Chapter Twenty Nine
Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
POV: Kirana
Hari Sabtu itu Kak Dewa tidak bisa ditemui.
Dia mengirim pesan jam tujuh pagi: Hari ini aku ada urusan. Maaf.
Aku membalas oke kak dan tidak bertanya urusan apa, karena aku sedang dalam periode tidak bertanya, dan periode itu sudah berjalan enam minggu dan aku bangga sekali pada diriku sendiri.
Jadi aku di rumah.
Jam sepuluh Kak Naka turun, masih pakai celana tidur, dan membuka kulkas.
“Kir.”
“Hm.”
“Lo nggak ke sana?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan aku, tanpa berpikir, tanpa niat apa-apa, bertanya:
“Kak Dewa udah makan?”
Kak Naka menutup pintu kulkas.
“Hah?”
“Nggak.” Aku menggeleng. “Nggak apa-apa. Kebiasaan.”
Dia berdiri di depan kulkas dengan botol air di tangan dan tidak bergerak selama beberapa detik.
Lalu dia bilang, “Belum, kayaknya.”
“Kakak nggak tau.”
“Gue tau.”
“Gimana caranya Kakak tau?”
“Karena hari ini tanggal delapan belas Januari,” katanya.
Dan dia jalan ke ruang tengah dan menyalakan TV.
Aku duduk di sebelahnya empat puluh menit sambil menonton acara masak yang jelas-jelas tidak dia tonton, karena remot di tangannya dan volumenya di angka empat.
Ibu lewat dua kali. Yang kedua, dia berhenti di belakang sofa dan menaruh tangannya di kepala Kak Naka selama beberapa detik, lalu jalan lagi ke dapur tanpa berkata apa-apa.
Kak Naka tidak bergerak sama sekali waktu itu terjadi.
“Kak.”
“Hm.”
“Tanggal delapan belas Januari itu apa?”
“Bukan apa-apa.”
“Kak.”
“Kir, udah.”
Aku menarik napas.
“Kak, aku nggak nanya soal SMP.”
Remot di tangannya berhenti bergerak.
“Aku nggak nanya soal itu,” ulangku. “Aku udah janji sama diriku sendiri buat nggak nanya. Aku cuma nanya tanggal delapan belas Januari itu apa.”
Kak Naka mematikan TV.
Ruangan jadi sepi sekali. Ibu di belakang, di dapur, dan bunyi wajan kedengaran sampai sini.
“Delapan belas Januari,” katanya, “itu ulang tahun ibunya.”
Aku tidak bicara selama beberapa saat.
“Kak Dewa ngapain hari ini?”
“Ke makam.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Tiap tahun?”
“Iya.”
“Kakak pernah ikut?”
Kak Naka menaruh remotnya di meja.
“Dua kali,” katanya. “Tahun pertama sama tahun kedua.”
“Terus tahun ketiga?”
“Gue ada latihan.”
“Tahun keempat?”
“Try out.”
“Tahun ini?”
Dia tidak menjawab yang itu.
Dia bilang itu dengan nada orang yang sedang membaca alasan dari kertas, dan dia bahkan tidak berusaha membuatnya terdengar meyakinkan, dan aku pikir dia sudah lama berhenti berusaha.
“Kak.”
“Latihannya bisa gue tinggal, Kir.” Dia menggosok mukanya dengan satu tangan. “Gue tau. Lo nggak usah ngomong.”
Aku menunggu.
Ini teknik yang aku pelajari dari orang yang paling irit bicara sedunia: kalau kamu diam cukup lama, orang akan mengisi diamnya sendiri.
Kak Naka bertahan sembilan menit.
“Kir.”
“Iya.”
“Lo tau nggak, gue kenal Dewa dari kelas satu SD.”
“Tau.”
“Lo tau gimana kami bisa temenan?”
“Nggak.”
Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan melihat ke langit-langit.
“Gue nangis di hari pertama sekolah,” katanya. “Kelas satu. Gue nangis karena gue nggak nemu ibu gue di gerbang.”
Aku menoleh.
“Semua anak ngeliatin. Ada yang ketawa.” Dia masih melihat ke langit-langit. “Terus ada anak yang duduk di sebelah gue, nggak ngomong apa-apa, motong penghapusnya jadi dua pakai penggaris, terus naruh setengahnya di meja gue.”
“Kenapa penghapus?”
“Nggak tau. Sampai sekarang gue nggak tau.” Kak Naka ketawa satu kali, pendek. “Gue tanya dia sepuluh tahun kemudian. Dia bilang ‘kamu keliatan butuh sesuatu’.”
Aku memeluk bantal sofa.
“Gue berhenti nangis,” katanya. “Bukan karena penghapusnya. Karena tiba-tiba ada yang harus gue jagain, dan orang yang lagi jagain sesuatu nggak bisa nangis.”
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak sayang banget sama Kak Dewa, ya.”
Dan kakakku — kakakku yang tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter, kapten basket, yang tiap hari dielu-elukan tiga ratus orang di sekolah — menutup matanya dengan satu tangan dan tidak bicara selama sepuluh detik penuh.
