← Bukan Aku, Kok

Chapter Twenty Four

Yang Anindya Serahkan

POV: Anindya


Aku menghitung ulang seluruh map itu pada hari Minggu, tanggal empat belas Desember, dari jam sembilan pagi sampai jam satu siang.

Delapan puluh satu entri.

Dua tahun tiga bulan.

Aku menghitungnya bukan untuk mencari sesuatu. Aku menghitungnya karena aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan hari Senin, dan aku ingin tahu berapa besar angka yang akan aku serahkan.

Delapan puluh satu.

Yang mengganggu bukan angkanya. Yang mengganggu adalah entri terakhir, yang kutulis empat hari lalu, di kantin sementara:

11 Des — dia menggeser kursinya satu jengkal ketika Bagas Prayoga duduk di sebelah Kirana. Dia tidak menyadari saya melihat. Kirana menyadari. — S

Dua tahun tiga bulan aku mencatat delapan puluh entri tentang hal-hal yang dia lakukan untuk orang lain.

Entri kedelapan puluh satu adalah yang pertama tentang sesuatu yang dia inginkan.

Dan itu bukan tentangku.


Aku bukan orang yang berlarut-larut.

Aku ingin mencatat itu, karena kalau tidak dicatat, apa yang aku lakukan hari Senin akan terdengar seperti pengorbanan, dan itu tidak akurat.

Ini bukan pengorbanan. Ini penutupan pembukuan.

Aku sudah tahu hasilnya sejak Oktober. Yang aku lakukan sejak Oktober cuma menunda pengakuannya, dan menunda itu bukan strategi. Aku sudah menyebutnya strategi selama dua bulan dan itu bohong.

Aku menunda karena selama mapnya masih di tanganku, angka delapan puluh satu itu masih milikku.


Senin, jam empat sore, aku menunggu di depan ruang jurnalistik.

Kirana keluar jam empat lewat sepuluh bersama temannya yang berisik itu — Nadin. Dia berhenti waktu melihatku.

“Kak Anindya?”

“Kirana. Ada waktu?”

Nadin melihat kami berdua, lalu berkata “gue duluan ya” dengan kecepatan yang mengesankan, dan pergi.

Kami duduk di bangku beton di samping lapangan belakang. Aku memilih tempat itu karena jam empat sore lapangan itu kosong, dan karena aku tidak ingin ada orang lewat.

Aku meletakkan map di antara kami.

“Ini untuk kamu.”

Dia melihat mapnya. Tidak menyentuhnya.

“Ini apa, Kak?”

“Catatan.”

“Catatan OSIS?”

“Bukan.”

Dia menoleh ke aku.

“Halaman depan sampai halaman lima puluh isinya inventaris, notulen, dan anggaran. Itu memang punya OSIS, dan saya sudah menyalin yang perlu.” Aku membuka mapnya di halaman lima puluh satu. “Yang saya berikan yang ini.”

Kolom. Tanggal di kiri, kejadian di tengah, satu huruf di kanan.

Kirana membaca lima baris pertama.

Lalu dia menutup mapnya.

“Kak.”

“Ya.”

“Ini punya Kakak.”

“Iya.”

“Kenapa dikasih ke aku?”


Aku sudah menyiapkan jawabannya selama tiga hari, dan aku sudah menyusunnya dengan hati-hati, dan waktu tiba saatnya aku tidak memakai satu pun dari susunan itu.

“Karena catatan itu tidak berguna di tangan saya,” kataku.

“Kak—“

“Saya serius. Ini bukan kerendahan hati.” Aku menunjuk mapnya. “Isinya delapan puluh satu kejadian. Setiap satu dari delapan puluh satu itu adalah bukti bahwa ada orang di sekolah ini yang mengerjakan hal-hal yang tidak dikerjakan siapa pun.”

“Iya.”

“Dan selama dua tahun tiga bulan, saya tidak pernah satu kali pun menggunakannya.”

Kirana diam.

“Saya bisa. Berkali-kali. Saya bisa berdiri di rapat OSIS dan menyebut namanya. Saya bisa lapor ke pembina. Saya bisa mengusulkan dia jadi pengurus resmi, dengan bukti tertulis, dan tidak ada yang bisa membantah.”

“Kenapa nggak?”

“Karena dia tidak mau.”

Aku merapikan letak mapnya satu sentimeter.

“Itu alasan yang bagus. Itu alasan yang benar, sebenarnya. Saya menghormati orang yang tidak mau dilihat.” Aku berhenti sebentar. “Tapi dua tahun itu waktu yang lama, Kirana, dan pada suatu titik alasan yang bagus berubah jadi tempat sembunyi yang nyaman.”


Dia tidak bicara selama beberapa saat.

Dua anak kelas sepuluh main bola di ujung lapangan. Jauh sekali. Mereka tidak melihat ke arah kami.

“Kak Anindya.”

“Ya.”

“Kakak suka sama Kak Dewa?”

Aku menghargai pertanyaan itu. Aku ingin mencatat itu juga. Anak ini lima belas tahun dan dia bertanya langsung, tanpa memutar, di kalimat pertama setelah diam.

Aku tidak pernah bisa melakukan itu di umur berapa pun.

“Iya,” kataku.

“Dari kapan?”

“Saya tidak tahu.”

“Kakak nggak tau?”

“Saya tahu tanggal delapan puluh satu kejadian. Saya tidak tahu tanggal yang itu.” Aku menghadap ke lapangan. “Itu satu-satunya hal dalam dua tahun terakhir yang tidak sempat saya catat, dan sekarang saya rasa itu bukan kebetulan.”

Kirana menunduk ke mapnya.

“Kak, aku nggak bisa nerima ini.”

“Kenapa?”

“Karena ini kayak—“ Dia mencari kata. “Kayak Kakak nyerah. Dan aku nggak menang apa-apa. Aku cuma dateng lebih berisik.”

Dan itu, kalau boleh jujur, adalah kalimat yang membuat aku memahami kenapa dia yang berhasil.


“Kirana.”

“Iya.”

“Saya mau menjelaskan sesuatu, dan setelah itu saya tidak akan membahasnya lagi. Boleh?”

“Boleh.”

“Dua tahun tiga bulan saya berada di ruangan yang sama dengan dia hampir setiap hari. Saya punya alasan yang sah untuk memanggilnya kapan saja. Saya ketua OSIS; saya bisa membuat rapat yang tidak perlu ada.”

Aku berhenti.

“Saya membuat empat belas rapat yang tidak perlu ada.”

Kirana menoleh cepat.

“Empat belas,” ulangku. “Saya menghitung semuanya. Dan di empat belas rapat itu, saya tidak pernah sekali pun bertanya kepadanya apakah dia sudah makan.”

Angin bergerak. Bola di ujung lapangan memantul dua kali.

“Kamu bertanya di hari pertama,” kataku.

“Kak—“

“Saya punya dua tahun tiga bulan dan delapan puluh satu entri,” kataku. “Kamu punya dua bulan dan satu pertanyaan.”

Aku mendorong mapnya ke arahnya.

“Aku cuma ngamatin,” kataku. “Kamu yang datang.”


Dia menerima mapnya.

Dia menerimanya dengan dua tangan, dan dia tidak bilang terima kasih, dan aku bersyukur untuk itu karena kalau dia bilang terima kasih aku tidak yakin aku bisa menyelesaikan sore itu dengan wajah yang sama.

“Kak Anindya.”

“Ya.”

“Kakak marah sama aku?”

“Tidak.”

“Kakak bakal—“ Dia berhenti. “Kakak bakal tetep di ruang OSIS sama dia tiap hari.”

“Iya.”

“Dan itu nggak apa-apa?”

Aku berdiri dan merapikan roknya dengan tangan.

“Saya ketua OSIS sampai bulan Maret,” kataku. “Dia pembantu umum sampai bulan Maret. Kami akan menyelesaikan lomba antarkelas, tiga rapat pleno, dan serah terima jabatan.”

“Kak, itu bukan jawaban.”

Aku menoleh ke dia.

Anak ini benar-benar mirip dengan orang yang dia amati. Mereka berdua tidak menerima jawaban yang rapi.

“Tidak apa-apa,” kataku. “Bukan karena saya baik. Karena saya tidak punya pilihan lain, dan saya lebih suka menghabiskan tiga bulan terakhir dengan bekerja daripada dengan menghindar.”


Aku sudah berjalan lima langkah waktu dia memanggil.

“Kak Anindya!”

Aku berhenti.

Dia berdiri dengan map itu terbuka di tangannya, di halaman terakhir, dan wajahnya berubah.

“Kak, ini apa?”

Aku sudah tahu halaman mana yang dia buka.

Halaman terakhir map itu bukan kolom. Bukan tanggal, bukan kejadian, bukan huruf S.

Itu fotokopi.

Fotokopi halaman olahraga koran lokal, tanggal dua puluh satu Februari tiga tahun lalu, dengan satu foto hitam putih yang buram karena diperbesar dari cetakan kecil.

Aku menemukannya di gudang perpustakaan bulan September, waktu memilah arsip koran lama untuk dibuang. Aku tidak sedang mencarinya. Aku sedang mencari arsip lomba tahun lalu.

“Kak Anindya, ini—“

“Saya tidak akan menjelaskan,” kataku.

“Kak—“

“Saya tidak menjelaskan karena saya tidak tahu, Kirana. Saya cuma menemukan.” Aku memasukkan tangan ke saku roknya. “Dan saya sudah menyimpannya tiga bulan tanpa bertanya ke siapa pun, karena saya tidak yakin saya berhak bertanya.”

Aku menoleh ke lapangan.

“Kamu berhak,” kataku. “Itu bedanya kita.”

Dan aku pulang.