Chapter Thirty Five
Sekutu
POV: Anindya
Kirana Adiwangsa datang ke ruang OSIS hari Senin sore, dan dia datang dengan cara yang salah.
Aku sudah dua tahun mengamati orang, dan anak ini punya satu pola yang sangat konsisten: dia mengumumkan kedatangannya. Dari ujung koridor. Dengan volume yang tidak perlu.
Hari Senin itu dia mengetuk pintu.
Dua kali. Pelan.
“Kak Anindya, boleh masuk?”
Aku meletakkan pulpen.
“Masuk.”
Dia masuk, menutup pintu, dan tidak duduk.
“Kirana.”
“Iya, Kak.”
“Duduk.”
Dia duduk.
Aku menunggu.
Aku sudah lama belajar bahwa menunggu lebih efisien daripada bertanya. Orang yang datang dengan sesuatu akan mengeluarkannya sendiri, dan yang mereka keluarkan pertama biasanya bukan yang paling penting, jadi lebih baik tidak mengarahkan.
Dia bertahan empat puluh detik.
“Kak, aku mau minta tolong.”
“Soal apa?”
“Soal Kak Dewa.”
“Saya duga begitu.”
Dia meletakkan tasnya di lantai.
“Kak Anindya, aku mau tanya satu hal dulu. Dan aku minta maaf kalau ini nggak sopan.”
“Silakan.”
“Kakak masih nyimpen catatan?”
Aku tidak menjawab langsung.
“Saya berhenti bulan Desember,” kataku. “Setelah saya berikan map itu ke kamu.”
“Kenapa berhenti?”
“Karena mencatat sesuatu tanpa niat melakukan apa pun terhadap catatannya,” kataku, “itu namanya bukan mengamati. Itu namanya menyimpan.”
Dia mengangguk.
Lalu dia bilang, “Kak, aku mau ngelakuin sesuatu, dan aku nggak bisa sendirian, dan Kakak orang yang paling ngerti sistem sekolah ini.”
“Apa yang mau kamu lakukan?”
Dan Kirana Adiwangsa, lima belas tahun, kelas sepuluh IPA tiga, berkata:
“Aku mau seluruh sekolah lihat dia. Sekali aja. Tanpa dia setuju.”
Wulan datang sepuluh menit kemudian karena aku mengiriminya pesan satu kata: Ruang OSIS.
Dia masuk sambil membawa dua bungkus kerupuk dan berhenti waktu melihat siapa yang duduk di kursi seberangku.
“Wah. Ada apa ini.”
“Duduk, Wulan.”
“Nin, aku baru mau pulang—“
“Duduk.”
Dia duduk.
Aku menjelaskannya dalam empat kalimat. Aku sudah menyusunnya selama sepuluh menit terakhir sambil menunggu.
Wulan tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu dia berkata, “Turnamen Februari.”
“Iya.”
“Kalian mau maksa Sadewa main di turnamen Februari.”
“Iya.”
Wulan meletakkan kerupuknya di meja.
“Dia bakal marah.”
“Iya,” kataku.
Aku ingin mencatat percakapan berikutnya seakurat mungkin, karena percakapan itu yang membuatku memutuskan.
“Nin,” kata Wulan. “Kamu tau aku sayang kamu, kan?”
“Saya tahu.”
“Bagus. Karena aku mau nanya sesuatu yang jahat.”
“Silakan.”
“Kamu ngelakuin ini buat dia, atau buat kamu?”
Kirana menoleh cepat. Aku mengangkat tangan sedikit — biarkan.
“Pertanyaan yang benar,” kataku.
“Jawab dong.”
“Saya belum tahu.”
Wulan mengangkat alis.
“Saya belum tahu,” ulangku, “dan itu jawaban yang jujur, dan saya lebih suka memberi jawaban jujur yang jelek daripada jawaban rapi yang belum saya periksa.”
“Nin.”
“Wulan, saya sudah dua tahun tiga bulan mengamati orang itu.” Aku merapikan letak pulpen di meja. “Selama dua tahun tiga bulan itu, saya tidak melakukan apa pun. Sekali pun tidak. Dan saya punya alasan yang bagus untuk setiap kalinya.”
Aku menyandarkan punggung.
“Alasan saya selalu sama: dia tidak mau.”
“Itu alasan yang bener, Nin.”
“Iya. Itu alasan yang benar.” Aku menoleh ke Kirana. “Dan bulan Desember saya bilang ke anak ini bahwa alasan yang benar bisa berubah jadi tempat sembunyi kalau dipakai dua tahun.”
Ruangan itu sepi.
“Saya mengatakannya ke dia,” kataku. “Dan saya belum pernah sekali pun mengatakannya ke diri saya sendiri.”
Wulan tidak bicara.
“Aku cuma ngamatin,” kataku.
Kirana mengangkat kepalanya.
“Itu kalimat yang saya pakai selama dua tahun,” kataku. “Saya memakainya waktu Wulan bertanya kenapa saya membuat rapat tambahan. Saya memakainya waktu Kirana bertanya bagaimana saya tahu soal Wulan dan Nakula. Saya memakainya di kepala saya sendiri, berkali-kali, dan setiap kali kalimat itu terdengar seperti kehati-hatian.”
Aku melipat tanganku di atas meja.
“Kalimat itu bukan kehati-hatian. Itu izin untuk tidak melakukan apa-apa.”
