← Bukan Aku, Kok

Chapter Forty One

Lapangan

POV: Kirana


Dia mengisi formulirnya hari Senin, tanggal dua puluh tiga, dan dia mengisinya di ruang guru di depan Pak Herman.

Aku tidak ada di sana. Kak Anindya yang cerita.

Dia menulis namanya, lalu meletakkan pulpennya, lalu bertanya satu hal sebelum menyerahkan kertasnya.

“Pak, daftar pemain per pertandingan berapa?”

“Dua belas.”

“Roster-nya?”

“Lima belas.”

“Sekarang berapa?”

“Tiga belas.”

Dan Kak Dewa mengangguk sekali dan menyerahkan formulirnya.

Kak Anindya bilang seluruh percakapan itu memakan waktu lima puluh detik, dan bahwa Pak Herman tidak bicara apa-apa lagi setelah menerima kertasnya, dan bahwa beliau menunggu sampai Kak Dewa keluar ruangan sebelum melepas kacamatanya dan menggosok matanya dengan ibu jari.


Semifinal tanggal dua puluh delapan.

Kami menang lawan SMA Tirta Kencana sembilan angka.

Kak Dewa tidak main.

Dia duduk di bangku cadangan selama empat puluh menit, dengan jersey nomor sembilan, dengan kacamata masih dipakai, dengan poni masih di tempatnya. Dia tidak masuk sedetik pun.

Aku duduk di pinggir lapangan, di kursi plastik dekat bangku pemain, seperti yang dia minta.

Aku tidak tahu apa gunanya aku di situ. Dia tidak melihat ke arahku sekali pun sepanjang pertandingan.

Waktu peluit panjang, dia berdiri dan mulai mengumpulkan botol minum.

Danang merebutnya dari tangannya. “Lo pemain, anjir.”

“Aku nggak main.”

“Lo. Pemain.”

Dan Danang membawa semua botolnya sendiri sambil menggerutu, dan Kak Dewa berdiri di pinggir lapangan tidak tahu harus mengerjakan apa, dan itu pemandangan paling aneh yang pernah aku lihat.


Final tanggal satu Maret. Minggu. Jam empat sore.

Lawannya SMA Bhakti Wiyata lagi.

Aku sampai jam dua. Aula sudah penuh sepertiga.

Jam tiga sudah penuh setengah, dan aku mulai menyadari bahwa yang datang bukan cuma anak kelas dua belas.

Ada anak kelas sepuluh. Banyak. Lebih banyak dari yang wajar untuk final basket.

Aku lewat mading jam tiga lewat waktu mengantar kamera ke Nadin.

Kertasnya sudah dipasang ulang. Bukan empat puluh tiga. Aku menghitung enam puluh delapan.

Ada kertas baru di paling atas kolom kanan, ditulis dengan spidol besar oleh entah siapa:

JAM 4. AULA. NOMOR 9.


Aku ke depan ruang ganti jam setengah empat.

Pintunya terbuka setengah dan aku bisa mendengar dari luar.

“Dew.”

Suara Bagas.

“Ini punya lo.”

“Aku udah pegang jersey.”

“Bukan itu. Ini yang lengan panjang, buat di bawah. Aula dingin di kuarter satu.” Ada suara plastik. “Gue punya dua.”

“Bagas—“

“Ambil aja.”

Hening.

“Makasih.”

“Dew.”

“Hm.”

“Gue mau ngomong sekali doang terus abis itu kita nggak usah bahas.”

“Oke.”

“Gue nggak ngalah sama lo,” kata Bagas. “Soal Kirana. Gue nggak ngalah.”

“Aku tau.”

“Lo emang duluan. Delapan tahun duluan.” Ada suara tas ditutup. “Gue baru tau bulan Desember dan gue butuh dua bulan buat nerima, dan sekarang gue udah nerima, jadi gue nggak mau ada yang mikir gue ngalah.”

“Oke.”

“Dan satu lagi.”

“Hm.”

“Yang di mading itu semua lo, kan?”

Dan aku, berdiri di luar pintu, mendengar Kak Dewa mengucapkannya.

“Bukan aku, kok.”


Bagas ketawa.

Bukan ketawa sopan. Ketawa keras, satu kali, jenis ketawa orang yang baru dengar lelucon yang sudah basi.

“Nggak mempan lagi, Dew.”

“Aku serius.”

“Enam puluh delapan kertas.”

“Sebagian bukan aku.”

“Sebagian doang.” Bagas ketawa lagi. “Dew, lo tau nggak, minggu lalu ada anak kelas sepuluh nempel kertas soal kipas angin, terus dua hari kemudian ada yang nempel kertas di bawahnya bilang ‘itu Pak Yudho, bukan dia’.”

Hening.

“Anak-anak sekolah ini udah mulai ngoreksi satu sama lain soal mana yang lo kerjain dan mana yang bukan,” kata Bagas. “Lo kalah, Dew. Lo kalah telak.”

Dan aku berdiri di luar pintu ruang ganti dengan tangan menutup mulut supaya tidak ada yang mendengar aku menangis.


Kuarter satu, dia tidak main.

Kuarter dua, tidak.

Kuarter tiga, tidak.

Kami tertinggal enam angka di akhir kuarter tiga, dan aula sudah berisik dengan cara yang tidak enak — bukan berisik menyemangati, berisik gelisah.

Dan lalu, dua menit masuk kuarter empat, Danang melakukan pelanggaran kelima.

Peluit. Wasit menunjuk. Danang berdiri di tengah lapangan dengan tangan di kepala.

Aku menoleh ke bangku.

Pak Herman sudah berdiri.

Dia tidak menoleh ke bangku cadangan. Dia tidak mencari-cari. Dia mengangkat satu tangan dan menyebut satu kata, dan aku mendengarnya dari kursi plastik di pinggir lapangan, jelas sekali.

“Sembilan.”


Kak Dewa berdiri.

Dia melepas jaket. Dia menyerahkannya ke anak yang duduk di sebelahnya.

Lalu dia melepas kacamatanya.

Aku sudah memikirkan momen ini sejak Sabtu kemarin. Aku sudah membayangkannya dua puluh kali.

Dalam bayanganku ada musik. Dalam bayanganku aula diam dan semua orang menoleh sekaligus.

Yang terjadi tidak seperti itu sama sekali.

Yang terjadi adalah: dia menyerahkan kacamatanya ke Pak Herman, dan Pak Herman memasukkannya ke saku kemejanya dengan hati-hati sekali, dan menepuk saku itu dua kali seperti orang memastikan.

Dan Kak Dewa mengangkat tangannya dan menyisir poninya ke belakang dengan lima jari, satu gerakan, cepat, seperti orang yang sudah melakukannya ribuan kali dulu.

Dia jalan ke meja panitia untuk lapor.

Dan aula itu — perlahan, baris demi baris, dari bawah ke atas — berhenti berisik.


Aku duduk di kursi plastik dan aku melihat tiga ratus orang menoleh ke satu tempat.

Anak kelas sepuluh di baris depan berdiri. Lalu barisan di belakangnya. Ada yang menunjuk. Ada yang bertanya ke sebelahnya dan tidak dijawab karena yang ditanya juga sedang melihat.

Dan aku mendengar sesuatu yang membuatku harus menunduk.

Suara laki-laki dari tribun sisi utara. Bukan teriakan. Dia cuma bicara agak keras, ke arah temannya, dengan nada orang yang baru menemukan jawaban dari soal yang sudah lama dia kerjakan.

“NAH! GUE BILANG APA! SEMBILAN!”

Dan tiga baris di sekitarnya langsung ribut sekaligus.


Dia masuk dengan sisa waktu delapan menit dua puluh detik.

Aku tidak akan mencoba menceritakan pertandingannya seperti orang yang mengerti basket, karena aku tidak mengerti basket.

Aku akan menceritakan yang aku lihat.

Dia tidak mencetak angka selama dua menit pertama. Dia tidak memegang bola lama. Setiap kali bola sampai ke tangannya, dia mengoper dalam waktu kurang dari dua detik.

Tapi orang-orang mulai berdiri di tempat yang salah.

Maksudku, lawan. Nomor-nomor Bhakti Wiyata mulai berdiri di tempat yang salah, dan aku tahu itu bukan karena aku mengerti, tapi karena Pak Herman berkata “iya, iya, iya” di pinggir lapangan tiga kali berturut-turut sambil memukul papan.

Menit ketiga, Bagas mencetak tiga angka dari sudut, dan waktu dia lari balik dia menunjuk ke belakang tanpa menoleh.

Menit kelima, selisihnya tinggal dua.

Menit keenam, Kak Dewa memasukkan bola pertamanya.

Aula itu meledak dengan cara yang belum pernah aku dengar seumur hidupku.


Aku mau mencatat satu hal.

Waktu bolanya masuk, dia tidak melakukan apa-apa.

Dia tidak mengangkat tangan. Dia tidak berteriak. Dia tidak menoleh ke tribun.

Dia lari balik ke posisi bertahan dan itu saja.

Dan Kak Naka — Kak Naka yang berdiri delapan meter dari situ — Kak Naka menutup mukanya dengan dua tangan selama dua detik penuh di tengah pertandingan final, dan wasit hampir meniup peluit karena mengira dia cedera.


Sisa waktu delapan detik.

Skor lima puluh sembilan lawan enam puluh. Kami tertinggal satu.

Time out terakhir sudah habis. Bola dari lemparan ke dalam di sisi kanan.

Aku berdiri dari kursi plastikku. Semua orang di aula itu berdiri.

Bagas melempar ke dalam. Bolanya sampai ke Kak Dewa di garis tiga angka sisi kanan.

Nomor delapan Bhakti Wiyata datang menjaga dan terlambat setengah langkah, dan aku tahu itu terlambat karena Pak Herman berteriak sesuatu yang tidak bisa aku dengar.

Kak Dewa menggiring dua kali ke dalam.

Tujuh detik. Enam.

Dan aku melihat kepalanya bergerak ke kiri.

Aku sudah delapan bulan mempelajari orang itu. Aku tahu persis apa artinya kalau kepalanya bergerak begitu.

Dia sedang menghitung.

Lima detik.

Di sudut kiri, delapan meter dari situ, Kak Naka berdiri sendirian.

Tidak ada yang menjaganya. Tidak ada satu pun pemain Bhakti Wiyata dalam radius tiga meter dari kakakku, karena mereka semua sudah bergerak ke kanan, ke arah nomor sembilan.

Empat detik.

Kak Naka mengangkat tangannya.

Dan aku berdiri di pinggir lapangan itu, di kursi plastik dekat bangku, di tempat yang dia minta sendiri hari Sabtu kemarin.

Tiga detik.

Aku melihat wajahnya dari samping, tanpa kacamata, tanpa poni, di bawah lampu aula yang menyala penuh.

Dan aku melihat matanya bergerak ke sudut kiri.