diri semalam ketika masih sempat.
Dengungan dari luar sana bukan lagi kebisingan. Itu badai. Dua belas ribu Core, dua belas pilar levitasi, ratusan artefak perekam yang dipasang di sekeliling tribun untuk mencatat pertandingan demi arsip kerajaan. Kalau ujian praktik di aula kemarin adalah lonceng yang dipukul di sebelah telingaku, ini adalah berdiri di dalam lonceng itu sendiri.
Pandanganku sudah berkedip sebelum pertandingan dimulai.
Sesuatu menyentuh punggung tanganku.
Jari-jari dingin menyelip di antara jari-jariku dan mengunci. Bukan genggaman sopan. Genggaman penuh, telapak ke telapak, jari-jari saling menyilang.
Badai mati.
Aku menoleh. Elysia menatap lurus ke depan, ke arah cahaya di ujung lorong, dagu terangkat lima derajat seperti biasa, dan wajahnya adalah wajah Frostheim yang sempurna dan tidak terbaca.
Cuma telinganya yang merah.
“Sync,” katanya datar. “Untuk persiapan.”
“Sync kita 68%. Sudah tertinggi di turnamen.”
“Bisa lebih tinggi.”
Aku menatap tangan kami beberapa saat.
“...Baik,” kataku. “Untuk Sync.”
“Untuk Sync,” ulangnya.
Kami berjalan ke arena sambil bergandengan tangan, dan tidak satu pun dari kami mengatakan apa pun tentang fakta bahwa Sync tidak naik dari genggaman tanpa aliran mana, dan bahwa kami berdua tahu itu, karena kami berdua pernah membaca buku yang sama.
“BABAK PENYISIHAN PERTAMA! ARCANUM SPIRE MELAWAN AKADEMI VERDANT HOLLOW!”
Suara komentator menggema dari kristal pengeras di sekeliling arena. Dua belas ribu orang bersorak.
Lawan kami sudah berdiri di seberang: sepasang murid Verdant Hollow dengan seragam hijau tua. Cowok bertubuh kekar dengan sarung tangan besi — atribut Tanah, kalau telingaku benar. Cewek jangkung dengan busur pendek — Angin, dan mananya rapi sekali; jenis orang yang berlatih tanpa keluhan sejak kecil.
“Verdant Hollow spesialis pertahanan,” gumam Elysia di sebelahku, matanya tidak lepas dari lawan. “Mereka akan menunggu kita menyerang, menguras mana kita, lalu menghabisi di menit terakhir. Jangan terpancing.”
“Rencana?”
“Kamu tetap di belakang. Jangan pakai apa pun.” Dia melepas tanganku dan melangkah maju setengah langkah, membentuk perisai antara aku dan arena. “Aku yang bertarung. Kamu cukup berdiri dan terlihat seperti Rank E yang beruntung punya partner bagus.”
“Elysia—”
“Ini yang paling aman untukmu.” Suaranya turun. “Delapan ratus orang di aula membuatmu mimisan. Ini dua belas ribu. Aku tidak mau kamu memakai apa pun hari ini.”
Aku ingin membantah. Aku tidak sempat.
“MULAI!”
Cewek berbusur itu melepas tiga anak panah angin dalam satu tarikan. Elysia mengangkat tangan.
“[Frostveil].”
Kabut es meledak keluar dari lantai arena dan membentuk dinding melengkung setinggi tiga meter. Panah angin menghantamnya dan pecah jadi serpihan putih.
Tribun bersorak. Aku mendengar sesuatu yang lain.
Aba-aba cewek itu tidak berhenti setelah panah dilepas.
Dia masih memberi perintah.
“Elysia! Panahnya belum mati!”
“Apa—”
Tiga serpihan yang tampak pecah itu berkumpul kembali di belakang dinding es — di sisi kami — dan melesat ke arah punggungnya.
Elysia berputar dengan refleks yang mengagumkan, membentuk perisai kedua setengah jadi, dan menahan dua dari tiga. Yang ketiga menyerempet lengan atasnya. Kain seragam robek. Garis merah muncul.
“Nona Frostheim terkena!” seru komentator. “Teknik Verdant Hollow — [Second Flight] — panah yang bisa dirakit ulang setelah dihancurkan!”
Sesuatu yang dingin dan asing menjalar ke dadaku.
Aku sudah melihat orang terluka sebelumnya. Aku sudah melihat hal yang jauh lebih buruk di gudang penggilingan, di jalanan kota, di tiga tahun hidup sendirian di dunia asing.
Aku tidak pernah merasakan yang ini.
“Rein, mundur,” kata Elysia cepat, menekan lengannya. “Aku masih bisa—”
“Diam sebentar.”
Aku menutup mata.
Dan membuka telingaku sepenuhnya, di tengah dua belas ribu orang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Rasanya seperti dihantam gerbong kereta.
Semua masuk sekaligus — dua belas ribu Core, dua belas pilar levitasi, ratusan artefak perekam, jantung dua belas ribu orang yang berdegup, dan di suatu tempat di dasar semua itu, denyut Danau Vellis sendiri. Darah mengalir dari hidungku dalam dua detik. Dunia berkedip.
Tapi di dalam badai itu, aku menemukan satu benang.
Aba-aba cewek berbusur itu. Pola perintahnya untuk [Second Flight]: satu tarikan, dua ketuk pendek, satu tarikan lagi. Sederhana. Elegan. Dan — seperti semua sihir yang pernah dibuat manusia — punya frekuensi.
[Echo Memory]. Terekam.
Aku membuka mata dan meraih pergelangan tangan Elysia.
“Rein! Apa yang kamu—”
“Bentuk [Frostveil] lagi,” kataku. “Sekarang. Sebesar yang kamu bisa.”
“Kamu berdarah—”
“Percaya aku.”
Dia menatapku selama setengah detik.
Setengah detik. Itu saja yang dia butuhkan.
“[Frostveil].”
Kabut es meledak keluar, dan kali ini aku tidak melepas tangannya.
Aku menyalurkan mana lewat genggaman itu — dan bersamanya, sesuatu yang bukan mana.
[Overtone].
Aku mengambil nada sihir esnya — nada yang sudah dua bulan ini kudengar setiap sore di Aula Resonansi, nada yang lebih kuhafal daripada namaku sendiri — dan kumainkan ulang. Diperkuat. Dilipatgandakan. Bukan mengubah sihirnya; memperbesar suaranya.
Dinding es setinggi tiga meter itu naik.
Enam meter. Sepuluh. Dua puluh.
Kabut putih membanjir keluar dari lantai arena dan naik seperti air bah terbalik, membentuk kubah raksasa yang menelan separuh Colosseum Terapung, dan di dalam kubah itu udara turun tiga puluh derajat dalam dua detik. Uap membeku. Butiran es melayang di udara seperti debu bintang.
Dua belas ribu penonton berdiri serentak.
Dan Elysia von Frostheim menatap tangannya sendiri dengan mata membelalak, karena dia tahu — lebih baik dari siapa pun di stadion ini — bahwa dia tidak memiliki kapasitas mana untuk melakukan apa yang baru saja dia lakukan.
“Rein, ini—”
“Panahnya,” kataku, memegang tangannya erat-erat, darah masih menetes dari daguku. “Dengarkan. Bukan lihat. Dengarkan.”
Dan lewat genggaman itu — lewat Sync 68% yang dibangun dari dua bulan latihan, roti tiga tembaga, syal biru, dan dua jam tidak bergerak di perpustakaan — aku mengalirkan apa yang kudengar.
Bukan kata-kata. Bukan gambar.
Frekuensi.
Aku merasakan tubuhnya menegang saat itu masuk. Napasnya tersentak. Dan kemudian, pelan-pelan, matanya bergerak — tidak ke arah panah yang melesat, tapi ke arah ruang kosong di mana panah itu akan dirakit ulang.
“...Aku bisa mendengarnya,” bisiknya.
“Sekarang,” kataku. “Nyanyikan balik.”
Elysia mengangkat tangan.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Arcanum Spire, sebuah jendela status muncul di udara di antara dua murid tahun pertama:
┌───────────────────────────────┐
│ PARTNER SYNC : 68% → 84% │
│ ▶ DUET SKILL TERBUKA │
│ [WINTER REQUIEM — MOV. I] │
└───────────────────────────────┘
“[Winter Requiem].”
Kubah es itu bergerak.
Tidak meledak. Tidak menyerbu. Ia menyanyi — seluruh dua puluh meter es dan kabut dan butiran beku itu bergetar dalam satu nada rendah yang bisa dirasakan sampai ke tribun tertinggi, dan di dalam nada itu, setiap serpihan panah angin yang berusaha merakit dirinya kembali... berhenti.
Membeku di udara. Retak. Jatuh sebagai debu putih.
Cewek berbusur itu melepas lima panah lagi dengan panik. Kelimanya membeku sebelum mencapai setengah jarak.
Cowok bersarung tangan besi menerjang maju dengan tinju tanah, dan es merambat naik ke lengannya, memaku kakinya ke lantai arena.
Di tengah kubah, di dalam badai putih yang menyanyi, Elysia von Frostheim berdiri dengan rambut perak melayang dan tangan tergenggam erat di tangan seorang murid Rank E yang berdarah dari hidung, dan mawar-mawar es kecil bermekaran di sepanjang lantai arena di bawah kaki mereka.
“MENYERAH!” teriak cowok Verdant Hollow. “KAMI MENYERAH!”
Nada itu berhenti.
Kubah es runtuh menjadi hujan butiran putih yang jatuh pelan-pelan di seluruh arena, berkilauan kena matahari, dan dua belas ribu orang berdiri di tribun mereka dalam keheningan penuh selama tiga detik penuh sebelum Colosseum Terapung meledak oleh sorakan yang bisa terdengar sampai kota.
“PEMENANG! ARCANUM SPIRE! FROSTHEIM DAN GRAY!”
Komentator berteriak sesuatu tentang keajaiban, tentang Rank S termuda dalam satu dekade, tentang Duet Skill pertama dalam empat puluh tahun sejarah turnamen.
Tidak satu pun dari mereka menyebut namaku sebagai penyebab apa pun.
Sempurna.
Aku melepaskan genggamanku, dan badai kembali menghantam telingaku dengan kekuatan penuh, dan lututku menyerah.
“Rein—!”
Tangannya menangkapku sebelum aku menyentuh lantai.
Dan hal terakhir yang kudengar sebelum semuanya jadi putih adalah suaranya — bukan suara peringkat satu, bukan suara Frostheim, cuma suara seorang gadis berumur enam belas tahun yang ketakutan — memanggil namaku berulang-ulang di tengah sorakan dua belas ribu orang yang sedang merayakan kemenangan kami.
(bersambung ke Bab 12)
- 1 Tiga Aturan untuk Tidak Dikenal
- 2 Satu Detik yang Menghancurkan Tiga Tahun
- 3 Kursi Paling Belakang, Deret Paling Pojok
- 4 Kebetulan Tingkat Lanjut
- 5 Hening yang Punya Nama
- 6 Cara Menang Tanpa Menyerang
- 7 Syal
- 8 Hal-Hal yang Tidak Dilihat Orang Lain
- 9 Dua Jam yang Tidak Kuceritakan pada Siapa Pun
- 10 Di Dekat Kamu, Dunia Sunyi
- 11 Movement I reading
- 12 Aku Duluan
- 13 Hari Pertama Sebagai Sesuatu yang Belum Ada Namanya
- 14 Lima Huruf
- 15 Orang yang Bertanya dengan Benar
- 16 Ritual
- 17 Interlude: Es yang Terlalu Sunyi
- 18 Tiga Hal yang Terjadi di Hari yang Sama
- 19 Konduktor
- 20 Salju Pertama
- 21 Seratus
- 22 Utang Satu Roti
- 23 Adipati
- 24 Empat Puluh Tujuh Halaman
- 25 Semifinal
- 26 Final, Bagian Pertama
- 27 Requiem
- 28 Kalimat yang Diucapkan dengan Tenang
- 29 Tujuh Hari
- 30 Sidang
- 31 Yang Tidak Ditulis Sejarah
- 32 Kesaksian yang Sunyi
- 33 Dua Himne
- 34 Tujuh Hari Kedua
- 35 Fajar Hari Ketujuh
- 36 Dinding
- 37 Ikrar
- 38 Winter Requiem
- 39 Yang Tersisa Setelah Salju
- 40 Epilog: Kursi Paling Belakang
- 41 Extra 1 — Rumah yang Terlalu Besar
- 42 Extra 2 — Festival (Side Story: Gart & Sera)
- 43 Extra 3 — Kencan yang Direncanakan Terlalu Matang
- 44 Extra 4 — Gudang Penggilingan
- 45 Extra 5 — Tujuh Generasi (Penutup)