← Bukan Aku, Kok

Chapter Nineteen

Studi Tour

POV: Sadewa


Studi tour angkatan dua belas berangkat hari Jumat jam lima pagi, tiga bus, tujuan Yogyakarta, tiga hari dua malam.

Aku tidak berencana ikut.

Biayanya tujuh ratus lima puluh ribu, dan tujuh ratus lima puluh ribu adalah angka yang harus kuminta ke Bapak, dan kalau aku memintanya, dia akan mengirimnya dalam dua jam beserta tambahan dua ratus untuk jajan, dan setelah itu dia akan menyebut angka itu di telepon minggu depan dengan nada senang karena akhirnya ada sesuatu yang bisa dia belikan.

Aku sudah mengisi formulir “tidak ikut” dan memasukkannya ke kotak di ruang guru bulan lalu.

Formulir itu tidak pernah sampai.

Aku baru tahu hari Rabu, waktu Bu Ratna memanggilku ke ruang guru dan menyerahkan tanda terima pembayaran atas namaku.

“Ini apa, Bu?”

“Kamu ikut studi tour, kan?”

“Saya isi formulir nggak ikut, Bu.”

“Formulirnya nggak ada di kotak.” Bu Ratna mengecek daftar. “Ini sudah lunas dari dua minggu lalu.”

“Siapa yang bayar?”

“Nggak ditulis. Tapi bayarnya tunai, dan yang nganter anak kelas dua belas juga.”

Aku sudah tahu jawabannya sebelum keluar dari ruang guru.


Aku menemukannya di lorong depan ruang ganti, sedang mengikat tali sepatu.

“Naka.”

“Yo.”

“Tujuh ratus lima puluh ribu.”

Dia tidak mengangkat kepala. “Oh, itu.”

“Balikin.”

“Nggak.”

“Naka.”

“Dew, itu tabungan gue dari kerja sampingan bulan puasa kemarin.” Dia berdiri. “Duitnya nggak kepake.”

“Kamu punya duit nggak kepake tujuh ratus lima puluh ribu.”

“Iya.”

“Bohong.”

“Iya.”

Dia mengangkat tasnya ke bahu dan menatapku, dan ada sesuatu di wajahnya yang tidak biasa, jenis yang belakangan ini makin sering muncul dan langsung dia hapus.

“Dew.”

“Hm.”

“Ini terakhir kali kita bisa pergi bareng.”

Aku tidak menjawab.

“Kelas dua belas semester dua isinya try out doang. Terus lulus. Terus lo entah ke mana, gue entah ke mana.” Dia menepuk bahuku sekali, cepat, lalu mundur. “Gue nggak minta apa-apa. Gue cuma pengen lo ada di bus.”

Dan dia jalan ke lapangan sebelum aku sempat menyusun bantahan.

Aku berdiri di lorong itu cukup lama.

Ada satu hal yang aku sadari dan langsung aku singkirkan, dan aku menyingkirkannya karena kalau tidak, aku harus memikirkannya sepanjang perjalanan tiga hari.

Naka membayar tujuh ratus lima puluh ribu supaya aku ada di bus.

Aku pernah memberi dia sesuatu yang jauh lebih mahal dari itu, dan dia tidak pernah bisa mengembalikannya, dan sekarang dia sedang mencicil dengan mata uang yang salah.


Kirana ikut sebagai tim dokumentasi klub jurnalistik.

Aku baru tahu itu di halaman sekolah jam setengah lima pagi, waktu dia muncul dari arah gerbang dengan kamera di leher dan tas ransel yang lebih besar dari badannya.

“KAK DEWA!”

“Kamu—“

“Klub jurnalistik butuh dokumentasi.” Dia berdiri di depanku dan mengangkat kameranya. “Ini penugasan resmi. Ada suratnya. Aku bawa.”

“Kelas sepuluh nggak ikut studi tour.”

“Tim dokumentasi ikut.”

“Timnya berapa orang?”

“Satu.”

Aku menatapnya.

“Kak Rasti yang milih,” katanya, terlalu cepat.

“Kamu yang nawarin diri.”

“Kak Rasti yang milih setelah aku nawarin diri, dan itu dua hal yang berbeda secara administratif.”

Di belakangnya, Nadin lewat sambil membawa kardus dan berkata, tanpa berhenti jalan, “Dia ngelobi Kak Rasti tiga hari.”

“NADIN.”


Bus dua, baris keenam, dua kursi di sisi kiri.

Aku duduk di dekat jendela karena Kirana bilang dia mabuk kalau dekat jendela, yang menurutku secara fisiologis tidak masuk akal, tapi aku tidak punya data untuk membantahnya.

Berangkat jam lima lewat sepuluh.

Empat puluh menit pertama, bus penuh suara. Ada yang memutar musik dari speaker kecil, ada yang teriak dari kursi belakang, ada guru yang menyuruh diam tiga kali dan diabaikan tiga kali.

Kirana bicara sepanjang empat puluh menit itu tanpa berhenti.

Dia bercerita tentang: kamera klub yang baterainya cuma tahan dua jam, Nadin yang membawa lima bungkus roti untuk perjalanan enam jam, teori dia tentang kenapa anak kelas dua belas selalu duduk di kursi belakang, dan sebuah insiden di kelasnya minggu lalu yang melibatkan tikus dan seorang guru Fisika.

Jam enam lewat, matahari mulai naik.

Jam enam empat puluh, dia bilang, “Kak.”

“Hm.”

“Kalau aku ketiduran, Kakak bakal ngapain?”

“Diem.”

“Diem doang?”

“Iya.”

“Kakak nggak bakal, kayak, ngerapiin rambut aku atau apa gitu?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

“Nanti kamu bangun.”

Dia diam.

Lalu dia bilang, “Oh,” dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, dan menghadap ke depan, dan tidak bicara selama hampir satu menit penuh, yang untuk dia adalah rekor.

Jam enam empat puluh tujuh, kepalanya jatuh ke bahuku.


Aku akan mencatat ini seakurat mungkin.

Pertama-tama, dia tidak jatuh pelan-pelan. Dia jatuh sekaligus, seperti orang yang kehabisan tenaga, dan bahuku bergerak sedikit karena tidak siap.

Kedua, dia bangun jam tujuh dua puluh tujuh.

Empat puluh menit.

Ketiga — dan ini bagian yang perlu dijelaskan — posisi duduknya salah.

Bahu kiriku ada di bawah kepalanya, dan lengan kiriku tertekuk di antara badan kami karena aku sedang memegang ponsel waktu dia jatuh. Kalau aku menariknya keluar, seluruh bahuku bergerak.

Jadi aku tidak menariknya.

Menit kelima, jariku mulai kesemutan.

Menit kesepuluh, kesemutannya naik ke lengan bawah.

Menit kedua puluh, aku tidak bisa merasakan tiga jari, dan bahu kananku ikut pegal karena aku memiringkan badan untuk mengimbangi.

Menit ketiga puluh, ada rasa panas di pangkal leher.

Aku menghitung mundur dari lima ratus untuk mengalihkan perhatian, sampai selesai, lalu menghitung mundur lagi.

Bus berhenti dua kali di lampu merah. Kedua kalinya cukup keras, dan kepalanya bergeser dua sentimeter, dan aku menggeser bahuku dua sentimeter untuk mengimbangi.

Jam tujuh lewat, seseorang di kursi belakang mulai memperhatikan.

“Woy.”

“Sst.”

“Itu adiknya Naka?”

“Sst, anjir, jangan berisik.”

“Gue mau lihat.”

“JANGAN BERDIRI.”

Aku tidak menoleh ke belakang. Menoleh berarti bahu bergerak.

“Bro. Bro. Dia nggak gerak sama sekali dari tadi.”

“Berapa lama?”

“Dari lampu merah pertama.”

“Serius?”

“Gue timer.”

“Lo nge-timer?”

“Iya lah, ini bersejarah.”

Ada suara ponsel dikeluarkan. Ada suara tiga orang berdebat dengan berbisik tentang siapa yang paling tidak akan ketahuan kalau berdiri.

Aku menutup mata dan melanjutkan menghitung mundur.


Dia bangun jam tujuh dua puluh tujuh, dan dia bangun dengan cara yang paling buruk: sekaligus, langsung tegak, seperti orang yang teringat sesuatu.

“—Hah.”

Dia melihat sekeliling. Melihat bahuku. Melihat aku.

Lalu wajahnya berubah warna dalam dua detik.

“KAK.”

“Pagi.”

“BERAPA LAMA?”

“Nggak lama.”

“KAK.”

“Sepuluh menit.”

Dari kursi belakang, sebuah suara yang sangat jelas berkata:

“EMPAT PULUH MENIT.”

“SIAPA ITU,” teriak Kirana.

“EMPAT PULUH MENIT DUA PULUH DETIK. GUE TIMER.”

Kirana menutup mukanya dengan dua tangan dan meluncur turun di kursinya sampai cuma kelihatan setengah kepala.

“Kak.”

“Hm.”

“Tangan Kakak kenapa?”

Aku sedang membuka dan menutup telapak tangan kiriku untuk mengembalikan rasa.

“Nggak apa-apa.”

“Itu kesemutan.”

“Nggak.”

“Kak Dewa, aku lihat tangannya gemeteran.”

“Dingin.”

“AC-nya mati dari tadi!”

“Oh.”

Dia menatapku beberapa detik.

Lalu dia menunduk, dan mengambil tanganku, dan mulai memijat telapak tangan kiriku dengan dua ibu jari, pelan, dengan wajah orang yang sedang sangat marah.

“Kakak tuh bego, ya.”

“Iya.”

“Kenapa nggak dibangunin?”

“Kamu lagi tidur.”

“ITU BUKAN ALASAN!”

“Itu alasan.”

Dia memijat sepuluh menit. Aku tidak menghentikannya.

Dari kursi belakang terdengar suara seseorang berkata, dengan nada takjub yang tulus, “Ini lebih parah dari yang gue kira.”


Dua jam kemudian bus berhenti di rest area.

Aku turun terakhir karena aku selalu turun terakhir.

Naka menungguku di dekat pintu bus satu, memegang dua gelas kopi, dan menyerahkan satu tanpa bertanya.

“Dew.”

“Hm.”

“Lo tau nggak lo ketawa tadi?”

Aku berhenti.

“Nggak.”

“Iya. Di bus. Pas adek gue teriak-teriak soal empat puluh menit itu.” Dia meniup kopinya. “Gue duduk di seberang. Gue liat.”

“Aku nggak ketawa.”

“Bukan yang gede. Yang kecil.” Dia menunjuk sudut mulutnya sendiri. “Yang begini.”

Aku tidak menjawab.

Naka minum kopinya dan melihat ke arah parkiran.

“Terakhir gue liat lo ketawa itu kelas tiga SMP,” katanya. “Bulan Februari.”

Aku tahu bulan apa yang dia maksud, dan dia tahu aku tahu, dan kami berdua tidak menyebutnya.

“Gue nggak lagi ngomongin apa-apa,” katanya cepat. “Gue cuma bilang.”

“Oke.”

Kami berdiri di parkiran rest area jam sembilan pagi dengan dua gelas kopi yang terlalu panas untuk diminum.

Lalu dia bilang, “Ya udah,” dan jalan balik ke busnya.


Malamnya, di penginapan, aku dapat pesan dari nomor yang tidak sering mengirim pesan.

Naka: [gambar]

Fotonya diambil dari kursi seberang, agak dari belakang, gelap karena diambil jam tujuh pagi dengan cahaya dari jendela sebelah kiri.

Kirana tidur di bahu kiriku. Mulutnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di satu sisi.

Dan aku menghadap ke depan, tidak bergerak, dengan lengan kiri terjepit di antara kami, memandang ke arah kursi di depan.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Aku: Hapus.

Naka: nggak

Aku: Naka.

Naka: nggak, dew

Naka: lo boleh minta apa aja ke gue seumur hidup

Naka: tapi nggak yang ini

Aku mengetik tiga kali dan menghapus ketiganya.

Pesan terakhirnya masuk dua menit kemudian.

Naka: gue simpen buat gue sendiri kok. nggak gue kasih siapa siapa.

Naka: gue cuma pengen punya satu.