Chapter Fifteen
Bukan Karena Kasihan
POV: Sadewa
Kabar itu butuh dua jam empat puluh menit untuk mengelilingi sekolah.
Aku tahu angkanya karena aku menghitung dari jam istirahat kedua sampai anak kelas sebelas yang tidak kukenal berhenti di depanku di koridor lantai dua dan bertanya, “Kak, bener lo pacaran sama adiknya Naka?”
“Nggak.”
“Katanya gandengan di depan kelasnya.”
“Oh.”
“Terus?”
“Aku nggak tahu.”
Anak itu pergi dengan wajah bingung, yang wajar, karena jawabanku memang tidak masuk akal.
Tapi itu jawaban yang paling akurat yang bisa kuberikan.
Yang lebih menarik sebenarnya bukan gosipnya.
Yang menarik adalah ini hari pertama dalam enam tahun di mana orang menoleh ke arahku, dan sistemnya tidak runtuh.
Aku sudah menyiapkan diri untuk itu. Aku sudah menghitungnya semalaman.
Kalau orang mulai menoleh, mereka akan mulai bertanya. Kalau mereka bertanya, mereka akan menemukan.
Ternyata tidak.
Mereka menoleh, mereka menyimpulkan satu hal — dia pacaran sama adiknya Naka — dan mereka berhenti di situ. Kesimpulan itu cukup memuaskan untuk menutup seluruh pertanyaan.
Tidak ada yang bertanya kenapa dia yang selalu mencariku. Tidak ada yang bertanya kenapa aku ada di sekolah jam enam lima belas.
Aku dapat label baru, dan label baru itu ternyata penutup yang lebih rapat daripada tidak punya label sama sekali.
Aku sudah salah menghitung.
Itu jarang terjadi, dan biasanya kalau aku salah menghitung, arahnya lebih buruk. Kali ini tidak.
Aku tidak tahu harus merasa apa soal itu, jadi aku tidak merasa apa-apa, dan aku melanjutkan hari.
Dia menungguku di depan gerbang jam empat.
Aku melihatnya dari lima puluh meter. Berdiri di dekat pos Pak Timin, tas di depan badan, dan begitu melihatku dia langsung berdiri lebih tegak seperti orang yang dipanggil namanya.
“Kak.”
“Kirana.”
“Aku mau ngomong.”
“Oke.”
“Bukan di sini.”
Kami duduk di bangku beton di dekat lapangan belakang.
Jam empat sore lapangan itu kosong karena tim basket latihan di aula. Ada dua anak kelas sepuluh main bola di ujung sana, jauh, dan mereka tidak melihat ke arah kami.
Dia meletakkan tasnya di pangkuan dan memeluknya.
“Kak.”
“Iya.”
“Aku suka sama Kakak.”
Dia mengucapkannya menghadap ke depan, ke lapangan, bukan ke aku.
“Aku suka dari kelas tiga SD,” katanya. “Aku tahu itu kedengeran gila. Tapi aku nggak mau ngurangin biar kedengerannya normal.”
Dia menarik napas.
“Aku bukan lagi kasihan. Aku tahu Kakak bakal mikir gitu, makanya aku bilang duluan. Aku udah suka jauh sebelum aku tahu apa-apa soal rumah Kakak.”
Lalu dia diam, dan dia tidak lari.
Itu bagian yang tidak kuduga.
Sepanjang dua bulan ini, polanya selalu sama. Dia menembak, aku diam, dia kabur. Aku sudah terbiasa. Aku bahkan sudah menghitung berapa detik sebelum dia berdiri.
Kali ini dia duduk di situ, memeluk tasnya, menghadap lapangan, dan menunggu.
Jadi aku harus menjawab.
“Kirana.”
“Iya.”
“Kamu tahu kenapa aku sendirian di sekolah?”
“Karena Kakak sengaja.”
“Iya. Tapi kenapa aku sengaja.”
Dia menoleh. “Kenapa?”
