← Bukan Aku, Kok

Chapter Eighteen

Ketua dan Sekretaris

POV: Kirana


Artikelku tidak terbit.

Kak Rasti bilang digeser ke edisi depan karena ruang madingnya penuh. Aku bilang oke. Dia bilang jangan patah semangat. Aku bilang oke lagi.

Aku tidak patah semangat. Aku cuma penasaran, karena tulisanku sudah ditandatangani pembina dua minggu lalu, dan biasanya kalau sudah ditandatangani ya langsung naik.

Aku bertanya ke Kak Rasti siapa yang menentukan urutannya.

“Sekretaris OSIS.”

“Kak Wulan?”

“Iya.”

Jadi hari Senin, sepulang sekolah, aku ke ruang OSIS.


Aku tidak sempat bertanya apa pun, karena begitu aku sampai di depan pintu, ada suara dari dalam.

“—aku nggak minta jawaban sekarang.”

Kak Naka.

Aku berhenti di koridor.

Aku tahu ini tidak sopan. Aku sudah tahu sejak detik pertama. Aku tetap tidak bergerak.

“Naka.”

“Aku serius, Wul.”

“Aku tahu kamu serius. Itu masalahnya.”

Ada suara kursi. Aku mengintip lewat celah pintu yang terbuka sepuluh sentimeter, dan aku bisa melihat punggung kakakku dan setengah wajah Kak Wulan.

“Jadi jawabannya nggak?”

“Jawabannya nggak.”

“Boleh tau kenapa?”

Kak Wulan menaruh pulpennya. Dia menaruhnya pelan sekali, dan itu lebih menakutkan daripada kalau dia membantingnya.

“Naka, aku nanya kamu satu hal. Jawab jujur.”

“Oke.”

“Kamu suka warna apa?”

“...Hah?”

“Warna. Merah, biru, apa.”

“Ya... apa aja.”

“Nah.”

“Wul, itu pertanyaan aneh banget—“

“Kamu suka makanan apa?”

“Semua enak.”

“Kamu benci apa?”

“Nggak ada, sih.”

“NAH.” Kak Wulan mengangkat kedua tangannya. “Itu. Itu jawabannya.”

Kak Naka diam.

“Aku udah setahun satu ruangan sama kamu,” kata Kak Wulan. “Rapat OSIS tiap minggu. Kamu ketua kelas, aku sekretaris. Kita udah bahas anggaran, jadwal, panitia, semua.”

“Terus?”

“Aku nggak tau satu hal pun yang kamu mau.”

Aku memegang tali tasku.

“Setiap rapat, kamu bilang ‘ikut aja’. Setiap ada dua pilihan, kamu bilang ‘dua-duanya bagus’. Waktu kita nentuin tema Pensi, semua orang debat dua jam, kamu diem, terus di akhir kamu bilang ‘aku setuju yang mayoritas’.”

“Ya biar nggak ribut.”

“Naka, kamu itu ketua kelas paling disukai seangkatan dan aku nggak bisa nyebutin satu hal pun yang kamu benci.”

Hening.

“Kamu tau nggak, waktu tim kamu menang lawan Bhakti Wiyata bulan lalu?”

“Tau.”

“Aku di tribun. Semua orang teriakin nama kamu.” Kak Wulan berhenti. “Dan kamu berdiri di tengah lapangan sambil nunjuk-nunjuk ke arah lain terus. Ke Danang, ke bangku cadangan, ke atas. Ke mana-mana kecuali ke diri kamu sendiri.”

“Ya emang mereka juga main—“

“Naka, kamu nunjuk sembilan kali. Aku ngitung.”

Hening.

“Aku nggak mau pacaran sama patung,” kata Kak Wulan.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Wul—“

“Patung itu bagus, Nak. Semua orang suka patung. Semua orang foto sama patung.” Suaranya turun. “Tapi patung nggak pernah bilang dia mau apa, dan aku nggak bisa lima tahun ngomong sendirian.”


Aku mundur dua langkah dari pintu, karena kalau tidak, aku akan mendengar sesuatu yang benar-benar bukan hakku.

Aku menabrak seseorang.

“Aduh—“

“Maaf.” Kak Anindya berdiri di belakangku dengan map di dada. Dia tidak kaget sama sekali. “Kamu mau masuk?”

“Nggak—“ Aku menurunkan suaraku. “Kak, di dalem ada—“

“Saya tahu.”

Dia berdiri di sebelahku, di koridor, menghadap ke arah yang sama denganku. Dia tidak mengintip lewat celah pintu. Dia cuma berdiri.

“Kak Anindya udah tau?”

“Sudah dari tiga minggu lalu.”

“Kak Wulan cerita?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Wulan mengganti tulisan di kolom notulen dari ‘Nakula’ jadi ‘Ketua Kelas 12 IPS-2’ bulan lalu.” Dia bicara dengan nada orang membaca laporan. “Orang tidak mengubah cara menulis nama seseorang tanpa alasan.”

“Itu doang?”

“Itu yang pertama. Ada empat belas yang lain.”

Aku menoleh ke dia.

“Kak Anindya perhatiin sedetail itu?”

“Saya cuma ngamatin.”

Dari dalam ruangan ada suara kursi lagi, lalu langkah kaki.

Kak Anindya menarik lenganku ke samping, ke balik pilar, dengan gerakan yang cepat dan sama sekali tidak panik, seperti orang yang sudah pernah melakukannya.

Pintu terbuka. Kak Naka keluar.

Dia jalan ke arah tangga tanpa melihat ke belakang, dan aku melihat mukanya dari samping selama satu detik.

Kakakku tidak pernah kelihatan sepolos itu. Bukan sedih. Bingung. Seperti orang yang baru diberi tahu bahwa dia salah menghafal sesuatu selama tujuh belas tahun.

Setelah dia hilang di tangga, Kak Anindya melepas lenganku.

“Kamu ada perlu dengan Wulan?”

“Nggak jadi.”

“Baik.”

Dia masuk ke ruang OSIS, dan sebelum pintunya tertutup aku sempat mendengar suaranya, jauh lebih pelan dari nada bicaranya yang biasa:

“Wulan. Kamu tidak apa-apa?”

Dan aku dengar Kak Wulan menjawab, “Nggak.”


Aku menemukan Kak Dewa di depan gerbang jam empat, seperti biasa.

Aku tidak cerita apa-apa, karena itu bukan ceritaku.

Tapi dia tahu ada sesuatu, karena dia bertanya, “Kamu kenapa?” sebelum kami sampai gerbang.

“Nggak apa-apa.”

“Oke.”

Dan dia tidak bertanya lagi, dan itu salah satu hal yang paling aku sukai dari dia, dan sekaligus salah satu hal yang paling bikin aku kesal.

Kami jalan ke halte. Dia melambat seperti biasa. Aku memegang tangannya di persimpangan kedua, seperti biasa, dan sekarang dia tidak berhenti jalan lagi kalau aku melakukannya, dan aku agak kehilangan sesuatu karena itu.

“Kak.”

“Hm.”

“Boleh minta sesuatu?”

“Apa.”

“Sebut nama aku.”

Dia menoleh. “Kirana.”

“Bukan gitu.”

“Terus gimana.”

“Yang bener.” Aku berhenti jalan. “Kakak selalu manggil aku ‘Kirana’ kayak lagi absen. Aku pengen dengar Kakak nyebut nama aku kayak—“ Aku mencari kata yang tidak memalukan dan tidak menemukannya. “Kayak orang.”

“Aku orang.”

“KAK.”

Dia berhenti juga.

Kami berdiri di trotoar di depan toko fotokopi, dan sudah hampir setengah lima, dan ada ibu-ibu lewat membawa dua kantong belanjaan.

Dia melihatku beberapa saat.

Lalu dia bilang, “Kirana.”

Dan itu bukan cara dia menyebut namaku dua ratus kali sebelumnya.

Aku tidak tahu apa yang berubah secara teknis. Nadanya tidak lebih lembut. Volumenya sama. Kalau direkam dan diputar ke orang lain, mungkin mereka tidak akan menemukan bedanya.

Tapi dua ratus kali sebelumnya, namaku keluar dari mulutnya seperti keterangan.

Kali ini seperti panggilan.

Aku duduk.

Aku benar-benar duduk. Di trotoar. Di depan toko fotokopi. Dengan tas masih di punggung.

“Kirana.”

“Sebentar.”

“Kamu duduk di trotoar.”

“AKU TAHU, KAK. SEBENTAR.”

Dia berdiri di sebelahku selama kira-kira satu menit penuh, tidak menyuruhku bangun, tidak bertanya kenapa, sambil sesekali melihat ke ujung jalan untuk mengecek busku belum datang.

Ibu-ibu tadi lewat lagi ke arah sebaliknya dan menatap kami berdua dengan curiga.


Aku pulang jam setengah enam.

Rumah sepi. Ibu ke pengajian. Kak Naka belum pulang.

Aku naik ke kamar, dan waktu lewat kamar Kak Naka, pintunya terbuka dan lampunya mati.

Jam tujuh dia pulang.

Aku dengar motornya, lalu pintu depan, lalu tangga.

Dan lalu — ini yang aneh — aku dengar dia berhenti di depan kamarku.

Dia berdiri di situ beberapa detik. Tidak mengetuk.

Lalu dia jalan lagi ke kamarnya.

Aku menghitung sampai enam puluh, lalu keluar.

Pintu kamarnya terbuka setengah. Dia duduk di lantai bersandar ke ranjang, masih pakai jaket tim, ponsel di tangan.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku berdiri di ambang pintu.

“Kir.”

“Iya?”

Dia tidak mengangkat kepalanya dari ponsel.

“Kamu tau nggak,” katanya, “gimana caranya berhenti jadi orang yang disukain semua orang?”

Aku tidak menjawab, karena aku tidak punya jawabannya.

Dia mengangkat ponselnya sedikit, dan aku bisa melihat layarnya dari tempatku berdiri.

Ruang obrolan dengan satu nama di atas. Dewa.

Kolom pesannya kosong. Titik-titik pengetikan muncul di layar dia sendiri — dia yang sedang mengetik — lalu berhenti.

Lalu muncul lagi.

Lalu berhenti lagi.