Chapter Thirty Seven
Marah
POV: Sadewa
Kami menang lawan Bhakti Wiyata dua puluh tiga angka.
Reza masuk di kuarter ketiga dan mencetak enam angka, dan waktu peluit panjang dia dipeluk Danang sampai hampir jatuh, dan aku menonton dari bangku paling atas seperti biasa.
Babak berikutnya hari Sabtu tanggal empat belas. Semifinal tanggal dua puluh satu.
Aku pulang jam satu dan tidur sampai jam lima sore, yang belum pernah aku lakukan seumur hidupku.
Hari Senin, mading itu penuh.
Bukan penuh kertas. Penuh orang.
Aku lewat koridor lantai satu jam setengah tujuh pagi dan ada enam orang berdiri di depan mading, jam setengah tujuh pagi, membaca.
Aku jalan terus dan tidak menoleh.
Jam sembilan aku lewat lagi. Ada empat orang.
Jam dua belas, delapan.
Kertasnya sudah dua kolom sekarang. Kak Rasti menempelkan kertas manila tambahan di sebelah kanan karena tempatnya habis.
Aku tidak membacanya. Aku sudah membaca yang sebelas, hari Kamis, waktu koridor sepi, dan aku memutuskan untuk tidak membaca lagi.
Hari Senin sore aku melanggar keputusan itu.
Aku ke sana jam lima kurang, waktu sekolah sudah kosong.
Kertasnya empat puluh tiga sekarang. Aku menghitungnya.
Empat puluh tiga kertas kecil, ditempel dengan selotip, tulisan tangan semua.
Aku membaca dari kiri atas.
Ruang musik. Kabel ampli yang putus.
UKS. Kotak obat selalu ada plesternya. Dulu sering kosong.
Gerbang samping. Kalau hujan nggak pernah banjir lagi sejak tahun lalu. Dulu banjir terus.
Kelas 10 IPA 1. Kipas angin.
Ada yang tidak aku kerjakan. Ada tiga atau empat yang bukan aku sama sekali — kipas angin 10 IPA 1 itu dibetulkan Pak Yudho bulan Agustus, aku ingat karena aku yang mengantarkan suratnya.
Tapi empat puluh tiga kertas itu tidak sedang menyebut siapa. Empat puluh tiga kertas itu sedang menyebut ada.
Aku berdiri di situ agak lama.
Dan lalu aku melihat kertas di kolom kedua, baris ketiga dari bawah.
Tulisannya lebih rapi dari yang lain. Ditulis dengan spidol, bukan pulpen.
Namanya Sadewa Pramudya. 12 IPA 1.
Aku menariknya.
Selotipnya ikut lepas dan merobek sedikit kertas manila di bawahnya. Aku melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku.
Lalu aku berdiri di depan mading itu selama, aku tidak tahu, mungkin dua menit.
Lalu aku menariknya lagi.
Aku menarik yang di sebelahnya. Lalu yang di atasnya. Lalu satu baris. Aku menarik kertas-kertas itu satu per satu dan selotipnya tidak mau lepas dengan bersih dan beberapa robek di tengah dan aku terus menarik.
Aku berhenti waktu tangan kananku menabrak papan dan buku jariku berdarah sedikit.
Aku berdiri di depan mading yang setengah kosong dengan dua puluhan kertas kusut di tangan.
Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu.
Aku ingin mencatat itu. Selama tujuh belas tahun aku tidak pernah merusak apa pun, tidak pernah membanting apa pun, tidak pernah mengangkat suara.
Aku berdiri di koridor lantai satu jam lima sore hari Senin, dan aku memegang dua puluhan kertas orang lain, dan aku tidak tahu harus menaruhnya di mana.
“Kak Dewa?”
Aku berbalik.
Kirana berdiri di ujung koridor. Klub jurnalistik selesai jam lima. Aku tahu itu. Aku tahu jadwalnya lebih baik daripada jadwalku sendiri, dan aku tetap datang jam lima kurang.
Aku ingin mencatat itu juga.
“Kak, itu—“
Dia melihat mading. Lalu tanganku.
“Kakak nyabutin?”
“Iya.”
“Kak—“
“Ada yang nulis nama aku.”
Dia berhenti.
“Apa?”
Aku mengeluarkan kertas yang terlipat dari saku dan menyerahkannya.
Dia membukanya. Dia membacanya. Aku memperhatikan wajahnya, dan aku ingin — aku benar-benar ingin — melihat sesuatu di situ yang bisa aku pakai.
Aku tidak melihat apa-apa. Dia kaget. Kagetnya asli.
“Kak, aku nggak—“
“Aku tau.”
“Ini bukan aku.”
“Aku tau.”
“Terus kenapa Kakak—“
“Karena kamu yang mulai.”
Koridor itu sepi.
Kirana menurunkan kertasnya.
“Iya,” katanya. “Aku yang mulai.”
“Kamu nggak bantah?”
“Nggak.”
Dan itu — aku tidak tahu kenapa, tapi itu yang membuatnya jadi lebih buruk.
Aku ingin dia membantah. Aku ingin dia bilang bahwa dia tidak menyangka, bahwa dia cuma menulis empat ratus dua puluh tiga kata tanpa nama, bahwa dia sudah minta redaksi menahannya.
Semua itu benar. Aku sudah menghitungnya sejak hari Kamis.
“Aku bilang jangan,” kataku.
“Kakak nggak pernah bilang jangan.”
“Aku nahan artikelnya bulan Desember.”
“Diam-diam.” Suaranya naik sedikit. “Kakak nahan diam-diam, Kak. Kakak nggak pernah ngomong ke aku sekali pun.”
“Kamu tau maksudku.”
“Iya, aku tau.” Dia melangkah maju. “Aku selalu tau, Kak. Aku selalu tau maksud Kakak walaupun Kakak nggak ngomong, dan itu masalahnya, karena Kakak nggak pernah ngomong.”
Aku mendengar suaraku sendiri berubah dan aku tidak menghentikannya.
“Kamu ngajak Anindya. Kamu ngajak Wulan. Kamu ngajak Naka.”
“Iya.”
“Kamu ngomong ke Pak Herman?”
“Nggak. Kak Anindya udah duluan.”
“Kamu daftarin aku ke turnamen.”
“Kak Naka yang—“
“Kamu tau, Kirana.”
Dia berhenti.
“Iya,” katanya. “Aku tau.”
“Berapa lama?”
“Dua minggu.”
“Dua minggu kamu bawa bekal ke aku tiap pagi sambil tau.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu duduk di sebelah aku tiap hari selama dua minggu,” kataku, “dan kamu nggak bilang apa-apa.”
Dan di detik itu aku mendengar apa yang aku ucapkan.
Aku tahu persis apa yang barusan aku katakan, dan aku tahu persis dari siapa aku mempelajari kalimat itu, dan aku tetap tidak berhenti.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak boleh marah,” katanya. “Aku beneran nggak apa-apa Kakak marah.”
“Aku nggak marah.”
“Kak, tangan Kakak berdarah.”
Aku melihat tanganku.
“Ini kena papan.”
“Iya, karena Kakak nyabutin empat puluh kertas.”
“Dua puluh tiga.”
“KAK.”
Aku diam.
“Kakak marah,” katanya. “Ini pertama kali aku lihat Kakak marah dan aku nggak akan pura-pura ini bukan apa-apa.”
“Kirana.”
“Dan aku seneng.”
Aku menoleh.
“Aku seneng, Kak.” Matanya sudah basah tapi suaranya tidak. “Aku tau ini jahat. Tapi aku seneng, karena ini pertama kalinya Kakak nunjukin sesuatu yang bukan buat orang lain.”
Itu yang menghabiskan sisa yang aku punya.
Aku tidak akan mencari pembelaan untuk bagian berikutnya. Aku sudah menghitungnya berkali-kali sejak hari itu dan hitungannya selalu sama: aku melakukannya dengan sengaja, aku tahu itu akan mengenai, dan aku memilih kalimat yang paling tepat sasaran.
“Kamu seneng,” kataku.
“Kak—“
“Empat puluh tiga orang di sekolah ini sekarang mikir ada pahlawan yang benerin keran.”
“Kak Dewa.”
“Bukan aku, kok.”
Koridor itu sepi sekali.
Aku mengucapkannya dengan nada yang sama seperti dua ratus kali sebelumnya. Rata. Cepat. Tanpa jeda.
Dan aku mengucapkannya kepada satu-satunya orang di dunia yang tahu persis bahwa itu bohong.
Itu intinya. Aku ingin memperjelas bahwa aku tahu itu intinya.
Kalimat itu selama enam tahun berfungsi sebagai pintu. Aku menutup pintu ke orang-orang yang tidak boleh masuk.
Hari Senin sore itu aku memakainya sebagai palu.
Kirana tidak lari.
Dia tidak menutup muka. Dia tidak berbalik.
Dia berdiri di koridor lantai satu SMA Negeri 4 Anjasmara jam lima lewat sore, dengan kertas terlipat di tangannya, dan dia melihat aku.
Air matanya jatuh. Dia tidak mengelapnya.
“Kak.”
Aku tidak menjawab.
Dan Kirana Adiwangsa, yang menulis tanggal di buku catatan sejak umur dua belas karena ada orang yang pernah bilang dia salah ingat, membuka mulutnya dan mengucapkan satu kalimat.
“Itu yang kesepuluh, Kak.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah reading
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan