Chapter Thirty
Delapan Detik
POV: Nakula
Gue berangkat jam sebelas siang tanpa ngomong ke siapa-siapa.
Makamnya di utara kota, empat puluh menit naik motor, di kompleks yang atasnya banyak pohon kamboja. Gue masih hafal jalannya walaupun udah tiga tahun nggak ke sana.
Itu bagian yang bikin gue berhenti dua kali di jalan.
Gue masih hafal. Artinya bukan gue lupa. Artinya gue emang milih.
Gue nemu dia di blok C, baris keempat.
Dia jongkok, bukan berdiri. Seragam nggak dipakai, cuma kaus dan celana panjang. Di sebelahnya ada botol air dan sikat kecil dan lap, dan nisan di depannya udah bersih semua — bukan bersih yang dilap sekali, tapi bersih yang dikerjain lama.
Gue berdiri di jarak sepuluh meter selama mungkin satu menit.
Dia yang noleh duluan.
“Naka.”
“Yo.”
Dia berdiri.
“Kamu—“
“Iya.”
“Kenapa?”
Gue nggak punya jawabannya, jadi gue jalan aja dan berhenti di sebelah dia dan lihat nisannya.
RAHAYU WIDARTI
1979 — 2019
Gue baca nama itu dan tenggorokan gue langsung nggak enak, dan gue belum ngomong apa-apa.
“Tante ulang tahun hari ini,” kata gue.
“Iya.”
“Empat puluh tujuh.”
Dia noleh ke gue.
“Kamu inget umurnya?”
“Gue inget dia bikin kue ulang tahun sendiri,” kata gue. “Buat dirinya sendiri. Terus kita disuruh nyanyi dan lo nggak mau nyanyi.”
Dewa nggak jawab.
Tapi dia jongkok lagi, dan dia narik satu daun kering dari pinggir nisan yang sebenernya nggak ganggu apa-apa.
Gue duduk di rumput di sebelahnya.
Kompleks makam jam dua belas siang itu sepi banget. Ada tukang sapu di ujung. Ada suara motor jauh di jalan raya.
“Dew.”
“Hm.”
“Gue mau ngomong.”
“Oke.”
“Ini bakal lama.”
“Oke.”
Gue narik napas dan gue nggak tahu harus mulai dari mana, jadi gue mulai dari tempat yang paling jelek.
“Pak Herman nyariin gue kemarin.”
Tangan dia berhenti di pinggir nisan.
“Dia nanya soal final,” kata gue. “Dia nggak cerita apa-apa ke gue, dia cuma nanya. Dia nanya apa gue tau lo minta diganti di kuarter empat.”
Sepi.
“Gue bilang gue nggak tau.” Gue lihat rumput. “Itu bohong.”
“Gue tau lo minta diganti, Dew.”
Dia nggak bergerak.
“Gue di lapangan. Gue tiga meter dari lo. Gue liat lo jalan ke pinggir dan gue liat Pak Herman geleng.” Suara gue mulai rusak dan gue belum sampai bagian yang penting. “Terus lo balik ke posisi dan gue liat tangan lo.”
“Naka—“
“Tangan lo gemeteran, Dew. Gue liat. Delapan detik terakhir, gue tau lo nggak baik-baik aja.”
“Aku capek.”
“LO NGGAK CAPEK.”
Suara gue mantul di kompleks makam yang kosong itu.
Tukang sapu di ujung noleh. Gue nurunin suara.
“Lo nggak capek,” kata gue lagi. “Lo main enam menit di kuarter empat. Gue main dua puluh delapan menit hari itu dan gue baik-baik aja.”
Dia nggak jawab.
“Gue mau cerita sesuatu yang lo nggak tau,” kata gue.
“Oke.”
“Tanggal delapan belas Februari, tiga hari sebelum final, gue udah mutusin buat ngaku ke bapak.”
Sekarang dia noleh.
“Gue udah nyusun kalimatnya. Gue udah latihan di kamar.” Gue ketawa satu kali dan ketawanya nggak keluar bener. “Gue mau bilang gue cadangan setahun. Gue mau bilang semua yang gue ceritain di telepon itu bohong. Gue mau bilang gue capek banget, Dew.”
Gue narik napas.
“Gue udah siap dimarahin. Gue udah siap dia kecewa. Gue mikirin itu tiap malem selama seminggu dan gue udah nerima semuanya.”
“Naka.”
“Terus dia dateng ke final.”
“Gue liat dia di tribun pas pemanasan,” kata gue. “Dan gue tau dia dateng karena gue yang ngundang lewat telepon dua minggu sebelumnya, waktu gue masih ngarang.”
Gue merem.
“Terus dia turun ke pinggir lapangan. Lo inget?”
“Iya.”
“Dia salaman sama lo.”
“Iya.”
“Lo denger dia bilang apa.”
“Iya.”
Gue buka mata gue.
“‘Makasih ya, udah mau bantu-bantu anak saya di tim.’”
Kompleks makam itu sepi banget.
“Gue berdiri lima meter dari situ,” kata gue. “Gue denger semuanya. Dan gue liat muka lo.”
Dewa nggak ngomong apa-apa.
“Lo langsung ngerti, kan? Detik itu juga.” Gue noleh ke dia. “Lo langsung ngerti gue bohong setahun.”
“Iya.”
“Berapa lama lo butuh?”
“Naka—“
“Berapa lama, Dew?”
Dia ngeliat nisan di depan kami.
“Empat detik,” katanya.
Gue nutup muka gue pakai dua tangan.
“Terus delapan detik terakhir,” kata gue, “lo kosong.”
“Iya.”
“Lo terbuka total. Nggak ada yang jagain lo. Gue di corner dan gue dijagain sama nomor lima mereka.”
“Iya.”
“Dan lo oper.”
Gue narik napas dan napasnya nggak masuk semua.
“Lo oper ke gue, Dew. Ke posisi yang lebih susah. Ke orang yang setahun itu nggak main. Delapan detik, beda satu angka, dan lo oper ke gue.”
Dia nggak bantah.
Itu yang paling parah. Tiga tahun gue nunggu dia bantah satu kali aja, sekali aja, dan dia nggak pernah.
“Gue masuk,” kata gue. “Peluit. Semua orang teriak.”
Gue ngelap muka gue pakai lengan.
“Dan bapak gue lari ke lapangan.”
Gue berhenti agak lama.
“Dia meluk gue, Dew. Di tengah lapangan, di depan semua orang.” Suara gue udah nggak jelas sekarang. “Dia belum pernah meluk gue kayak gitu. Nggak pernah. Dan dia bilang ‘bapak bangga’.”
Gue nunduk.
“Dan gue berdiri di situ dipeluk bapak gue sendiri sambil tau bahwa dua hari lagi gue harus bilang ke dia bahwa semuanya bohong.”
“Gue nggak jadi ngaku.”
Gue ngomong itu ke rumput.
“Gue nggak jadi, Dew. Bukan karena gue nggak berani.” Gue geleng. “Gue nggak jadi karena lo.”
“Naka.”
“Kalau gue ngaku, gue harus bilang: pak, gue cadangan setahun, gue bohong, dan tembakan terakhir itu bukan karena gue jago, itu karena Dewa ngasih.”
Gue noleh ke dia.
“Dan begitu gue ngomong itu, lo jadi orang yang ngorbanin sesuatu buat kebohongan gue. Lo ngerti nggak? Lo jadi bagian dari bohong gue.”
“Aku nggak—“
“Lo berhenti main basket tiga bulan setelah itu, Dew.”
Dia diem.
“Anak yang seratus dua belas angka satu turnamen. Berhenti. Umur lima belas.” Gue ngomong pelan sekarang karena suara gue nggak bisa lebih dari itu. “Dan gue tau kenapa. Gue tau kenapa dari hari pertama.”
“Kamu nggak tau.”
“Lo berhenti biar bohong gue nggak ketauan.”
“Naka—“
“Kalau lo main satu musim lagi, orang bakal nyadar. Orang bakal ngeliat angka. Orang bakal nanya kenapa yang paling jago malah nggak pernah disebut.” Gue ngelap muka gue lagi. “Lo ngilang biar gue nggak ketauan.”
Dia nggak ngomong apa-apa.
