Chapter Thirty Three
Mama Tunggu Pialanya
POV: Sadewa
Aku menceritakannya di kamar itu, jam satu siang, duduk di lantai dengan punggung ke dinding.
Aku menceritakannya berurutan karena itu satu-satunya cara aku bisa.
Ibu sakit dari aku kelas empat.
Namanya penyakit yang panjang dan aku bisa mengejanya sekarang tapi waktu itu aku tidak bisa, dan orang dewasa di sekitarku memakai kata lain kalau ada aku di ruangan. Mereka bilang “kurang enak badan”. Mereka bilang “lagi capek”.
Kelas empat masuk rumah sakit dua kali. Kelas lima empat kali. Kelas enam, dari Januari, tidak pulang lagi.
Aku ke sana tiap hari sepulang sekolah. Naik angkot dua kali, empat puluh lima menit. Bapak tidur di sana kalau malam dan pulang pagi untuk kerja.
Aku duduk di kursi plastik di samping ranjang dan mengerjakan PR di atas meja makan yang bisa digeser itu.
Aku tidak akan bilang aku sedih waktu itu. Aku tidak ingat sedih. Aku ingat sibuk.
Aku mulai ikut lomba kelas empat.
Bukan karena aku suka. Guru yang menunjuk, dan waktu itu aku tidak tahu boleh menolak.
Yang pertama lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Aku menang.
Aku bawa sertifikatnya ke rumah sakit sore itu. Aku ingat masuk ke kamar dan menaruhnya di kasur, dan Ibu mengambilnya, dan membacanya, dan mengangkat kepala.
Dia duduk.
Aku ingin menekankan bagian ini. Dia duduk. Dia sudah tiga hari tidak duduk sendiri.
Dan dia bilang, “Wah, anak Mama.”
Dan selama sepuluh menit berikutnya dia bicara lebih banyak daripada seluruh minggu itu, dan warnanya kembali, dan waktu perawat masuk beliau bilang “hari ini kelihatan lebih baik ya, Bu.”
Aku sebelas tahun.
Aku menghitung.
Aku ikut sebelas lomba dalam dua tahun.
Matematika, cerdas cermat, IPA, tingkat sekolah, tingkat kecamatan, tingkat kota. Aku menang delapan dari sebelas.
Setiap kali menang, aku bawa ke rumah sakit hari itu juga. Kalau lombanya pagi, aku ke sana sebelum pulang. Aku pernah datang jam satu siang masih pakai seragam lomba.
Dan setiap kali, dia duduk.
Aku tahu sekarang bahwa itu tidak masuk akal. Aku sudah tahu itu sejak umur empat belas. Penyakitnya tidak peduli pada sertifikat.
Tapi aku sebelas dan dua belas tahun, dan aku punya sebelas data, dan delapan dari sebelas menunjukkan pola yang sama.
Aku menyusun kesimpulan dari data itu, dan kesimpulannya begini:
Selama aku menang, dia bertahan.
Aku memercayai itu sepenuhnya. Bukan setengah, bukan sebagai harapan. Aku memercayainya seperti orang memercayai bahwa lampu menyala kalau sakelarnya ditekan.
Olimpiade Matematika tingkat kota, babak final, hari Sabtu, dua belas Oktober dua ribu sembilan belas.
Hari Jumat sore aku ke rumah sakit.
Ibu tidak duduk hari itu.
Aku ingat itu karena aku menghitung berapa lama beliau tidak duduk, dan hari Jumat itu hari kelima.
Aku bilang, “Ma, besok final.”
Beliau bilang, “Iya, Mama tau.”
“Ma, aku nggak usah ikut aja.”
Aku ingat kalimat itu. Aku mengucapkannya. Aku berdiri di sebelah ranjang itu dan aku mengucapkannya, dan aku mengucapkannya dua kali karena yang pertama suaraku terlalu pelan.
Dan Ibu bilang, “Ih, kok gitu.”
“Aku pengen di sini aja.”
“Dewa.”
“Ma—“
Dan Ibu memegang tanganku, dan menepuknya dua kali, dan bilang:
“Mama baik-baik aja. Kamu berangkat, ya. Mama tunggu pialanya.”
Ada yang harus aku jelaskan tentang malam Jumat itu.
Bapak ada di ruangan waktu itu. Bapak mendengar semuanya. Bapak berdiri di dekat pintu.
Dan Bapak bilang, “Iya, Dew. Berangkat. Nanti ceritain ke Mama.”
Dokter datang jam tujuh malam dan bicara di lorong dengan Bapak. Aku duduk di kursi plastik di dalam kamar.
Aku tidak mendengar apa yang dibicarakan.
Aku tahu sekarang.
Aku berangkat hari Sabtu jam enam pagi.
Lombanya di gedung dinas pendidikan. Tiga babak. Selesai jam dua siang.
Aku menang.
Pengumumannya jam tiga. Ada panggung kecil, ada foto, ada piala plastik dengan lapisan emas yang sudah mengelupas di dua tempat bahkan waktu baru diserahkan.
Aku ingat memegang piala itu dan berpikir satu hal, dan cuma satu hal, dan aku ingat kalimatnya persis:
Sekarang Mama bisa duduk lagi.
Aku tidak pulang dulu. Aku langsung naik angkot ke rumah sakit, masih pakai seragam, dengan piala di pangkuan.
Aku sampai jam empat lewat.
Aku tahu dari jauh.
Sebelum sampai kamar. Sebelum ada yang bicara.
Lorong lantai tiga itu ada belokan, dan begitu aku belok aku melihat pintu kamar itu terbuka penuh, dan pintu kamar itu tidak pernah terbuka penuh.
Ada beberapa orang di depannya.
Aku berhenti jalan.
Bapak keluar dari kamar dan melihatku.
Dan aku ingat wajahnya, dan aku ingat bahwa yang pertama muncul di wajahnya bukan sedih.
Yang pertama muncul adalah kaget. Karena beliau lupa aku akan datang.
Beliau pergi jam dua siang.
Aku menghitung jaraknya berkali-kali selama bertahun-tahun.
Aku selesai lomba jam dua. Pengumuman jam tiga. Kalau aku tidak menunggu pengumuman, kalau aku langsung berangkat setelah babak terakhir, aku sampai jam tiga kurang.
Masih terlambat satu jam.
Kalau aku tidak berangkat sama sekali, aku ada di kursi plastik itu sejak pagi.
Itu hitungan yang aku ulang paling sering. Aku sudah berhenti mengulangnya sekarang. Aku berhenti sekitar umur lima belas, bukan karena aku sembuh, tapi karena aku sudah hafal hasilnya.
Beliau sendirian.
Bapak keluar sebentar ke bawah untuk mengurus administrasi obat. Perawat masuk jam satu lewat dan keluar lagi.
Antara jam satu lewat dan jam dua, kamar itu isinya satu orang.
Yang aku tahu setelahnya, aku tahu dari potongan-potongan, bertahun-tahun, dari orang dewasa yang mengira aku tidak mendengar.
Dokter bicara dengan Bapak hari Jumat malam. Yang dibicarakan adalah bahwa waktunya tinggal beberapa hari, mungkin kurang.
Tante — adik Ibu — datang Sabtu pagi jam sembilan. Dia sudah tahu.
Bapak sudah tahu.
Semua orang dewasa di lantai tiga rumah sakit itu sudah tahu sejak Jumat malam, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyuruhku tidak berangkat.
Aku tidak menyalahkan mereka. Aku ingin memperjelas itu.
Aku tahu persis kenapa mereka tidak bilang. Karena Ibu yang menyuruh. Karena Ibu bilang, “Biarin dia lomba.”
Semua orang di ruangan itu melakukan persis yang beliau minta.
Aku berhenti bicara di situ.
Kirana tidak bicara juga.
Kami duduk di lantai kamar itu selama beberapa menit. Ada suara motor di gang. Ada suara ibu-ibu memanggil anaknya, jauh.
“Kak.”
“Hm.”
“Piala itu.”
“Iya.”
“Kakak yang naruh di sini?”
“Bapak.” Aku melihat ke nakas. “Hari kelima puluhan. Aku nggak lihat waktu naruhnya. Tiba-tiba udah ada.”
“Menghadap ranjang.”
“Iya.”
Dia menarik napas panjang sekali.
“Kak, Kakak tau nggak—“
“Kirana.”
“Iya?”
“Jangan bilang ‘setidaknya ibumu bangga’.”
Dia menutup mulutnya.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa. Semua orang bilang itu.”
“Aku nggak akan bilang itu.”
“Oke.”
Dia duduk mendekat, tidak menempel, sekitar sejengkal, dan menaruh tangannya di lantai di antara kami.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku boleh ngomong satu hal? Yang mungkin salah?”
“Boleh.”
“Kakak anak yang paling berbakti yang pernah aku—“
“Bukan aku, kok.”
Kalimatnya keluar sebelum dia selesai.
Rata. Cepat. Sama seperti dua ratus kali sebelumnya.
Kirana berhenti.
“Kak.”
“Aku nggak berbakti,” kataku. “Aku ikut sebelas lomba karena aku pikir itu bikin dia bertahan. Itu bukan bakti. Itu perhitungan.”
“Kak—“
“Dan hari terakhir, aku milih berangkat.”
“Kakak disuruh.”
“Aku milih nurut.”
Dia diam.
“Itu dua hal yang beda, Kirana,” kataku. “Orang yang disuruh dan nurut itu tetap milih. Aku bisa nggak berangkat. Nggak ada yang bakal ngiket aku.”
“Kakak dua belas tahun.”
“Iya.”
“Kakak dua belas tahun dan ibu Kakak nyuruh Kakak berangkat.”
“Iya.”
“Terus Kakak salah di bagian mana?”
Aku tidak menjawab.
Ini bagian yang aku tidak bisa jelaskan ke siapa pun, termasuk ke diriku sendiri, dan aku sudah mencoba selama tujuh tahun.
Kalau aku salah, ada yang bisa diperbaiki. Ada urutan sebab akibat. Ada satu titik di mana kalau aku memilih berbeda, hasilnya berbeda.
Kalau aku tidak salah, maka tidak ada apa-apa. Beliau tetap pergi jam dua siang di ruangan kosong dan aku tetap ada di gedung dinas pendidikan memegang piala plastik, dan dua hal itu terjadi bersamaan tanpa ada hubungannya sama sekali.
Yang kedua jauh lebih susah.
“Kak Dewa.”
“Hm.”
Kirana menggeser posisinya sampai dia duduk menghadapku sepenuhnya.
Aku melihat ke lantai.
“Kakak lihat aku bentar.”
Aku mengangkat kepala.
Mukanya basah, tapi suaranya tidak. Suaranya jelas, dan pelan, dan sama sekali tidak gemetar.
“Kakak nggak salah karena berangkat.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya reading
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan