Chapter Two
Satu Detik yang Menghancurkan Tiga Tahun
Satu detik itu memanjang.
Selalu begini kalau aku membuka telingaku sepenuhnya: dunia melambat, dan segala hal berubah menjadi nada. Bola api liar itu — di mata orang lain cuma kobaran oranye yang melesat — di telingaku adalah jeritan sumbang tiga oktaf, formula patah yang memakan dirinya sendiri, membengkak dengan frekuensi yang naik... naik... menuju satu titik pecah.
Dan di jalurnya, keheningan itu berdiri.
Gadis berambut perak. Sigil pertahanan esnya sudah setengah terbentuk di udara — cepat, presisi, indah, dan salah. Esnya akan menahan benturan. Lalu frekuensi sumbang itu akan beresonansi dengan pecahannya, dan tribun di belakangnya berubah jadi lautan api.
Tidak ada waktu berpikir. Jadi aku tidak berpikir.
Aku “tersandung”.
Tersandung yang sangat terlatih, tepatnya — jatuh ke depan menembus barisan, tangan kanan terjulur seolah mencari pegangan, dan di ujung gerakan kacau yang sempurna itu, jariku menjentik sekali.
[Dissonance].
Aku membenturkan satu nada tandingan ke inti jeritan sumbang itu. Frekuensi bertemu frekuensi. Sihir yang membengkak sebesar gerobak itu retak — seperti kaca dihantam tepat di titik lemahnya — lalu buyar menjadi hujan debu cahaya keemasan, dua meter sebelum menyentuh sigil es.
Hening.
Debu cahaya melayang turun pelan-pelan di lapangan, berkilauan kena matahari pagi, cantik luar biasa untuk sesuatu yang nyaris membunuh tiga puluh orang.
Lalu lapangan meledak oleh kepanikan yang terlambat — jeritan, profesor berlarian, anak bangsawan pucat itu jatuh terduduk. Dalam kekacauan itu, tidak ada yang memperhatikan satu calon murid Rank E yang tergeletak di tanah dengan pose pingsan nomor tiga: korban syok yang malang.
Sempurna. Aturan Tiga dieksekusi tanpa cela. Sihir liar bubar sendiri karena formulanya cacat — begitulah kesimpulan yang akan ditulis semua orang. Tinggal tunggu diangkut petugas, istirahat manis di ruang kesehatan, dan hari ini kembali ke jalurnya.
Aku membuka mataku sepersekian senti. Sekadar memastikan situasi.
Sepasang mata biru pucat sedang menatapku dari balik sisa-sisa debu cahaya.
Jantungku berhenti lebih meyakinkan daripada pura-pura pingsanku.
Dia berdiri lima langkah dariku — dan untuk pertama kalinya aku melihatnya dari dekat, yang merupakan sebuah kesalahan, karena otakku yang seharusnya sibuk menyusun alibi malah berhenti total dan mencatat hal-hal yang sama sekali tidak berguna: bahwa rambut peraknya memantulkan debu cahaya keemasan seperti salju kena matahari senja. Bahwa wajahnya yang dari jauh terlihat dingin, dari jarak ini terlihat... salah dibilang cantik. Cantik itu kata untuk manusia. Dia seperti sesuatu yang lolos dari lukisan langit-langit katedral dan sekarang menyamar jadi anak enam belas tahun.
Dan matanya — biru pucat seperti inti gletser — sedang bergerak pelan dari wajahku... ke tangan kananku... yang jarinya masih dalam posisi habis menjentik.
...Ah.
Dia melihat.
Dari sudutnya — satu-satunya sudut di seluruh lapangan — dia melihat semuanya: aku yang “tersandung” menembus barisan, jentikan itu, dan sihir liar yang pecah tepat setelahnya.
Mata kami bertemu selama satu detik penuh.
Kupejamkan mataku dan kulanjutkan pingsan dengan dedikasi seorang profesional.
Ruang kesehatan Arcanum Spire wangi lavender dan sunyi — dua kualitas terbaik yang bisa dimiliki sebuah ruangan.
Aku terbangun (secara resmi; secara tidak resmi aku tidak pernah tidur) di ranjang paling pojok, dan menghabiskan sepuluh menit pertama diomeli petugas kesehatan, seorang wanita tua yang memeriksa denyutku sambil menggerutu.
“Syok mana, katanya. Denyutmu bagus begini.” Dia menyipit, mencurigai hal yang salah dengan cara yang benar. Lalu tanpa permisi dia menyibak poniku yang jatuh menutupi separuh wajah. “Dan kau ini. Wajah lumayan begini disembunyikan di balik poni seperti gorden rumah kosong. Kalau dirapikan sedikit, murid-murid perempuan tidak akan membiarkanmu hidup tenang.”
“Justru itu alasannya, Bu.”
“Hah?”
“Tidak ada, Bu. Terima kasih, Bu.”
Dia pergi sambil geleng-geleng. Aku menatap langit-langit dan mengevaluasi kerusakan hari ini.
Kerusakan: satu orang melihat. Bukan sembarang orang — Rank S, putri Adipati, orang yang dalam seminggu akan jadi pusat perhatian seluruh akademi. Peluang dia melapor ke profesor? Entah. Peluang dia melupakannya?
Telingaku menangkap sesuatu.
Keheningan itu. Mendekat. Dari koridor, melewati pintu, masuk ke ruangan — salju turun di malam tanpa angin, kini berjalan dengan langkah yang nyaris tak berbunyi di antara ranjang-ranjang kosong, dan berhenti.
Tepat di sebelah ranjangku.
Aku mempertimbangkan untuk kembali menerapkan Aturan Tiga, tapi terlambat; refleks bodohku sudah membuka mata.
Dia berdiri di sana dengan seragam ujian yang masih rapi tanpa satu lipatan salah, kedua tangan terlipat anggun di depan, memandangiku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Cahaya sore dari jendela jatuh miring di rambut peraknya, dan sekali lagi otakku membuang semua prioritas untuk mencatat bahwa bulu matanya ternyata panjang, dan bahwa ada sedikit — sedikit sekali — rona penasaran yang merusak kesempurnaan wajah dinginnya, seperti retakan pertama di permukaan danau beku.
Kami saling menatap.
Lima detik. Sepuluh.
“...Kamu sudah bangun,” katanya akhirnya. Suaranya persis seperti yang kuduga: rendah, tenang, jernih seperti es.
“Baru saja,” jawabku dengan suara serak palsu kelas festival. “Maaf, ini... di mana ya? Kepala saya masih pusing. Tadi sepertinya saya kaget lalu semuanya gelap.”
“Ruang kesehatan.” Dia menarik kursi — pelan, tanpa suara — dan duduk di sisi ranjangku tanpa diundang. Punggungnya tetap selurus tombak. “Nomor 157.”
“...Iya?”
“Tadi di lapangan,” dia berkata, dengan nada seseorang yang membicarakan cuaca, “kamu tersandung.”
“Iya. Memalukan sekali. Saya memang ceroboh dari kecil—”
“Ke arah bola api.”
“...Panik membuat orang lari ke arah yang salah, kata orang.”
“Hm.” Dia mengangguk pelan, serius, seolah menerima jawabanku sepenuhnya. Lalu, dengan gerakan yang sangat wajar, dia mengangkat tangan kanannya yang putih ramping — dan menjentikkan jarinya sekali, persis, persis, seperti gerakanku di lapangan.
“Dan itu?”
Keringat dingin menuruni punggungku dalam formasi barisan.
“Kejang,” jawabku. “Kejang syok. Kondisi medis. Sangat umum.”
“Kejang,” ulangnya datar.
“Bisa ditanyakan ke petugas kesehatan.”
“Yang barusan bilang denyutmu sehat sekali?”
“...Beliau memang baik hati, suka melebih-lebihkan.”
Sudut bibirnya bergerak. Nyaris tak terlihat — kalau aku tidak sedang menatapnya dengan kepanikan tingkat tinggi, aku pasti melewatkannya — ujung bibir itu terangkat satu milimeter, dan mata biru pucat itu, demi seluruh dewa di Aetheria, berbinar.
Orang paling berbahaya di angkatan ini baru saja menemukan mainan.
Dia berdiri, merapikan rok seragamnya yang tidak butuh dirapikan, dan berjalan ke pintu dengan langkah anggun yang sama. Di ambang pintu, dia berhenti sebentar. Tidak menoleh.
“Terima kasih,” katanya pelan, pada koridor kosong di depannya. “Ah — dan hasil kelulusan ditempel besok pagi di aula utama. Sampai bertemu di kelas... nomor 157.”
Keheningan itu menjauh, menipis, hilang ditelan dengungan mana gedung.
Aku menatap langit-langit ruang kesehatan untuk waktu yang lama.
Tiga tahun. Tiga tahun membangun kehidupan yang rapi, datar, dan tak terlihat — dan dalam satu hari, satu detik, satu jentikan jari, semuanya kini bergantung pada belas kasihan seorang gadis Rank S yang tersenyum satu milimeter sebelum pergi.
Dia tahu. Dia tidak lapor. Dia menikmatinya.
Aku tidak tahu mana dari tiga fakta itu yang paling mengerikan.
Sampai bertemu di kelas, katanya. Kelas apa. Kelasku lantai dasar, kelasnya menara atas. Orbit kami tidak akan bersinggungan. Secara statistik, kemungkinan kami sekelas nyaris nol. Secara statistik, aku aman.
Besok paginya, di papan pengumuman aula utama, di bawah tulisan KELAS 1-C, namaku tercetak rapi di urutan sepuluh besar dari bawah.
Dan di urutan paling atas, dengan tinta emas yang hanya dipakai untuk satu nama per angkatan:
Elysia von Frostheim — Peringkat 1.
Statistik bisa mati saja sana.
(bersambung ke Bab 3)