Chapter Thirty Six
Pertandingan Terakhir
POV: Kirana
Artikelku terbit tanggal enam Februari.
Judulnya masih sama: Sebelum Jam Tujuh. Empat ratus dua puluh tiga kata. Tidak ada nama di dalamnya.
Kak Anindya menambahkan satu kalimat di bawah, di kolom redaksi, dengan huruf kecil:
Redaksi mengetahui identitas siswa dalam tulisan ini dan memilih tidak menyebutkannya atas pertimbangan sendiri.
Aku sempat protes. Aku bilang itu justru bikin orang penasaran.
“Iya,” kata Kak Anindya. “Itu tujuannya.”
Dua hari.
Butuh dua hari sampai sekolah itu berubah.
Hari pertama, tidak terjadi apa-apa. Mading dibaca beberapa orang, seperti biasa. Nadin bilang tulisanku bagus.
Hari kedua, aku lewat koridor barat jam tujuh kurang sepuluh dan ada empat anak kelas sepuluh berdiri di depan wastafel ketiga.
Mereka sedang melihat ke bawah wastafel.
“Ini yang di mading, kan?”
“Katanya.”
“Emang ada yang benerin?”
“Coba cek.”
Aku jalan terus. Aku tidak berhenti. Aku tidak menoleh.
Aku sampai kelas dan duduk dan menaruh kepalaku di meja selama lima menit.
Aku sudah menulis empat ratus dua puluh tiga kata tentang orang yang enam tahun sengaja tidak mau ditulis, dan sekarang empat anak kelas sepuluh sedang jongkok di depan wastafel mengecek pipanya.
Hari ketiga, ada yang menempel kertas di mading.
Kertas kecil, ditulis tangan, ditempel di bawah artikelku dengan selotip.
Kelas 11 IPS 2 juga. Jendela belakang macet 3 minggu, tiba2 bisa dibuka. Nggak ada yang lapor.
Hari keempat, ada tiga kertas.
Hari kelima, ada sebelas.
Kak Rasti menyebutnya “kolom pembaca” dan berpura-pura itu memang direncanakan. Kak Anindya membiarkannya.
Aku membaca sebelas kertas itu satu per satu waktu koridor sepi.
Ada yang soal lampu UKS. Ada yang soal jadwal piket. Ada satu yang cuma tulisan: jam koridor sengaja lambat 20 detik, gue selalu ngira gue beruntung.
Aku berdiri di depan mading itu dan aku menangis, dan aku tidak peduli ada yang lihat.
Kak Dewa tidak menyinggungnya sama sekali.
Empat hari. Nol kata.
Dia masih di koridor barat jam enam empat puluh. Dia masih makan bekalku. Dia masih memberitahuku jadwalnya tiap hari.
Hari keempat aku tidak tahan.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak udah baca mading?”
“Udah.”
“Terus?”
“Tulisan kamu bagus.”
“Kak.”
Dia menutup kotak bekalnya, memasang karetnya dua-duanya, dan menaruhnya di sebelahku.
“Kirana.”
“Iya.”
“Aku nggak marah.”
“Kakak boleh marah.”
“Aku tau aku boleh.” Dia berdiri. “Aku emang nggak.”
Dan dia jalan ke tangga, dan aku duduk di lantai koridor dan merasa jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak.
Tanggal sembilan Februari, satu hari sebelum turnamen, Bagas mencegatku di depan ruang jurnalistik.
“Kir.”
“Kak Bagas.”
“Bentar doang.”
Dia tidak seperti biasanya. Biasanya Bagas datang dengan dua teman dan ketawa duluan sebelum ada yang lucu. Hari itu dia sendirian dan tidak ketawa sama sekali.
“Gue mau nanya sekali lagi,” katanya. “Terus abis ini beneran nggak lagi.”
Aku memegang tali tasku.
“Kak—“
“Bukan yang itu.” Dia mengangkat tangan. “Astaga, bukan. Sori. Bukan itu.”
“Oh.”
“Gue mau nanya soal Dewa.”
Kami duduk di anak tangga dekat pintu samping.
“Gue baca artikel lo,” katanya. “Tiga kali.”
“Oh.”
“Yang wastafel itu bener?”
“Bener.”
“Yang jam koridor?”
“Bener.”
Dia menggosok tengkuknya.
“Gue satu sekolah tiga tahun sama dia, Kir.”
“Iya.”
“Tiga tahun.” Dia melihat ke lantai. “Dan gue nggak tau namanya sampai kelas dua belas. Gue tau dia sahabatnya Naka, itu doang. Gue manggil dia ‘temennya Naka’ sampai bulan Agustus.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Kir, gue mau nanya sesuatu dan gue mau lo jujur.”
“Iya.”
“Waktu gue naik panggung di Pensi, terus lo bilang orangnya lagi ngurusin lampu biar gue keliatan bagus.”
“Iya.”
“Itu bener, kan? Dia yang ngurusin lampu?”
“Iya.”
“Dan lampu yang nyorot tangga waktu gue turun?”
Aku menoleh ke dia.
“Kakak sadar?”
“Gue nggak sadar waktu itu.” Bagas menggeleng. “Gue baru sadar tiga hari lalu, pas baca kertas-kertas di mading. Gue inget tangganya terang, dan gue inget mikir ‘oh, kebetulan’.”
Dia ketawa satu kali, dan ketawanya jelek.
“Gue ditolak di depan tiga ratus orang,” katanya, “dan orang yang gue kalahin nyalain lampu biar gue turun tangga nggak jatuh.”
Kami duduk di situ beberapa saat.
“Kak Bagas.”
“Hm.”
“Aku minta maaf.”
“Buat apa?”
“Buat—“ Aku mencari kata. “Aku nggak tau. Buat semuanya.”
“Kir, jangan minta maaf karena nggak suka sama gue.” Dia berdiri dan menepuk celananya. “Itu paling nyebelin sedunia.”
“Oke.”
“Lagian gue udah selesai kok.”
“Beneran?”
“Beneran.” Dia mengangkat bahu. “Butuh dua bulan. Tapi udah.”
Dia mengambil tasnya.
“Besok turnamen,” katanya. “Dia daftar?”
Aku diam.
“Kir.”
“Kak Naka yang daftarin.”
“Dia tau?”
“Belum.”
Bagas berdiri di situ cukup lama.
Lalu dia bilang, “Ya udah. Gue bantu.”
“Kak—“
“Gue point guard, Kir. Kalau dia main, gue yang ngasih bola.” Dia menyampirkan tas ke bahu. “Gue nggak ngalah sama dia. Dia emang duluan. Beda.”
Tanggal sepuluh Februari. Hari turnamen.
Pertandingan pertama jam sepuluh pagi lawan SMA Bhakti Wiyata.
Aku sampai jam delapan.
Aula sudah setengah penuh. Anak-anak tim sudah di ruang ganti. Kak Anindya di meja panitia dengan tiga map. Kak Wulan mengurus sound system dan meneriaki dua anak kelas sebelas.
Kak Naka berdiri di depan ruang ganti, dan mukanya sudah pucat sejak sebelum aku sampai.
“Kir.”
“Kak.”
“Dia udah dateng.”
Aku merasakan sesuatu jatuh di perutku.
“Di mana?”
“Di dalem.” Kak Naka menunjuk pintu ruang ganti dengan dagunya. “Pak Herman yang manggil. Sepuluh menit lalu.”
“Terus?”
“Belum keluar.”
Aku menunggu di depan pintu ruang ganti selama empat belas menit.
Aku menghitung. Aku selalu menghitung.
Aku memegang kotak bekal dengan dua tangan. Aku bangun jam empat pagi hari itu. Bukan setengah lima. Empat.
Menit keempat belas, pintunya terbuka.
Kak Dewa keluar.
Dia masih pakai seragam sekolah. Bukan jersey. Kacamatanya masih dipakai. Poninya masih di tempatnya.
Dan aku tahu jawabannya sebelum dia mengucapkan satu kata pun.
“Kirana.”
“Kak Dewa udah makan?”
Aku mengucapkannya duluan, sebelum dia sempat bicara, karena aku sudah menyiapkan kalimat itu sejak jam empat pagi dan kalau aku tidak mengucapkannya sekarang aku tidak akan bisa mengucapkan apa-apa.
Tanganku gemetar. Kotaknya kelihatan bergetar. Aku tidak bisa menghentikannya.
Dia melihat kotak itu.
“Belum.”
“Ini.” Aku menyodorkannya. “Ini buat abis main. Tapi Kakak boleh makan sekarang juga kalau—“
“Kirana.”
“Kak.”
“Aku nggak main.”
Aku sudah tahu. Aku sudah bilang aku sudah tahu.
Tapi mendengarnya tetap berbeda.
“Kenapa?”
Dan dia menjawab, dan jawabannya adalah alasan yang paling masuk akal yang pernah aku dengar seumur hidupku, dan itu yang membuatnya tidak bisa dilawan.
“Aku nggak latihan tiga tahun,” katanya. “Tim ini latihan lima kali seminggu sejak Desember. Danang, Bagas, Naka, semuanya.”
“Kak—“
“Kalau aku masuk, satu orang harus keluar dari daftar dua belas. Namanya Reza, kelas sebelas. Dia ikut semua latihan dan dia baru pertama kali masuk tim.”
Aku membuka mulut.
“Aku bukan lebih bagus dari Reza sekarang,” katanya. “Mungkin dulu. Sekarang nggak. Dan bahkan kalau iya, dia yang latihan.”
“Kak, tapi—“
“Kalau aku main hari ini, ada anak kelas sebelas yang tiga bulan latihan terus dicoret di hari H, gara-gara ada orang yang tiba-tiba pengen liat sesuatu.”
Dia mengambil kotak bekal dari tanganku, pelan.
“Aku nggak marah sama kamu,” katanya. “Aku nggak marah sama Naka, dan Pak Herman, dan Anindya, dan Kak Wulan.”
“Kakak tau semuanya?”
“Iya.”
Dia memegang kotak itu dengan dua tangan.
“Aku cuma nggak mau ada yang bayar buat aku dilihat.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir reading
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan