Chapter Twenty One
Poni
POV: Sadewa
Minggu ketiga bulan November, sekolah mengadakan foto angkatan.
Aku tahu jadwalnya dari dua bulan sebelumnya karena aku yang menyalin kalender kegiatan ke papan ruang OSIS, dan aku sudah menyiapkan rencananya sejak saat itu.
Rencananya sederhana: hari itu aku izin.
Alasannya sudah ada. Try out mandiri di bimbel, hari Sabtu, dan aku memang terdaftar. Bu Ratna menandatanganinya tanpa bertanya, karena Bu Ratna tidak pernah bertanya apa-apa padaku, karena aku tidak pernah memberi alasan untuk bertanya.
Foto angkatan itu dicetak besar dan dipasang di lorong ruang guru. Ada di sana selama bertahun-tahun. Adik kelas lewat dan melihatnya. Alumni datang dan mencari mukanya.
Aku sudah tidak ada di foto angkatan sejak kelas satu SMA.
Kelas sepuluh aku sakit. Itu betulan sakit, kebetulan.
Kelas sebelas aku izin. Itu bukan kebetulan.
Kirana tahu hari Kamis.
“Kak, Sabtu foto angkatan, ya?”
“Iya.”
“Aku boleh lihat?”
“Aku nggak ikut.”
Dia berhenti mengunyah.
“Kenapa?”
“Ada try out.”
“Try out bisa hari lain.”
“Nggak bisa. Jadwalnya udah.”
Itu bohong. Bimbel itu punya empat sesi try out sebulan dan aku bisa pindah ke minggu depan lewat satu pesan.
Dia menatapku beberapa detik, lalu mengangguk, lalu melanjutkan makan.
Dia tidak mengejar.
Itu yang bikin aku tidak nyaman selama dua hari berikutnya. Kalau dia mengejar, aku punya alasan cadangan, tiga lapis, sudah kusiapkan. Dia tidak memakai satu pun dari ketiganya, dan tiga alasan yang tidak terpakai itu menumpuk di kepalaku dan tidak ke mana-mana.
Sabtu sore dia tetap datang ke rumah, seperti biasa, jam sepuluh.
Kami mengerjakan hal-hal biasa. Dia mengeluh soal Fisika. Aku memperbaiki engsel jendela dapur yang mulai turun.
Jam satu, ponselku bergetar. Grup angkatan.
Ada yang mengirim foto hasil pemotretan pagi tadi. Tiga ratus dua puluh empat orang berdiri di tribun lapangan dengan seragam putih abu-abu, tersusun rapi dalam sembilan baris.
Aku memperbesar bagian tengah.
Naka di baris ketiga, tepat di tengah, karena dia ketua kelas dan kapten dan orang selalu menaruh dia di tengah tanpa diminta. Dia merangkul dua orang sekaligus.
Di sebelah kanannya ada satu celah selebar satu orang.
Itu kebetulan. Barisan foto memang begitu, selalu ada celah.
Aku menutup ponselku.
Jam dua, dia duduk di sofa dan bilang, “Kak, sini.”
“Kenapa.”
“Duduk aja.”
Aku duduk. Dia duduk menghadap ke aku, satu kaki dilipat di atas sofa, dan aku sudah tahu ada sesuatu karena dia diam terlalu lama sebelum bicara.
“Kak.”
“Hm.”
“Boleh aku lihat mata Kakak?”
Aku tidak menjawab.
“Sebentar aja. Aku nggak akan bilang siapa-siapa. Kita di rumah Kakak, nggak ada orang.”
“Buat apa.”
“Karena aku pacar Kakak dan aku nggak pernah lihat muka pacar aku.”
Itu kalimat yang tidak bisa dibantah dengan cara yang wajar.
“Kirana.”
“Sebentar aja.”
Dan dia mengangkat tangannya.
Dia bergerak pelan. Aku ingin mencatat itu. Dia bergerak sepelan orang yang mendekati binatang, dan dia bahkan memberi aba-aba — dia bilang “aku angkat, ya” — dan tangannya masih sepuluh sentimeter dari wajahku waktu semuanya terjadi.
Aku menepis tangannya.
Aku tidak memutuskan untuk melakukannya.
Itu bukan kalimat pembelaan. Itu deskripsi. Antara tangannya bergerak dan tanganku bergerak tidak ada apa pun yang bisa disebut keputusan.
Bunyinya keras. Punggung tanganku kena pergelangan tangannya, dan tangannya terlempar ke samping, dan dia menariknya ke dada.
Ruangan itu sepi.
Kirana duduk di sofa dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri.
Dia tidak menangis. Dia tidak berteriak. Dia cuma duduk di situ dan menatapku dengan mata yang terbuka lebih lebar dari biasanya.
“Kirana.”
“Iya.”
“Sakit?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Dikit.”
Aku berdiri.
Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Berdiri tidak menyelesaikan apa pun.
“Aku ambilin es.”
“Nggak usah, Kak.”
“Sebentar.”
“KAK.”
Aku berhenti di tengah ruangan.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk. Di kursi kayu, bukan di sofa.
Dia mengatur napas dua kali.
“Kak, aku mau ngomong sesuatu dan aku mau Kakak dengerin sampai selesai.”
“Oke.”
“Aku nggak marah.”
“Kamu boleh marah.”
“Aku tau aku boleh. Aku emang nggak.” Dia menurunkan tangannya ke pangkuan. “Aku kaget. Itu beda.”
Aku tidak menjawab.
“Aku minta maaf,” katanya.
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Karena aku nggak nanya dulu dengan bener. Aku bilang ‘boleh’, tapi aku udah ngangkat tangan sebelum Kakak jawab.” Dia menggeleng. “Itu bukan nanya. Itu ngasih tau.”
“Kirana, aku yang mukul tangan kamu.”
“Iya. Dan itu salah Kakak.” Dia bilang itu tanpa ragu sama sekali, dan aku bersyukur untuk itu dengan cara yang aneh. “Dua-duanya bisa salah, Kak. Nggak harus salah satu.”
Aku memandang lantai.
“Kak.”
“Hm.”
“Boleh aku nanya satu hal?”
“Boleh.”
“Kapan terakhir kali Kakak difoto?”
Pertanyaan itu datang dari arah yang tidak kuduga, dan aku menjawabnya sebelum sempat memeriksa jawabannya.
“Kelas satu SMA.”
“Foto angkatan?”
“Kartu pelajar.”
Dia diam.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak ganteng, lho.”
Aku menoleh.
“Aku serius,” katanya. “Aku udah lihat mukanya. Waktu itu, pas aku ke sini malem-malem bawa rendang, Kakak buka pintu tanpa kacamata. Aku lihat. Dan aku mikirin itu selama tiga hari.”
Aku membuka mulut.
Dan yang keluar adalah kalimat yang sudah enam tahun keluar setiap kali ada yang mengarahkan sesuatu ke arahku, dan kalimat itu keluar dengan nada yang sama persis seperti waktu Danang bertanya soal surat izin aula, dan seperti waktu Anindya bilang terima kasih, dan seperti dua ratus kali sebelumnya.
“Bukan aku, kok.”
Ruangan itu sepi lagi.
Aku mendengar kalimatku sendiri sekitar setengah detik setelah mengucapkannya.
Kirana tidak bergerak.
“Kak.”
“Aku salah ngomong.”
“Aku tau.” Dia menegakkan badan. “Aku cuma mau tau Kakak ngerti nggak apa yang barusan Kakak bilang.”
“Aku ngerti.”
“Barusan aku bilang Kakak ganteng.”
“Iya.”
“Dan Kakak jawab ‘bukan aku’.”
“Iya.”
“Kak, itu bukan soal surat izin aula. Itu muka Kakak sendiri.”
Aku tidak punya apa pun untuk dikatakan.
Dia berdiri dan duduk di lantai, di depan kursi kayu, menghadap ke aku, sehingga sekarang dia yang lebih rendah dan harus mendongak.
“Aku nggak akan buka poni Kakak,” katanya. “Sekarang, minggu depan, bulan depan. Nggak akan. Sampai Kakak yang nyuruh.”
“Kirana—“
“Belum selesai.”
Aku diam.
“Tapi aku mau nanya satu hal, dan Kakak nggak usah jawab sekarang. Kakak boleh jawab bulan depan. Kakak boleh nggak jawab sama sekali.”
Dia menarik napas.
“Kakak nyembunyiin muka,” katanya, “atau nyembunyiin siapa?”
Aku mengantarnya ke pagar jam empat, seperti biasa.
Kami tidak membicarakan itu lagi sepanjang dua jam terakhir. Dia bercerita tentang Nadin. Aku membetulkan tali ranselnya yang lepas dari lubang.
Di pagar, dia berbalik dan mengangkat pergelangan tangan kirinya.
“Nggak merah, tuh. Lihat.”
“Aku lihat.”
“Berarti Kakak nggak boleh mikirin ini malem ini.”
“Oke.”
“Kakak bohong.”
“Iya.”
Dia ketawa, dan jalan ke arah gang, dan sekali menoleh di ujung seperti biasa.
Aku masuk, menutup pintu, dan berdiri di ruang tamu.
Rumah itu sepi seperti biasa.
Aku jalan ke kamar mandi dan menyalakan lampunya.
Cermin di atas wastafel itu retak di pojok kanan bawah sejak tahun lalu. Aku tidak menggantinya karena tidak ada alasan untuk mengganti cermin yang masih bisa dipakai.
Aku berdiri di depannya.
Lalu aku mengangkat tangan, dan menyibakkan poni ke belakang, dan melihat.
Sebelas detik. Aku menghitung.
Lalu aku menurunkannya lagi, dan mematikan lampu, dan keluar.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni reading
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan