Chapter Twenty Two
Perang Bekal
POV: Kirana
Bulan Desember, kantin sekolah direnovasi.
Ini terdengar tidak penting sampai kamu sadar apa artinya: belakang gudang jadi tidak bisa dipakai karena tukang menaruh material di situ, dan jam istirahat semua orang di sekolah ini terdorong ke satu tempat.
Aula.
Aula dipakai sebagai kantin sementara, dengan meja panjang, dan itu artinya untuk pertama kalinya sejak aku masuk sekolah ini, aku dan Kak Dewa harus makan di ruangan yang sama dengan tiga ratus orang lain.
Aku sudah menyiapkan mental.
Aku tidak menyiapkan mental untuk apa yang sebenarnya terjadi.
Hari pertama, aku sampai duluan dan mengamankan meja di pojok, dekat pintu belakang.
Kak Dewa datang lima menit kemudian, melihat sekeliling sekali, lalu duduk di seberangku dengan punggung menghadap tembok.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak duduknya kayak orang buronan.”
“Ini posisi yang paling sedikit orang lewat.”
“Kakak ngitung?”
“Iya.”
“Kak Dewa udah makan?”
Dan sebelum dia sempat menjawab, ada suara dari sebelah.
“Belum.”
Aku menoleh.
Kak Anindya berdiri di ujung meja dengan nampan, seragam serapi biasa, wajah datar biasa.
“Kak Anindya—“
“Maaf. Saya tidak bermaksud memotong.” Dia meletakkan nampannya dua kursi dari kami. “Tapi jawabannya belum.”
Kak Dewa menoleh ke dia.
“Kamu tahu?”
“Kamu tidak ke aula sejak istirahat pertama. Saya lihat kamu di ruang OSIS jam sembilan lewat, dan tidak ada yang bawa apa-apa dari sana.” Dia duduk. “Jadi belum.”
Aku memegang kotak bekalku dengan dua tangan.
Ada sesuatu yang bergerak di dadaku dan aku tidak menyukainya sama sekali.
Kak Wulan datang tiga menit kemudian dan langsung menjatuhkan tasnya di kursi sebelah Kak Anindya.
“Nin, aku duduk sini.”
“Silakan.”
Kak Wulan melihat ke arah kami. Lalu ke Kak Anindya. Lalu ke kami lagi.
“Ini apa.”
“Kantin sementara,” kata Kak Anindya.
“Bukan itu maksudku dan kamu tau itu, Nin.”
Kak Wulan duduk dan membuka bungkus mi ayamnya dengan gerakan yang menurutku terlalu agresif untuk mi ayam.
“Kirana.”
“Iya, Kak?”
“Kamu bawa dua kotak lagi?”
“Iya.”
“Setiap hari?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak Oktober.”
Kak Wulan berhenti mengunyah dan menoleh ke Kak Dewa.
“Sadewa.”
“Iya.”
“Kamu bales apa?”
“Maksudnya?”
“Anak ini bangun jam setengah lima setiap hari sejak Oktober. Itu—“ Kak Wulan menghitung dengan jari, gagal, dan menyerah. “Itu banyak banget. Kamu bales apa?”
Kak Dewa berpikir.
Dia benar-benar berpikir, dan itu bagian yang membuatku ingin menghilang.
“Aku nganter ke halte.”
“Itu doang?”
“Aku nungguin sampai busnya berangkat.”
“SADEWA.”
“Kak Wulan, udah, nggak apa-apa,” kataku.
“Nggak apa-apa apanya!”
“Aku emang nggak minta apa-apa.”
“Justru itu masalahnya!”
Dan di titik itu, Kak Anindya berkata, tanpa mengangkat kepala dari nampannya:
“Dia mengantar sampai halte, menunggu bus berangkat, lalu jalan balik lima puluh meter ke halte jurusan timur. Setiap hari. Sejak Oktober.”
Meja itu hening.
Kak Wulan menoleh pelan ke arahnya.
“Nin.”
“Ya?”
“Kok kamu tau?”
Kak Anindya mengambil sendoknya.
“Saya lewat jalan itu.”
Aku menatap sisi wajahnya. Dia tidak menoleh ke aku sama sekali.
Jalan ke halte jurusan timur bukan jalan pulang siapa pun kecuali orang yang tinggal di timur.
Dan rumah Kak Anindya di barat. Aku tahu, karena aku pernah melihat alamatnya di formulir OSIS waktu mengurus surat klub, dan karena aku selalu mengingat hal-hal seperti itu, dan karena aku memang seperti ini dan aku tidak bisa berhenti.
Setelah itu, seluruh meja jadi berantakan.
Aku mengambil kotak kedua dan membukanya, dan Kak Dewa mengulurkan tangan untuk mengambilnya, dan aku menariknya.
“Kak.”
“Kenapa.”
“Suapin.”
“Nggak.”
“Kak.”
“Nggak.”
“Kenapa nggak?”
“Ada tiga ratus orang.”
“Aku nggak nanya ada berapa orang, aku nanya kenapa nggak.”
“Karena ada tiga ratus orang.”
Kak Wulan meletakkan sendoknya dan menutup mata seperti orang yang sedang menahan sakit kepala.
“Aku pengen pindah sekolah,” katanya.
“Kak Wulan bantuin dong.”
“Aku di pihak Sadewa untuk yang ini. Tiga ratus orang, Kir.”
“KAK WULAN KHIANAT.”
“Aku realistis!”
Kak Anindya makan dengan tenang, tanpa berkomentar, dan cuma sekali aku melihat sudut mulutnya bergerak sedikit.
Lalu Bagas datang.
Aula sudah penuh dan meja kami satu-satunya yang masih ada kursi kosong, dan kursi kosongnya persis di sebelahku.
“Eh, penuh banget. Duduk sini boleh?”
“Boleh,” kata Kak Wulan, sebelum siapa pun sempat berpikir.
Bagas duduk.
Dan kemudian terjadi sesuatu yang akan aku ingat sampai tua.
Kak Dewa memindahkan kursinya.
Bukan berdiri. Bukan pindah tempat. Dia mengangkat kursinya sedikit dari lantai — pelan, hampir tanpa bunyi — dan menurunkannya satu jengkal lebih dekat ke arahku.
Satu jengkal.
Dia melakukannya sambil terus makan. Dia tidak melihat ke Bagas. Dia tidak melihat ke aku. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
Kalau kamu tidak sedang memperhatikan, kamu tidak akan melihat apa-apa.
Aku sedang memperhatikan. Aku selalu sedang memperhatikan.
Dan Kak Wulan juga.
Aku tahu karena Kak Wulan tiba-tiba mengambil botol minumnya dan meminumnya dengan sangat serius selama sepuluh detik penuh sambil bahunya bergetar.
“Kak Wulan kenapa?” tanya Bagas.
“Keselek.”
“Air aja belum diminum.”
“KESELEK, GAS.”
Bagas ngobrol normal. Dia orang yang normal. Dia tanya soal renovasi kantin, soal turnamen antar-sekolah bulan Februari, soal try out.
Sekitar lima menit, dia menoleh ke aku.
“Kir, lo jadi ikut lomba nulis yang kabupaten?”
“Belum daftar.”
“Daftar lah. Lo kan—“
“Aku udah punya, kok.”
Aku mengucapkannya keras. Lebih keras dari yang perlu.
Bagas berhenti. “Hah? Punya apa?”
Dan aku, entah karena setan apa, entah karena kalimat “saya lewat jalan itu” masih menempel di kepalaku, berkata:
“Aku udah punya orangnya. Cuma dia yang belum sadar.”
Meja itu berhenti bergerak.
Bagas mengedip dua kali.
Kak Wulan meletakkan botolnya dengan sangat pelan.
Kak Anindya, untuk pertama kalinya sejak duduk, mengangkat kepalanya.
Dan Kak Dewa — yang sedang memegang sendok setengah jalan ke mulutnya — berhenti, meletakkan sendok itu ke kotaknya, dan berkata:
“Aku sadar.”
Aku menoleh.
“Hah?”
“Kamu bilang aku belum sadar.” Dia mengambil sendoknya lagi. “Aku sadar.”
“Kak—“
“Dari bulan Oktober.”
Dan dia melanjutkan makan.
Yang terjadi selanjutnya di luar kendaliku.
Kak Wulan berdiri.
Dia berdiri, mengambil nampannya, dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa, dan setelah lima langkah aku dengar dia berkata ke udara kosong, “Aku nggak sanggup. Aku beneran nggak sanggup.”
Bagas ketawa, dan ketawanya asli, dan dia bilang, “Ya udah gue kalah telak, sih,” dan dia bilang itu tanpa nada pahit sama sekali, dan aku merasa buruk selama tiga detik.
Aku menutup mukaku dengan kotak bekal kosong.
Aku tidak bisa melihat apa pun selama beberapa saat.
Yang aku dengar cuma suara aula, dan Bagas yang pindah topik ke pertandingan bola tadi malam, dan Kak Dewa yang menjawab “hm” dua kali.
Waktu aku menurunkan kotaknya, Kak Anindya sudah berdiri.
Dia merapikan kursinya masuk ke bawah meja. Dia selalu melakukan itu, aku sudah memperhatikannya empat kali sekarang.
“Kirana.”
“Iya, Kak?”
“Bekalmu enak?”
“Ha? Kakak belum pernah nyoba.”
“Saya tidak bertanya rasanya.” Dia mengangkat nampannya. “Saya bertanya apakah dia bilang enak.”
Aku terdiam.
“Pernah, Kak. Sekali. Bulan Oktober.”
Kak Anindya mengangguk.
“Baik,” katanya.
Dan dia pergi.
Aku pulang sore itu dan aku tidak bisa berhenti memikirkan dua hal.
Yang pertama menyenangkan. Yang pertama membuatku ingin berteriak ke bantal lagi, karena “satu jengkal” itu adalah hal paling romantis yang pernah dilakukan manusia dan tidak ada yang bisa meyakinkanku sebaliknya.
Yang kedua tidak menyenangkan.
Aku duduk di bus dan membuka buku catatanku dan menulis dua baris.
Dia geser kursi satu jengkal.
Lalu, lebih kecil, di bawahnya:
Kak Anindya tau dia belum makan. Tau dia jalan balik 50 meter. Tau dia pernah bilang enak sekali.
Aku menatap baris kedua.
Aku mulai menulis buku ini kelas satu SMP.
Kalau ada orang lain yang juga menulis, dan orang itu ketua OSIS, dan orang itu punya akses ke setiap ruangan di sekolah —
Berapa halaman punya dia?
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal reading
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan