← Bukan Aku, Kok

Chapter Eight

Manajer Bayangan

POV: Sadewa


Pertandingan persahabatan lawan SMA Bhakti Wiyata hari Sabtu, jam sembilan, di aula.

Aku sampai jam setengah tujuh.

Aula dibuka jam tujuh, tapi kunci cadangannya ada di ruang OSIS dan aku punya akses ruang OSIS, jadi ini bukan pelanggaran. Aku sudah memastikan itu dua tahun lalu.

Ada tiga hal yang harus dicek sebelum pertandingan, dan semuanya hal yang tidak akan diingat orang sampai jadi masalah.

Satu, papan skor. Angka enam di sisi kiri kadang tidak menyala penuh, jadi enam terbaca seperti lima. Tahun lalu ini bikin ribut sepuluh menit di kuarter ketiga. Aku mencolok ulang kabelnya dan mengetes angka nol sampai sembilan dua kali.

Dua, lantai di bawah ring sisi selatan. Ada rembes dari atap kalau semalam hujan, dan semalam hujan. Aku lap dengan kain pel kering, lalu tunggu lima menit, lalu lap lagi. Basah lagi. Aku taruh handuk di situ dan tulis catatan di kertas: cek lagi 08.30.

Tiga, air. Tim tuan rumah menyediakan minum untuk tim tamu. Tahun lalu tidak ada yang ingat, dan anak-anak Bhakti Wiyata minum dari keran kamar mandi. Aku sudah menitipkan uang ke Bu Kantin hari Kamis, dan dua dus air mineral sudah ada di pojok aula sejak semalam.

Selesai jam delapan kurang seperempat.

Aku duduk di bangku penonton paling atas, paling pojok, dan mengeluarkan buku.

Bangku ini bagus karena tiga alasan. Tidak ada yang duduk di atas orang yang duduk paling atas. Pintu keluar dekat. Dan dari sini seluruh lapangan kelihatan sekaligus, jadi aku tidak perlu menoleh.

Aku tidak datang ke sini untuk menonton, sebenarnya. Aku datang karena kalau tidak, jam sembilan pagi hari Sabtu di rumah itu panjang sekali.


Anak-anak tim datang jam delapan.

Mereka datang berombongan, berisik, membawa tas dan bola dan bunyi. Danang menendang pintu aula sampai terbuka penuh karena tangannya penuh. Ada yang langsung memutar musik dari speaker kecil.

Ada yang sadar dus air mineralnya sudah ada di pojok.

“Eh, minumnya udah ada.”

“Yang buat tamu juga?”

“Ada. Dua dus.”

“Sekolah kita mayan juga ya kalau lagi niat.”

Mereka pindah ke topik lain dalam empat detik. Itu bagus. Empat detik adalah durasi yang benar.

Naka datang terakhir, seperti biasa, karena dia selalu berhenti di gerbang untuk ngobrol dengan siapa pun yang ada di gerbang.

Dia masuk aula, melihat sekeliling sekali, dan matanya langsung naik ke bangku paling atas.

Dua detik. Selalu dua detik.

Dia mengangkat dagunya sedikit. Aku mengangguk sekali.

Lalu dia berbalik ke timnya dan tidak melihat ke atas lagi sampai pertandingan selesai, yang memang seharusnya.


Kuarter pertama kami kalah tujuh angka.

Bhakti Wiyata punya dua pemain tinggi dan mereka main sederhana: masukkan bola ke dalam, rebound, ulangi. Tidak rumit. Cuma efektif.

Naka mencoba mengimbangi dengan tempo cepat. Itu keputusan yang wajar. Dia paling cepat di lapangan, dan biasanya berhasil.

Hari ini tidak.

Aku memperhatikan sesuatu di menit keempat dan mengeceknya sampai menit ketujuh untuk memastikan aku tidak salah.

Nomor sebelas mereka, yang tinggi, selalu bergeser setengah langkah ke kiri sebelum menerima bola di post. Setengah langkah, konsisten, delapan kali dari delapan. Itu artinya dia cuma nyaman berbalik ke satu arah.

Kalau penjaganya berdiri di sisi kirinya sejak awal, dia harus berbalik ke kanan, dan dia tidak bisa.

Turun minum kuarter pertama, aku turun dari bangku dan berjalan ke pintu samping aula, di mana ada koridor kecil yang menghubungkan ke ruang ganti.

Aku menunggu di situ.

Danang keluar duluan, cari air. Aku memanggilnya.

“Danang.”

“Eh, Dewa. Ngapain lo di sini?”

“Nomor sebelas.”

“Kenapa?”

“Dia selalu geser ke kiri sebelum nerima bola. Delapan kali dari delapan.”

Danang mengernyit. “Terus?”

“Kalau kalian jagain dari sisi kiri, dia harus muter ke kanan. Coba lihat dia pernah muter ke kanan nggak hari ini.”

Danang berpikir. Aku bisa melihat momen di mana dia mengingatnya.

“...Nggak pernah.”

“Coba bilang ke Naka.”

“Kenapa lo nggak bilang sendiri?”

“Kalian lagi kumpul. Aku nggak enak masuk.”

Itu alasan yang bagus. Aku sudah menyiapkannya sejak semalam, sebelum tahu apa yang akan terjadi di pertandingannya. Alasan seperti itu selalu perlu, cepat atau lambat.

“Lo aneh, ya,” kata Danang.

“Iya.”

“Ya udah. Makasih.”

“Jangan bilang dari aku.”

“Kenapa?”

“Nanti dikira ada yang ngatur dari luar. Bilang aja kamu yang lihat.”

Danang ketawa. “Wah, gue jadi pinter dong.”

“Iya.”

Dia lari masuk.

Aku naik lagi ke bangku paling atas.


Kuarter kedua, mereka mengubah penjagaan.

Nomor sebelas dapat bola tiga kali dan gagal tiga kali. Yang ketiga, dia melempar bola keluar lapangan karena tidak menemukan siapa pun setelah berbalik.

Setengah aula bersorak.

Kuarter ketiga kami menyusul. Kuarter keempat kami menang sebelas angka.

Peluit panjang.

Yang terjadi setelah itu sudah bisa aku tebak sepuluh menit sebelumnya, dan tebakanku benar semuanya.

Anak-anak tim mengerubungi Naka. Dua orang menaikkan dia sebentar sampai hampir jatuh. Dari bangku penonton ada yang teriak namanya, lalu tiga orang lagi ikut, lalu jadi paduan suara.

NA-KA. NA-KA. NA-KA.

Naka mengangkat tangan sambil ketawa, dan dia menunjuk ke arah timnya, ke Danang, ke bangku cadangan, mencoba membagi rata seperti biasa, dan tidak ada yang peduli karena orang tidak datang ke aula untuk membagi rata.

Aku memasukkan buku ke tas dan mulai turun, karena setelah pertandingan aku harus mengembalikan handuk, mematikan papan skor, dan mengangkut dus air yang sisa.

Sorakan di bawah masih jalan. Suaranya memantul di atap seng dan jadi dua kali lebih keras dari aslinya.

Aku sudah lama tidak merasa apa-apa mendengar itu. Aku ingin memperjelas bagian ini, karena kalau tidak dijelaskan kedengarannya seperti aku sedang berpura-pura kuat.

Aku benar-benar tidak merasa apa-apa. Itu hasil latihan. Dan kalau ada yang bertanya berapa lama latihannya, jawabannya tiga tahun.

Di tangga bangku penonton, Danang mencegatku.

“DEWA!”

Dia masih berkeringat dan napasnya belum turun.

“Anjir, lo bener. Nomor sebelas nggak bisa muter kanan sama sekali.”

“Oh.”

“Naka nanya tadi siapa yang lihat, gue bilang lo—“

Ada tiga orang di belakangnya. Salah satunya anak kelas sebelas yang aku tidak tahu namanya.

“Ini yang tadi?” katanya. “Lo asisten pelatih ya?”

Aku mengangkat tas ke bahu.

“Bukan aku, kok.”

“Hah? Tadi Danang bilang—“

“Danang salah denger. Ada yang bilang ke aku di koridor, aku cuma nerusin.”

“Siapa?”

“Nggak tahu. Anak kelas dua belas, aku nggak hafal mukanya.”

Anak kelas sebelas itu mengangguk dan langsung kehilangan minat. “Oh, oke.”

Danang mengernyit sebentar. Cuma sebentar. Lalu ada yang memanggilnya dari lapangan dan dia lari, dan urusannya selesai di situ, seperti selalu.

Aku turun ke lantai aula lewat sisi yang kosong.


Aku melipat handuk basah dan memasukkannya ke ember. Papan skor kumatikan. Dua dus air mineral tinggal setengah dus, kuangkat ke pojok dekat pintu supaya bisa dipakai latihan Selasa.

Aula mulai kosong. Anak-anak tim sudah ke ruang ganti. Penonton sudah keluar.

Waktu aku berdiri sambil membawa ember, aku melihat ke seberang lapangan.

Ada laki-laki berdiri di pintu utara.

Umurnya mungkin empat puluhan. Kaus polo, celana bahan, sandal. Dia berdiri di situ dengan tangan di saku, dan dia sudah menghadap ke arahku sebelum aku menoleh, yang artinya dia sudah melihat cukup lama.

Aku kenal orang itu.

Namanya Pak Herman. Dia melatih tim basket SMP Anjasmara Dua selama tujuh tahun, dan sejak tahun lalu dia mengajar Penjaskes di sini.

Aku sudah tahu itu sejak dia masuk. Aku sudah menghitung jadwalnya, kelas mana yang dia ajar, jam berapa dia di ruang guru, lewat mana dia ke lapangan. Dalam satu tahun kami tidak pernah berada di ruangan yang sama lebih dari empat puluh detik.

Itu bukan kebetulan. Itu kerja.

Dia mengangkat tangannya sedikit.

Bukan lambaian penuh. Setengah, seperti orang yang mulai melambai lalu berhenti di tengah.

Aku bisa melihat dia menarik napas untuk memanggil sesuatu.

Lalu dia tidak jadi.

Tangannya turun. Dia melihat ke lantai aula sebentar, mengangguk pelan ke dirinya sendiri seperti orang yang baru saja memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu, lalu berbalik dan keluar lewat pintu utara.

Aku berdiri di tengah aula kosong dengan ember berisi handuk basah di tangan.

Aku menghitung tiga puluh detik. Dia tidak kembali.

Aku matikan lampu aula, kunci pintunya, dan kembalikan kuncinya ke ruang OSIS.