Chapter One
Enam Belas Menit Sebelum Bel
POV: Sadewa
Gerbang SMA Negeri 4 Anjasmara dibuka jam enam. Aku selalu masuk jam 06.15. Pak Timin, satpam yang jaga Senin sampai Rabu, sudah lama berhenti menyapaku. Aku tidak keberatan.
Koridor barat masih sepi. Lampunya baru menyala separuh, yang berarti aku bisa dengar hal-hal yang tidak akan terdengar lagi setelah jam tujuh. Kipas ruang guru. Burung di atap gudang olahraga.
Dan pagi ini, satu suara lagi dari ujung koridor: air menetes.
Wastafel ketiga dari ujung.
Aku jongkok, buka pintu kecil di bawahnya, nyalakan senter ponsel. Sambungan pipanya longgar. Bukan pecah, cuma longgar. Kerusakan seperti ini biasanya didiamkan tiga minggu karena belum cukup parah untuk dilaporkan.
Masalahnya bukan airnya. Masalahnya lantai di depan wastafel ini akan licin jam sepuluh nanti, dan jam sepuluh anak kelas sepuluh lari lewat sini ke kantin. Tahun lalu ada yang jatuh di titik yang sama. Aku yang antar ke UKS.
Kunci inggris ada di tasku. Sudah tiga bulan.
Tiga perempat putaran ke kanan. Aku tunggu sepuluh detik. Masih ada satu tetes tertinggal di bibir pipa, lalu berhenti.
Aku lap lantainya, masukkan lapnya ke plastik, plastiknya ke tas. Kubuka keran atasnya sebentar buat memastikan sambungannya tidak rembes waktu dipakai. Kering.
Empat belas menit.
Berikutnya kelas 12 IPS-2. Kursi baris ketiga, meja keempat, kaki belakang kanan. Retak sejak Kamis. Yang duduk di situ Danang, dan Danang tipe orang yang lebih milih jatuh daripada lapor ke Bu Ratna soal kursi.
Aku balik kursinya, pasang klem kecil di kaki yang retak, kencangkan. Kubalik lagi, kududuki dengan seluruh berat badan. Tidak goyang.
Spidol di meja guru tinggal satu dan tintanya sudah putus-putus. Ada kotak spidol cadangan di lemari belakang, kunci lemarinya di laci kedua, dan yang tahu itu cuma Bu Ratna dan aku karena tahun lalu aku pernah disuruh mengambilkan. Kutukar spidolnya. Yang habis kubuang ke tempat sampah di luar kelas, bukan yang di dalam, supaya tidak ada yang lihat kapan ditukarnya.
Barisan mejanya miring dua sentimeter. Kuluruskan. Kalau dibiarkan, minggu depan jadi lima, dan Bu Ratna akan berdiri di depan kelas dengan wajah capek dan bilang kalian ini kenapa nggak bisa rapi sedikit. Tiga puluh enam orang merasa bersalah untuk sesuatu yang selesai dalam sebelas detik.
Papan piket di belakang pintu. Ada dua kesalahan minggu ini. Sabtu masih tertulis nama Rangga, padahal Rangga pindah sekolah bulan lalu. Jumat kosong. Kalau dibiarkan, Jumat pagi akan ada ribut-ribut lima menit soal siapa yang harusnya nyapu, dan ujungnya dikerjakan anak yang paling nggak enakan.
Kuhapus nama Rangga. Kupindah dua nama dari Sabtu ke Jumat. Kutulis ulang pakai spidol cadangan biar warnanya sama.
Terakhir, mading di depan ruang OSIS. Pengumuman lomba antarkelas masih menempel dengan tiga paku payung, dan yang keempat lepas sejak Selasa sehingga kertasnya menekuk ke depan. Kalau angin dari koridor kencang sedikit, jatuh. Aku pasang paku payung baru dari kotak di ruang OSIS, lalu kukembalikan kotaknya ke laci yang sama, di posisi yang sama.
Namaku tidak kutulis di kolom mana pun.
Itu bukan rendah hati. Kalau namaku ada di situ, orang akan tahu aku berdiri di depan papan ini pagi-pagi. Satu orang tahu, sisanya ikut. Lalu ada yang bilang terima kasih, ada yang merasa berutang, ada yang mulai menoleh.
Aku sudah pernah ditoleh. Aku tahu harganya.
Sebelas menit.
Dia berdiri di ujung koridor. Tas selempang kebesaran, tali sepatu kiri lepas satu lubang.
Kirana Adiwangsa. Kelas sepuluh. Adiknya Naka.
Ini kali keempat dalam dua minggu dia ada di koridor ini sepagi ini. Sekolah masuk jam tujuh. Bus dari perumahan mereka jam setengah tujuh. Artinya dia jalan kaki atau naik yang jam enam. Dua-duanya disengaja.
Aku tahu rumah mereka. Aku sudah ke rumah itu ratusan kali sejak SD, dan anak ini dulu yang paling berisik di antara semuanya. Sudah dua tahun terakhir aku tidak pernah ke sana lagi. Bukan karena ada apa-apa. Cuma tidak ada alasannya.
“Kak Dewa.”
Aku berhenti tiga langkah dari dia.
“Kak Dewa udah makan?”
Tidak ada basa-basi sebelumnya. Jam tujuh kurang sebelas, koridor kosong, dan itu pertanyaan pertamanya.
“Udah. Masuk kelas.”
Dia tidak bergerak. Kepalanya miring sedikit.
“Kakak bohong.”
Aku benerin letak kacamata. Kebiasaan buruk. Kalau aku melakukannya, artinya aku butuh setengah detik buat mikir.
“Aku nggak bohong.”
“Kakak jawabnya kecepetan.” Dia mengangkat satu jari. “Orang yang beneran udah makan itu mikir dulu sebentar. ‘Oh iya tadi makan apa ya.’ Kakak jawabnya kayak ngisi absen.”
“Aku makan roti.”
“Roti apa?”
“Roti.”
“Nah.” Dia menunjuk mukaku, lalu buru-buru menurunkan tangannya. “Maaf. Tapi nah.”
Aku tidak punya balasan.
Bukan karena dia benar. Tapi karena tidak ada orang di sekolah ini yang pernah memperhatikanku cukup lama sampai hafal cara aku menjawab. Naka bisa. Naka sudah dua belas tahun. Tapi Naka tidak menghitung.
Anak ini kelas sepuluh. Dua minggu.
“Aku duluan.”
“Kak.”
Aku berhenti. Kalau tidak, dia akan ngejar, dan suara langkah di koridor sepagi ini bikin Pak Timin nengok dari pos.
“Kenapa keran di wastafel itu udah nggak bocor?”
Aku menoleh.
Wastafel itu dua puluh langkah di belakangnya. Lampu di bagian itu masih mati. Untuk tahu tadinya bocor, dia harus sudah lewat sini sebelum aku datang. Untuk tahu sekarang tidak, dia harus baru saja mengeceknya.
“Mungkin udah dibenerin petugas.”
“Petugasnya dateng jam tujuh.”
“Berarti kemarin.”
“Kemarin masih netes. Aku lihat.” Dia geser tali tasnya ke bahu sebelah. “Aku lihat tiap pagi, Kak.”
“Kelas sepuluh masuk jam tujuh.”
“Iya.”
“Sekarang jam tujuh kurang sepuluh.”
“Iya.” Dia mengangguk, santai sekali, seperti aku baru menyebutkan cuaca. “Aku emang dateng pagi.”
“Buat apa?”
Dia membuka mulut. Menutupnya lagi. Lalu tersenyum, dan senyumnya kelihatan seperti pintu yang sengaja ditutup pelan-pelan di depan mukaku.
“Rahasia.”
“Oke.”
“Kakak nggak nanya lagi?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Kamu bilang rahasia.”
Dia menatapku beberapa detik, lalu ketawa sekali, pendek, kayak orang yang kaget sama jawabannya sendiri. “Kak Dewa aneh.”
“Iya.”
“Bukan aneh yang jelek.”
“Oke.”
Aku diam.
Enam tahun aku menyusun ini. Poni ini bukan gaya rambut. Kacamata ini memang minus, tapi aku bisa pakai lensa kontak sejak dua tahun lalu. Semua orang di sekolah ini melihat apa yang mereka harapkan: anak kelas dua belas yang duduk di pojok, jarang ngomong, nilainya biasa saja karena aku menjaga supaya biasa saja.
Sistemnya sederhana. Kalau tidak ada yang menoleh, tidak ada yang berutang. Kalau tidak ada yang berutang, tidak ada yang harus dibayar siapa pun.
Sekarang ada anak kelas sepuluh berdiri di koridor jam tujuh kurang sepuluh dan bilang dia lihat tiap pagi. Nadanya tidak menuduh sama sekali. Itu yang bikin susah. Kalau menuduh, aku bisa membantah.
“Kirana.”
Wajahnya berubah. Dia buru-buru menunduk.
“Kakak inget nama aku.”
“Kamu adiknya Naka.”
“Iya, tapi—“ Dia berhenti. Mengangkat kepala lagi. “Nggak apa-apa. Iya.”
Aku lewat di sebelahnya. Bahunya cuma sebatas lenganku. Waktu aku lewat dia mundur setengah langkah supaya aku muat, dan tetap mendongak ke arahku sampai aku sudah tiga meter jauhnya. Aku tahu karena bayangannya di lantai tidak berputar.
Dia tidak ngejar. Itu di luar perhitunganku, dan hal di luar perhitungan biasanya artinya aku melewatkan sesuatu. Tapi menitku habis.
Aku sampai di depan kelasku, 12 IPA-1, empat menit sebelum bel. Tempat dudukku di pojok belakang dekat jendela. Bukan pilihan; itu kursi sisa waktu pembagian tempat duduk awal semester, dan aku tidak menukarnya waktu ditawari.
Bel bunyi jam tujuh kurang satu. Dua puluh detik lebih cepat dari jam dinding koridor. Jam dinding itu mati bulan lalu dan tidak ada yang urus selain aku, dan aku sengaja menyetelnya lambat dua puluh detik supaya anak-anak yang lari punya sisa waktu.
Lalu sekolah bangun sekaligus.
Ratusan sepatu di lantai yang sekarang kering. Anak kelas dua belas numpuk di depan tangga. Anak kelas sepuluh lari lewat wastafel ketiga tanpa melihat wastafel ketiga. Danang masuk ke 12 IPS-2, tarik kursinya, duduk, langsung nengok ke temannya buat ngomongin pertandingan tadi malam. Dia tidak sadar kursi itu berhenti retak lima belas menit lalu. Kalau dia sadar pun, paling dia bilang syukurlah, terus lupa siang harinya. Itu tidak apa-apa. Memang begitu cara kerjanya.
Di papan piket, seseorang membaca nama-nama untuk hari Jumat dan tidak bertanya apa-apa. Tidak ada yang perlu ditanya. Papan itu benar sejak tadi pagi.
Aku berdiri di ambang pintu kelas, menunggu koridor agak lengang sebelum masuk. Kebiasaan lama. Masuk paling akhir berarti tidak ada yang sempat mengamati siapa yang masuk.
Di ujung koridor timur, orang-orang membuka jalan.
Naka datang.
Tinggi, bahu lebar, jaket tim tersampir di satu bahu. Tiap tiga langkah ada yang manggil namanya dan dia jawab semuanya. Anak kelas sepuluh nempel ke dinding buat kasih jalan. Dua anak perempuan di dekat mading berhenti ngomong di tengah kalimat.
Aku berdiri lima meter dari situ, dengan tas berisi kunci inggris dan lap basah dalam plastik. Tidak ada satu kepala pun yang nengok ke arahku. Ada yang menabrak bahuku, bilang maaf ke arah yang salah, lalu jalan terus.
Ini bukan keluhan. Ini hasil. Ini persis yang aku susun selama enam tahun, dan pagi seperti ini artinya susunannya masih berdiri.
Naka melihatku.
Dia selalu melihatku. Di tengah dua puluh orang yang manggil namanya, matanya nemu aku dalam dua detik. Tiap pagi, tanpa gagal. Dia angkat dagunya sedikit. Bukan lambaian, cuma tanda kecil yang tidak berarti apa-apa buat orang lain.
Lalu ada sesuatu di wajahnya yang tidak cocok dengan sorakan di sekitarnya. Lewat cepat, di antara satu langkah dan langkah berikutnya.
Aku sudah dua belas tahun bisa membacanya. Aku cuma memilih tidak.
Dia belok ke kelasnya. Koridor menutup di belakangnya.
Sepuluh detik kemudian ada yang teriak dari dalam kelas itu, lalu terdengar suara tawa lima enam orang sekaligus. Naka memang begitu. Dia bisa membuat satu ruangan bunyi cuma dengan masuk.
Aku jalan ke tangga.
Di anak tangga keempat dari bawah, di pojok kiri yang tidak dilewati siapa pun karena semua orang naik lewat kanan, Kirana Adiwangsa duduk sendirian dengan tas di pangkuan.
Dia tidak melihatku. Dia sedang membuka buku catatan kecil bersampul cokelat. Bukan buku pelajaran, terlalu tipis. Dia membalik beberapa halaman.
Halamannya sudah banyak yang terisi. Banyak sekali.
Anak-anak lewat di belakangnya sambil lari-lari, dan dia sama sekali tidak terganggu. Dia berhenti di halaman kosong, ambil pulpen, dan menulis satu baris di paling atas.
Dari jarak enam meter aku tidak bisa baca apa pun. Tapi bentuknya kelihatan. Pendek, ada dua garis miring di tengah.
Tanggal.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel reading
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan