← Bukan Aku, Kok

Chapter Thirty Eight

Telepon Ketiga

POV: Sadewa


Aku tidak tidur Senin malam.

Aku ingin mencatat itu sebagai fakta, bukan sebagai keluhan. Aku berbaring dari jam sepuluh sampai jam empat pagi dan tidak tidur, dan jam empat aku berhenti mencoba dan menyapu ruang tamu.

Selasa aku ke sekolah jam enam lima belas seperti biasa.

Koridor barat. Wastafel ketiga. Papan piket 12 IPS-2.

Aku mengerjakan semuanya dan selesai jam tujuh kurang sebelas, dan lalu aku berdiri di koridor itu dan menunggu.

Aku menunggu sembilan menit.

Dia tidak datang.


Rabu tidak datang. Kamis tidak datang.

Aku melihatnya dua kali dari jauh, di koridor lantai satu, dan dia tidak melihat ke arahku, dan aku tidak yakin apakah itu disengaja atau tidak, dan aku tidak punya cara untuk mengeceknya.

Kamis sore aku mengetik pesan tujuh kali.

Yang pertama: Kirana.
Yang kedua: Maaf.
Yang ketiga: Aku salah hari Senin.
Yang keempat sampai ketujuh lebih panjang dan lebih buruk.

Aku tidak mengirim satu pun.

Bukan karena gengsi. Aku tidak punya gengsi, aku sudah memeriksanya.

Karena setiap kali aku membaca ulang kalimatnya, aku menemukan bahwa yang sebenarnya aku minta bukan maaf. Yang aku minta adalah supaya dia datang lagi hari Jumat pagi ke koridor barat, dan supaya semuanya kembali seperti bulan Januari, dan supaya aku tidak perlu menjelaskan apa pun.

Itu bukan minta maaf. Itu minta dilayani.

Jadi aku tidak mengirimnya.


Jumat sore Naka mencegatku di gerbang.

“Dew.”

“Naka.”

“Lo ke sini bentar.”

Kami berdiri di dekat pos Pak Timin.

“Adek gue nggak makan bekalnya sendiri tiga hari,” katanya.

“Naka—“

“Dia tetep masak, Dew. Tiap pagi.” Naka menggosok tengkuknya. “Dua kotak. Terus dia bawa ke sekolah, terus dia bawa pulang lagi utuh, terus dia makan sendiri malemnya di kamar.”

Aku tidak menjawab.

“Nyokap gue nanya kenapa. Dia bilang ‘lagi males makan di sekolah’.”

“Naka, aku—“

“Gue nggak nyalahin lo.” Dia mengangkat tangan. “Sumpah. Gue nggak tau apa yang kejadian dan gue nggak mau tau.”

Dia menurunkan tangannya.

“Gue cuma mau bilang: dia tetep masak dua kotak.”


Sabtu jam sepuluh, tidak ada bel.

Aku duduk di ruang tamu dari jam sembilan.

Aku tidak akan menuliskan apa yang aku lakukan antara jam sembilan dan jam dua siang, karena tidak ada yang aku lakukan.

Jam dua aku berdiri dan mencuci gelas yang sudah bersih.

Jam empat aku duduk lagi.

Jam enam aku menyalakan lampu.

Ada dua piring di rak dapur. Yang putih dan yang bermotif bunga. Ada gelas kuning yang dibeli seseorang bulan November. Ada gantungan handuk di kamar mandi yang dipasang oleh orang yang tingginya seratus lima puluh dua sentimeter dan harus berdiri di kursi untuk memasangnya.

Aku menghitung barangnya. Delapan.

Semuanya masih di tempatnya masing-masing.


Minggu pagi aku bangun jam lima.

Cuci, jemur, sapu, pel. Selesai jam tujuh.

Aku masak nasi dan telur dan makan di meja dapur sambil membaca dan tidak ingat satu kalimat pun dari yang aku baca.

Cuci piring. Satu piring, satu gelas, satu sendok.

Aku berdiri di depan rak dan melihat piring bermotif bunga yang tidak aku pakai.

Jam delapan kurang lima, aku duduk di ruang tengah dan menaruh ponsel di meja.

Jam delapan lewat satu, ponselnya bergetar.

BAPAK


“Halo, Pak.”

“Dewa. Sehat?”

“Sehat.”

“Bapak juga sehat.”

Ada jeda. Lebih panjang dari biasanya.

“Uang sudah masuk?”

“Sudah, Pak. Kamis.”

“Bulan ini Bapak lebihkan. Buat pendaftaran kuliah.”

“Iya.”

“Kamu udah nentuin?”

“Belum.”

“Ya jangan lama-lama, Dew. Bulan depan udah mulai.”

“Iya, Pak.”

Aku menunggu bagian berikutnya. Sekolah. Lalu Naka. Lalu genteng.

Bapak tidak menanyakan sekolah.

“Dew.”

“Iya, Pak.”

“Anak yang waktu itu—“ Dia berhenti. “Yang ngomong di telepon. Yang Kirana.”

Aku memindahkan ponsel ke telinga satunya.

“Iya.”

“Dia masih sering ke rumah?”

Ruang tengah itu sepi.

“Nggak, Pak.”

“Nggak?”

“Nggak.”

“Lho, kenapa?”

Dan aku mendengar diriku sendiri menyusun tiga jawaban dalam waktu satu detik. Yang pertama: dia lagi sibuk sekolah. Yang kedua: dia lagi ada kegiatan klub. Yang ketiga: nggak apa-apa, Pak, biasa aja.

Ketiganya bisa dipakai. Ketiganya tidak bisa dibantah dari jarak delapan ratus kilometer.

“Kami lagi ada masalah,” kataku.


Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkannya.

Aku sudah memikirkannya berkali-kali sejak hari itu dan aku belum menemukan alasannya. Tidak ada yang berubah di ruangan itu. Tidak ada yang memaksa.

Yang bisa aku katakan cuma: aku capek, dan menyusun jawaban ketiga itu terasa terlalu berat pagi itu.

“Masalah?”

“Iya.”

“Masalah gimana?”

“Aku ngomong sesuatu yang jahat ke dia hari Senin.”

Hening di ujung sana.

“Kamu?”

“Iya.”

“Kamu ngomong jahat?”

“Iya, Pak.”

“Dew, kamu—“ Bapak berhenti. “Bapak nggak pernah denger kamu ngomong jahat sama siapa pun.”

“Iya.”

“Sekali pun nggak.”

“Iya, Pak. Ini yang pertama.”


Ada motor lewat di ujung sana. Bapak biasanya menunggu suaranya hilang.

Kali ini dia tidak menunggu.

“Kamu udah minta maaf?”

“Belum.”

“Kenapa belum?”

“Karena aku belum tau caranya minta maaf tanpa sekalian minta dia balik.”

Bapak diam.

“Itu—“ Dia berhenti lagi. “Itu kalimat yang rumit banget, Dew.”

“Iya, Pak.”

“Kamu selalu gitu?”

“Gimana?”

“Mikir sampai serumit itu.”

Aku memandang meja.

“Iya.”


Percakapannya tidak berjalan seperti biasa setelah itu.

Bapak tidak cerita soal proyek. Dia tidak menyebut mandor barunya. Dia tidak menyebut kontraknya yang diperpanjang.

Dia bertanya empat hal, dan aku menjawab keempatnya, dan tidak satu pun dari keempat pertanyaan itu pernah dia tanyakan dalam tiga tahun terakhir.

Yang keempat: “Kamu makan berapa kali sehari, Dew?”

“Tiga, Pak.”

“Beneran tiga?”

“Dua.”

“Dua.”

“Kadang dua.”

Bapak diam agak lama.

“Anak itu yang bawain bekal, ya?”

“Iya.”

“Tiap hari?”

“Tiap hari, Pak. Dari bulan Oktober.”

“Sampai minggu ini.”

“Iya.”


Menit kesebelas, dia mulai menutup.

Aku tahu polanya. Setelah menit kesepuluh dia akan bilang mau ke proyek, lalu jaga kesehatan, lalu kalimat itu, lalu salam.

“Ya sudah, Dew. Bapak tutup ya.”

“Iya, Pak.”

“Jaga kesehatan.”

“Iya.”

Dan lalu:

“Bapak tenang, kamu kan anak yang nggak pernah nyusahin.”


Selama tiga tahun aku menjawab “iya” di titik ini.

Aku menjawabnya cepat, dalam satu detik, karena kalau aku menjawabnya cepat percakapannya selesai dengan rapi dan tidak ada yang harus dijelaskan.

Aku sudah menghitung. Seratus lima puluh enam kali, kurang lebih. Tiga tahun, tiap Minggu.

Pagi itu aku tidak menjawab.

Aku duduk di ruang tengah dengan ponsel di telinga dan aku tidak mengucapkan apa pun.

Bukan karena aku memutuskan untuk tidak menjawab.

Karena aku membuka mulutku, dan kata “iya” tidak keluar, dan aku menunggu dan kata itu tetap tidak keluar.


Satu detik.

Dua.

Tiga.

“Dew?”

Aku tidak menjawab.

“Halo? Dewa?”

“Masih ada, Pak.”

“Oh.” Dia terdengar lega. “Kirain putus.”

“Nggak putus.”

Dan lalu ada hening lagi, dan hening yang ini bukan hening sinyal, karena aku bisa mendengar napasnya.

Aku duduk di ruang tengah rumah yang ukurannya tiga kali empat, dan aku memegang ponsel, dan aku tidak mengucapkan satu kata yang sudah aku ucapkan seratus lima puluh enam kali.

Dan di ujung sana, delapan ratus kilometer dari sini, Bapak tidak menutup teleponnya.


Aku menghitung heningnya.

Dua puluh dua detik.

Dua puluh dua detik itu paling lama yang pernah terjadi di antara kami sejak beliau berangkat, dan tidak ada satu pun dari kami yang memutuskan untuk mengisinya.

Lalu aku mendengar suara. Bukan suara jalan, bukan suara mes.

Suara kursi. Bapak duduk.

Beliau selalu menelepon sambil berdiri di luar mes, tiga tahun, karena sinyalnya lebih bagus di situ.

Pagi itu beliau duduk.

Dan setelah itu beliau bicara, dan suaranya bukan suara yang aku dengar tiap Minggu pagi jam delapan selama tiga tahun.

“Dew.”

“Iya, Pak.”

“Kamu nggak apa-apa?”