← Bukan Aku, Kok

Chapter Seventeen

Berita yang Tidak Terbit

POV: Sadewa


Aku tahu soal artikelnya hari Senin, dan aku mengetahuinya dengan cara yang paling biasa.

Aku sedang menata ulang arsip di ruang OSIS waktu Anindya masuk membawa map besar berisi materi mading edisi bulan ini.

“Sadewa, tolong pisahkan yang sudah disetujui pembina.”

“Iya.”

Aku memisahkannya. Tiga puluh dua lembar. Poster ekskul, pengumuman lomba, dua puisi dari anak kelas sebelas, dan enam artikel klub jurnalistik.

Artikel keempat judulnya Sebelum Jam Tujuh.

Aku membacanya sampai kalimat kelima, lalu berhenti, lalu membacanya lagi dari awal sampai selesai.

Empat ratus dua puluh tiga kata. Tidak ada nama di dalamnya. Cuma “seorang siswa”.

Wastafel koridor barat. Kursi 12 IPS-2. Papan piket yang salah dua minggu berturut-turut. Jam dinding koridor yang lambat dua puluh detik.

Yang terakhir itu yang membuatku duduk.

Aku sudah dua tahun memperbaiki jam itu dan menyetelnya lambat. Ada tiga orang di sekolah ini yang pernah menyebut jam itu di depanku: Anindya, satu kali, dan Kirana, dua kali.

Anindya tidak menulis artikel klub jurnalistik.

Di paragraf terakhir ada satu kalimat yang tidak seperti kalimat lainnya.

Kalau semua ini berhenti besok pagi, kita baru akan tahu ada yang mengerjakannya.

Aku menaruh lembar itu di tumpukan yang sudah disetujui, karena memang sudah ditandatangani pembina, dan melanjutkan pekerjaanku.

Empat puluh menit kemudian aku selesai.

Lalu aku duduk di ruang OSIS yang kosong selama sepuluh menit, dan setelah sepuluh menit itu aku berdiri dan melakukan sesuatu.


Prosedurnya sebenarnya sederhana, dan aku sudah tahu prosedurnya sejak tahun lalu karena aku yang menyusun ulang berkasnya.

Materi mading yang sudah disetujui pembina masuk ke antrean tata letak. Antrean tata letak ditangani sekretaris OSIS. Kalau ruang mading tidak cukup, materi yang tidak masuk digeser ke edisi berikutnya, dan yang menentukan urutannya adalah kolom prioritas di formulir.

Kolom prioritas diisi tangan.

Aku tidak mengubah apa pun yang sudah ditulis. Aku juga tidak membuang lembarnya.

Aku cuma memasukkan tiga materi lain — jadwal lomba antarkelas, pengumuman beasiswa, dan hasil seleksi paskibra — ke prioritas satu, karena ketiganya memang ada batas waktunya, dan artikel klub jurnalistik tidak.

Itu benar secara prosedur. Aku ingin memperjelas itu.

Kalau ada yang mengaudit keputusan ini, keputusan ini akan lolos.

Aku juga tahu bahwa itu tidak ada hubungannya dengan alasan aku melakukannya.


Rabu sore, Anindya memanggilku.

“Sadewa.”

“Iya.”

“Edisi bulan ini isinya enam materi. Empat pengumuman, satu poster, satu puisi.”

“Iya.”

“Bulan lalu ada tiga artikel jurnalistik.”

“Bulan lalu nggak ada pengumuman beasiswa.”

Dia meletakkan mapnya di meja dan duduk di seberangku. Dia tidak membuka mapnya.

“Formulir prioritas diisi tangan,” katanya. “Tulisan tangan saya sendiri, di semua kolom, sejak Agustus.”

Aku diam.

“Bulan ini ada tiga kolom yang bukan tulisan saya.”

“Aku yang isi.”

“Saya tahu.”

Kami duduk di situ beberapa detik.

“Alasannya?”

“Tiga materi itu ada batas waktunya.”

“Itu benar,” katanya. “Itu juga bukan jawaban.”

Aku tidak menjawab.

“Sadewa, saya tidak akan mengubahnya. Keputusannya bisa dipertahankan.” Dia merapikan letak mapnya satu sentimeter. “Saya cuma ingin kamu tahu bahwa saya melihatnya.”

“Oke.”

“Artikelnya bagus, kalau kamu penasaran.”

“Aku nggak baca.”

Anindya menatapku.

Itu kesalahan. Aku menyadarinya setengah detik setelah mengucapkannya, dan setengah detik terlalu lambat.

Kalau aku tidak membacanya, aku tidak akan tahu artikel yang mana yang harus digeser.

“Baik,” katanya.

Dia tidak mengejar. Dia tidak pernah mengejar. Itu yang membuat percakapan dengannya melelahkan dengan cara yang berbeda dari melelahkan biasa.


Kamis, jam istirahat kedua, aku ke perpustakaan untuk mengembalikan dua buku.

Perpustakaan sekolah ini bentuknya panjang, dengan enam rak tinggi yang berjajar tegak lurus dari pintu. Kalau kamu berdiri di rak keempat, kamu tidak kelihatan dari pintu masuk, dan kamu bisa mendengar semua yang dibicarakan orang di dekat meja baca.

Aku sedang mencari nomor rak untuk buku kedua waktu pintu terbuka.

“—serius, gue nggak lama kok. Lima menit.”

Bagas.

“Kak, aku ada tugas—“

Dan Kirana.

Aku berhenti bergerak.

Ada dua pilihan yang tersedia untukku dalam dua detik berikutnya. Yang pertama adalah keluar dari balik rak dan lewat, dan itu keputusan yang benar.

Aku tidak melakukannya.

“Gue mau nanya sesuatu,” kata Bagas. “Terus abis itu gue nggak bakal nanya lagi. Janji.”

“Oke.”

“Yang orang-orang bilang itu bener?”

“Yang mana?”

“Lo sama Dewa.”

Jeda.

“Iya.”

“Serius?”

“Serius.”

“Oh.”

Ada suara kursi digeser. Bagas duduk. Aku bisa mendengar tasnya diletakkan di lantai.

“Gue mau bilang duluan sebenernya,” katanya. “Dari bulan lalu. Cuma gue nunggu terus, nunggu momen yang bener, terus keburu.”

“Kak—“

“Nggak, gue nggak minta apa-apa. Gue cuma—“ Dia berhenti. “Gue cuma pengen lo tau. Biar gue nggak mikirin lagi.”

“Maaf ya, Kak.”

“Ya jangan minta maaf. Aneh banget lo minta maaf.”

Kirana ketawa. Pendek, canggung.

“Dewa orangnya gimana sih?” tanya Bagas. “Gue satu sekolah tiga tahun sama dia dan gue nggak tau apa-apa.”

Dan Kirana bilang, “Kak Dewa itu orang yang paling capek di sekolah ini.”

Aku berdiri di balik rak keempat dengan buku di tangan.

“Capek gimana?”

“Nggak usah. Nanti aku ngomong kebanyakan.”

“Ya udah.” Kursi digeser lagi. Bagas berdiri. “Ya udah, Kir. Gue balik. Sori ya ngerepotin.”

“Nggak ngerepotin, Kak.”

“Eh, satu lagi.”

“Apa?”

“Kalau dia macem-macem, bilang gue. Gue temenan sama Naka, gue bisa—“

“KAK BAGAS.”

“Bercanda. Bercanda.” Dia ketawa. “Ya udah. Sori. Dah.”

Pintu perpustakaan terbuka dan tertutup.

Aku menunggu tiga puluh detik. Lalu aku keluar lewat pintu samping yang tembus ke koridor belakang, dan aku tidak lewat meja baca.


Aku duduk di tangga beton di belakang gudang sampai bel masuk.

Aku ingin menuliskan ini dengan tepat, karena kalau tidak tepat, kedengarannya seperti aku sedang mengasihani diri, dan aku tidak sedang mengasihani diri.

Aku menghitung.

Bagas Prayoga, kelas dua belas IPS satu. Point guard. Tinggi seratus tujuh puluh sembilan. Nilainya di atas rata-rata. Rumahnya di komplek yang sama dengan Kirana, dua blok, aku tahu karena dia naik sepeda dari arah itu tiap pagi.

Dia bertanya langsung. Dia bertanya sekali, dapat jawabannya, lalu berhenti, dan sebelum pergi dia bercanda supaya suasananya tidak berat.

Aku butuh dua bulan untuk berhenti bilang “bukan aku, kok” ke orang yang membawakan aku bekal tiap pagi.

Dia tidak menyembunyikan apa pun. Kalau dia suka seseorang, dia bilang. Kalau dia ditolak, dia bilang terima kasih dan pulang. Seluruh hidupnya bisa dibaca dari luar dan tidak ada satu bagian pun yang perlu digali.

Kirana lima belas tahun.

Aku menghitung ulang, dan hasilnya tetap sama seperti hitungan pertama, dan hitungannya bukan hitungan yang menyenangkan.

Kalau aku menyusun daftar orang yang seharusnya berjalan di sebelah anak itu selama tiga tahun ke depan, aku ada di urutan bawah.

Itu bukan perasaan. Itu data.


Jumat sore, ruang OSIS.

Anindya sedang menyalin rekap anggaran dan aku sedang memasang engsel lemari arsip yang sudah longgar dua minggu.

Wulan masuk sambil membawa gulungan kertas mading dan langsung menjatuhkannya ke meja.

“Selesai. Aku nggak mau ngomong sama mading lagi seumur hidup.”

“Terima kasih, Wulan.”

“Nin, serius, tata letak bulan ini gila. Untung arsipnya udah dipisah. Kalau nggak, aku masih nyari poster paskibra sampai sekarang.” Dia menoleh ke aku. “Lo kan yang misahin?”

“Bukan aku, kok.”

Wulan menatapku selama tiga detik penuh.

“Sadewa.”

“Iya.”

“Di ruangan ini ada tiga orang. Aku nggak misahin. Nindya nggak misahin.” Dia mengangkat dua jari. “Matematikanya gampang banget.”

“Mungkin petugas kebersihan.”

“PETUGAS KEBERSIHAN NGGAK TAU BEDA POSTER PASKIBRA SAMA PENGUMUMAN BEASISWA.”

“Bisa aja.”

Wulan membuka mulut, menutupnya, lalu berbalik ke Anindya.

“Nin. Aku nyerah. Dia punya kamu sekarang.”

Dan dia keluar.

Anindya tidak berkomentar apa pun. Dia cuma menulis satu baris di bukunya, dan aku tidak bisa melihat apa yang dia tulis dari posisiku.

“Sadewa.”

“Iya.”

“Boleh saya bertanya sesuatu yang bukan urusan OSIS?”

“Boleh.”

“Kenapa kamu menggeser artikel itu?”

Aku memutar obeng dua kali sebelum menjawab.

“Karena kalau terbit, orang bakal nyari orangnya.”

“Iya.”

“Dan kalau mereka nyari, mereka nemu.”

“Iya.”

“Terus semuanya berubah.”

Anindya berhenti menulis.

“Berubah untuk siapa?”

Aku diam.

“Kamu bilang ‘semuanya berubah’,” katanya. “Saya cuma mau tahu, dalam kalimat itu, yang dirugikan siapa.”

“Banyak.”

“Sebutkan satu.”

Aku memasang sekrup terakhir.

“Naka.”

“Bagaimana caranya Nakula Adiwangsa dirugikan oleh artikel tentang keran bocor?”

Aku tidak menjawab.

Anindya menutup bukunya. Dia tidak marah. Suaranya sama sekali tidak berubah, dan itu justru yang membuat kalimat berikutnya susah didengar.

“Dua tahun ini saya perhatikan satu hal,” katanya. “Setiap kali kamu tidak mau melakukan sesuatu, kamu selalu punya orang lain sebagai alasannya. Tim basket. Pak Yudho. Anak kelas sepuluh yang lari ke kantin. Sekarang Nakula.”

“Itu alasannya beneran.”

“Saya tahu. Itu bagian yang bikin susah dibantah.” Dia berdiri dan merapikan kursinya masuk ke bawah meja. “Tapi kamu tidak pernah sekali pun bilang ‘saya tidak mau’.”

Dia mengambil mapnya.

“Suatu hari kamu akan kehabisan orang untuk dijadikan alasan, Sadewa. Saya penasaran kamu akan bilang apa waktu itu.”