Chapter Twenty Eight
Pak Herman
POV: Sadewa
Turnamen antar-SMA se-kota diadakan bulan Februari, dan sekolah kami baru mendapat surat undangannya hari Senin minggu kedua Januari.
Aku tahu isinya sebelum siapa pun karena aku yang memilah surat masuk di ruang OSIS.
Aku membacanya sekali, menaruhnya di map pembina, dan melanjutkan pekerjaanku.
Selasa siang, ada pengumuman di kelas.
“Yang mau daftar tim basket buat turnamen Februari, latihan perdana Kamis sore. Pembinanya Pak Herman.”
Aku mencatat itu di kepala seperti aku mencatat jadwal hujan.
Kirana menyinggungnya sekali di aula, hari Rabu, dengan nada yang terlalu ringan untuk pertanyaan seperti itu.
“Kak, turnamen Februari.”
“Hm.”
“Kakak nggak daftar?”
“Nggak.”
“Oke.”
Dan dia langsung ganti topik ke Nadin yang katanya sedang perang dingin dengan seseorang di klub jurnalistik.
Dia tidak mengejar sama sekali.
Itu yang membuatku memikirkannya sepanjang pelajaran keenam. Sejak kliping itu — dan aku tahu ada kliping, aku tidak tahu isinya, tapi aku tahu ada sesuatu di tas anak itu sejak bulan Desember — dia berhenti mengejar hal-hal tertentu.
Orang yang berhenti mengejar biasanya sudah tahu.
Kamis sore aku tidak ke aula. Aku ke perpustakaan, dan aku duduk di rak keempat sampai jam lima, dan aku pulang lewat gerbang depan.
Itu bukan kebetulan. Aku sudah menyusun rute penghindaran untuk Pak Herman sejak dia mulai mengajar di sini, dan sistemnya sudah berjalan satu tahun lebih tanpa kegagalan.
Sistemnya gagal hari Senin berikutnya.
“Sadewa Pramudya.”
Aku sedang membawa dua kardus dari ruang OSIS ke ruang guru, dan namaku dipanggil dari arah meja di sudut, dekat jendela.
Aku berhenti.
“Ya, Pak.”
“Sini sebentar.”
Kardusnya masih di tanganku. Aku menaruhnya di lantai dekat pintu, dan aku melakukannya dengan pelan supaya punya waktu tiga detik untuk menyusun sesuatu.
Tiga detik tidak cukup.
Pak Herman duduk di meja yang penuh kertas, dengan kacamata baca di ujung hidung. Dia tidak seperti yang aku ingat. Rambutnya sudah abu-abu di sisi. Perutnya lebih besar.
“Duduk.”
Aku duduk.
“Kamu masih di sekolah ini, ternyata.”
“Iya, Pak.”
“Setahun lebih saya di sini. Ketemu kamu berapa kali, ya?” Dia melepas kacamatanya. “Empat kali. Semua kurang dari satu menit.”
Aku tidak menjawab.
“Ini soal aula,” katanya, dan aku menarik napas. “Jadwal latihan tim buat Februari. Katanya kamu yang biasa ngurus surat ke Pak Yudho.”
“Bukan saya, Pak.”
“Bukan kamu.”
“Bukan.”
Pak Herman melihatku beberapa detik.
Lalu dia mengambil selembar kertas dari tumpukan di sebelah kanannya dan meletakkannya di depanku.
Surat izin penggunaan aula, bulan Oktober. Sudah ditandatangani Pak Yudho.
Di kolom pengaju, tulisan tangan.
Tulisanku.
“Pak Yudho nyimpen arsipnya,” katanya. “Saya minta bulan lalu.”
Aku melihat kertas itu.
“Bukan aku, kok,” kataku.
Pak Herman mengangguk pelan.
“Saya tahu,” katanya.
Ada beberapa cara orang bisa mengatakan “saya tahu”.
Ada yang mengatakannya sebagai bantahan. Ada yang mengatakannya sebagai sindiran.
Pak Herman mengatakannya seperti orang yang sedang mengaku.
“Saya tahu itu kamu,” katanya lagi. “Bukan cuma surat ini.”
Dia menyandarkan punggungnya.
“Papan skor,” katanya. “Angka enam di sisi kiri, yang suka nggak nyala penuh.”
“Pak—“
“Tahun lalu ribut sepuluh menit gara-gara itu. Tahun ini nggak. Saya cek kabelnya bulan Desember, ada isolasi baru.” Dia mengangkat satu jari. “Itu satu.”
“Bulan November, pas main sama Bhakti Wiyata. Anak-anak ganti penjagaan di kuarter kedua dan tiba-tiba nomor sebelas mereka mati total.” Dia menoleh ke jendela. “Saya nonton dari pintu utara. Saya tanya Danang habis itu, dia bilang dia yang lihat.”
Aku diam.
“Danang anak baik. Tapi Danang nggak bisa lihat pola tiga kali berturut-turut. Dia nggak lihat pola satu kali pun seumur hidupnya.”
“Pak—“
“Kamu nggak perlu ngaku apa-apa, Dewa. Saya nggak lagi nyari pengakuan.” Dia mengetuk meja dengan jari sekali. “Saya cuma mau kamu tahu bahwa saya nggak sebodoh yang kamu kira.”
Ruang guru jam empat sore hampir kosong. Ada dua guru di ujung yang sedang mengoreksi.
“Saya mau nanya satu hal,” kata Pak Herman.
“Iya, Pak.”
“Kamu ingat nggak, tiga bulan setelah kamu keluar tim, saya ketemu kamu di lorong sekolah SMP?”
Aku ingat.
Aku ingat lorongnya, aku ingat jam berapa, dan aku ingat aku sedang membawa dua ember cat untuk kelas.
“Ingat, Pak.”
“Saya bilang apa waktu itu?”
Aku tidak menjawab.
“Saya tepuk bahu kamu,” katanya, “dan saya bilang: kamu emang lebih enak jadi yang ngatur dari belakang.”
Kertas di meja itu tidak bergerak. Kipas di langit-langit berputar.
“Saya inget kalimat itu sampai sekarang,” kata Pak Herman. “Sudah tiga tahun. Saya inget karena saya ngucapinnya sambil lega.”
Aku mengangkat kepala.
“Lega, Pak?”
“Lega.” Dia mengangguk. “Karena kalau kamu ‘lebih enak di belakang’, berarti kamu keluar karena kamu emang lebih cocok di belakang. Berarti nggak ada yang salah. Berarti saya nggak perlu nanya apa-apa.”
Dia melepas kacamatanya lagi walaupun sudah dilepas dari tadi, gerakan orang yang butuh sesuatu untuk dipegang.
“Anak paling produktif satu turnamen berhenti main basket di umur lima belas,” katanya. “Dan pelatihnya nggak nanya kenapa. Satu kali pun nggak.”
“Pak, saya emang berhenti sendiri.”
“Iya.”
“Nggak ada yang nyuruh.”
“Iya. Itu yang bikin lebih gampang buat kami.” Dia bicara pelan sekarang. “Kalau ada yang nyuruh kamu berhenti, ada yang bisa disalahin. Kamu berhenti sendiri, jadi semua orang boleh diem.”
Aku memandang meja.
“Anak-anak juga,” lanjutnya. “Mereka ngajak kamu jadi manajer, kan?”
“Iya.”
“Kamu terima?”
“Nggak.”
“Mereka nanya kenapa?”
Aku diam.
“Nggak,” katanya menjawab sendiri. “Mereka nggak nanya.”
“Saya juga diem,” katanya. “Bapak kamu waktu itu baru mau pindah kerja. Ibu kamu baru dua tahun nggak ada. Saya pikir — ah, anak ini lagi banyak urusan, biarin dulu.”
“Itu bener, Pak.”
“Itu bener,” katanya. “Dan tetep aja saya nggak nanya.”
Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di situ tanpa bicara.
Ada satu guru yang berdiri dan pamit pulang. Pak Herman mengangkat tangan membalas.
“Dewa.”
“Iya, Pak.”
“Turnamen Februari. Kamu mau main?”
“Nggak, Pak.”
“Cepet banget jawabnya.”
“Saya udah tiga tahun nggak main.”
“Itu alasan yang bagus,” katanya. “Itu juga bukan alasan kamu.”
Aku berdiri.
“Saya harus balik, Pak. Kardusnya—“
“Duduk dulu sebentar.”
Aku berdiri di samping kursi.
Pak Herman tidak memaksa. Dia cuma menunggu, dan aku duduk lagi karena berdiri di situ terasa lebih buruk daripada duduk.
“Saya mau nanya satu hal lagi,” katanya. “Terus saya nggak bakal ganggu kamu lagi sampai lulus. Saya janji.”
“Iya, Pak.”
Dia menaruh kedua tangannya di meja.
Dan aku tahu — aku tahu setengah detik sebelum dia bicara, dari cara dia menaruh tangannya, dari cara dia berhenti dulu — bahwa yang akan dia tanyakan bukan soal turnamen Februari.
“Final Februari,” katanya. “Kuarter keempat. Sebelum menit terakhir.”
Ruang guru itu jadi sangat sepi.
“Kamu jalan ke pinggir dan ngomong sesuatu ke saya,” kata Pak Herman.
“Pak—“
“Kamu ngomong pelan. Tribunnya berisik. Saya bilang ‘apa?’ dan kamu geleng, terus balik ke lapangan.”
Aku memegang lututku.
“Tiga tahun saya mikirin itu,” katanya. “Saya mikirin apa yang kamu bilang. Dan saya udah punya jawabannya sejak lama, saya cuma nggak pernah berani nanya.”
Dia melihatku.
“Kamu minta diganti hari itu, ya, Dewa?”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman reading
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan