← Bukan Aku, Kok

Chapter Eleven

Rumah yang Terlalu Rapi

POV: Kirana


Aku mau memperjelas dulu bahwa ini bukan menguntit.

Aku membawa bukunya. Buku itu ketinggalan di bangku depan mading hari Jumat, dan aku menemukannya, dan mengembalikan barang orang itu perbuatan baik.

Kenyataan bahwa aku menemukannya hari Jumat dan baru mengantar hari Minggu, dan bahwa hari Sabtu aku bertemu dia di sekolah tapi bukunya sengaja aku tinggal di rumah, itu — oke. Oke. Itu memang agak menguntit.

Tapi cuma sedikit.


Yang lebih memalukan sebenarnya prosesnya.

Aku naik bus jurusan timur jam delapan pagi, turun di halte kedua sesudah persimpangan, dan berjalan ke gang yang dia masuki hari Kamis itu.

Gangnya panjang. Rumahnya banyak. Aku berdiri di mulut gang selama lima menit sambil menyadari bahwa rencanaku sampai di sini dan tidak lebih.

Akhirnya aku masuk ke warung di ujung gang dan beli teh kotak yang tidak aku butuhkan.

“Bu, mau nanya.”

“Apa, Neng?”

“Di sini ada anak SMA nggak ya? Cowok, tinggi, pakai kacamata.”

Ibu warungnya langsung mengangguk. Langsung. Tidak berpikir sedetik pun.

“Oh, Mas Dewa.”

Aku hampir menjatuhkan teh kotakku.

“I-iya. Dewa.”

“Lurus aja, Neng, terus belok kanan di pos ronda, rumah nomor dua puluh tiga. Yang pagernya ijo.”

“Makasih, Bu.”

“Neng temennya?”

“Adik kelas.”

“Oh.” Ibunya menyusun rokok di etalase. “Kasihan itu anak. Sendirian dari SMA kelas satu.”

Aku berhenti di tengah membuka sedotan.

“...Sendirian?”

“Bapaknya kerja jauh. Ibunya udah nggak ada.” Ibu itu bicara dengan nada biasa, seperti orang menyebutkan alamat. “Rajin, anaknya. Tiap Minggu nyuci, jemur. Ke sini kadang beli telur.”

“Ibu tahu semua itu?”

“Ya tahu lah. Tetangga.”

Aku bilang terima kasih sekali lagi dan keluar dari warung itu, dan aku ingat berdiri di gang cukup lama sambil memegang teh kotak yang tidak aku minum.

Seorang ibu penjual di warung tahu ini.

Tidak ada satu orang pun di SMA Negeri 4 Anjasmara yang tahu ini.


Rumah nomor dua puluh tiga. Pagarnya hijau, catnya masih bagus.

Halamannya kecil, dan ada jemuran dengan baju yang digantung dengan jarak yang sama persis antara satu hanger dan hanger berikutnya. Aku menghitungnya. Sama semua.

Aku berdiri di depan pagar selama dua menit sebelum memencet bel.

Belnya bunyi aneh, cuma setengah, seperti bel yang kehabisan tenaga.

Tidak ada yang keluar.

Aku pencet lagi dua kali, cepat, karena aku panik dan kalau panik tanganku bergerak sendiri.

Pintunya terbuka.

Kak Dewa berdiri di situ dengan tas di bahu, sudah pakai sepatu, seperti orang yang mau keluar. Rambutnya masih menutupi mata. Kacamatanya sudah dipakai.

Dia melihatku.

Dia tidak bilang apa-apa selama, entah, empat detik.

“Kirana.”

“Hai.”

“Kenapa kamu—“

“Bukunya ketinggalan.” Aku mengangkat bukunya dengan dua tangan seperti orang menyerahkan piala. “Di bangku depan mading. Hari Jumat.”

Dia melihat bukunya. Lalu melihatku lagi.

“Kamu tahu rumahku.”

“Iya.”

“Dari mana?”

“Bu warung.”

“Bu warung.”

“Aku nanya.”

Dia berdiri di ambang pintu dan aku bisa melihat dia sedang menghitung sesuatu lagi, dan aku sudah cukup lama memperhatikan dia sampai bisa membedakan mana yang menghitung marah dan mana yang menghitung bingung.

Ini yang kedua. Untungnya.

“Aku mau ke perpustakaan,” katanya.

“Oh.”

“Kamu naik apa ke sini?”

“Bus.”

“Sendirian?”

“Ya masa sama Kak Naka.”

Dia diam.

Lalu dia bilang, “Masuk dulu. Panas.”


Ruang tamunya kecil.

Ada sofa dua dudukan, meja kayu, satu lemari pendek berisi entah apa. Lantainya keramik putih dan bersih sekali, bukan bersih yang baru dipel, tapi bersih yang tidak ada yang menginjaknya.

Aku duduk di sofa.

“Minum air putih, ya.”

“Nggak usah, Kak.”

Dia sudah ke dapur.

Aku duduk sendiri di ruang tamu itu, dan sejujurnya aku sudah membayangkan momen ini beberapa kali sejak dua minggu lalu, dan bayanganku isinya kaget, malu, atau senang.

Bukan ini.

Yang aku rasakan adalah sesuatu yang aku tidak punya namanya, dan penyebabnya hal-hal kecil.

Sandal di teras cuma satu pasang.

Di rak dinding ada foto keluarga — laki-laki, perempuan, dan anak kecil pakai baju olahraga. Fotonya bersih tanpa debu sama sekali, dan itu artinya seseorang membersihkannya secara rutin, dan tidak ada orang lain di rumah ini yang bisa melakukannya.

Ada satu remot TV di meja, diletakkan lurus sejajar dengan sisi meja.

Ruangan ini bukan berantakan dan bukan kotor. Ruangan ini seperti ruang tunggu.

Kak Dewa keluar membawa satu gelas air.

Satu.

Dia menaruhnya di depanku, lalu duduk di kursi kayu di seberang, bukan di sofa.

“Kakak nggak minum?”

“Aku sudah tadi.”

Aku memegang gelas itu dan tidak meminumnya.

Dari sofa ini, dapurnya kelihatan separuh. Ada rak piring kecil di sebelah wastafel.

Aku menghitung, karena aku selalu menghitung, itu kebiasaan burukku yang paling buruk.

Satu piring. Satu mangkuk. Satu gelas terbalik. Satu sendok, satu garpu, di gelas plastik kecil.

Semuanya satu.

Bukan sepasang, bukan setumpuk yang tinggal sisa. Satu, seolah memang sejak awal jumlahnya segitu.

“Kirana.”

“Ya?”

“Kenapa kamu diem?”

“Nggak.” Aku minum airnya. Airnya dingin. Dia pasti mengambilnya dari kulkas, artinya dia menyiapkannya, artinya — aku berhenti berpikir ke arah itu. “Kak, rumah Kakak rapi banget.”

“Iya.”

“Kayak nggak ada yang tinggal.”

Aku mengucapkannya begitu saja. Aku tidak bermaksud. Kalimat itu keluar sebelum aku sempat memeriksanya, seperti biasa, dan begitu keluar aku langsung ingin menariknya kembali.

Dia tidak marah. Dia cuma bilang, “Aku sendiri di sini.”

Datar. Sama seperti dia bilang “nutup gudang” waktu itu.

“Bapak Kakak—“

“Kerja di luar kota.”

“Ibu Kakak?”

Jeda satu setengah detik.

“Nggak ada.”

Aku memegang gelas itu dengan dua tangan.

Aku sudah tahu. Ibu warung sudah bilang tiga puluh menit lalu. Aku sudah punya waktu tiga puluh menit untuk menyiapkan diri, dan ternyata tiga puluh menit itu tidak berguna sama sekali, karena mendengarnya dari dia sendiri dengan nada seperti itu adalah hal yang berbeda.

“Kak.”

“Hm.”

“Rumah Kakak sepi banget.”

“Iya.”

“Mau aku tinggal di sini aja?”

“Jangan.”

Cepat sekali.

Bukan dua detik. Bukan satu. Kalimatku belum selesai bergema di ruangan kecil itu dan jawabannya sudah datang, rata, tanpa jeda sedikit pun.

Aku menaruh gelasnya di meja.

“Aku bercanda, Kak.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa jawabnya kayak gitu?”

Dia tidak menjawab.

Dan itu — entahlah. Kalau dia ketawa, aku senang. Kalau dia bilang “jangan” sambil bercanda, aku senang. Kalau dia diam tujuh detik seperti waktu itu, aku juga akan senang, karena tujuh detik artinya dia memikirkannya.

Nol detik artinya dia tidak perlu memikirkannya.

Aku berdiri.

“Aku pulang, Kak.”

“Kirana—“

“Bukunya udah aku kasih. Itu aja kok tujuannya.” Aku mengambil tasku. “Kakak jadi ke perpustakaan, kan? Nanti keburu siang.”


Dia mengantar sampai pagar.

Aku sudah di luar, dia masih di dalam, dan pagar hijau itu di antara kami seperti ada gunanya.

“Tasmu berat?”

“Nggak.”

“Kelihatannya berat.”

“Isinya dua buku, Kak.”

“Oh.”

Kalau ini hari lain, aku akan bilang berat banget, tolongin dong, dan aku akan berjalan di sebelahnya sampai halte sambil mengeluh tentang beratnya dua buku, dan dia akan membawakannya sambil bilang “ringan” dengan muka datar.

Aku sudah merencanakan itu, sebenarnya. Sejak di bus.

Aku tidak melakukannya.

“Aku duluan ya, Kak.”

“Halte yang di sana. Yang deket pos ronda jangan, itu jurusannya beda.”

“Iya.”

Aku jalan lima langkah.

Lalu aku berhenti, dan aku tidak tahu kenapa aku berhenti, dan aku berbalik.

Dia masih berdiri di balik pagar. Belum masuk.

“Kak.”

“Ya?”

Aku sudah mau menanyakan yang lain. Sesuatu yang ringan, sesuatu yang bisa mengembalikan hari ini ke bentuk semula.

Yang keluar bukan itu.

“Bapak Kakak kapan pulang?”

Aku melihat mukanya.

Dia tidak kaget. Dia tidak menunduk. Dia tidak melakukan satu pun hal yang dilakukan orang waktu ditanya sesuatu yang menyakitkan.

Dia cuma berdiri di balik pagar hijau itu, dan angin bergerak sedikit di jemuran di belakangnya, dan jaraknya cuma enam meter jadi aku bisa lihat semuanya dengan jelas.

Dia tidak menjawab.

Bukan diam yang berpikir. Bukan diam tujuh detik.

Dia membuka mulutnya sedikit, lalu menutupnya lagi.

Lalu dia bilang, “Hati-hati di jalan.”

Dan dia masuk, dan pintunya tertutup, dan aku berdiri di gang itu sendirian dengan teh kotak yang masih penuh di tanganku.