“Iya,” katanya akhirnya.
“Terus kenapa Kakak jarang ke rumahnya?”
“Kir.”
“Aku nggak nyerang, Kak. Aku beneran nanya.”
Dia menurunkan tangannya.
“Karena tiap kali gue ke sana, gue pulang, dan pas gue pulang dia bilang makasih.”
“Makasih?”
“‘Makasih udah dateng.’” Kak Naka menirukan nadanya, dan tirumannya terlalu tepat, dan itu membuat perutku dingin. “Ke gue. Sahabat dia sendiri. Kayak gue tamu.”
“Kak—“
“Lo tau nggak rasanya gimana?” Dia menoleh ke aku untuk pertama kalinya sejak mulai bicara. “Datang ke rumah sahabat lo dan dia berterima kasih karena lo datang?”
Aku menggeleng.
“Rasanya kayak ditagih,” katanya. “Dan yang paling parah, dia nggak lagi nagih. Dia beneran cuma berterima kasih. Dia beneran mikir gue baik.”
“Kakak emang baik.”
“Nggak, Kir.”
“Kak—“
“Gue bayarin studi tour dia tujuh ratus lima puluh ribu bulan November,” katanya. “Lo tau gue ngerasa apa waktu transfer?”
“Apa?”
“Lega.” Dia ketawa sekali, dan ketawanya jelek. “Gue lega. Kayak gue baru nyicil sesuatu.”
“Nyicil apa?”
“Itu dia. Gue nggak boleh bilang.”
Ibu memanggil dari dapur menanyakan apakah kami mau makan siang.
Kak Naka menjawab nanti. Aku tidak menjawab.
“Kir.”
“Iya.”
“Gue mau cerita satu hal ke lo. Satu aja.”
Aku duduk lebih tegak.
“Terus abis itu jangan nanya lagi. Serius.”
“Oke.”
Dia menarik napas.
“Waktu SMP kelas tiga, gue bohong ke bapak.”
Aku menunggu.
“Bapak kerja di Surabaya waktu itu, inget kan? Setahun penuh, pulang cuma Lebaran.”
“Inget.”
“Tiap dia telepon, dia nanya gue main apa nggak.” Kak Naka melihat ke lantai. “Gue bilang main. Gue cerita gue nyetak berapa, gue cerita pertandingannya gimana, gue cerita detail banget.”
“Terus?”
“Gue nggak main, Kir.”
Aku menaruh bantalku.
“Gue cadangan,” katanya. “Setahun penuh. Gue masuk di menit-menit terakhir kalau udah aman, itu doang.”
“Kak—“
“Dan tiap Minggu gue ngarang.” Suaranya makin pelan. “Gue ngarang angka. Gue ngarang momen. Gue ngarang lawan. Gue hafal semua bohongan gue, Kir, sampai sekarang gue masih inget urutannya.”
Aku tidak tahu harus bicara apa.
Kak Naka duduk membungkuk dengan siku di lutut.
“Terus di final, dua puluh satu Februari, bapak dateng.”
“Bapak dateng?”
“Pertama kali. Setahun.” Dia mengangguk pelan. “Gue nggak tau dia bakal dateng. Gue liat dia di tribun pas pemanasan dan gue hampir muntah.”
“Kak...”
“Dan sebelum pertandingan, bapak turun ke pinggir lapangan.” Dia berhenti. “Dia salaman sama Dewa.”
Aku memegang lenganku sendiri.
“Dia bilang apa?”
Kak Naka membuka mulut.
Dan lalu dia menutupnya.
Aku menunggu. Sepuluh detik. Dua puluh.
“Kak.”
“Nggak.”
“Kak Naka—“
“Gue nggak bisa.” Dia menggeleng, cepat, dua kali. “Gue nggak bisa, Kir. Sori.”
“Kakak baru aja cerita sejauh ini—“
“Iya, dan itu bagian gue.” Dia berdiri. “Yang gue ceritain barusan itu bohong gue. Itu punya gue, gue boleh kasih ke siapa aja.”
Dia berdiri di tengah ruang tengah, dan dia tidak melihat ke aku.
“Yang selanjutnya bukan punya gue.”
“Kak—“
“Sisanya bukan hak gue, Kir.”
Dia jalan ke tangga.
Aku duduk di sofa dengan TV mati dan bunyi wajan dari dapur.
Di anak tangga ketiga, dia berhenti.
“Kir.”
“Iya.”
“Kalau lo mau tau sisanya,” katanya, “tanya dia.”
“Kak Dewa nggak bakal cerita.”
“Iya. Gue tau.” Dia memegang pegangan tangga. “Tapi kalau ada satu orang di dunia ini yang bisa bikin dia cerita, itu bukan gue.”
Dia naik dua anak tangga lagi.
“Gue udah nyoba tiga tahun,” katanya, dari atas, tanpa menoleh. “Lo baru tiga bulan dan dia udah ngeluarin piring keduanya.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan reading
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan