Chapter Forty
Poni
POV: Kirana
Aku berdiri di ujung koridor selama empat menit hari Senin itu.
Aku tidak berencana. Aku ke ruang OSIS untuk mengembalikan kunci ruang jurnalistik, dan pintunya terbuka, dan aku melihat mereka berdua di dalam.
Aku tidak mendengar apa-apa. Jaraknya dua puluh meter.
Aku melihat Kak Anindya mengulurkan tangan. Aku melihat Kak Dewa menyambutnya. Aku melihat Kak Anindya tidak melepaskannya.
Dan aku melihat pelukan tiga detik itu.
Aku mau mencatat sesuatu, dan aku mau mencatatnya jujur karena buku ini isinya cuma hal-hal yang benar.
Aku tidak merasa terancam.
Aku sudah menyiapkan diri untuk merasa terancam. Aku sudah membayangkan momen seperti ini sejak Desember, dan dalam bayanganku aku merasa panas di dada dan ingin masuk ke ruangan itu.
Yang aku rasakan bukan itu.
Yang aku rasakan adalah: aku sudah lima belas tahun dan aku belum pernah melakukan apa pun sesulit yang barusan dilakukan perempuan itu.
Tiga detik. Lalu mundur satu langkah. Lalu wajahnya rapi lagi.
Aku memegang tali tasku dan aku tidak masuk.
Bukan karena aku besar hati. Aku bukan orang yang besar hati. Aku orang yang menghitung jumlah kesempatan membuka pintu dan menuliskannya di buku.
Aku tidak masuk karena tiga detik itu bukan punyaku untuk diganggu.
Dan karena — kalau harus jujur sampai bagian yang paling jelek — aku juga belum tahu apakah aku boleh masuk. Aku sudah sepuluh hari tidak bicara sama orang di dalam ruangan itu.
Kak Dewa melihatku.
Aku mengangkat tangan sedikit, lalu menurunkannya lagi, dan pergi.
Selasa pagi aku kembali ke koridor barat.
Sepuluh hari aku tidak ke sana.
Aku sampai jam enam empat puluh. Dia sudah di situ, sedang mengganti gagang pintu kelas 11 IPA 2 yang longgar.
Aku berdiri di ujung koridor.
Dia menoleh.
Kami berdua tidak bicara selama, entah, sepuluh detik.
Lalu dia meletakkan obengnya.
“Kirana.”
“Kak Dewa.”
“Aku salah hari Senin,” katanya.
Bukan Senin kemarin. Senin sepuluh hari lalu.
“Aku tau apa yang aku ucapin,” katanya. “Aku milih kalimatnya. Aku tau kamu satu-satunya orang yang tau itu bohong, dan aku pakai justru karena itu.”
Aku memegang kotak bekal dengan dua tangan.
“Aku nggak lagi minta kamu balik,” katanya. “Aku mau ngasih tau bagian itu duluan, biar nggak ketuker.”
“Kak—“
“Aku minta maaf. Itu aja. Kamu boleh nggak nerima.”
Aku berdiri di koridor barat jam enam empat puluh dua pagi dan aku menangis lagi, dan aku sudah bosan menangis, dan aku menangis juga.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku bawa bekal tiap hari sepuluh hari terakhir.”
Dia tidak menjawab.
“Aku bawa ke sekolah, terus aku bawa pulang lagi, terus aku makan sendiri di kamar.” Aku mengelap muka. “Dua kotak, Kak. Tiap hari. Aku gendut sekarang gara-gara Kakak.”
Dan dia — aku bersumpah — dia mengeluarkan bunyi.
Bunyi napas pendek lewat hidung. Sudut mulutnya naik seperempat sentimeter.
“Kak, itu ketawa?”
“Bukan.”
“ITU KETAWA.”
“Nggak.”
Aku menyerahkan kotaknya.
Dia menerimanya dengan dua tangan.
Kami tidak langsung baik-baik saja.
Aku ingin mencatat itu supaya jujur. Hari Selasa itu kami masih canggung. Hari Rabu masih agak. Kamis dia menceritakan soal telepon hari Minggu — soal Bapaknya yang duduk, soal dua puluh dua detik itu — dan dia menceritakannya dengan cara yang sama seperti dia menjelaskan engsel pintu, dan aku menangis lagi di lantai koridor.
Jumat sore dia bilang, “Sabtu jam sepuluh.”
Dan itu artinya semuanya kembali.
Sabtu.
Bel dua kali. Dia sudah di teras.
Kami masak. Kami makan. Aku mengerjakan PR Kimia dan dia mengoreksi nomor tiga lagi dan aku ngambek tiga menit lagi dan menyerah duluan lagi.
Jam dua siang, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menaruhnya di meja ruang tamu.
Formulir turnamen.
“Kak, ini—“
“Anindya ngasih hari Senin.”
Aku melihat kolom namanya. Kosong.
“Kakak mau ngisi?”
“Belum tau.”
“Semifinal Sabtu depan.”
“Iya.”
“Kak—“
“Kirana, aku belum tau. Aku nggak lagi ngulur.” Dia duduk di kursi kayu. “Aku beneran belum tau, dan itu pertama kalinya aku nggak tau sesuatu sepenting ini.”
Aku menaruh pulpenku.
“Kak, boleh aku nanya satu hal? Yang jujur?”
“Boleh.”
“Kalau nggak ada Reza, kalau nggak ada yang dicoret, kalau semuanya adil—“ Aku menatapnya. “Kakak mau main?”
Dia diam lama sekali.
“Aku nggak tau apa yang aku mau,” katanya. “Aku udah nggak tau dari umur dua belas.”
Ruangan itu sepi.
Dan aku, entah dari mana, tiba-tiba tahu apa yang harus aku lakukan.
Aku tidak merencanakannya. Aku ingin mencatat itu, karena aku merencanakan segalanya, dan yang ini tidak.
“Kak.”
“Hm.”
“Berdiri.”
“Kenapa?”
“Berdiri dulu.”
Dia berdiri.
Aku berdiri di depannya, dan aku harus mendongak, dan itu selalu tidak adil.
“Kak, aku mau nanya sesuatu,” kataku. “Dan aku mau Kakak jawab jujur, dan kalau jawabannya nggak, aku bakal berhenti dan kita nggak akan bahas ini lagi. Sumpah.”
“Oke.”
Aku menarik napas.
“Sekarang aku boleh lihat?”
Dia tidak bergerak.
“Semuanya,” kataku.
Ruang tamu itu sepi sekali.
Aku menghitung. Aku selalu menghitung.
Sebelas detik.
Lalu dia bilang, “Boleh.”
Aku mengangkat tanganku.
Aku bergerak pelan. Bukan karena takut ditepis — aku tahu dia tidak akan menepis, dia sudah bilang boleh, dan orang itu tidak pernah mengubah jawaban.
Aku bergerak pelan karena tanganku gemetar dan aku tidak mau dia melihat.
Aku mengambil kacamatanya lebih dulu.
Kedua tangan, dari sisi, pelan, dan aku melepasnya seperti orang mengangkat sesuatu dari air.
Aku menaruhnya di meja.
Lalu poninya.
Rambutnya lebih halus dari yang aku bayangkan. Aku menyisirnya ke belakang dengan jari, dari dahi ke atas, dan aku harus melakukannya dua kali karena yang pertama sebagian jatuh lagi.
Yang kedua bertahan.
Aku tidak bisa bicara.
Aku ingin mencatat berapa lama, karena aku selalu mencatat, tapi aku tidak menghitungnya karena aku tidak bisa menghitung apa pun.
Kak Dewa bilang kemudian bahwa lima belas detik.
Aku tidak akan mendeskripsikan wajahnya.
Aku sudah mencoba menulisnya di buku catatan malam itu dan aku menghapusnya empat kali, dan akhirnya aku menulis satu kalimat saja, dan kalimat itu yang paling jujur:
Aku ngerti kenapa dia nutupin.
Bukan karena dia jelek. Semua orang di sekolah itu sudah salah menebak arah masalahnya selama tiga tahun.
Dia menutupinya karena wajah seperti itu tidak bisa berdiri di koridor tanpa ada yang menoleh.
Dan orang yang menghabiskan enam tahun memastikan tidak ada yang menoleh tidak punya pilihan lain.
“Kirana.”
Aku tidak menjawab.
“Kirana.”
“Sebentar, Kak.”
“Kamu udah ‘sebentar’ dari tadi.”
“AKU LAGI—“ Suaraku keluar dua oktaf lebih tinggi dan aku menutup mulutku sendiri dengan tangan. “Sebentar.”
Dia menunggu.
Dan matanya — ini bagian yang aku tidak siap sama sekali — matanya menatap balik.
Enam bulan aku bicara sama orang ini dan tidak sekali pun dia benar-benar menatap aku, karena selalu ada dua lapis di depannya, dan aku tidak menyadari selama ini bahwa aku sedang bicara ke sesuatu yang ditutup.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak bisa lihat aku?”
“Aku selalu bisa lihat kamu.”
“Bukan itu maksudku.”
Dia diam sebentar.
“Iya,” katanya. “Aku bisa lihat kamu.”
Aku menaruh dua tanganku di pipinya.
Aku tidak berencana melakukan itu juga.
Dia tidak bergerak.
“Kak Dewa.”
“Iya.”
“Aku mau ngomong sesuatu, dan aku nggak akan ngulang, jadi Kakak dengerin baik-baik.”
“Oke.”
Aku memegang mukanya dengan dua tangan dan aku harus berjinjit sedikit dan itu memalukan tapi aku tidak peduli.
“Nggak ada yang harus Kakak bayar buat ini,” kataku. “Nggak ada yang harus dicoret. Nggak ada yang dirugiin. Aku lihat muka Kakak dan nggak ada satu orang pun di dunia ini yang rugi.”
Dia tidak menjawab.
“Kakak ngerti nggak?”
“Nggak,” katanya. “Belum.”
“Ya udah.” Aku menurunkan tanganku. “Nanti.”
Jam empat, aku pulang.
Dia mengantar sampai pagar.
Kacamatanya sudah dipakai lagi. Poninya sudah turun lagi. Dia memasangnya kembali sendiri, jam setengah empat, tanpa aku minta dan tanpa dia jelaskan.
Aku tidak protes. Itu bukan hakku.
Di pagar, aku berbalik.
“Kak.”
“Hm.”
“Formulirnya.”
“Iya.”
“Kalau Kakak nggak ngisi, aku nggak akan marah.”
“Aku tau.”
“Aku serius, Kak. Aku bakal dateng Sabtu depan sama seperti biasa, bawa dua kotak, dan aku nggak akan bahas.”
Dia berdiri di balik pagar hijau itu.
“Kirana.”
“Iya?”
“Kalau aku ngisi,” katanya, “aku nggak mau kamu di tribun.”
Aku mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Aku mau kamu di pinggir lapangan.” Dia memegang pagar. “Yang deket bangku.”
“Kak—“
“Kalau aku ngisi,” ulangnya.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni reading
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan