← Bukan Aku, Kok

Chapter Thirty Nine

Yang Anindya Ucapkan Terakhir

POV: Sadewa


Serah terima jabatan pengurus OSIS dijadwalkan tanggal delapan Maret.

Itu artinya sepanjang akhir Februari, ruang OSIS isinya kardus.

Aku di sana tiap sore, seperti dua tahun terakhir, memindahkan arsip ke kotak dan memberi label dan menyusunnya berdasarkan tahun.

Anindya juga di sana tiap sore, dan kami mengerjakannya berdua, dan selama sepuluh hari itu kami hampir tidak bicara tentang apa pun selain arsip.

Itu bukan kecanggungan. Kami memang seperti itu. Aku sudah memeriksanya.


Hari Senin, tanggal dua puluh tiga, dia datang lebih sore dari biasanya.

“Maaf terlambat.”

“Nggak apa-apa.”

Dia meletakkan mapnya dan langsung mulai menyortir tanpa duduk.

Lima belas menit, tidak ada yang bicara.

Lalu dia berkata, tanpa mengangkat kepala dari kardus:

“Kirana tidak makan siang di aula sejak Selasa minggu lalu.”

Aku berhenti menulis label.

“Saya tidak bermaksud ikut campur,” katanya. “Saya cuma menyebutkan data.”

“Anindya.”

“Sepuluh hari kerja. Saya hitung.”

Aku meletakkan spidol.

“Aku ngomong sesuatu yang jahat ke dia,” kataku.

Dia berhenti menyortir.

“Kamu?”

“Iya.”

“Apa yang kamu katakan?”

“‘Bukan aku, kok.’”

Anindya berdiri diam di depan kardus itu cukup lama.

Lalu dia bilang, “Oh.”

Cuma itu.

Dan aku tahu dari cara dia mengucapkannya bahwa dia mengerti seluruhnya dalam waktu kurang dari dua detik, karena dia satu-satunya orang lain di sekolah ini yang tahu kalimat itu punya berapa lapis.


“Sadewa.”

“Iya.”

“Boleh saya bertanya sesuatu yang bukan urusan OSIS?”

“Boleh.”

“Kenapa kalimat itu?”

Aku menutup kardus yang sudah penuh.

“Karena itu yang paling ngena.”

“Iya. Saya tahu itu.” Dia menoleh. “Saya bertanya kenapa kamu memilih yang paling mengena.”

Aku tidak menjawab.

“Sadewa, dua tahun tiga bulan saya mengamati kamu.” Dia meletakkan map yang dia pegang. “Selama dua tahun tiga bulan itu, saya tidak pernah sekali pun melihat kamu melukai siapa pun. Tidak sekali pun. Termasuk waktu kamu punya alasan yang sangat kuat.”

“Iya.”

“Jadi waktu kamu akhirnya melakukannya, kamu memilih orang yang paling dekat dan kalimat yang paling tepat.” Dia menyandarkan tangannya ke meja. “Itu bukan kebetulan. Itu bukan hilang kendali. Kamu tidak pernah hilang kendali seumur hidup kamu.”

“Anindya—“

“Kamu ingin dia pergi.”


Ruang OSIS jam lima sore itu tidak ada suara selain kipas.

“Nggak,” kataku.

“Sadewa.”

“Aku nggak mau dia pergi.”

“Saya tidak bilang kamu mau.” Dia mengangkat satu tangan sedikit. “Saya bilang kamu ingin dia pergi. Dua hal yang berbeda, dan kamu orang yang paling mengerti bedanya di sekolah ini.”

Aku berdiri memegang gulungan selotip.

Dan aku mencoba membantahnya di kepalaku, seperti biasa, dengan cara yang biasa: susun datanya, cek urutannya, cari bagian yang tidak cocok.

Aku tidak menemukan bagian yang tidak cocok.

“Kalau dia pergi,” kata Anindya, “kamu kembali ke sistem yang sudah kamu bangun enam tahun, dan sistem itu berhasil, dan kamu tidak perlu mengubah apa pun.”

Aku tidak menjawab.

“Dan kamu bisa bilang ke diri sendiri bahwa dia pergi karena kamu jahat sekali,” katanya. “Bukan karena dia bosan. Bukan karena kamu tidak cukup. Karena kamu jahat, dan itu kesalahan yang bisa kamu kendalikan.”

Dia mengambil mapnya lagi.

“Itu lebih nyaman daripada tidak salah apa-apa dan tetap ditinggal.”


Aku duduk di kursi.

Aku tidak memutuskan untuk duduk. Kakiku yang memutuskan.

“Maaf,” kata Anindya. “Itu terlalu jauh.”

“Nggak.”

“Saya seharusnya tidak—“

“Anindya.”

“Ya?”

“Itu bener.”

Dia diam.

“Aku baru nyadar barusan,” kataku. “Waktu kamu ngomong.”

Dia menutup kardusnya dan menempelkan labelnya sendiri, dan tulisannya rapi seperti biasa.

“Sadewa, saya mau mengatakan sesuatu, dan setelah ini saya tidak akan membahasnya lagi selamanya.”

“Oke.”


“Saya mengamati kamu selama dua tahun tiga bulan,” katanya. “Delapan puluh satu catatan. Saya sudah cerita ke Kirana bulan Desember, dan saya rasa dia belum cerita ke kamu, karena dia tidak melakukan hal seperti itu.”

“Dia nggak cerita.”

“Saya duga begitu.”

Dia berdiri menghadapku.

“Saya tidak akan menjelaskan isi catatannya. Yang saya mau katakan cuma kesimpulannya.”

Aku menunggu.

“Selama dua tahun tiga bulan, saya mencatat delapan puluh kejadian di mana kamu mengerjakan sesuatu untuk orang lain.” Dia menyebutkan angkanya tanpa ragu. “Delapan puluh. Dan satu — satu, Sadewa — kejadian di mana kamu menginginkan sesuatu.”

“Yang mana?”

“Bulan Desember. Di kantin sementara. Kamu menggeser kursi kamu satu jengkal.”

Aku ingat kejadian itu.

Aku ingat kejadian itu dengan sangat detail, dan aku ingat aku berharap tidak ada yang melihat.

“Delapan puluh berbanding satu,” katanya. “Dan yang satu itu tentang dia.”

Dia merapikan letak mapnya di dada.

“Jadi kalau kamu bertanya kepada saya — dan saya tahu kamu tidak bertanya — apakah kamu boleh mengusir orang itu karena kamu takut, jawaban saya adalah: kamu boleh. Tapi saya punya delapan puluh satu bukti bahwa itu keputusan yang salah, dan saya satu-satunya orang di sekolah ini yang punya arsipnya.”


Dia melihat jam dinding.

“Setengah enam. Saya kunci jam enam.”

“Aku selesai sebelum itu.”

“Saya tahu.” Sudut mulutnya bergerak sedikit. “Empat belas kali.”

“Sekarang udah lebih dari empat belas.”

“Empat puluh satu,” katanya. “Saya berhenti menghitung bulan Desember, tapi saya masih ingat angkanya.”

Dia mengulurkan tangan.

Aku menatapnya.

“Kita sudah dua tahun bekerja sama, Sadewa,” katanya. “Dan kita tidak pernah sekali pun berjabat tangan.”

Aku berdiri dan menyambutnya.


Jabat tangannya formal. Sekali, tegas, seperti orang menutup rapat.

Dia tidak melepasnya.

Aku menunggu dua detik, dan tangannya masih di tanganku, dan lalu dia melangkah maju satu langkah dan memelukku.

Cepat. Tidak erat. Kepalanya tidak menyentuh bahuku.

Tiga detik.

Lalu dia mundur satu langkah, melepas tangannya, dan merapikan lengan seragamnya.

Wajahnya sudah kembali rapi sebelum langkah mundurnya selesai. Aku ingin mencatat itu. Aku sudah dua tahun mengamati orang ini juga, dengan cara yang berbeda, dan aku tahu berapa banyak yang dia lakukan supaya wajahnya seperti itu.

“Itu bukan permintaan apa-apa, Sadewa,” katanya. “Itu ucapan terima kasih.”

“Buat apa?”

“Kamu tidak pernah membuat saya merasa bodoh karena membuat empat belas rapat yang tidak perlu.”

Aku membuka mulut.

“Jangan dijawab,” katanya. “Kalau kamu jawab, kamu akan bilang ‘bukan aku, kok’, dan saya tidak mau mendengar itu hari ini.”


Dia mengambil mapnya dan membuka halaman belakang.

Dari dalamnya dia mengeluarkan satu lembar kertas dan meletakkannya di meja di antara kami.

Formulir pendaftaran peserta turnamen.

Kolom pembina sudah ditandatangani. Tanggal dua puluh satu Januari.

Kolom nama masih kosong.

“Semifinal tanggal dua puluh delapan,” katanya. “Final tanggal satu Maret. Batas penambahan nama tujuh hari sebelum, jadi tanggal dua puluh satu.”

“Itu udah lewat.”

“Belum. Pak Herman menandatanganinya tanggal dua puluh satu Januari, bukan Februari.” Dia mendorong kertasnya satu sentimeter ke arahku. “Panitia hanya memeriksa tanda tangan pembina dan tanggalnya. Formulir ini sah sampai turnamen selesai.”

Aku melihat kertas itu.

“Kamu udah nyiapin ini dari Januari.”

“Saya menyiapkan banyak hal yang tidak pernah saya pakai,” katanya. “Itu masalah saya, dan kamu sudah pernah mendengar saya menyebutkannya.”

Dia mengambil kunci ruangan.

“Sadewa.”

“Iya.”

“Saya tidak akan memaksa kamu mengisinya. Kirana tidak akan memaksa juga, walaupun dia ingin sekali. Nakula sudah menyerah. Pak Herman tidak akan menyebutnya lagi.”

Dia berhenti di dekat pintu.

“Aku cuma ngamatin,” katanya.

Dia mengucapkannya pelan sekali.

“Itu kalimat yang saya pakai dua tahun untuk tidak melakukan apa-apa,” katanya. “Sekarang saya berikan ke kamu, dan bukan sebagai alasan. Sebagai peringatan.”

Dan dia keluar.


Aku berdiri di ruang OSIS dengan formulir kosong di meja.

Aku melihat ke pintu yang terbuka.

Di ujung koridor, mungkin dua puluh meter, ada orang berdiri.

Kirana memegang tali tasnya dengan dua tangan.

Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di situ. Aku tidak tahu berapa banyak yang dia lihat.

Dia melihatku. Aku melihat dia.

Dan dia tidak masuk.

Dia mengangkat tangannya sedikit — bukan melambai, cuma naik sepuluh sentimeter lalu turun lagi — dan berbalik, dan jalan ke arah tangga.