← Bukan Aku, Kok

Chapter Two

Cahaya dan Sisanya

POV: Sadewa


Jam pertama hari Senin adalah Matematika, dan Bu Ratna selalu mulai dengan absen meskipun kelas ini cuma tiga puluh enam orang dan dia sudah hafal semuanya.

“Sadewa.”

“Hadir.”

Itu satu-satunya kata yang keluar dari mulutku sampai jam sembilan.

Aku duduk di pojok belakang dekat jendela. Dari sini kelihatan koridor timur, lapangan, dan sebagian gudang olahraga. Kalau ada yang bertanya kenapa aku suka tempat ini, jawabannya karena tidak ada yang duduk di belakangku. Tapi tidak ada yang bertanya, jadi tidak apa-apa.

Di papan tulis, Bu Ratna menulis soal integral dengan spidol yang baru kutukar tadi pagi. Tulisannya tebal dan jelas. Dia tidak menyebutkan apa-apa soal spidolnya, dan itu memang tujuannya.

Aku mengerjakan lima soal pertama, lalu berhenti di soal keenam selama dua menit sebelum melanjutkan. Bukan karena tidak bisa. Kalau aku selesai duluan terus-menerus, orang akan mulai menoleh ke belakang.

Nilai rapotku semester lalu 84. Cukup untuk aman, terlalu rendah untuk dibicarakan. Angka itu tidak terjadi begitu saja.

Delapan puluh empat itu hasil hitungan. Di bawah delapan puluh, wali kelas memanggil orang tua. Di atas sembilan puluh, namanya masuk papan peringkat di depan ruang guru dan dibacakan waktu upacara. Delapan puluh empat ada di tengah, dan di tengah itu tidak ada yang menoleh.

Di luar jendela, anak-anak kelas dua belas IPS keluar untuk pelajaran olahraga. Aku bisa menemukan Naka tanpa mencari. Dia yang paling depan, jalan mundur sambil ngomong ke temannya, tangannya bergerak-gerak menjelaskan sesuatu, dan enam orang di belakangnya ketawa sekaligus.

Dua belas tahun aku kenal orang itu.

Waktu kelas satu SD, dia yang duduk di sebelahku dan menawarkan setengah penghapusnya karena punyaku ketinggalan. Dia tidak menawarkan, sebenarnya. Dia langsung memotongnya jadi dua pakai penggaris dan menaruh separuhnya di mejaku sebelum aku sempat bilang apa-apa.

Naka memang begitu. Dia tidak pernah bertanya dulu. Dia kasih dulu.

Kelas empat, dia bawa dua bekal selama sebulan penuh karena ibuku masuk rumah sakit dan dia tahu di rumahku sedang tidak ada yang masak. Dia tidak pernah menyebut alasannya sekali pun. Tiap istirahat cuma ditaruh di mejaku, sudah dibuka tutupnya, seolah itu memang porsinya yang kebanyakan.

Aku ingat semuanya. Itu masalahnya.

Bu Ratna memanggil satu nama untuk maju ke depan. Bukan namaku. Aku menunduk ke buku.


Istirahat pertama, koridor timur macet.

Aku tidak ke kantin. Aku ke ruang sarana dan prasarana di lantai satu, karena hari Senin Pak Yudho ada di sana sampai jam sepuluh, dan setelah jam sepuluh dia keliling dan tidak bisa ditemui sampai besok.

“Surat yang kemarin gimana, Pak?”

“Udah saya teken.” Pak Yudho tidak melihat ke arahku. Dia sedang menyusun kunci-kunci di papan gantung. “Aula bisa dipakai Selasa Kamis, jam empat sampai enam. Tapi bilangin ke anak-anak, kalau ninggalin sampah lagi kayak bulan lalu, saya cabut.”

“Iya, Pak.”

“Kamu yang tanggung jawab, ya.”

“Iya, Pak.”

Dia berhenti menyusun kunci dan menoleh sebentar. “Kamu anak kelas berapa, sih?”

“Dua belas, Pak.”

“Oh.” Dia balik lagi ke papan kunci. “Ya udah.”

Pak Yudho sudah tiga kali menanyakan itu dalam setahun. Aku tidak keberatan. Orang yang tidak ingat kamu tidak akan menyebut namamu ke orang lain.

Aku ambil surat tembusannya, lipat dua, masukkan ke buku. Lalu aku jalan ke ruang OSIS dan menaruh lipatan itu di kotak surat masuk tim basket, di antara dua map lain, sedikit di bawah supaya tidak jadi yang pertama kelihatan.

Selesai. Empat menit.

Aku keluar lewat pintu belakang ruang OSIS supaya tidak lewat koridor tengah, karena koridor tengah jam segini isinya seratus orang dan seratus orang berarti seratus kemungkinan seseorang berhenti dan bertanya sesuatu.

Di tangga darurat, ada anak kelas sepuluh berdiri di pegangan tangga sambil makan roti.

Kirana melihatku dan langsung mengangkat tangan. Bukan lambaian kecil. Lambaian penuh, dua kali, seperti orang memberi tanda ke kapal.

Aku menunduk sedikit dan jalan terus.

“Kak Dewa keliatan buru-buru!” katanya dari atas.

Aku tidak menjawab. Empat langkah kemudian aku dengar dia bilang, ke dirinya sendiri, tidak terlalu pelan, “Ya udah nggak apa-apa.”

Aku hampir berhasil.


Yang terjadi kemudian bukan salah siapa-siapa. Aku mau memperjelas itu dulu.

Aku baru sampai belokan dekat tangga waktu terdengar suara ribut dari arah kantin. Bukan ribut berkelahi. Ribut senang, jenis yang bunyinya seperti sepuluh orang ngomong sekaligus tanpa ada yang mendengarkan.

“NAKAAA!”

Aku berhenti di belokan. Dari sini aku bisa lihat tanpa masuk.

Anak-anak tim basket mengerubungi satu meja. Danang berdiri di atas kursi, entah kenapa. Yang lain menepuk-nepuk bahu Naka dari empat arah sekaligus.

“Aula, coy! Selasa Kamis!”

“Serius?”

“Beneran, gue baru lihat suratnya di ruang OSIS!”

“Kapten emang beda. Gue udah bilang kan, kalau Naka yang minta, pasti dikasih.”

Naka mengangkat tangannya. “Bentar—“

“Pak Yudho itu susah banget, tau. Bulan lalu gue yang minta, ditolak mentah-mentah.”

“Ya jelas beda lah, lo siapa, dia siapa.”

Ketawa lagi. Danang turun dari kursi, hampir jatuh, ditangkap dua orang sekaligus.

“Nanti sore latihan?”

“Aula belum bisa sore ini, Selasa katanya.”

“Ya udah lapangan aja. Kapten, ya? Jam empat?”

Naka mengangguk ke arah yang salah karena tiga orang bertanya sekaligus.

Naka bilang sesuatu. Aku tidak dengar isinya karena suaranya kalah, tapi aku bisa lihat bentuk mulutnya, dan bentuknya seperti bukan gue. Dia mengulanginya sekali lagi, lebih keras.

Tidak ada yang berhenti.

Ini bukan karena mereka tidak menghormatinya. Justru sebaliknya. Kalau lima belas orang sudah sepakat kamu yang melakukan sesuatu, bantahanmu cuma akan dianggap rendah hati, dan rendah hati bikin mereka makin senang.

Aku sudah pernah lihat ini ratusan kali. Sistemnya bekerja persis seperti seharusnya.

Aku mau balik badan waktu Danang menoleh dan melihatku.

“Eh, Dewa!”

Sial.

Dia jalan ke arahku. Dua orang ikut. Sekarang tiga orang berdiri di depanku di belokan tangga dan koridor terasa lebih sempit dari lima detik yang lalu.

“Lo tadi ke ruang sarana, kan? Gue lihat lo keluar dari situ.”

“Lewat aja.”

“Lo yang bantuin Naka ngurus suratnya, ya?”

Ada dua cara menjawab pertanyaan seperti itu.

Yang pertama adalah bilang iya, dan sepuluh detik kemudian mereka akan bilang terima kasih, dan besok mereka akan bilang halo di koridor, dan minggu depan ada yang minta tolong lagi, dan bulan depan ada yang bilang ke orang lain tanya Dewa aja, dia bisa, dan setelah itu selesai sudah. Enam tahun, hilang karena satu kata.

Yang kedua lebih pendek.

“Bukan aku, kok.”

Danang mengangguk. “Ya udah. Kirain.”

Dia sudah balik badan sebelum aku selesai menarik napas. Tiga detik dan urusannya beres. Mereka kembali ke meja, dan salah satu dari mereka sudah mulai ngomongin hal lain sebelum sampai di kursinya.

Ini yang selalu berhasil, dan aku sudah lama berhenti heran. Kebohongan seperti itu tidak pernah dipertanyakan. Orang gampang sekali percaya kalau kamu bilang bukan kamu. Tidak ada yang curiga sama orang yang menolak pujian, karena tidak ada untungnya berbohong ke arah situ.

Kalimat itu sudah kupakai bertahun-tahun. Aku tidak pernah menghitungnya. Tidak ada gunanya menghitung sesuatu yang selalu berhasil.

Aku sudah mau naik tangga.

Lalu aku sadar kantin sudah lebih sepi suaranya.

Aku menoleh.

Naka berdiri di antara meja dan pintu kantin, tidak bergerak, dan dia melihat ke arahku.

Bukan ke arah Danang. Ke arahku, dan aku tahu persis sejak kapan, karena dia pasti sudah melihat sejak Danang memanggil namaku. Dia pasti dengar juga.

Jaraknya mungkin dua belas meter. Ada empat lima orang di antara kami. Dia tidak memanggil, tidak melambai, tidak melakukan apa pun yang biasanya dia lakukan.

Rahangnya mengeras. Aku lihat otot di sisi wajahnya bergerak sekali.

Itu saja. Tidak ada yang lain. Orang di sekitarnya tidak melihat apa-apa karena tidak ada apa-apa untuk dilihat — cuma anak paling populer di sekolah yang berdiri diam sebentar di kantin, mungkin sedang mikir, mungkin sedang capek.

Aku yang tahu artinya.

Dua belas tahun bikin kamu hafal hal-hal seperti itu, dan aku sudah lama memutuskan untuk tidak menggunakan hafalan itu.

Aku naik tangga.

Di belakangku, Danang teriak sesuatu, dan kantin bunyi lagi seperti tadi. Naka pasti sudah menjawab. Dia selalu menjawab.

Sampai di lantai dua aku berhenti sebentar di depan jendela koridor untuk mengatur napas, dan itu bodoh, karena tangganya cuma dua belas anak dan aku tidak capek sama sekali.


Jam terakhir, hujan mulai turun.

Aku duduk di pojok belakang dekat jendela dan mengerjakan soal terakhir dengan kecepatan yang sudah kuatur. Di luar, lapangan basah dan lapangan basah artinya besok pagi ada genangan di depan gerbang samping, dan genangan di depan gerbang samping artinya aku harus datang lima menit lebih awal untuk membuka saluran yang tersumbat daun.

Danang duduk di kursi yang kubetulkan pagi tadi, dua baris di depanku, dan sepanjang jam terakhir dia menyandarkan badan ke belakang berkali-kali sampai kursinya menekan lantai. Kursi itu menahan semuanya.

Dia tidak menoleh sekali pun.

Ponselku bergetar di saku. Satu kali. Bukan telepon, cuma pesan.

Aku baca di bawah meja.

Naka: Dew.

Aku menunggu kalimat kedua. Titik-titik pengetikan muncul, hilang, muncul lagi, hilang.

Sampai bel pulang, kalimat keduanya tidak pernah datang.