Aku sudah lama tidak mengucapkan ini keras-keras. Sebenarnya aku belum pernah mengucapkannya keras-keras, ke siapa pun, termasuk Naka. Aku cuma menyusunnya berkali-kali di kepala sampai bentuknya rapi.
“Waktu SMP ada orang yang deket sama aku selama empat bulan.”
Dia diam.
“Namanya nggak penting. Dia baik. Dia beneran baik, itu bukan sarkasme.” Aku melihat ke lapangan. “Empat bulan itu satu-satunya periode dalam hidupku di mana aku yang mulai ngomong duluan ke orang.”
“Terus?”
“Terus ternyata dia deket sama aku karena aku sahabatnya Naka.”
Aku dengar dia menarik napas.
“Dan pas ketahuan, dia nangis. Beneran nangis. Dia bilang maaf, dan dia bilang aku terlalu baik buat dia.”
“Kak—“
“Aku bilang nggak apa-apa. Terus aku bantuin dia nyusun kata-kata buat ngomong ke Naka.”
Kira tidak bicara.
“Aku nggak cerita ini biar kamu kasihan,” kataku. “Aku cerita ini karena ini datanya. Orang yang deket sama aku biasanya lagi lewat. Aku bukan tujuan. Aku jalan.”
“Itu satu orang.”
“Dua.” Aku diam sebentar. “Yang kedua nggak usah.”
Dia meremas tali tasnya.
“Dan kamu,” lanjutku, “adiknya Naka.”
Itu bagian yang paling penting, dan aku sengaja menaruhnya di akhir.
“Kak, aku bukan—“
“Aku tahu kamu bukan. Aku nggak nuduh.” Aku menoleh ke dia untuk pertama kalinya sejak duduk. “Aku cuma nggak bisa bedain. Itu masalahnya. Bukan kamu. Aku.”
Dia diam cukup lama.
Aku sudah tahu bagaimana ini akan berakhir. Aku sudah menyusunnya sejak dia bilang mau ngomong di gerbang.
Dia akan bilang “oh”. Lalu dia akan bilang tidak apa-apa, mungkin sambil ketawa supaya tidak canggung. Lalu selama dua minggu dia akan tetap membawa bekal karena dia orang yang seperti itu, dan setelah dua minggu jumlahnya berkurang, dan setelah sebulan berhenti.
Itu bukan hal buruk. Itu cara kerjanya yang normal.
Aku sudah menyiapkan diri untuk versi itu, dan aku sudah memutuskan bahwa dua bulan kemarin tetap bernilai, dan aku akan menyimpannya.
“Kak.”
“Iya.”
“Kakak inget nggak, waktu di rumah sakit?”
Aku menoleh.
“Aku ada di situ,” katanya. “Umur delapan. Kak Naka disuruh Ibu bawa aku karena nggak ada yang jagain di rumah.”
“Aku tahu.”
“Kakak nggak tahu apa yang aku lihat.”
Aku diam.
“Di ruang tunggu lantai tiga ada kue. Kotak kue, yang dari tamu. Kakak yang bagi-bagiin.”
Aku tidak bergerak.
“Kakak bagiin ke semua orang di lorong. Ke bapak-bapak yang duduk di ujung, ke ibu yang bawa bayi, ke dua perawat yang lewat. Kakak nanya satu-satu mau atau nggak. Kakak bilang makasih ke perawat yang bawa air.”
Dia berhenti sebentar.
“Aku ingat karena aku juga dikasih. Kakak jongkok, terus nanya aku mau yang mana.”
Ada suara bola dari ujung lapangan. Jauh sekali.
“Dan aku duduk di situ sampai malem, Kak, dan aku ngitung, karena aku emang gitu dari kecil.” Suaranya mulai berubah. “Nggak ada satu orang dewasa pun di lorong itu yang bilang makasih ke Kakak.”
Aku tidak menjawab.
“Nggak ada satu pun. Aku ngitung sampai dua puluh tiga orang.”
Dia menoleh ke aku sepenuhnya sekarang.
“Kak, aku umur delapan. Aku nggak tahu Kakak sahabatnya siapa. Aku nggak tahu Kakak jago apa. Aku bahkan nggak ngerti kenapa semua orang di lorong itu diem.”
Suaranya pecah di kata terakhir dan dia langsung menariknya kembali.
“Aku cuma tahu ada anak laki-laki yang hari itu—“ dia berhenti, mengatur napas, “—yang hari itu ngasih kue ke dua puluh tiga orang.”
Ada beberapa hal yang aku bisa hitung.
Aku bisa menghitung jadwal Pak Herman. Aku bisa menghitung berapa detik lantai aula butuh untuk kering. Aku bisa menghitung berapa nilai yang aman untuk tidak dipanggil dan tidak dipuji.
Aku tidak bisa menghitung yang ini.
Karena tidak ada yang tahu soal kue itu. Naka tidak tahu; dia di kamar, bukan di lorong. Bapak tidak tahu; dia di dalam. Tidak ada satu manusia hidup yang pernah menyebut kejadian itu kepadaku selama enam tahun, dan aku sendiri sudah hampir lupa, dan potongan yang masih kuingat cuma kotak kuenya berwarna merah dan aku tidak makan satu pun.
Dia tidak mungkin mengarang itu.
Dan itu artinya satu hal yang seluruh sistemku tidak punya jawabannya:
Dia sudah ada di sana sebelum ada tempat lain untuk dituju.
Dia bukan lewat. Dia sudah berdiri di situ dari awal, waktu aku belum jadi sahabat siapa-siapa, waktu aku belum jadi apa pun, waktu aku masih anak kelas enam yang membagi-bagikan kue supaya ada yang bisa dikerjakan di lorong rumah sakit.
Aku menghitung ulang seluruh dua bulan ini dengan data itu di dalamnya.
Hasilnya berubah.
“Kirana.”
“Iya.” Dia mengelap mata dengan lengan seragamnya, kasar sekali, seperti orang yang marah pada matanya sendiri.
“Kamu nggak nyari aku karena Naka.”
“Enggak.”
“Aku tahu sekarang.”
Dia menoleh.
“Aku nggak bisa jadi orang yang gampang,” kataku. “Aku bakal ngitung terus. Aku bakal ngerasa aneh tiap kali kamu baik, dan aku bakal nyari alasannya.”
“Aku tahu.”
“Aku belum pernah begini. Aku nggak tahu caranya.”
“Aku juga nggak tahu, Kak. Aku lima belas.”
Aku menoleh ke dia.
“Oke.”
Dia mengedip.
“...Oke?”
“Iya.”
“Oke apa?”
“Oke, aku juga.”
Kirana Adiwangsa duduk di bangku beton di samping lapangan belakang SMA Negeri 4 Anjasmara pada jam empat lewat dua puluh sore, dan selama kira-kira tiga detik dia tidak melakukan apa pun sama sekali.
Lalu wajahnya hancur.
Bukan pelan-pelan. Sekaligus, seperti sesuatu yang ditahan terlalu lama dengan tangan.
“Kirana—“
Dia berdiri.
“AKU PULANG.”
“Kamu—“
“AKU PULANG DULU.”
Dan dia lari.
Dia lari melewati lapangan, ke arah gerbang samping, dengan tas memantul di punggung, dan setengah jalan dia hampir jatuh karena tersandung batas rumput, dan dia tidak melambat sama sekali.
Aku duduk di bangku itu sendirian.
Dua anak kelas sepuluh di ujung lapangan berhenti main bola dan melihat ke arahku selama beberapa detik, lalu lanjut lagi.
Ponselku bergetar delapan menit kemudian.
Kirana: maaf aku lari
Kirana: aku seneng banget
Kirana: bukan sedih
Kirana: ini nangis seneng
Kirana: jangan dicatet
Aku membaca kelimanya dua kali.
Lalu aku mengetik satu kata, dan menghapusnya, dan mengetik lagi kata yang sama, dan mengirimnya.
Aku: Oke.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan reading
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan