← Absolute Resonance

Chapter Ten

Di Dekat Kamu, Dunia Sunyi

Ujian praktik pertama diadakan di aula besar, dan aula besar berisi delapan ratus orang.

Aku tahu sejak pagi bahwa hari itu akan buruk. Aku bisa mendengarnya dari asrama: delapan ratus Core yang gugup, semuanya berdengung dalam frekuensi cemas yang saling bertabrakan, dari jarak dua gedung.

Saat aku sampai di ambang aula, rasanya seperti berdiri di dalam lonceng raksasa yang sedang dipukul terus-menerus.

Aku bertahan empat puluh menit. Kami dipanggil di urutan ketiga puluh dua, menyelesaikan tugas sinkronisasi dengan nilai tertinggi angkatan, dan aku bertahan sepuluh menit lagi setelahnya sebelum pandanganku mulai berkedip.

“Rein?”

“Aku keluar sebentar.”

Aku tidak ingat bagaimana aku sampai ke taman atap. Yang kuingat cuma pintu besi, udara dingin yang menampar wajah, dan lututku yang menyerah tiga langkah setelah keluar.

Aku duduk di lantai batu bersandar ke dinding, menunduk, dan menekan kedua telinga dengan telapak tangan — gerakan yang sama sekali tidak berguna, karena yang berdengung bukan telingaku, tapi tidak ada gerakan lain yang bisa kulakukan.

Delapan ratus nada. Menembus dinding. Menembus lantai. Tidak ada tempat di gedung ini yang cukup jauh.

Sesuatu hangat menetes dari hidungku ke lantai batu.

Ah. Mimisan. Sudah lama tidak—

Pintu besi terbuka.

Dan dunia mati.

Delapan ratus nada padam serentak, seperti seseorang menutup tutup piano di tengah konser. Yang tersisa: angin. Kelopak plum kering yang terseret di lantai. Langkah kaki cepat mendekat.

“Rein—!”

Kedua tangannya di wajahku. Dingin, kecil, dan sama sekali tidak ragu — dia mengangkat daguku, melihat darah di bibir atasku, dan wajah yang selama dua bulan ini kupelajari sebagai patung pualam itu hancur seketika.

“Kamu berdarah. Kenapa? Apa yang sakit? Kepala? Dada?” Tangannya berpindah ke dahiku, ke leherku, memeriksa dengan gerakan cepat panik yang jauh dari anggun. “Aku panggil petugas kesehatan—”

“Jangan.” Kutangkap pergelangan tangannya. “Jangan panggil siapa pun.”

“Kamu MIMISAN—”

“Kalau petugas kesehatan datang, dia akan mencatat,” kataku, dan suaraku keluar serak. “Dia akan bertanya kenapa murid Rank E kelelahan mana padahal nilainya paling tinggi seangkatan. Lalu akan ada laporan. Lalu akan ada audit.”

Elysia diam.

Aku bisa melihat sesuatu bergerak di wajahnya — kemarahan, ketakutan, dan sesuatu yang lebih besar dari keduanya yang tidak sempat kubaca.

Lalu dia duduk. Di lantai batu yang kotor, dengan seragam yang harganya delapan bulan gaji guru, di sebelahku, bahu ke bahu.

Dan menggenggam tanganku.

“Kalau begitu aku di sini,” katanya. “Sampai kamu bisa berdiri.”

Angin bertiup. Pohon plum tua bergerak.

Dan aku, karena kepalaku terlalu ringan, karena darahnya belum berhenti, karena dua bulan terakhir sudah menggerogoti setiap dinding yang kubangun selama tiga tahun — aku berkata:

“Kamu tidak mengerti.”

“Kalau begitu jelaskan.”

“Tidak bisa.”

Rein.

Aku menoleh.

Dia sudah menatapku. Dari jarak sedekat ini — bahu ke bahu, tangan di tangan — matanya bukan lagi biru pucat. Ada lingkaran lebih gelap di tepi irisnya, dan bintik-bintik yang lebih terang di dekat pupilnya, seperti es yang retak menangkap cahaya. Mata itu basah di sudutnya.

Dia menangis. Sedikit. Dan berusaha keras supaya tidak kelihatan.

Untukku.

Sesuatu di dadaku patah dengan sangat pelan.

“Seluruh dunia berisik,” kataku.

Dia mengerjap. “...Apa?”

“Mana. Semua mana.” Aku menutup mata, karena lebih mudah bicara tanpa melihatnya. “Aku bisa mendengarnya. Semuanya. Setiap orang, setiap lampu sihir, setiap batu bermana di dinding. Sepanjang waktu. Aku tidak bisa mematikannya, aku tidak bisa tidur tanpa itu, aku tidak pernah — sekali pun, dalam tiga tahun — mendengar hening.”

“Tiga tahun...?”

“Delapan ratus orang di aula itu,” lanjutku, karena kalau berhenti sekarang aku tidak akan mulai lagi. “Bagimu itu keramaian. Bagiku itu delapan ratus alat musik yang dimainkan serentak, semuanya sumbang, semuanya berbeda lagu. Itu sebabnya aku duduk di pojok. Itu sebabnya aku hafal koridor sepi. Itu sebabnya aku makan di gudang sapu.”

Aku menelan ludah.

“Bukan karena aku membenci orang. Aku cuma... tidak sanggup mendekat.”

Hening.

Angin. Kelopak kering. Genggaman tangannya yang belum juga dilepas.

“Rein,” katanya pelan. “Buka matamu.”

Kubuka.

“Sekarang,” katanya, “kamu bisa mendengar apa?”

Aku diam.

Dan menyadari, dengan kejelasan yang seharusnya sudah datang berminggu-minggu lalu, bahwa aku belum pernah mengatakan bagian ini pada siapa pun karena aku belum pernah mengizinkan diriku menyusunnya jadi kalimat.

“Tidak ada,” kataku.

“Tidak ada?”

“Tidak ada apa-apa.” Suaraku pecah di tengah, dan aku membiarkannya pecah. “Sejak hari pertama kita bersentuhan di Aula Resonansi. Kalau kamu ada di dekatku, semuanya berhenti. Delapan ratus orang, seluruh menara, semuanya — mati. Yang tersisa cuma angin, dan napasku, dan kamu.”

Tangannya di tanganku mengencang.

“Di dekat kamu... dunia sunyi.” Aku menatapnya. “Dan itu hal terbaik yang pernah kurasakan seumur hidupku. Di dua dunia.”

Elysia von Frostheim tidak bergerak.

Wajahnya, dalam cahaya sore yang jatuh miring lewat pucuk pohon plum, memerah dengan sangat pelan — bukan seperti biasanya yang datang menyerbu dalam tiga detik, tapi seperti fajar: dari leher, ke pipi, ke telinga, ke ujung-ujung yang tidak seharusnya bisa memerah.

Bibirnya terbuka sedikit. Air mata yang tadi ditahannya akhirnya jatuh, satu, ke pipi, dan dia bahkan tidak menyadarinya.

“...Itu,” katanya, dan suaranya sama sekali tidak terdengar seperti peringkat satu Arcanum Spire, “curang sekali.”

“Apanya?”

“Kamu tidak boleh bilang begitu.” Dia menunduk cepat, dan rambut peraknya jatuh menutupi wajahnya. “Kamu tidak boleh bilang begitu dengan wajah datar seperti itu, seperti kamu sedang melaporkan cuaca, padahal itu—”

Dia berhenti.

“Itu apa?”

“...Tidak ada.” Dia menarik napas panjang, sangat panjang, dan mengangkat wajahnya lagi. Matanya masih basah. Tapi ada sesuatu yang baru di sana — sesuatu yang bertekad, dan sedikit menakutkan. “Rein. Aku mau bertanya satu hal, dan aku mau jawaban jujur.”

“...Baik.”

“Sunyi itu,” katanya. “Cuma aku, atau siapa pun bisa?”

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu selama dua bulan. Aku sudah mengujinya, diam-diam, karena aku memang orang yang menguji segalanya: berdiri dekat Gart, dekat Prof. Maren, dekat lima puluh murid lain di koridor.

“Cuma kamu,” kataku.

Dia menutup matanya.

Dan menghela napas — panjang, gemetar, seperti seseorang yang meletakkan beban yang sudah lama sekali dia panggul.

Lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Sengaja, kali ini. Sadar sepenuhnya.

“Kalau begitu jangan jauh-jauh,” katanya pelan, ke arah lututnya sendiri.

Aku tidak menjawab.

Kami duduk di lantai batu taman atap sampai matahari turun, bahu ke bahu, tangan di tangan, sementara di bawah kami delapan ratus murid menyelesaikan ujian praktik dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di menara timur ada dua orang yang baru saja mengubah bentuk hidup masing-masing tanpa mengucapkan satu pun kata yang tepat.


Pengumuman itu datang tiga hari kemudian, di aula utama, dari mulut Kepala Akademi sendiri.

“Setiap lima tahun,” suaranya menggema, “Arcanum Spire menjadi tuan rumah Turnamen Antar Akademi. Empat akademi besar kontinen. Format tahun ini: pertandingan berpasangan. Partner Bond kalian akan diuji di depan mata seluruh negeri.”

Aula meledak.

“Pertandingan diadakan di Colosseum Terapung. Pemenang mendapatkan rekomendasi langsung ke Menara Kerajaan.” Kepala Akademi mengangkat gulungan. “Peserta ditentukan dari peringkat Partner Sync. Dan tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah akademi, pasangan dengan Sync tertinggi berasal dari kelas C.”

Delapan ratus kepala mulai bergerak.

“Elysia von Frostheim. Rein Gray.”

Aula berubah jadi kebisingan yang, untuk sesaat, bahkan tidak sanggup kuproses sebagai suara.

Aku berdiri di barisan belakang dengan syal biru muda di leher dan satu pikiran yang sangat jernih di tengah kekacauan:

Colosseum Terapung. Ditonton bangsawan sekontinen. Direkam. Dicatat. Dianalisis.

Tempat paling terang di seluruh Aetheria, dan namaku baru saja dibacakan di depan semua orang.

Di barisan depan, kepala berambut perak itu berbalik mencari mataku di antara delapan ratus orang, dan menemukannya dalam dua detik.

Ekspresinya tidak panik.

Ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang sudah tahu ini akan terjadi, dan yang sudah memutuskan, jauh sebelum hari ini, di pihak siapa dia akan berdiri.

Dia mengangguk sekali. Kecil. Padaku.

Kita hadapi bersama.

Aku menghela napas panjang, menarik syal menutupi separuh wajahku, dan mengucapkan selamat tinggal — dengan hormat, dan dengan sedikit sedih — pada tiga aturan yang sudah menyelamatkan hidupku selama tiga tahun.

(Arc 1 — Tamat. Bersambung ke Arc 2: “Turnamen & Kita”)