← Chapters Ch. 29 / 45

Chapter Twenty Nine

Tujuh Hari

POV: Elysia von Frostheim

Hari pertama, kami tidak melakukan apa-apa.

Itu permintaanku. Rein mengira aku akan menyusun strategi sejak pagi — dia sudah menyiapkan peta katedral, salinan Pakta Choir, daftar preseden hukum. Aku menutup semua bukunya dan berkata: “Besok. Hari ini kita ke kota.”

Kami turun ke kota di tepi Danau Vellis seperti dua murid biasa. Aku memakai jubah tanpa lambang. Dia memakai syal biru — syalku, syalnya, syal kami — dan kami melakukan hal-hal yang tidak pernah sempat kami lakukan: membeli manisan di pasar, menonton perahu nelayan, duduk di dermaga kayu sampai sepatu kami hampir menyentuh air.

Dia membelikanku roti isi dari kios pinggir jalan. Tiga tembaga.

Aku menyimpan bungkusnya. Aku tidak memberitahunya. Sampai sekarang ada di laci mejaku, dilipat rapi, di atas enam belas surat ayahku yang tidak kubalas.

Manusia menyimpan hal-hal yang aneh saat sedang berbahagia dan ketakutan di waktu yang sama.


Hari kedua sampai kelima, aku berperang.

Bukan dengan sihir. Dengan hal yang lebih tua dan lebih kotor: nama.

Aku menulis sembilan surat. Kepada Countess Alverin, yang putranya duduk di tribun timur saat colosseum hampir jatuh. Kepada keluarga Morn — Cassia Morn, lawan final kami, ternyata putri ketiga rumah bangsawan selatan, dan dia menulis balasan dua halaman yang diakhiri kalimat: keluarga kami berutang nyawa, dan Solmere membayar utangnya. Kepada Gilda Pedagang Vellis, yang seluruh armada perahunya selamat karena colosseum turun dan bukan jatuh.

Kepada semua orang yang hari itu ada di atas cakram batu, atau yang orang-orang tersayangnya ada di sana.

Isinya sederhana. Aku tidak meminta mereka membela Rein. Aku hanya bertanya satu hal: hadir atau tidaknya Anda di sidang terbuka akan dicatat sejarah. Di sisi mana Anda ingin dicatat?

“Sidangnya tertutup,” kata Rein, membaca salah satu draftku.

“Sekarang tertutup,” kataku. “Pasal empat Pakta Choir: sidang bisa dibuka untuk publik jika diminta oleh tiga rumah bangsawan besar atau lebih. Tidak pernah dipakai selama dua ratus tahun, karena tidak pernah ada yang cukup peduli pada orang yang diseret ke sana.”

Aku menyegel surat kesembilan.

“Aku akan membuat mereka peduli.”

Ayahku mengirim pesan di hari keempat. Satu baris, tanpa salam, tanpa penutup:

Rumah Frostheim adalah rumah besar pertama yang menandatangani permintaan sidang terbuka. Jangan bertanya kenapa.

Aku menatap kertas itu selama sepuluh menit.

Lalu aku melipatnya dan meletakkannya di laci — bukan di tumpukan enam belas surat yang tidak kubalas.

Di tempat bungkus roti.


Hari keenam, Sera Wyndale menerbitkan edisi khusus.

Judulnya, tercetak besar di halaman depan dua ribu eksemplar yang disebar bukan hanya di akademi tapi di seluruh kota Vellis:

“RANK E YANG MENYELAMATKAN KITA SEMUA.”

Isinya bukan pembelaan. Sera terlalu pintar untuk membela. Isinya kesaksian — empat puluh wawancara yang dia kumpulkan dalam lima hari: penonton tribun timur yang menceritakan detik-detik rantai cahaya putus, penjaga yang mengakui sihir penahan mereka tinggal tersisa sepertiga, ibu yang memeluk anaknya di tingkat sebelas, komentator yang menangis di menit terakhir wawancara.

Dan di paragraf penutup, satu-satunya kalimat opini di seluruh artikel:

Kantor Pemeriksaan menyebut kekuatan yang menghentikan bencana itu dengan kata ‘Bencana’. Penulis menyerahkan kepada dua belas ribu saksi untuk menilai apakah kata itu dipakai dengan benar.

Kota Vellis mendidih dalam satu hari.

“Dia menaruh namanya di sana,” kata Rein pelan, menatap kolom penulis. “Nama lengkap. Padahal dia bisa anonim.”

“Dia jurnalis,” kataku. “Dan dia ingin Gereja tahu harus marah pada siapa.”

Aku meletakkan koran itu.

“Rein.”

“Hm.”

“Sesudah semua ini selesai,” kataku, “aku akan tetap tidak akan pernah mengalah pada perempuan itu. Dalam hal apa pun. Seumur hidup.”

“...Oke?”

“Tapi kalau ada yang menyentuh dia karena artikel ini,” kataku, “mereka berurusan dengan Frostheim.”

Rein menatapku dengan ekspresi yang dia pakai setiap kali dia memutuskan aku tidak masuk akal dan dia menyukainya.

“Kamu ini rumit sekali.”

“Aku perempuan,” kataku. “Dan aku Frostheim. Rumit itu warisan.”


Hari ketujuh.

Katedral Agung Vellis berdiri di bukit di seberang danau: bangunan pualam putih dengan tiga menara lonceng dan pintu perunggu setinggi enam orang. Di anak tangganya yang berjumlah seratus, pagi itu, berdiri barisan jubah putih di kiri dan kanan seperti dua dinding salju.

Dan di alun-alun di bawahnya: ribuan orang.

Warga Vellis. Murid akademi — hampir seluruhnya, dipimpin barisan depan yang membuatku hampir menangis di tempat: Gart Oakley dengan perisai punggungnya, Cedric Ashford dengan seragam lengkap dan lencana Marquis dipakai terang-terangan, Sera dengan seluruh klub jurnalnya membawa alat catat, Prof. Maren Vale berdiri paling ujung dengan wajah orang yang sudah menunggu hari ini selama sembilan tahun.

Dan bangsawan. Sebelas rumah besar mengirim perwakilan. Sebelas panji berdiri di sisi alun-alun.

Panji biru-perak Frostheim berdiri paling depan, dan di bawahnya, ayahku, yang menatapku dari kejauhan dan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan seumur hidupku:

Dia menganggukkan kepalanya lebih dulu.

Rein berhenti di anak tangga pertama.

Dia memandang barisan jubah putih di atas, lalu lautan manusia di belakang, lalu aku.

“Kamu yang melakukan ini,” katanya.

“Kami,” koreksiku. “Aku cuma menulis surat.”

“Lys—”

“Dengarkan aku.” Aku berdiri di depannya, di anak tangga pertama katedral, di depan ribuan orang, dan aku merapikan syal di lehernya dengan kedua tangan — dua putaran, lipatan terakhir, seperti yang kulakukan di Aula Resonansi bulan-bulan yang lalu, saat semua ini masih pura-pura. “Apa pun yang terjadi di dalam, kamu tidak masuk sebagai tertuduh. Kamu masuk sebagai orang yang ditunggu dua belas ribu saksinya. Ingat itu.”

Aku berjinjit.

Dan di depan ribuan orang, di kaki katedral Gereja Choir Suci, aku mengecup dahinya.

Alun-alun itu — ribuan orang, sebelas panji, dua dinding jubah putih — hening total.

“Ritual keluarga Frostheim,” kataku. “Enam generasi.”

“Tujuh,” kata Rein.

“...Apa?”

“Mulai hari ini tujuh,” katanya, dan menggenggam tanganku, dan kami menaiki seratus anak tangga itu bersama-sama.

(bersambung ke Bab 30)