Chapter Thirty Seven
Ikrar
POV: Rein Gray
The Vault terbuka pada jam kesembilan perang, dan ia terbuka dari dalam.
Lantai halaman utama akademi retak sepanjang tiga puluh meter — bukan hancur; terbuka, rapi, seperti kelopak — dan dari celah itu naik sesuatu yang tidak punya bentuk. Bukan monster. Bukan hantu. Mata biasa hanya melihat udara yang bergetar seperti fatamorgana, dan getarannya menjalar: lampu sihir meledak satu per satu, sigil-sigil menyala liar lalu mati, dan setiap penyihir dalam radius seratus meter — Gereja maupun akademi — jatuh berlutut memegangi kepala.
Karena benda itu bersuara.
Bukan untuk telinga biasa. Untuk mana. Ia menjerit dalam frekuensi yang membuat setiap Core bergetar seperti gelas di dekat lonceng, dan aku — yang mendengar semuanya sepuluh kali lebih keras — berdiri di halaman dengan darah mengalir dari kedua telinga dan mengenali jeritan itu.
Bukan amarah.
Duka.
Nada yang sama yang tiga ratus tahun lalu menghancurkan setengah ibukota. Nada yang tidak pernah selesai. Duka yang disegel di bawah tanah oleh orang-orang yang tidak tahu cara menghentikannya, oleh generasi demi generasi yang membangun akademi di atasnya seperti batu nisan yang berpura-pura jadi menara — dan yang malam ini dibangunkan oleh himne turunan ilmunya sendiri.
“MUNDUR!” Suara Solveig membelah kekacauan — dan untuk pertama kalinya, dia berteriak kepada kedua pasukan. “SEMUA PASUKAN CHOIR, MUNDUR DARI HALAMAN! PENYANYI, BENTUK LINGKARAN SEGEL — ITU BUKAN MUSUH YANG BISA KALIAN—”
Sisa kalimatnya ditelan jeritan berikutnya.
Getaran itu meluas. Ubin halaman mulai hancur jadi debu — bukan pecah: buyar, kehilangan ikatan terdalamnya, seperti dunia yang dibatalkan sedikit demi sedikit. Dan lingkaran buyarnya melebar. Satu meter per detik. Ke arah benteng tempat Gart dan barisannya berdiri. Ke arah menara tempat lima ratus murid berlindung.
Ke arah semua orang.
“REIN!” Elysia di sebelahku, berteriak menembus badai. “APA YANG BISA MENGHENTIKANNYA?!”
Aku mendengarkan jeritan itu — benar-benar mendengarkan, membuka semua gerbang, membiarkan duka tiga ratus tahun itu masuk — dan menemukan jawabannya di tempat yang sudah kuketahui sejak sidang.
“Tidak ada yang bisa menghentikannya,” kataku. “Dia tidak sedang menyerang. Dia sedang mencari.”
“Mencari apa?!”
“Yang dia cari tiga ratus tahun lalu.” Aku menatap fatamorgana yang bergetar di atas Vault. “Makam yang tidak pernah dia temukan. Keheningan yang direnggut sebelum sempat dia ucapkan selamat tinggal.”
Dan aku mulai berjalan ke arahnya.
“REIN!”
“Aku janji tidak maju sendirian,” kataku, tanpa berhenti, “jadi aku minta kalian semua ikut — tapi dari jarak aman. Lys, pegang komando. Kalau aku gagal, [Winter Requiem] adalah satu-satunya sihir di dunia ini yang cukup sunyi untuk menahannya.”
“APA YANG MAU KAMU—”
“Hal yang seharusnya dilakukan seseorang tiga ratus tahun lalu,” kataku. “Aku mau bicara dengannya.”
Aku berjalan ke tengah lingkaran kehancuran.
Debu dunia yang buyar berputar di sekelilingku. Jeritan itu menghantam dari segala arah, dan aku membiarkannya — tidak melawan, tidak menutup diri, berjalan ke dalam duka orang lain seperti berjalan ke dalam badai salju.
Dan di tengahnya, di atas Vault yang terbuka, aku berhenti, dan melakukan hal yang paling sederhana di dunia.
Aku menyapa.
Bukan dengan kata. Dengan frekuensi — nadaku sendiri, telanjang, tanpa pertahanan: nada anak yang duduk di kursi paling belakang, yang hafal koridor sepi, yang bertanya pada langit-langit gudang apakah dunia bisa diam barang satu jam.
Nada yang sama dengan nadanya.
Aku tahu, kataku kepadanya, dengan bahasa yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepada kami berdua. Aku tahu berisiknya. Aku tahu kau mencarinya. Aku tahu tidak ada yang memberitahumu di mana dia dikuburkan.
Jeritan itu goyah.
Dan aku tahu satu hal yang tidak kau tahu, lanjutku. Dia tidak hilang. Aku sudah bertemu keheningannya. Ia diturunkan, darah ke darah, tiga ratus tahun — dan malam ini ia berdiri di belakangku.
Fatamorgana itu bergetar. Berbalik. Dan untuk sesaat — untuk satu detik yang membuat seluruh medan perang menahan napas — jeritan itu mereda menjadi sesuata yang hampir seperti pertanyaan.
Dan saat itulah [Hymn of Purgation] bait ketiga menghantam kami berdua.
Cahaya putih meledak. Aku terlempar bergulingan di ubin yang hancur, dan di belakangku, entitas itu menjerit — bukan duka lagi; duka yang disela, duka yang dibentak, dan jeritan barunya membuat separuh jendela akademi pecah serentak.
“MENJAUH DARI ANOMALI ITU, NAK!”
High Inquisitor Solveig berjalan menembus debu, sendirian, dengan rantai emasnya menyala dan himne di bibirnya — bait yang dinyanyikan satu orang tapi terdengar seperti seratus, karena empat puluh tahun telah mengubah tenggorokannya sendiri menjadi paduan suara.
“Kau tidak bisa bicara dengannya!” serunya, dan ada keputusasaan tulen di suaranya. “Empat puluh tahun aku mempelajari makhluk itu! Ia bukan lagi manusia — ia luka yang berjalan! Satu-satunya belas kasih adalah MENGAKHIRINYA—”
“KAU YANG MEMBANGUNKANNYA DENGAN HIMNEMU!”
“MAKA AKU YANG AKAN MENIDURKANNYA!” Dia mengangkat kedua tangan, dan bait ketiga naik ke puncaknya. “[Hymn of Purgation — Bait Penutup]!”
Dan dunia menjadi putih.
Aku pernah menganggap diriku tidak terkalahkan dalam satu hal: tidak ada sihir yang tidak bisa kubaca. Tapi himne Solveig adalah sihir yang lahir sebelum aku, dari ilmu yang disembunyikan tiga ratus tahun, dinyanyikan dalam frekuensi yang belum pernah lewat di telingaku — dan [Echo Memory] tidak bisa meniru yang belum pernah didengar, dan [Dissonance] tidak bisa membentur nada yang tidak dikenal.
Cahaya pemurnian itu menghantamku tanpa bisa kubelokkan.
Rasanya seperti dihapus.
Aku jatuh berlutut. Lalu ke tangan. Darah menetes dari hidung, telinga, sudut mata. Di sekelilingku cahaya putih itu memakan debu, memakan suara, memakan aku — pelan, teliti, penuh belas kasih, seperti semua hal yang dilakukan Solveig.
“Aku minta maaf, Nak,” katanya, dan dia bersungguh-sungguh, dan itu bagian yang paling mengerikan. “Kau anak yang baik. Mereka semua anak yang baik.”
Dan di titik itu — berlutut di tengah cahaya yang menghapusku, dengan entitas berduka menjerit di belakang dan empat puluh tahun kepastian berdiri di depan — aku melakukan satu-satunya hal yang tersisa.
Aku mengangkat kepalaku.
Dan bicara. Bukan pada Solveig. Pada semua orang — pada lima ratus murid di menara, pada pasukan Gereja yang menonton, pada dua belas cermin Sera yang menyiarkan wajahku yang berdarah ke seluruh kota Vellis, pada kontinen.
“Namaku Rein Gray.”
Suaraku serak. Cahaya terus memakan. Aku terus bicara.
“Aku datang ke dunia ini tiga tahun lalu, sendirian, dengan telinga yang mendengar segalanya, dan aku menghabiskan tiga tahun itu bersembunyi — karena aku diajari, oleh sejarah kalian, bahwa orang sepertiku hanya punya dua akhir: dinetralkan, atau menjadi bencana.”
Cahaya menggigit lebih dalam. Aku menancapkan jariku ke ubin yang hancur dan bertahan.
“Kekuatanku memang bencana. Aku tidak akan membantahnya lagi. Tapi orang yang kucintai mengajariku sesuatu yang tidak ada di empat puluh tujuh berkas kalian—” napasku pecah, dan aku memaksanya utuh, “—bahwa hening bukan berarti kosong. Bahwa yang sunyi bukan berarti cacat. Bahwa telinga yang mendengar seluruh dunia diberikan bukan untuk menjerit—”
Aku mengangkat tangan kananku ke dalam cahaya putih itu.
“—tapi untuk menyanyikan lagu pengantar tidur bagi yang tidak bisa berhenti mendengar.”
Aku menatap Solveig tepat di matanya.
“Dan aku TIDAK AKAN BERSEMBUNYI LAGI.”
Di seberang halaman, menembus cahaya dan debu dan tiga ratus penyanyi, satu sosok berlari — rambut perak berkibar, seragam biru-perak, menerobos garis pertempuran yang membeku menontonnya, melewati Gart yang membukakan celah dinding, melewati Cedric yang membakar jalan untuknya —
Elysia von Frostheim menerobos medan perang seperti musim dingin yang marah.
Dan tidak ada satu orang pun, di kedua pasukan, yang berani berdiri di jalannya.
(bersambung ke Bab 38)