“Bantah, Dew.”
Dia nggak ngomong apa-apa.
“BANTAH.”
Gue nangis di kompleks makam itu, jam dua belas siang, di sebelah sahabat gue, di depan nisan ibunya.
Gue udah tiga tahun nahan ini dan gue nggak punya tempat lain buat naruhnya.
“Lo ngasih gue sesuatu yang nggak bisa gue tolak,” kata gue. “Itu masalahnya. Gue nggak bisa marah sama lo, karena lo nggak jahat. Gue nggak bisa berterima kasih, karena kalau gue berterima kasih artinya gue nerima.”
Gue narik napas.
“Jadi gue diem. Tiga tahun. Gue diem dan gue biarin orang teriakin nama gue tiap hari, dan tiap kali mereka teriak gue inget bahwa yang bener bukan gue.”
“Naka, kamu emang main bagus.”
“GUE TAU GUE BAGUS.” Suara gue naik lagi. “Gue bagus, Dew. Gue kapten. Gue latihan tiap hari sampai tangan gue lecet.”
Gue noleh ke dia.
“Tapi lo lebih bagus, dan lo mundur, dan sekarang gue nggak akan pernah tau seberapa banyak dari yang gue punya ini beneran punya gue.”
Dia diem lama banget.
Terus dia bilang, “Aku nggak mundur buat kamu.”
“Dew—“
“Aku mundur karena aku mau.”
“Bohong.”
“Naka.”
“Lo bohong. Lo selalu bohong tentang bagian ini.”
Dan dia diem lagi, dan diemnya kali ini beda, dan gue terlalu berantakan buat merhatiin bedanya apa.
Gue berdiri.
Kaki gue kebas karena kelamaan duduk. Gue jalan dua langkah ke depan nisan, dan gue berdiri di situ, dan gue ngeliat nama tante.
Gue nggak tau kenapa gue ngelakuin ini. Gue nggak berencana.
“Tante,” kata gue.
Di belakang gue, Dewa bergerak.
“Naka—“
“Tante, ini Naka.” Suara gue jelek banget. “Yang dulu sering main ke rumah. Yang suka ngabisin teh Tante.”
Gue nunduk.
“Tante, gue mau ngomong satu hal. Sekali doang.”
Gue narik napas dan napasnya patah di tengah.
“Anak Tante itu—“
Gue berhenti. Gue harus berhenti dulu.
“Anak Tante itu yang paling terang di sini.”
Angin gerak di pohon kamboja.
“Semua orang di sekolah kita ngeliat gue,” kata gue. “Tiga tahun. Tiga ratus orang. Mereka teriakin nama gue tiap gue jalan di koridor.”
Gue nutup mata.
“Dan mereka salah, Tante. Mereka salah orang. Dari dulu.”
Gue berdiri di situ nangis kayak anak kecil di depan makam ibu orang.
Gue nggak berani noleh ke belakang.
Gue takut dia udah pergi. Gue lebih takut dia belum.
Sepuluh detik. Dua puluh.
Terus gue denger dia berdiri.
Gue denger langkahnya di rumput, dua langkah, dan dia berhenti di sebelah gue.
Dia nggak megang bahu gue. Dia nggak ngomong “udah, Nak”. Dia nggak bilang gue berlebihan.
Dia cuma berdiri di sebelah gue, ngeliat ke nisan yang sama.
Dan setelah lama banget, dia ngomong.
Dua kata.
“Aku tahu.”
Gue noleh ke dia.
“Apa?”
Dia nggak ngulang.
Dia ngeliat lurus ke depan, ke nama ibunya, dan mukanya sama sekali nggak berubah — dan gue udah dua belas tahun kenal muka itu dan gue tau persis apa artinya kalau nggak berubah.
“Dew.”
“Hm.”
“Lo bilang ‘aku tahu’ buat yang mana?”
Dia nggak jawab.
Angin gerak lagi. Ada daun kamboja jatuh ke atas nisan yang barusan dia bersihin selama entah berapa lama.
Dia jongkok, dan ngambil daun itu, dan naruhnya di telapak tangannya.
“Ayo pulang,” katanya. “Nanti hujan.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik reading
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan