← Chapters Ch. 12 / 45

Chapter Twelve

Aku Duluan

Aku bangun di ruangan yang wangi lavender.

Langit-langit ruang kesehatan Arcanum Spire, ternyata, tidak berubah dalam dua bulan. Masih ada satu retakan kecil di dekat lampu yang bentuknya seperti sungai bercabang. Aku menghitungnya selama sepuluh menit di hari ujian masuk. Ternyata aku masih hafal.

Yang berubah adalah sesuatu yang hangat menekan punggung tanganku.

Aku menoleh.

Elysia von Frostheim tertidur di kursi di samping ranjang, tubuhnya membungkuk ke depan, kepalanya bersandar di tepi kasur, dan tangannya menggenggam tanganku dengan erat seperti orang yang takut kehilangan sesuatu di dalam mimpi.

Rambut peraknya terurai berantakan menutupi separuh wajahnya. Pita rambutnya tergeletak di lantai, terinjak. Dan lengan atas kirinya dibalut perban putih yang menembus sedikit warna merah.

Di luar jendela, langit sudah gelap.

Aku berbaring diam dan menatap langit-langit dan tidak melakukan apa-apa selama waktu yang cukup lama, karena melepaskan tangan itu adalah satu-satunya hal yang jelas-jelas tidak sanggup kulakukan.

Dia bangun sekitar setengah jam kemudian.

Kepalanya terangkat. Matanya mengerjap, bingung, mencari — lalu menemukan mataku.

Dan hal pertama yang dilakukan peringkat satu Akademi Arcanum Spire, putri Adipati Frostheim, gadis yang tidak pernah tertawa di depan umum, adalah:

Menangis.

Bukan tangis anggun. Bukan satu tetes yang jatuh diam-diam seperti di taman atap. Wajahnya langsung berantakan, napasnya tersedak, dan air mata jatuh ke punggung tanganku yang masih dia genggam.

“Kamu—” Suaranya pecah. “Kamu berhenti bernapas. Di lorong. Selama empat detik. Aku menghitungnya.”

“...Aku—”

“EMPAT DETIK, REIN.”

Aku diam.

“Petugas kesehatan bilang kelelahan mana ekstrem.” Dia menyeka wajahnya dengan lengan bajunya, gerakan kasar yang sangat tidak Frostheim. “Dia bilang kalau lebih lama sedikit saja, kerusakan Core-nya permanen. Dia bertanya sihir apa yang kamu pakai. Aku bilang tidak ada. Aku berbohong pada petugas kesehatan, Rein, aku belum pernah berbohong seumur hidupku—”

“Elysia.”

“Aku sudah bilang jangan pakai apa pun!” Suaranya naik, dan aku menyadari bahwa aku belum pernah — sekali pun — mendengarnya berteriak. “Aku sudah bilang aku yang akan bertarung! Aku sudah bilang kamu cukup berdiri di sana! Kenapa—”

“Kamu terluka.”

Dia berhenti.

“Panah itu kena lenganmu,” kataku pelan. “Dan aku berdiri tiga meter di belakangmu, tidak melakukan apa-apa, karena aku sedang sibuk bersembunyi.”

“Itu cuma goresan—”

“Aku tidak peduli.”

Kalimat itu keluar lebih keras dari yang kurencanakan, dan Elysia terdiam.

Aku menarik napas. Bahuku sakit. Kepalaku sakit. Semua sakit. Dan untuk pertama kalinya sejak aku tiba di dunia ini, aku tidak punya energi tersisa untuk menyaring satu pun kalimatku.

“Tiga tahun,” kataku. “Tiga tahun aku menyusun hidupku supaya tidak ada yang melihatku. Aku pindah kota dua kali. Aku memilih pekerjaan berdasarkan seberapa sedikit orang yang akan bertanya namaku. Aku sengaja menulis jawaban salah di ujian.” Aku menatap langit-langit. “Aku sudah menghitung semuanya. Kalau ketahuan, Gereja Choir Suci datang. Kalau Gereja datang, aku hilang. Itu matematika sederhana dan aku menghormatinya selama tiga tahun.”

Kutoleh kepalaku dan menatapnya.

“Lalu tadi siang aku melihat darah di lenganmu dan seluruh matematika itu... tidak berarti apa-apa.”

Air mata jatuh lagi dari sudut matanya. Dia tidak menyekanya kali ini.

“Aku lebih baik seisi dunia tahu,” kataku, “daripada berdiri di belakang dan menonton kamu terluka lagi.”

Hening.

Lampu minyak di sudut ruangan bergerak pelan. Di kejauhan, samar sekali, masih terdengar suara perayaan dari arah asrama — kemenangan pertama Arcanum Spire di turnamen, dirayakan oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa.

Elysia menunduk. Bahunya bergetar.

Lalu dia tertawa — pendek, basah, hancur.

“Bodoh,” katanya.

“...Hm?”

“Bodoh.” Dia mengangkat wajahnya, dan wajah itu berantakan total: mata merah, hidung merah, pipi basah, rambut kusut. Dan dia tersenyum. “Itu namanya kamu suka aku.”

Ruangan berhenti.

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.

Setiap sistem pertahanan yang kubangun selama tiga tahun — setiap alibi, setiap rute pelarian, setiap kalimat pengalih yang sudah kusiapkan untuk seratus skenario berbeda — semuanya berdiri diam dan tidak satu pun mengangkat tangan.

Karena tidak ada satu pun dari mereka yang pernah dirancang untuk kalimat itu.

Hening panjang.

“...Iya,” kataku.

Mata Elysia membelalak.

“Aku suka kamu.” Suaraku serak dan datar dan sama sekali tidak seperti yang seharusnya terdengar di momen seperti ini, dan aku tidak sanggup memperbaikinya. “Sudah lama. Mungkin sejak syal itu.”

Dia menatapku.

Satu detik. Dua.

Lalu wajahnya memerah — dari leher, naik, sampai ke telinga, sampai ke ujung-ujung yang tadi masih pucat karena menangis — dan dia menunduk cepat, menutupi wajah dengan tangan yang tidak menggenggam tanganku.

“...Curang,” gumamnya dari balik telapak tangannya.

“Apanya?”

“Kamu tidak boleh mengatakannya dengan wajah datar begitu.”

“Ini wajahku.”

“Kamu tahu maksudku!”

Dia mengangkat wajahnya lagi, dan sekarang dia menatapku dengan mata basah dan pipi merah dan ekspresi yang menantang, seperti anak kecil yang bersiap menyatakan sesuatu yang sangat penting dan sangat sepele sekaligus.

“Aku duluan,” katanya.

“...Apa?”

“Aku suka kamu duluan.” Dagunya terangkat lima derajat — gerakan Frostheim, dipakai untuk hal paling tidak Frostheim di dunia. “Sejak hari ujian masuk. Sejak kamu tersandung ke arah bola api yang datang ke arahku dan menghapusnya dengan satu jentikan jari lalu berbaring di tanah dan pura-pura pingsan.”

“Itu bukan alasan untuk menyukai orang.”

“Itu alasan terbaik yang pernah ada,” katanya tegas. “Semua orang di akademi ini ingin dilihat, Rein. Semua orang. Kamu satu-satunya orang yang menyelamatkan nyawaku dan langsung berbaring di tanah supaya tidak ada yang berterima kasih.”

Dia mengencangkan genggamannya.

“Jadi aku duluan,” ulangnya. “Dan aku menang.”

Aku menatapnya lama sekali.

“...Ini bukan kompetisi.”

“Semua hal adalah kompetisi. Aku Frostheim.”

Dan aku tertawa.

Tertawa sungguhan — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, mungkin, karena aku tidak ingat kapan terakhir aku melakukannya — sampai dadaku sakit, sampai kepalaku berdenyut, sampai petugas kesehatan mengetuk dinding dari ruangan sebelah dan berteriak bahwa ini rumah sakit bukan kedai.

Elysia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan bahunya bergetar dan matanya berair lagi, tapi kali ini bukan karena menangis.

Ketika akhirnya kami tenang, dia masih memegang tanganku.

Dia berdiri. Menunduk. Dan sebelum aku sempat memproses apa yang akan terjadi, dia mengecup pipiku.

Sangat cepat. Sangat ringan. Sekitar dua sentimeter di bawah tulang pipi.

Lalu Elysia von Frostheim menutupi seluruh wajahnya dengan dua tangan, berbalik, dan berjalan keluar ruang kesehatan dengan kecepatan yang tidak bisa disebut berjalan.

Pintunya menutup.

Aku berbaring di sana dengan tangan yang tiba-tiba kosong dan satu titik hangat di pipi yang menolak dingin, dan menatap retakan berbentuk sungai bercabang di langit-langit selama sangat, sangat lama.

Di luar, badai mana dua belas ribu orang sudah lama pulang. Yang tersisa cuma dengungan lampu sihir koridor dan detak Core petugas kesehatan yang setengah tuli di ruangan sebelah.

Dunia berisik lagi.

Aku tidak keberatan sedikit pun.

(bersambung ke Bab 13)