← Bukan Aku, Kok

Chapter Twenty Six

Telepon Kedua

POV: Sadewa


Aku tidak akan menuliskan apa yang aku bicarakan dengan Naka malam Jumat itu.

Bukan karena rahasia. Karena tidak ada yang terjadi.

Kami duduk di teras rumahnya selama empat puluh menit. Ibunya membawakan dua gelas teh. Naka bertanya soal try out. Aku menjawab. Aku bertanya soal turnamen Februari. Dia menjawab.

Aku datang ke sana dengan satu kalimat yang sudah aku susun sejak jam lima sore, dan aku pulang tanpa mengucapkannya.

Kalimatnya cuma: Kamu boleh cerita ke adikmu.

Empat kata. Aku tidak bisa.

Di pagar, waktu aku pamit, Naka bilang, “Dew.”

“Hm.”

“Lo dateng ke sini.”

“Iya.”

“Tiga tahun.” Dia menggaruk belakang kepalanya. “Ya udah. Nggak apa-apa. Gue cuma—“ Dia berhenti. “Ya udah.”

Aku pulang naik bus terakhir.


Hari Minggu, jam delapan kurang lima, aku duduk di ruang tengah dan menaruh ponsel di meja.

Kirana ada di sofa.

Ini bukan hari Sabtu, dan Sabtu adalah hari yang sudah kami sepakati, dan aku sudah menyebutkan itu tiga kali sejak dia datang jam sembilan pagi.

“Kirana, ini hari Minggu.”

“Iya.”

“Kamu biasanya Sabtu.”

“Iya.”

“Kenapa Minggu?”

“Karena Sabtu kemarin aku nggak dateng.”

Itu benar. Sabtu kemarin dia tidak datang. Dia mengirim pesan jam sembilan pagi yang isinya maaf kak aku nggak enak badan, dan aku membalas oke, dan aku tahu itu bohong dan dia tahu aku tahu.

Kami tidak membicarakan hari Jumat sama sekali sejak Jumat.

“Kirana.”

“Kak, aku tau. Aku nggak bakal ngomongin yang kemarin.” Dia menarik kakinya ke atas sofa. “Aku cuma mau duduk di sini. Boleh?”

“Boleh.”

Jadi dia duduk di situ, membaca buku Sejarah, dan aku menyapu, dan mencuci, dan menjemur, dan jam delapan kurang lima aku duduk di ruang tengah dan menaruh ponsel di meja.

Aku lupa memberitahunya.

Aku ingin memperjelas itu. Aku tidak memutuskan untuk membiarkannya mendengar. Aku cuma lupa, karena selama dua tahun tidak ada yang perlu diberitahu.

Jam delapan lewat satu, ponselku bergetar.

BAPAK


Aku mengangkatnya.

“Halo, Pak.”

“Dewa. Sehat?”

“Sehat.”

Aku melihat ke sofa. Kirana sudah menurunkan bukunya dan sedang melihat ke arahku.

Aku mengangkat tangan sedikit, isyarat sebentar, dan dia mengangguk dan mengangkat bukunya lagi.

Tapi dia tidak membaca. Aku tahu dia tidak membaca karena halamannya tidak berganti selama sebelas menit berikutnya.

“Uang sudah masuk?”

“Sudah, Pak. Kamis.”

“Bulan ini Bapak lebihkan. Buat try out sama daftar kuliah.”

“Iya.”

“Sudah mikir mau ke mana?”

“Belum, Pak.”

“Ya jangan lama-lama.”

“Iya.”

Percakapannya berjalan seperti biasa. Menit kedua, urusan uang. Menit ketiga, sekolah. Menit keempat, Naka.

“Naka gimana?”

“Baik.”

“Masih kapten?”

“Masih.”

“Hebat anak itu.”

“Iya.”

Aku mendengar suaraku sendiri mengucapkan itu dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku menyadari bahwa aku mengucapkannya dengan nada yang sama persis setiap minggu.

Menit keenam, genteng dan pipa.

“Di rumah ada apa-apa?”

“Nggak ada.”

“Kran dapur yang seret?”

“Udah aku ganti karetnya.”

“Kapan?”

“Bulan lalu.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Ya ampun, Dew.”

Aku melihat ke sofa lagi.

Kirana memegang bukunya dengan dua tangan dan dia tidak melihat ke arahku sama sekali sekarang, dan bahunya kaku.


Menit kesembilan, Bapak mulai cerita soal proyeknya.

Tanahnya masih labil. Mandor barunya masih ceroboh. Kontraknya kemungkinan besar diperpanjang sampai Agustus.

“Agustus?”

“Iya. Mungkin lebih.”

“Berarti nggak pulang Lebaran.”

“Kayaknya nggak, Dew. Maaf ya.”

“Nggak apa-apa.”

“Nanti Bapak kirim lebih.”

“Nggak usah, Pak.”

“Ya nggak apa-apa. Buat kamu.”

Aku memindahkan ponsel ke telinga satunya.

“Pak.”

“Ya?”

Kalimatnya masih ada. Enam kata, masih di tempat yang sama, di posisi yang sama seperti bulan Juni, Agustus, dan Oktober.

Bapak bisa pulang sebentar aja nggak?

Aku membuka mulut.

Dan aku melihat ke sofa, dan Kirana sedang menatapku, dan dia tidak berpura-pura membaca lagi.

Dia menggeleng sekali. Pelan.

Bukan melarang. Dia menggeleng seperti orang yang sedang bilang jangan yang itu, Kak, dan aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu ada kalimat yang sedang berdiri di tenggorokanku, dan aku tidak sempat memikirkannya.

“Dew?”

“Nggak ada, Pak. Cuma mau bilang di sini aman.”

“Oh.” Dan aku mendengar lega itu lagi, dan kali ini ada orang lain di ruangan yang juga mendengarnya. “Ya bagus. Bagus.”

Dan lalu, seperti selalu, di menit terakhir:

“Bapak tenang, kamu kan anak yang nggak pernah nyusahin.”


Aku tidak menjawab “iya” secepat biasanya.

Aku menunggu satu detik. Mungkin dua.

Bukan karena aku memutuskan untuk menunggu. Karena ada orang di sofa di seberang ruangan yang sedang mendengar kalimat itu untuk pertama kalinya, dan tiba-tiba kalimat itu terdengar berbeda di telingaku sendiri.

“Dew? Halo?”

“Iya, Pak. Masih ada.”

“Ya sudah, Bapak tutup ya. Mau ke proyek.”

“Pak.”

“Ya?”

Dan di titik itu terjadi sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam dua tahun.

Kirana berdiri dari sofa.


Dia berjalan ke arahku dengan cepat, dan aku pikir dia mau ke kamar mandi atau ke dapur, dan aku tidak siap sama sekali.

Dia mengambil ponselku.

Bukan merebut. Dia mengulurkan tangan dan aku menyerahkannya, dan aku menyerahkannya karena aku terlalu kaget untuk melakukan hal lain, dan aku akan memikirkan itu berhari-hari kemudian.

Dia menempelkan ponsel itu ke telinganya.

“Halo, Om?”

Aku berdiri.

“Kirana—“

Dia mengangkat satu tangan ke arahku. Berhenti.

“Halo, Om. Maaf ya ganggu.” Suaranya berubah total. Sopan, jelas, dan sama sekali tidak gemetar. “Nama saya Kirana, Om. Kirana Adiwangsa. Saya adiknya Naka.”

Aku bisa mendengar suara Bapak di ujung sana, samar. Nadanya naik.

“Iya, Om. Adiknya Nakula.” Dia mengangguk-angguk padahal Bapak tidak bisa melihatnya. “Iya. Yang dulu suka ganggu waktu mereka main PS.”

Suara di ujung sana ketawa.

Aku berdiri di ruang tengah rumahku sendiri dan mendengar Bapak ketawa lewat ponsel dari jarak enam meter, dan aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mendengar bunyi itu.

“Om, saya mau ngomong sebentar boleh?”

Jeda.

“Iya. Nggak, nggak ada apa-apa. Kak Dewa sehat kok.” Dia menoleh ke aku sebentar. “Cuma saya mau ngasih tau satu hal.”

Aku melangkah maju.

“Kirana.”

Dia melangkah mundur satu langkah, memutar badan, dan bicara ke ponsel dengan sangat cepat, seperti orang yang tahu dia cuma punya sedikit waktu sebelum dihentikan.

“Om, Kak Dewa itu nggak pernah minta apa-apa ke Om, kan?”

Hening di ujung sana.

“Iya, saya tau. Saya tau Om kerja jauh buat dia.” Suaranya tetap sopan. Tidak sekali pun naik. “Tapi Om, saya mau bilang, orang yang nggak pernah minta apa-apa itu bukan berarti nggak butuh apa-apa.”

Aku berhenti melangkah.

“Saya sering ke sini, Om. Tiap Sabtu.” Dia berhenti sebentar. “Rumahnya bersih banget. Piringnya satu. Gelasnya satu.”

Aku bisa mendengar suara Bapak, dan nadanya sudah bukan nada yang tadi.

“Nggak, Om, saya nggak lagi negur. Saya nggak berhak negur.” Dia menunduk. “Saya cuma... saya cuma pikir Om nggak tau, jadi ada yang harus ngasih tau.”

Jeda panjang.

“Iya, Om. Iya.”

Jeda lagi.

“Iya. Sebentar.”

Dan dia berbalik dan menyerahkan ponselnya ke aku dengan dua tangan, dan mukanya sudah berantakan total, dan dia langsung jalan ke dapur supaya aku tidak melihatnya.


Aku menempelkan ponsel ke telinga.

“Pak.”

Tidak ada jawaban.

“Pak?”

“Iya.” Suara Bapak. “Iya, Dew. Bapak di sini.”

Ada suara motor lewat di ujung sana, jauh. Bapak menunggu suaranya hilang.

Biasanya setelah itu dia langsung melanjutkan.

Kali ini tidak.

“Anak itu—“ Bapak berhenti. “Anak itu temen kamu?”

“Iya.”

“Deket?”

“Iya.”

“Oh.”

Hening.

Aku berdiri di ruang tengah dengan ponsel di telinga dan aku bisa mendengar Bapak bernapas, dan bunyi angin di sana, dan sesuatu seperti pintu yang ditutup.

“Dew.”

“Iya, Pak.”

“Piringnya beneran satu?”

Aku melihat ke dapur.

Kirana berdiri membelakangi, di depan wastafel, memegang pinggiran wastafel dengan dua tangan.

Di rak di depannya ada satu piring putih, dan satu piring bermotif bunga, dan dua gelas, dan satu gelas kuning yang dibeli seseorang bulan lalu.

“Sekarang nggak, Pak,” kataku.

Bapak tidak bicara selama beberapa detik.

Lalu dia bilang, “Ya sudah,” dengan suara yang tidak seperti biasanya, dan menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam.

Itu pertama kalinya dalam tiga tahun Bapak menutup telepon tanpa mengucapkan salam.