← Bukan Aku, Kok

Chapter Fourteen

Tangga Pertama

POV: Kirana


Hari Senin aku kembali ke jadwal lama, dan aku melakukannya tanpa mengumumkan apa-apa, seolah empat hari kemarin tidak pernah terjadi.

Jam enam empat puluh, koridor barat.

Dia sedang berjongkok di depan pintu kelas 11 IPS-1, memasang engsel yang lepas.

“Kak Dewa udah makan?”

Dia tidak menoleh.

“Belum.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Iya. Berarti Kakak nggak bohong lagi.” Aku duduk di lantai koridor, dua meter dari dia, dan mengeluarkan kotak dari tas. “Nih.”

“Kirana.”

“Jangan mulai.”

“Kamu—“

“Kak. Aku bangun jam setengah lima. Kalau Kakak nolak, aku bakal cerita ke seluruh sekolah bahwa Kakak yang benerin keran, kursi, papan piket, engsel, sama jam dinding koridor yang sengaja Kakak setel lambat dua puluh detik.”

Obeng di tangannya berhenti.

Dia menoleh, pelan sekali.

“Kamu tahu soal jamnya.”

“Aku tahu banyak hal, Kak.”

Dia menatapku dari balik poninya beberapa detik. Lalu dia kembali ke engselnya.

“Taruh di situ.”

“Yes.”


Aku mau mencatat untuk keperluan sejarah bahwa hari itu adalah hari pertama Kak Dewa duduk di lantai koridor sambil makan bekal jam tujuh kurang sepuluh pagi.

Bel bunyi waktu kotaknya tinggal seperempat. Dia menutupnya, memasang karetnya dua-duanya, dan menyerahkannya ke aku.

“Sisanya buat istirahat,” kataku.

“Oke.”

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak sekarang jawabnya ‘oke’ terus. Dulu ‘nggak’ terus.”

Dia berdiri, membereskan obeng ke tas.

“Iya.”

Dan dia jalan ke tangga, dan aku duduk di lantai koridor sambil memeluk kotak bekal kosong seperti orang bodoh sampai ada anak kelas sebelas lewat dan menatapku aneh.


Minggu itu berjalan dengan pola baru, dan aku tidak akan bilang aku yang membuat polanya karena itu kelihatan seperti aku merencanakan segalanya.

Aku memang merencanakan segalanya. Tapi tidak perlu dicatat.

Senin: bekal di koridor barat, pagi.
Selasa: dia tidak ada, ada rapat OSIS pagi. Aku titip kotaknya ke Kak Wulan. Kak Wulan menatapku selama lima detik penuh lalu bilang “aku titipin, tapi aku nggak setuju sama apa pun yang terjadi di sini.”
Rabu: belakang gudang, istirahat.
Kamis: koridor barat lagi.

Jumat, dia yang bilang duluan.

“Nanti istirahat kedua aku di ruang OSIS.”

Aku hampir menjatuhkan kotakku.

“Kakak baru aja ngasih tau aku Kakak di mana.”

“Iya.”

“Tanpa aku tanya.”

“Iya.”

“Kak, Kakak sadar nggak sih ini—“

“Nanti bel.”

Dan dia jalan.

Aku berdiri di koridor dan berteriak “KAK, ITU NAMANYA NGAJAK!” ke arah punggungnya, dan tiga anak kelas sepuluh yang lewat langsung mempercepat langkah.


Jumat, istirahat kedua.

Aku ke ruang OSIS lewat koridor timur, dan koridor timur jam segini kosong total karena semua orang di kantin dan lapangan.

Aku menemukannya di depan lemari arsip, memindahkan map-map ke rak bawah.

“Kak.”

“Sebentar.”

Aku menunggu. Dia menyelesaikan tiga map lagi, lalu menutup lemarinya.

“Kamu bawa apa?”

“Nggak bawa apa-apa. Kakak yang ngajak.”

“Aku nggak ngajak.”

“Kakak bilang Kakak di ruang OSIS.”

“Itu informasi.”

“Kak Dewa.” Aku menunjuk dia dengan dua jari. “Kalau Kakak ngasih tau posisi Kakak ke orang yang tiap hari nyariin Kakak, itu namanya ngajak. Itu udah hukum alam.”

Dia diam sebentar.

“Oke.”

“Nah.”

Kami keluar dari ruang OSIS bareng. Dia harus mengembalikan kunci ke ruang guru, aku harus balik ke kelas, dan dua-duanya lewat koridor timur.

Koridor timur panjangnya mungkin empat puluh meter.

Kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada satu orang pun dari ujung ke ujung, cuma deretan pintu kelas yang tertutup dan cahaya dari jendela di sisi kiri.

Dan aku sudah menghitung ini juga, kalau harus jujur. Aku sudah menghitungnya sejak Rabu.

Lima langkah pertama aku diam.

Sepuluh langkah, aku masih diam, yang menurut Nadin secara medis mustahil.

Lima belas langkah, tanganku bergerak duluan sebelum kepalaku selesai memutuskan.

Aku menggenggam tangannya.

Bukan lengan seragamnya. Bukan dua jari di dekat siku.

Tangannya. Telapak ke telapak, jari masuk ke sela jari, semuanya, sekaligus, seperti orang yang tidak punya rencana cadangan.

Dia berhenti jalan.

Jantungku bunyinya keras sekali sampai aku curiga dia bisa dengar.

“Kirana.”

“Biar nggak kepisah.”

Hening.

Kalimat itu, waktu diucapkan di koridor yang isinya nol manusia dari ujung ke ujung, terdengar sangat bodoh. Aku menyadarinya persis di detik kalimat itu keluar.

Aku tidak menarik tanganku.

Kalau aku menariknya sekarang, artinya aku mengaku. Kalau aku diam, mungkin — mungkin — dia tidak menghitung jumlah orang di koridor ini.

Dia menghitung segala hal. Tentu saja dia menghitung.

Dia menoleh ke belakang. Ke depan. Ke belakang lagi.

Lalu dia bilang, “Koridornya kosong.”

“IYA, KAK, AKU TAHU.”

“Oke.”

Dan dia jalan lagi.

Dia jalan lagi, dengan tanganku masih di tangannya, dan dia tidak melepaskan.


Dua puluh langkah berikutnya adalah dua puluh langkah terpanjang dalam hidupku.

Tangannya besar dan agak kasar di bagian bawah jari, mungkin karena obeng, mungkin karena apa. Dia tidak menggenggam balik. Tapi dia juga tidak membiarkan tangannya lemas seperti orang yang sedang menahan diri.

Dia menyesuaikan langkahnya. Aku menyadarinya di langkah kelima.

Aku tidak berani bicara. Aku, Kirana Adiwangsa, yang menurut wali kelasku “berpotensi menjadi penyiar radio”, tidak berani mengucapkan satu kata pun selama dua puluh langkah.

Kami sampai di belokan dekat tangga.

Dan di situ terjadi sesuatu yang tidak ada dalam rencana mana pun.

Ada bunyi.

Bunyi seperti tas jatuh, disusul suara seseorang yang jelas-jelas berusaha menahan tawa dan gagal total, dari balik pintu kelas kosong di sebelah kanan, yang pintunya terbuka sepuluh sentimeter.

Kak Dewa berhenti.

Aku berhenti.

Pintu itu bergerak dua sentimeter lagi, lalu berhenti, seperti orang yang baru sadar bahwa bergerak adalah kesalahan.

“Kak Wulan,” kata Kak Dewa, datar sekali.

Hening tiga detik.

Lalu pintunya terbuka penuh.

Kak Wulan berdiri di situ dengan ponsel di tangan, kamera menyala, sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.

Dan di belakangnya, jongkok, dengan tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter yang dilipat jadi mungkin seratus sepuluh, ada kakakku.

“Hai,” kata Kak Naka.

Aku ingin mati.

“KAK NAKA NGAPAIN DI SITU?!”

“Lewat.”

“JONGKOK?!”

“Ada yang jatuh.”

“APA YANG JATUH?”

“Harga diri gue,” kata Kak Wulan. “Bareng dia.”

Kak Naka berdiri, dan mukanya — ini bagian yang aneh — mukanya bukan muka orang yang lagi bercanda.

Dia melihat tanganku.

Tanganku masih di tangan Kak Dewa. Aku baru sadar detik itu juga, dan aku hampir menariknya.

Aku tidak sempat.

Karena Kak Dewa yang bergerak duluan.

Bukan melepas.

Dia menggeser telapaknya sedikit, mengunci jariku lebih rapat, lalu menurunkan tangan kami berdua ke bawah, ke posisi yang lebih santai, seperti orang yang membetulkan posisi barang yang mau dibawa jauh.

Dan dia melihat ke Kak Naka waktu melakukannya.

Ruangan itu sepi selama, entah, empat detik.

Kak Wulan menurunkan ponselnya pelan-pelan.

“Oh,” katanya. “Oke. Wah.”

Kak Naka tidak bilang apa-apa.

Dia cuma menatap Kak Dewa, dan Kak Dewa menatap balik, dan tidak satu pun dari mereka bicara, dan aku berdiri di tengah dua orang yang saling kenal dua belas tahun sambil memegang tangan salah satunya.

Lalu Kak Naka menghela napas, panjang sekali, dan tiba-tiba mukanya berubah jadi muka Kak Naka yang biasa.

“Kir.”

“Apa.”

“Kamu telat masuk kelas.”

“KAKAK JUGA.”

“Kakak kelas dua belas, beda.”

“ITU BUKAN ATURAN!”

Kak Wulan sudah menarik lengan Kak Naka ke arah tangga sambil bilang sesuatu tentang “aku nggak sanggup di sini lebih lama”, dan mereka pergi, dan suara mereka berdebat masih kedengaran sampai lantai dua.


Tinggal kami berdua di belokan koridor.

Bel masuk masih tiga menit lagi.

Aku menunduk ke tangan kami.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak bisa lepas sekarang.”

Aku bilang itu karena aku pengecut, dan karena aku ingin dia membantahnya, dan karena aku sudah tahu bahwa dia tidak akan membantah apa-apa, dia tidak pernah membantah apa pun, dia cuma bilang “oke” dan melakukan apa yang paling tidak merepotkan orang lain.

Dia tidak bilang “oke”.

Dia tidak bilang apa-apa.

Dia jalan ke arah tangga, ke arah kelasku, yang berarti dia mengantar, yang berarti dia akan telat ke kelasnya sendiri.

Dan dia tidak melepaskan tanganku sampai kami sampai di depan pintu kelas 10 IPA 3, empat puluh meter kemudian, di depan dua puluh delapan orang teman sekelasku yang semuanya kebetulan sedang melihat ke pintu.