Chapter Forty Two
Yang Kira Lihat
POV: Kirana
Dua detik.
Kak Naka berdiri sendirian di sudut kiri dengan tangan terangkat, dan tidak ada satu pun pemain lawan dalam radius tiga meter darinya, dan aku melihat mata Kak Dewa bergerak ke arah itu.
Dan lalu aku melihat sesuatu yang lain.
Aku melihat Kak Naka menurunkan tangannya.
Kakakku menurunkan tangannya, dan menggeleng, dan mundur satu langkah keluar dari posisi terbuka itu — dan dia menunjuk. Ke lantai. Ke tempat Kak Dewa berdiri.
Satu detik.
Kak Dewa melompat.
Aku tidak melihat bolanya masuk.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur karena buku ini isinya cuma hal-hal yang benar.
Aku tidak melihat bolanya masuk karena aku sedang melihat wajahnya, dan aku sudah melihat wajah itu selama delapan bulan, dan aku baru dua kali melihatnya tanpa dua lapis di depannya.
Yang aku dengar: peluit. Lalu satu detik hening yang aneh sekali. Lalu tiga ratus orang.
Enam puluh dua lawan enam puluh.
Yang terjadi setelah itu tidak bisa aku ceritakan dengan urutan yang benar, jadi aku akan menuliskannya sebagai potongan.
Danang lari dari bangku cadangan dan hampir menabrak wasit.
Bagas melompat ke punggung Kak Dewa dari belakang dan Kak Dewa hampir jatuh dan tidak ada yang menahannya karena semua orang sedang berteriak.
Pak Herman berdiri di pinggir lapangan tanpa bergerak sama sekali, dengan dua tangan di saku, dan salah satu sakunya ada kacamata di dalamnya.
Kak Wulan berteriak dari tribun dengan suara yang menurutku secara medis tidak mungkin.
Kak Anindya berdiri di meja panitia dengan map di dada, tidak bertepuk tangan, cuma berdiri, dan aku melihat ke arahnya selama dua detik dan dia mengangguk satu kali ke arahku.
Dan Kak Naka.
Kak Naka tidak lari ke tengah lapangan.
Kakakku berdiri di sudut kiri, di tempat dia mundur tadi, dan dia jongkok dengan dua tangan di lutut dan kepala menunduk, dan dia diam di situ selama mungkin sepuluh detik sementara seluruh timnya berlari ke arah yang lain.
Aku menemukannya jam enam sore.
Aula sudah kosong setengah. Panitia membereskan kursi. Anak-anak tim masih di ruang ganti dan suaranya kedengaran sampai koridor.
Kak Dewa duduk di bangku penonton paling atas, paling pojok, sendirian.
Tentu saja.
Aku naik.
Dia sudah ganti baju. Kacamatanya sudah dipakai lagi. Poninya masih ke belakang karena rambutnya masih basah.
“Kak.”
“Kirana.”
Aku duduk di sebelahnya.
Kami tidak bicara selama, mungkin, satu menit penuh.
Di bawah, dua anak kelas sepuluh sedang menumpuk kursi dan salah satunya tiba-tiba melompat dan meniru gerakan melempar bola dan temannya menendangnya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak inget nggak yang aku bilang di kelas sepuluh—“ Aku menggeleng. “Maksudku bulan Oktober. Waktu di bangku deket lapangan belakang.”
“Yang rumah sakit.”
“Iya.”
“Inget.”
“Aku belum cerita semuanya.”
Dia menoleh.
“Kirana.”
“Kak, aku mau cerita sekarang. Dan aku mau Kakak dengerin sampai selesai, dan aku nggak akan berhenti walaupun Kakak nyuruh.”
Dia tidak bilang apa-apa.
“Oke?”
“Oke.”
Aku menarik napas.
“Aku ada di final SMP itu.”
Dia tidak bergerak.
“Aku kelas satu SMP,” kataku. “Dua puluh satu Februari. Aku dibawa Ibu karena Kak Naka main dan Ibu nggak mau naik bus sendirian.”
“Kamu—“
“Aku duduk di tribun barat, deret kedua dari bawah, di belakang bangku cadangan kalian.”
Dia menunduk ke lantai bangku.
“Aku nggak nonton pertandingannya, Kak.” Aku memegang tali tasku. “Aku dua belas tahun dan aku nggak ngerti basket sama sekali. Aku bosen. Aku nonton bangku cadangan, karena di bangku cadangan ada yang gerak-gerak.”
Aku menarik napas lagi.
“Kuarter empat. Sebelum menit terakhir.”
Aku merasakan dia berhenti bernapas di sebelahku.
“Kakak jalan ke pinggir.”
“Kirana.”
“Aku belum selesai.”
“Kirana—“
“Kakak jalan ke pinggir dan Kakak ngomong sesuatu ke Pak Herman, dan Pak Herman bilang ‘apa?’ karena tribunnya berisik, dan Kakak geleng, terus balik ke lapangan.”
Aku menoleh ke dia.
“Aku duduk empat meter dari situ, Kak.”
Dia tidak mengangkat kepalanya.
“Aku denger.”
Aula di bawah kami ada suara kursi ditumpuk.
“Kakak bilang,” kataku, “‘Pak, ganti saya.’”
Dia tidak bergerak.
“Terus Pak Herman bilang ‘apa?’, dan Kakak geleng, dan Kakak bilang ‘nggak jadi, Pak’.”
Aku menahan napas dan melanjutkan.
“Dan pas Kakak balik ke lapangan, Kakak ngelewatin depan tribun barat. Deret kedua dari bawah.”
Aku menoleh ke dia.
“Tangan Kakak gemeteran.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Naka juga lihat itu.”
“Iya. Kak Naka lihat tangannya.” Aku mengangguk. “Kak Naka cerita ke aku bulan Januari. Dia lihat dari tiga meter.”
“Terus?”
“Kak Naka nggak lihat yang setelahnya.”
Aku mengucapkan bagian ini pelan sekali, karena aku sudah menyimpannya empat tahun dan aku baru mengerti artinya delapan bulan lalu.
“Habis peluit panjang, semua orang lari ke tengah,” kataku. “Semua orang. Kak Naka diangkat, tribun turun ke lapangan, panitia teriak-teriak nyuruh naik lagi.”
Dia diam.
“Dan aku nggak ikut, karena aku dua belas tahun dan aku takut kedorong.”
Aku memegang tali tasku dengan dua tangan.
“Jadi aku turun lewat samping. Ke bawah tribun. Yang jalur beton itu.”
Aku merasakan dia berbalik menghadapku sepenuhnya.
“Kirana.”
“Kakak di situ, Kak.”
Aku tidak menangis waktu mengucapkannya. Aku ingin mencatat itu.
Aku menangis nanti, di rumah, jam sebelas malam. Tapi tidak di bangku itu.
“Kakak berdiri di bawah tribun, di dekat tiang beton yang kedua,” kataku. “Sendirian. Dan Kakak muntah.”
Dia tidak bicara.
“Aku dua belas tahun dan aku nggak ngerti apa-apa. Aku pikir Kakak sakit. Aku hampir manggil orang.”
Aku menarik napas.
“Terus aku nggak jadi, karena aku lihat Kakak berdiri, terus Kakak ngelap mulut Kakak pakai lengan, terus Kakak berdiri di situ sebentar sambil megang tiang.”
Aku menoleh ke dia.
“Terus Kakak balik ke lapangan.”
Dia menutup mukanya dengan satu tangan.
Itu pertama kalinya aku melihat dia melakukan itu.
“Kakak balik ke lapangan, Kak,” kataku. “Kakak masuk ke kerumunan itu, dan Kakak nyari Kak Naka, dan Kakak salamin dia.”
Aku bisa mendengar suaraku sendiri mulai rusak dan aku memaksanya jalan terus.
“Aku lihat itu dari bawah tribun. Aku lihat Kakak salamin Kak Naka dan aku lihat Kakak senyum.”
“Kirana.”
“Dan aku nggak ngerti apa-apa, Kak. Aku dua belas tahun.” Aku mengelap muka dengan lengan. “Aku baru ngerti tiga bulan lalu. Waktu Kakak cerita soal jam dua siang.”
Dia tidak menurunkan tangannya dari mukanya.
“Kak Dewa.”
“Hm.”
“Kakak selalu cerita ke diri Kakak sendiri bahwa Kakak mundur karena Kakak mutusin.”
Dia tidak menjawab.
“Kakak bilang ke Kak Naka bulan Januari: ‘aku mundur karena aku mau’. Kak Naka pikir Kakak bohong.” Aku menoleh. “Kak Naka salah. Kakak nggak bohong.”
Dia menurunkan tangannya.
“Kakak emang mau keluar,” kataku. “Dari lapangan itu. Hari itu. Kakak capek banget, Kak, dan Kakak minta diganti, dan waktu Kakak nggak dikasih Kakak tetep main sampai peluit.”
Aku menahan napas.
“Dan tiga bulan kemudian Kakak berhenti, dan sebagian dari Kakak lega.”
“Kirana—“
“Aku belum selesai.”
“Kirana, itu—“
“AKU BELUM SELESAI, KAK.”
Dua anak kelas sepuluh di bawah berhenti menumpuk kursi dan menoleh ke atas.
Aku menurunkan suaraku.
“Kakak takut sama bagian itu,” kataku. “Aku tau Kakak takut sama bagian itu. Kakak takut kalau ternyata Kakak lega waktu keluar, artinya semuanya bukan pengorbanan, artinya Kakak cuma kabur, dan artinya semua yang Kak Naka rasain tiga tahun itu sia-sia.”
Aku menoleh menghadapnya sepenuhnya.
“Kak, aku lihat dua-duanya.”
“Aku lihat Kakak muntah di bawah tribun,” kataku. “Dan aku lihat Kakak balik ke lapangan buat salamin Kak Naka.”
Dia menatapku.
“Dua-duanya kejadian, Kak. Dalam satu menit yang sama. Aku ada di situ dan aku lihat dua-duanya.”
Aku menarik napas.
“Yang capek dan yang tetep balik itu orang yang sama.”
Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di situ setelah itu.
Aula di bawah selesai dibereskan. Lampunya dimatikan satu per satu dari sisi utara. Tinggal dua lampu di dekat pintu.
Kak Dewa tidak bicara selama semua itu.
Dan lalu aku dengar dia menarik napas, dan napasnya patah di tengah, dan itu satu-satunya bunyi.
Dia tidak menangis dengan suara. Aku ingin mencatat itu. Bahunya turun dan dia menunduk ke lantai bangku dan tidak ada bunyi sama sekali, dan itu jauh lebih parah daripada kalau ada bunyinya.
Aku tidak memeluknya.
Aku tidak tahu apakah itu keputusan yang benar. Aku memikirkannya sampai sekarang.
Aku cuma menaruh tanganku di punggung tangannya, di bangku, di antara kami, dan diam di situ.
Setelah lama sekali, dia mengangkat kepalanya.
Matanya merah dan kacamatanya berembun di bagian bawah dan dia melepasnya untuk mengelapnya di kausnya, dan waktu dia memakainya lagi tangannya masih agak gemetar.
“Kirana.”
“Iya.”
“Berapa lama kamu nyimpen itu?”
“Yang muntah?”
“Iya.”
“Empat tahun.” Aku mengangkat bahu. “Tapi aku baru ngerti artinya bulan Desember.”
“Kenapa kamu nggak—“
“Karena itu bukan hakku, Kak.” Aku menoleh. “Sampai hari ini.”
“Kenapa hari ini?”
Dan aku bilang, “Karena hari ini Kakak nggak oper.”
Aula di bawah gelap sekarang kecuali dua lampu.
Ada suara pintu ruang ganti dibuka di kejauhan dan suara anak-anak tim keluar, ribut, tertawa, memanggil-manggil.
Salah satunya berteriak nama Kak Dewa dan tidak dijawab, dan mereka jalan terus.
Aku membuka tasku dan mengeluarkan dua kotak.
“Kak.”
“Hm.”
“Kak Dewa udah makan?”
Dia melihat kotak-kotak itu.
Lalu dia melihat aku.
Dan dia bilang, “Belum.”
“Ya udah.” Aku membuka tutupnya dan menyerahkan satu. “Sekarang.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat reading
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan