← Bukan Aku, Kok

Chapter Nine

Dua Tahun Catatan

POV: Anindya


Aku mulai mencatat karena aku pernah salah menuduh orang.

Kelas sepuluh, semester dua. Ada uang kas angkatan yang selisihnya seratus dua puluh ribu, dan aku — waktu itu masih bendahara — menyimpulkan terlalu cepat berdasarkan siapa yang terakhir memegang kotaknya.

Aku tidak menuduh di depan umum. Aku menuduh di dalam kepalaku sendiri, dan selama dua minggu aku memperlakukan orang itu dengan cara yang, kalau aku jujur, tidak pantas.

Selisihnya ternyata salah hitung. Dua transaksi dobel.

Orang itu tidak pernah tahu. Sampai sekarang dia masih menyapaku di koridor.

Sejak itu aku punya aturan: aku tidak menyimpulkan apa pun sampai ada catatan. Tanggal, kejadian, dan yang paling penting — jumlah pengulangan. Satu kali itu kebetulan. Dua kali itu kebetulan yang menarik. Lima kali itu bukan kebetulan lagi.

Aku bukan orang yang curigaan. Aku cuma tidak percaya pada ingatanku sendiri.


Map ini yang ketiga. Dua yang pertama sudah penuh.

Isinya bukan hal rahasia. Kalau ada yang membukanya, mereka akan melihat daftar inventaris, notulen, rekap anggaran, jadwal ruangan — hal-hal yang memang tugas ketua OSIS.

Halaman belakangnya lain.

Halaman belakang isinya kolom. Tanggal di kiri, kejadian di tengah, dan di kanan satu huruf: S.

Aku tidak menulis namanya sejak halaman keempat. Bukan karena takut ketahuan. Karena menulis nama lengkap seseorang berkali-kali di satu halaman membuat halaman itu terlihat seperti sesuatu yang bukan, dan aku tidak nyaman melihatnya.

Aku buka halaman belakang sekarang, di ruang OSIS, jam empat sore, sendirian.

12 Agt — kursi 12 IPS-2 diperbaiki. Lapor: tidak ada. — S
19 Agt — daftar inventaris gudang ditemukan di laci bawah. Dia yang bilang lokasinya, tapi bilangnya “kayaknya di situ”. — S
3 Sep — lampu koridor utara panelnya diganti. Pak Yudho bilang “sudah ada yang benerin”. Tidak tahu siapa. — S
17 Sep — jam dinding koridor. Lambat 20 detik. Sengaja. (kenapa?) — S

Yang nomor empat itu satu-satunya yang pernah kutanyakan langsung. Dia bilang jamnya memang rusak.

Aku sudah mengecek jam itu. Baterainya baru.

2 Okt — proposal lomba antarkelas versi kedua. Yang saya terima sudah ada koreksi anggaran di halaman 3. Saya tidak mengoreksinya. Tidak ada yang mengaku. — S
11 Okt — anak kelas 10 pingsan waktu upacara. Yang membawa ke UKS anak kelas 11. Yang menyiapkan kursi dan air di UKS sebelum mereka sampai: tidak diketahui. Saya lewat 30 detik sebelumnya, UKS masih kosong. — S

Dan yang terbaru, kutulis kemarin:

23 Okt — surat izin aula tim basket. Dia bilang “bukan aku”. — S

Empat kata di bawahnya, yang kutulis setelah dia keluar ruangan:

Dia bohong dengan tenang.


Aku menghitung halaman belakang map ini sekali, dua bulan lalu.

Enam puluh tiga entri. Dua tahun kurang satu bulan.

Aku ingat malam itu aku duduk cukup lama menatap angka itu, karena enam puluh tiga adalah angka yang tidak bisa dijelaskan lagi dengan alasan yang selama ini kupakai.

Alasan yang kupakai: seorang ketua OSIS harus tahu siapa yang benar-benar bekerja di sekolahnya.

Itu benar. Itu masih benar sekarang.

Tapi aku tidak punya catatan sepanjang ini tentang siapa pun yang lain.

Aku tidak mencatat Wulan, dan Wulan mengerjakan setengah pekerjaan OSIS. Aku tidak mencatat Nakula Adiwangsa, dan dia orang yang paling banyak dibicarakan di sekolah ini. Aku tidak mencatat pengurus mana pun.

Enam puluh tiga entri, satu orang.

Ada momen di mana kamu melihat data yang kamu kumpulkan sendiri dan menyadari bahwa data itu tidak menjawab pertanyaan yang kamu ajukan. Data itu menjawab pertanyaan lain, yang tidak pernah kamu tulis di mana pun, dan kamu sudah mengumpulkannya selama dua tahun tanpa mengaku.

Aku tidak menyukai kesimpulan itu.

Tapi aku sudah bilang: aku tidak percaya pada ingatanku sendiri. Aku percaya pada jumlah pengulangan.

Dan enam puluh tiga bukan kebetulan.


Aku menutup map jam setengah lima dan keluar untuk mengunci ruang kelas OSIS di lantai satu.

Koridor lantai satu sudah sepi. Anak-anak ekskul di lapangan belakang, jadi bagian depan gedung kosong.

Aku melihat mereka dari ujung koridor, dan mereka tidak melihatku.

Sadewa berdiri di depan mading, memasang sesuatu — kertas pengumuman, sepertinya, atau memperbaiki yang sudah ada. Dan anak kelas sepuluh itu berdiri di sebelahnya sambil bicara terus tanpa berhenti.

Kirana Adiwangsa. Adiknya Nakula.

Aku sudah tahu namanya. Aku tahu nama semua ketua kelas sepuluh dan semua anggota klub jurnalistik, dan dia masuk salah satunya.

Aku berhenti di ujung koridor. Aku tidak akan mengaku berhenti dengan sengaja.

“—jadi Kak Rasti bilang drafku bagus tapi kurang jelas orangnya siapa, dan aku bilang emang sengaja, terus dia bilang berita itu harus ada orangnya, terus aku bilang—“

“Kirana.”

“Iya?”

“Kamu udah ngomong empat menit.”

“Terus?”

“Nggak apa-apa. Cuma ngasih tahu.”

Anak itu ketawa. Bukan ketawa sopan. Ketawa keras, satu kali, yang di koridor kosong terdengar sangat besar.

Lalu dia berdiri lebih dekat, dan dengan gerakan yang jelas sekali sudah dia lakukan berkali-kali sebelumnya, dia memegang ujung lengan seragam Sadewa.

Dua jari. Di dekat siku.

Aku menunggu.

Aku sudah punya perkiraan tentang apa yang akan terjadi, karena aku sudah dua tahun mencatat orang ini, dan orang ini tidak menyukai kontak fisik. Aku pernah melihat dia menghindar dari tepukan bahu tiga kali. Aku mencatat yang ketiga.

Dia tidak menghindar.

Dia tidak menoleh ke tangan itu. Dia tidak berhenti memasang kertas. Dia bahkan tidak melambat.

Seolah itu bukan kejadian.

Dan itulah bagian yang membuat aku berdiri di ujung koridor lebih lama dari yang pantas. Bukan karena dia membiarkannya.

Karena dia sudah terbiasa.

Berapa kali harus terjadi sampai sesuatu berhenti jadi kejadian? Lima? Sepuluh?

Aku tidak punya catatannya. Aku tidak melihat satu pun dari kejadian sebelumnya. Selama enam puluh tiga entri, dua tahun, aku mencatat semua yang dia lakukan untuk orang lain, dan aku tidak punya satu baris pun tentang siapa yang menyentuhnya.

Anak itu berdiri seratus lima puluh sentimeter, kira-kira, dan dia harus mendongak untuk bicara, dan dia bicara sepanjang waktu.

“Kak.”

“Hm.”

“Boleh nanya serius?”

“Boleh.”

“Kalau aku bukan adeknya Kak Naka—“ dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih cepat, seperti orang yang lari supaya tidak berubah pikiran, “—Kakak udah suka aku belum?”

Aku berdiri di ujung koridor dan berhenti bernapas selama beberapa detik, dan itu reaksi yang tidak masuk akal karena ini bukan urusanku sama sekali.

Sadewa tidak menjawab.

Satu detik. Dua. Tiga.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Empat. Lima. Enam. Tujuh.

Tujuh detik.

Kertas pengumuman itu masih di tangannya, setengah terpasang, dan dia tidak menyelesaikannya.

“Aku bercanda!” Anak itu melepas lengan seragamnya dan mundur dua langkah. “Bercanda, Kak. Aku bercanda. Aku pulang duluan ya. Dadah!”

Dan dia lari.

Benar-benar lari, ke arah tangga, dengan tas memantul di punggung, dan sekali dia hampir menabrak tiang.

Sadewa berdiri di depan mading dengan kertas setengah terpasang.

Dia tidak memanggil.

Setelah beberapa saat, dia menyelesaikan kertas itu, meratakan sudutnya dengan ibu jari, dan berdiri di situ menghadap mading selama lebih lama dari yang dibutuhkan siapa pun untuk membaca pengumuman.


Aku kembali ke ruang OSIS dan duduk.

Aku membuka map, halaman belakang, di baris kosong berikutnya.

Aku menulis tanggalnya.

Lalu aku berhenti.

Aku tidak tahu harus menulis apa. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku melihat sesuatu yang jelas, terjadi tepat di depanku, dan aku tidak punya kolom untuk itu.

Kolomku cuma tiga: tanggal, kejadian, S.

Tidak ada kolom untuk tujuh detik.

Aku menutup map.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang tidak pernah kutulis di halaman mana pun, selama dua tahun, enam puluh tiga entri.

Aku tidak pernah mencatat kenapa aku mencatat.

Aku pintar. Semua orang bilang begitu, dan untuk sekali ini aku tidak akan pura-pura merendah. Aku bisa membaca situasi. Aku bisa membaca anggaran, membaca orang, membaca kapan seseorang berbohong dengan tenang.

Dua tahun.

Anak kelas sepuluh itu butuh dua bulan untuk berdiri di sebelahnya dan bertanya langsung.

Aku merapikan kursiku masuk ke bawah meja, seperti biasa, dan mematikan lampu ruangan.

Aku cuma ngamatin.

Itu yang selalu kubilang ke diri sendiri, dan sampai sore ini kalimat itu terdengar seperti kehati-hatian.

Aku mengunci pintunya dan berjalan ke gerbang, dan sepanjang jalan itu kalimatnya terus terulang, dan tidak sekali pun terdengar seperti kehati-hatian lagi.