“Nin—“
“Jadi jawaban untuk pertanyaanmu, Wulan: sebagian ini untuk saya.” Aku menoleh ke dia. “Saya tidak akan berpura-pura tidak. Saya mau tahu bagaimana rasanya melakukan sesuatu dengan delapan puluh satu entri itu sebelum saya lulus bulan Juni.”
Wulan menatapku cukup lama.
Lalu dia mengambil kerupuknya, membukanya, dan berkata, “Ya udah. Aku ikut.”
“Wulan.”
“Apa? Aku juga marah, Nin.” Dia mengunyah. “Aku udah setahun lihat orang itu benerin kursi diam-diam dan aku nggak pernah ngapa-ngapain juga.”
Kirana menjelaskan bagiannya.
Anak ini, harus aku akui, sudah menyiapkan sesuatu yang lebih matang daripada yang aku kira.
“Kak Naka mau daftarin dia,” katanya. “Diam-diam.”
“Nakula sudah tahu?”
“Kak Naka yang ngomong duluan. Minggu lalu.” Dia menunduk. “Aku belum jawab, karena aku—“
Dia berhenti.
“Karena?”
“Karena aku berantem sama Kak Dewa hari Sabtu.”
Aku memperhatikan wajahnya.
“Berat?”
“Iya.”
“Kamu masih ke sana Sabtu depan?”
“Iya.”
“Baik,” kataku. “Lanjutkan.”
Rencananya terdiri dari tiga bagian, dan tiga-tiganya butuh orang yang berbeda.
Bagian pertama, pendaftaran. Nakula yang mengurus, karena kapten tim boleh mengajukan nama tambahan sampai tujuh hari sebelum turnamen, dan Nakula satu-satunya yang tanda tangannya diterima tanpa pertanyaan.
Bagian kedua, pembina. Pak Herman.
“Beliau bakal setuju?” tanya Wulan.
“Beliau sudah setuju,” kataku.
Kedua orang di ruangan itu menoleh.
“Kak Anindya udah ngomong sama Pak Herman?”
“Bulan lalu. Sebelum kalian datang ke sini.” Aku membuka laci dan mengeluarkan satu lembar formulir. “Beliau menandatangani ini tanggal dua puluh satu Januari dan menitipkannya ke saya.”
Kirana mengambil formulir itu.
Formulir pendaftaran peserta turnamen. Kolom nama masih kosong. Kolom pembina sudah ditandatangani.
“Kak, ini—“
“Beliau bilang satu kalimat waktu menyerahkannya,” kataku. “Beliau bilang: saya sudah tiga tahun nggak nanya, sekarang saya mau maksa.”
Bagian ketiga yang paling sulit, dan bagian ketiga adalah bagianku.
“Sekolah harus tahu,” kataku.
“Maksudnya?”
“Kalau dia main turnamen, tiga ratus orang akan menonton dan tidak satu pun dari mereka tahu siapa yang mereka tonton.” Aku menutup laci. “Mereka akan melihat anak kelas dua belas berkacamata yang tiba-tiba masuk tim. Mereka akan bertanya-tanya sebentar, lalu lupa.”
“Terus?”
“Saya mau mereka tahu sebelumnya.”
Wulan berhenti mengunyah.
“Nin. Kamu mau nerbitin sesuatu?”
“Iya.”
“Artikel Kirana?”
“Iya.”
Kirana mengangkat kepalanya.
“Kak, artikelku digeser bulan Desember.”
“Saya tahu. Saya yang menandatangani penggesernya.” Aku menoleh ke dia. “Dan saya tahu siapa yang mengubah kolom prioritasnya.”
Kirana menatapku.
“Kak Dewa?”
“Iya.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan.
“Dia sendiri yang menahan artikelnya,” kataku. “Bulan Desember. Dengan prosedur yang benar, dan alasan yang bisa dipertahankan, dan saya membiarkannya karena keputusannya lolos audit.”
Aku berdiri dan merapikan kursi masuk ke bawah meja.
“Edisi Februari terbit tanggal enam. Turnamen tanggal sepuluh.”
Wulan mengantarku sampai gerbang sore itu.
Kirana sudah pulang duluan naik bus.
“Nin.”
“Ya.”
“Kamu yakin?”
“Tidak.”
“Nin, serius.”
Aku berhenti di dekat pos satpam.
Pak Timin sedang menyapu daun. Dia mengangkat tangan ke arahku dan aku membalas.
“Wulan, saya mau memberitahu kamu sesuatu, dan saya mau kamu tidak menghibur saya setelahnya.”
“Oke.”
“Bulan Juni saya lulus. Saya akan pergi kuliah, kemungkinan besar ke luar kota. Anak itu masih kelas sepuluh, dan dia punya dua tahun lagi di sekolah ini bersama orang yang sudah dia perhatikan sejak umur delapan tahun.”
Aku memandang gerbang.
“Saya kalah. Itu sudah selesai bulan Desember dan saya sudah menyelesaikannya dengan cara yang saya pilih sendiri.”
“Nin.”
“Yang belum selesai bukan itu.” Aku menoleh ke dia. “Yang belum selesai adalah bahwa saya melihat orang tenggelam selama dua tahun tiga bulan dari jarak dua meter, sambil mencatat kedalaman airnya dengan rapi.”
Wulan tidak menghibur aku.
Dia cuma berdiri di situ dan mengangguk sekali, dan aku berterima kasih dalam hati untuk itu.
Lalu dia bilang, “Dia bakal marah banget, Nin.”
Aku mengatur letak tali tasku.
“Iya,” kataku. “Dan itu akan jadi pertama kalinya dia marah tentang sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu reading
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan