Chapter Thirty Two
Kesaksian yang Sunyi
POV: Rein Gray
Hari ketiga sidang, Elysia von Frostheim meminta bersaksi.
“Panel mencatat,” kata Inquisitor kedua, membaca berkas, “bahwa saksi adalah partner terdaftar subjek, dan karenanya kesaksiannya berpotensi bias—”
“Panel juga akan mencatat,” kata Elysia, berjalan ke tengah katedral dengan punggung selurus tombak, “bahwa saya pewaris rumah Frostheim, peringkat satu Akademi Arcanum Spire, dan satu-satunya orang di kontinen ini yang memiliki data langsung tentang hal yang sedang panel takutkan. Bias saya tercatat. Kebenaran saya tetap kebenaran.”
Dia berhenti di titik yang sama tempat Prof. Maren berdiri kemarin.
“Kemarin, ruangan ini mendengar tentang seorang gadis penenun yang sihirnya tidak pernah berbunyi.” Dia mengangkat dagunya lima derajat. “Hari ini ruangan ini akan mendengar dari yang berikutnya.”
Bisik-bisik menjalar di bangku-bangku.
“Nona Frostheim,” kata Solveig pelan, “berhati-hatilah dengan apa yang Anda masukkan ke dalam catatan publik. Catatan tidak bisa ditarik kembali.”
“Saya mengandalkan itu, Yang Mulia.”
Dia mengangkat tangan kanannya.
“[Frostveil].”
Dinding es setinggi lima meter meledak naik dari lantai katedral — di ruangan tertutup, di depan tujuh Inquisitor, tanpa izin, dan aku mendengar seluruh pasukan penjaga di pintu bergerak serentak sebelum menyadari hal yang sama dengan semua orang di ruangan itu:
Dinding es sebesar itu naik tanpa suara apa pun.
Tidak ada gemuruh. Tidak ada retakan. Es Frostheim yang legendanya bisa didengar dari seberang lembah — berdiri di tengah katedral seperti ia sudah selalu ada di sana, sunyi seperti salju di malam tanpa angin.
“Garis darah kami menyebutnya Stillfrost Vein,” kata Elysia ke dalam keheningan. “Muncul sekali dalam beberapa generasi. Keluarga saya menganggapnya cacat. Sebelas ahli dari empat negeri pernah dipanggil untuk memperbaikinya.” Dia menoleh ke bangku bangsawan, ke satu titik. “Saya baru mengetahui hal itu bulan lalu.”
Di bangku itu, Adipati Alrik von Frostheim duduk tanpa bergerak.
“Selama tujuh tahun saya percaya sihir saya adalah kekurangan yang harus ditutupi dengan peringkat.” Elysia membiarkan dinding esnya buyar menjadi kabut yang turun pelan. “Lalu saya bertemu seseorang yang bisa mendengar seluruh dunia — dan yang memberi tahu saya bahwa frekuensi saya adalah satu-satunya keheningan yang pernah dia temukan.”
Dia mengeluarkan setumpuk kertas dari map yang dibawanya.
“Panel menerima salinan resmi catatan Partner Bond kami dari arsip akademi. Lima bulan data. Saya akan membacakan angka-angkanya, karena Kantor Pemeriksaan menyukai angka.” Dia membuka halaman pertama. “Frekuensi episode kelelahan mana subjek, bulan pertama sebelum kontak rutin: sembilan kali. Bulan kedua: lima. Bulan kelima: satu — dan satu itu terjadi saat menyelamatkan dua belas ribu orang, yang menurut hemat saya bisa dimaafkan.”
Tawa pecah di bangku-bangku, cepat, gugup, lega.
“Kualitas tidur subjek, durasi rata-rata, dicatat petugas asrama: naik dari tiga jam menjadi tujuh. Insiden mimisan: turun dari mingguan menjadi tidak ada. Dan Partner Sync kami—” dia meletakkan kertas terakhir di meja panel, “—seratus persen. Kedelapan dalam sejarah akademi. Panel bisa memeriksa tujuh pasangan sebelumnya dan menemukan bahwa tidak satu pun berakhir dengan bencana... kecuali satu, yang berkasnya kalian tutup, dan yang saya duga berakhir bukan karena mereka berbahaya — tapi karena kalian memisahkan mereka.”
Solveig menatap kertas-kertas itu tanpa menyentuhnya.
“Data lima bulan,” katanya, “melawan pola tiga puluh tahun.”
“Data lima bulan,” balas Elysia, “yang merupakan satu-satunya lima bulan dalam tiga puluh tahun di mana kalian tidak menetralkan subjeknya lebih dulu. Pola kalian bukan pengamatan, Yang Mulia. Pola kalian adalah nubuat yang kalian pastikan sendiri terpenuhinya.”
Katedral itu meledak dalam bisik-bisik. Ketua panel mengetuk. Sera menulis begitu cepat sampai pena bulunya berasap.
Dan kemudian, dari bangku bangsawan, satu suara yang tidak diduga siapa pun:
“Panel.”
Adipati Alrik von Frostheim berdiri.
Seluruh katedral menoleh. Elysia membeku di tengah ruangan.
“Rumah Frostheim mengajukan kesaksian tambahan,” kata Adipati. “Singkat.”
Ketua panel — bukan Solveig, kali ini, yang duduk diam dengan mata menyipit — mengangguk.
Adipati berjalan ke tengah katedral, berdiri di sebelah putrinya tanpa memandangnya, dan berbicara kepada tujuh kursi tinggi dengan suara yang terbiasa didengar dewan.
“Sembilan generasi rumah kami membuat es yang bergemuruh. Kami menuliskannya di lambang, di lagu, di sumpah. Es yang terdengar dari seberang lembah. Aku dibesarkan untuk percaya bahwa suara itu adalah kekuatan kami.” Dia berhenti. “Ketika putriku lahir dengan es yang sunyi, aku menganggapnya kemunduran. Aku memanggil ahli. Aku tidak pernah memberitahunya, karena aku pikir aku sedang melindunginya dari kebenaran.”
Dia menatap dinding kabut es yang masih turun perlahan di tengah katedral.
“Tiga minggu lalu, di final turnamen, aku menonton dari tribun kehormatan ketika dua belas pilar levitasi mati dan dua belas ribu orang mulai berteriak. Aku menonton seorang anak Rank E berjalan ke tengah arena. Dan aku menonton keheningan paling mutlak yang pernah kudengar dalam enam puluh tahun hidupku turun ke atas kami semua seperti tangan.”
Dia menoleh — akhirnya — kepada putrinya.
“Di dalam keheningan itu, colosseum turun ke danau seperti daun. Tidak ada gemuruh. Tidak ada raungan. Dua belas ribu nyawa diselamatkan oleh sesuatu yang sama sekali tidak bersuara.” Suaranya, untuk pertama kalinya, kehilangan sedikit ketegasannya. “Dan aku duduk di kursiku dan berpikir: selama enam puluh tahun, aku salah mengira suara sebagai kekuatan. Sementara putriku — yang esnya tidak pernah kudengar — ternyata membawa satu-satunya jenis kekuatan yang hari itu berarti.”
Katedral itu sunyi total.
“Rumah Frostheim mencatat, untuk arsip publik dan untuk sejarah,” kata Adipati Alrik von Frostheim, “bahwa kami tidak lagi menganggap Stillfrost Vein sebagai cacat, melainkan sebagai warisan tertinggi rumah kami. Dan bahwa siapa pun — institusi mana pun — yang menyentuh pemuda bernama Rein Gray, menyentuh sesuatu yang berada di bawah perlindungan es kami.”
Dia berbalik dan berjalan kembali ke bangkunya.
Saat melewati Elysia, dia berhenti — sejajar bahu, tanpa menoleh, seperti kebiasaannya, seperti kebiasaan semua orang yang tidak tahu cara mengatakan hal penting sambil bertatapan.
“Ibumu,” katanya, sangat pelan, hampir tak terdengar, “akan menyukai anak itu.”
Dan dia berjalan terus.
Elysia von Frostheim berdiri di tengah Katedral Agung Vellis dengan punggung selurus tombak, dagu terangkat lima derajat, dan air mata yang mengalir turun tanpa satu pun suara — sunyi, seperti semua hal terbaik yang dimilikinya.
(bersambung ke Bab 33)
- 1 Tiga Aturan untuk Tidak Dikenal
- 2 Satu Detik yang Menghancurkan Tiga Tahun
- 3 Kursi Paling Belakang, Deret Paling Pojok
- 4 Kebetulan Tingkat Lanjut
- 5 Hening yang Punya Nama
- 6 Cara Menang Tanpa Menyerang
- 7 Syal
- 8 Hal-Hal yang Tidak Dilihat Orang Lain
- 9 Dua Jam yang Tidak Kuceritakan pada Siapa Pun
- 10 Di Dekat Kamu, Dunia Sunyi
- 11 Movement I
- 12 Aku Duluan
- 13 Hari Pertama Sebagai Sesuatu yang Belum Ada Namanya
- 14 Lima Huruf
- 15 Orang yang Bertanya dengan Benar
- 16 Ritual
- 17 Interlude: Es yang Terlalu Sunyi
- 18 Tiga Hal yang Terjadi di Hari yang Sama
- 19 Konduktor
- 20 Salju Pertama
- 21 Seratus
- 22 Utang Satu Roti
- 23 Adipati
- 24 Empat Puluh Tujuh Halaman
- 25 Semifinal
- 26 Final, Bagian Pertama
- 27 Requiem
- 28 Kalimat yang Diucapkan dengan Tenang
- 29 Tujuh Hari
- 30 Sidang
- 31 Yang Tidak Ditulis Sejarah
- 32 Kesaksian yang Sunyi reading
- 33 Dua Himne
- 34 Tujuh Hari Kedua
- 35 Fajar Hari Ketujuh
- 36 Dinding
- 37 Ikrar
- 38 Winter Requiem
- 39 Yang Tersisa Setelah Salju
- 40 Epilog: Kursi Paling Belakang
- 41 Extra 1 — Rumah yang Terlalu Besar
- 42 Extra 2 — Festival (Side Story: Gart & Sera)
- 43 Extra 3 — Kencan yang Direncanakan Terlalu Matang
- 44 Extra 4 — Gudang Penggilingan
- 45 Extra 5 — Tujuh Generasi (Penutup)