Chapter Thirteen
Yang Kira Bawa
POV: Kirana
Aku tidak ke sekolah hari Senin.
Bukan bolos. Aku beneran demam, tiga puluh tujuh delapan, dan Ibu menyuruhku tidur. Aku curiga demamnya karena kehujanan hari Minggu di gang, tapi aku tidak akan menyebutkan itu ke siapa pun karena bisa jadi bahan olok-olokan sampai lulus.
Selasa aku masuk.
Aku tidak mencari dia.
Aku juga tidak ke koridor barat sebelum bel, tidak ke belakang gudang waktu istirahat, dan tidak lewat depan ruang OSIS sepulang sekolah walaupun itu jalan yang paling cepat ke gerbang.
Nadin bertanya aku kenapa. Aku bilang tidak apa-apa. Dia bilang mukaku jelek. Aku bilang mukaku memang begini.
Rabu sama.
Rabu itu yang paling susah, karena aku melihatnya dari jendela lantai dua. Dia di belakang gedung, di tangga beton itu, sendirian, dengan roti dan air mineral.
Nadin melihat ke arah yang sama.
“Lo nggak turun?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Lagi males.”
Nadin nggak percaya, tapi dia nggak ngomong apa-apa, dan aku berterima kasih untuk itu selama sisa hari.
Kamis sama.
Aku sudah memutuskan sesuatu hari Minggu malam, di meja belajar, sambil membuka buku catatanku dari halaman pertama.
Aku sudah menulis empat belas halaman tentang orang itu.
Dan tidak ada satu baris pun di halaman mana pun yang berbunyi dia butuh aku.
Yang ada cuma: dia membetulkan keran, dia mengunci gudang, dia menyerahkan payung, dia menjawab “jangan” tanpa berpikir.
Kalau seorang wartawan membaca empat belas halaman itu, kesimpulannya jelas.
Aku menulis satu baris di halaman terakhir hari Minggu malam:
Berhenti dulu.
Aku bertahan empat hari. Empat hari itu rekor pribadiku dan aku ingin ada yang mengakuinya.
Jumat sore, Ibu masak rendang.
Rendang Ibu itu bukan makanan. Itu peristiwa. Dia masak dari jam dua siang dan dapur bau sampai ke lantai atas dan aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
Jam lima Ibu memanggilku ke dapur.
“Kir, bantu bungkusin.”
Ada empat kotak plastik di meja.
“Buat siapa, Bu?”
“Satu buat Bu Sari. Satu buat tante kamu.”
“Yang dua?”
Ibu tidak menjawab langsung. Dia menutup kotak ketiga dan mendorongnya ke arahku.
“Ibu masak kebanyakan.”
“Bu.”
“Ibu masak kebanyakan,” ulangnya. “Nggak enak kalau kebuang.”
Aku menatap dua kotak itu.
“Kak Naka bilang apa ke Ibu?”
“Nggak ada.”
“Bu.”
“Nggak ada.” Ibu mengelap tangannya. “Ibu cuma inget anak itu nggak suka teh manis.”
Aku diam.
Ibu belum pernah menyebut nama Kak Dewa di rumah ini selama tiga tahun. Aku tahu, karena aku memperhatikan hal-hal seperti itu.
Dan barusan dia menyebutnya tanpa nama, dan tetap saja aku tahu persis siapa yang dia maksud, dan Ibu tahu bahwa aku tahu.
“Jam segini bus masih ada,” kata Ibu. “Ibu antar sampai halte.”
Aku sampai di gang jam setengah tujuh dan hari sudah gelap.
Rumah nomor dua puluh tiga lampunya nyala, cuma yang ruang tengah, dan dari luar pagar hijau itu kelihatan seperti rumah yang ada isinya satu titik saja.
Aku memencet bel.
Kali ini pintunya kebuka lebih cepat.
Dia berdiri di situ dengan kaus, celana pendek, rambut agak berantakan, dan tanpa kacamata.
Aku tidak siap untuk itu.
Aku sudah pernah membayangkan bagaimana wajahnya tanpa kacamata. Aku sudah punya bayangannya sejak kelas satu SMP.
Bayanganku salah. Bayanganku jauh lebih tidak berbahaya daripada aslinya.
“Kirana.”
“Ha—“ Suaraku keluar aneh. Aku memperbaikinya. “Halo.”
Dia langsung mundur, dan aku pikir dia mau menutup pintu, tapi ternyata dia mengambil kacamatanya dari meja dekat pintu dan memakainya.
Rambutnya masih naik ke atas. Dia menariknya turun dengan tangan, dua kali, sampai poninya kembali ke posisi biasa.
Empat detik. Aku menghitung. Empat detik untuk memasang seluruh perlengkapannya.
“Kenapa kamu ke sini?”
Aku mengangkat kantong plastiknya.
“Ibuku masak kebanyakan.”
Ruang tamunya sama seperti Minggu lalu. Rapi. Terlalu.
Tapi ada satu hal yang berbeda dan aku langsung menyadarinya.
Ada dua gelas di meja. Satu berisi air setengah, satu kosong dan terbalik.
Kosong dan terbalik. Sudah disiapkan.
Aku tidak bertanya soal itu.
Tapi aku menghitung mundur di kepalaku. Kamis Minggu lalu aku datang dan gelasnya satu. Sekarang dua.
Antara Minggu dan Jumat, seseorang di rumah ini mengeluarkan gelas kedua dan menaruhnya di meja.
Aku duduk. Aku membuka kotaknya, dan bau rendang Ibu memenuhi ruangan kecil itu dalam tiga detik.
“Kak, ambil nasi.”
“Kirana—“
“Nasinya ada, kan?”
“Ada.”
“Ya udah.”
Dia berdiri, ke dapur, dan aku dengar suara rice cooker dibuka.
Dia kembali membawa satu piring.
“Satu?”
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Dia berdiri di situ sebentar. Lalu balik ke dapur.
Aku dengar bunyi pintu rak. Bunyi piring. Cukup lama.
Waktu dia keluar, dia membawa piring kedua, dan piring itu warnanya beda. Motif bunga, agak pudar, jenis piring yang tidak dibeli sekarang.
Dia menaruhnya di depanku tanpa berkata apa-apa.
Aku tidak menanyakan apa pun.
Ini yang aku putuskan di bus tadi, dan aku memegangnya, walaupun sulit.
Aku tidak bertanya kapan bapaknya pulang. Aku tidak bertanya kenapa dia tinggal sendiri. Aku tidak bertanya soal ibunya, soal piring bermotif bunga itu, soal kamar yang pintunya tertutup di ujung ruangan.
Aku cuma makan, dan cerita.
Aku cerita tentang Nadin yang salah masuk kelas dua hari lalu dan baru sadar setelah lima belas menit. Aku cerita tentang Kak Rasti yang menolak drafku untuk keempat kali. Aku cerita tentang guru Biologi yang bilang “oke” empat puluh dua kali dalam satu jam pelajaran karena aku menghitungnya.
Dia mendengarkan. Dia makan. Kadang dia bilang “hm”.
Sekitar dua puluh menit, dia bilang, “Enak.”
“Ibuku yang masak.”
“Bilang makasih.”
“Nanti aku bilang.”
Aku menusuk nasiku dengan sendok.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak tahu nggak, Kak Naka nyuruh aku jauhin Kakak.”
Dia berhenti mengunyah.
Lalu dia melanjutkan, dan menelan, dan meletakkan sendoknya.
“Dia benar.”
“Kok Kakak setuju?”
“Karena dia benar.”
“Kenapa?”
Dan dia bilang sesuatu yang membuat aku mengerti kenapa Kak Naka melarang, dan sekaligus membuat aku tahu bahwa aku tidak akan menurut.
“Orang yang deket sama aku biasanya lagi mau ke tempat lain.”
Aku meletakkan sendokku.
“Kak.”
“Aku nggak lagi ngeluh.”
“Aku tahu Kakak nggak ngeluh, itu masalahnya.”
Dia tidak menjawab itu.
“Kak Naka juga bilang,” aku melanjutkan, “kalau Kakak itu — dia bilang, ‘yang paling terang di sini’ itu Kakak.”
Ada perubahan di wajahnya.
Bukan besar. Rahangnya bergerak sekali, seperti orang menelan sesuatu yang bukan makanan.
“Bukan aku, kok.”
Datar. Sama seperti biasanya.
Tapi ini kali pertama aku mendengarnya dari jarak satu meter, di ruangan yang sepi, tanpa keramaian koridor yang menutupi.
Dan dari jarak satu meter, kalimat itu terdengar berbeda.
Orang yang benar-benar merasa “bukan dia” akan mengucapkannya dengan heran. Dengan nada bertanya. Dengan “hah?” di depannya.
Dia mengucapkannya seperti orang membaca ulang kalimat yang sudah dihafal.
Aku tidak bilang apa-apa soal itu.
Aku cuma menyimpannya, seperti biasa, dan aku tahu malam ini aku akan menulisnya.
Aku pulang jam delapan.
Sebelum berdiri, aku melakukan satu hal yang aku sesali sekaligus tidak sesali sama sekali.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku rela, lho, jadi istri Kakak nanti.”
Sendoknya jatuh.
Sendoknya benar-benar jatuh, dari tangannya, kena pinggir piring, lalu ke meja kayu, bunyinya keras sekali di ruangan sekecil itu.
Aku langsung berdiri.
“AKU BERCANDA.”
“Kirana—“
“AKU PULANG.”
“Belnya bus jam—“
“AKU TAHU JAMNYA.”
Aku menyambar tasku dan hampir menabrak meja, dan aku sudah di teras dalam tiga detik, dan mukaku panas sampai ke telinga.
Dia mengantar sampai pagar seperti biasa.
Kami berdiri di situ, dia di dalam, aku di luar, dan tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
“Kotaknya nanti aku balikin,” katanya.
“Iya.”
“Hati-hati.”
“Iya.”
Aku jalan.
Lima langkah, sepuluh, lima belas.
Aku menoleh, karena aku selalu menoleh, itu kebiasaan burukku yang lain.
Dia belum masuk.
Dia berdiri di ambang pintu rumahnya, dan pintunya terbuka, dan sedikit lebih lebar daripada Minggu kemarin.
Bukan setengah badan. Bukan sekadar cukup untuk berdiri.
Terbuka.
Dan lampu ruang tengahnya keluar sampai ke halaman, jatuh ke jemuran yang jaraknya sama semua, sampai hampir ke pagar hijau tempat aku tadi berdiri.
Aku jalan ke halte dan sepanjang jalan aku bilang ke diriku sendiri bahwa itu tidak berarti apa-apa.
Aku tidak percaya.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa reading
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan