Chapter Three
Adik Siapa
POV: Kirana
Namaku Kirana Adiwangsa, umurku lima belas, tinggiku seratus lima puluh dua sentimeter, dan menurut kakakku itu artinya aku “portable”.
Aku sudah dua minggu di SMA ini dan sudah tujuh orang bertanya hal yang sama.
“Kamu adiknya Kak Naka, ya?”
Tujuh. Aku hitung.
Yang kedelapan datang pas jam istirahat pertama, di depan ruang kelasku, dari anak kelas sebelas yang bahkan tidak memperkenalkan diri dulu.
“Adiknya Naka, kan?”
“Iya.”
“Mirip, ya.”
Kami tidak mirip. Kak Naka tingginya seratus delapan puluh dua. Tapi aku sudah lelah membahas itu, jadi aku bilang “iya” lagi dan dia pergi dengan puas.
Aku tidak benci jadi adiknya Kak Naka. Kakakku orang paling baik yang aku kenal, nomor dua. Cuma kadang aku ingin bilang ke orang-orang bahwa aku punya nama sendiri, dan namaku bagus, dan aku memilihnya sendiri waktu umur tujuh — maksudku, aku tidak memilih namanya, tapi aku memilih untuk menyukainya, dan itu hampir sama.
Nomor satunya siapa, tanya saja ke buku catatanku.
Jangan. Serius. Jangan.
Ada juga yang tidak bertanya soal Kak Naka. Tiga anak kelas sebelas kemarin ngajak aku ke kantin bareng, dan satu anak kelas dua belas dari tim basket berhenti di depan kelasku hari Jumat cuma buat bilang namanya. Namanya Bagas. Aku bilang oke, salam kenal, terus masuk kelas.
Teman sebangkuku, Nadin, bilang aku ini “nggak sadar diri”. Katanya aku dilihatin orang tiap lewat koridor dan aku jalan terus kayak orang buta.
Aku sadar, kok. Aku cuma tidak tertarik.
Aku sudah tertarik sama satu orang sejak umur delapan tahun, dan itu sudah cukup melelahkan.
Rencana hari ini sudah kususun sejak semalam, di kertas, dengan tiga poin.
Satu: cari Kak Dewa waktu istirahat.
Dua: ngomong yang normal. Yang normal, Kira. Yang normal.
Tiga: —
Poin tiga masih kosong sejak semalam karena tiap kali aku sampai di situ aku jadi malu sendiri dan menutup bukunya.
Aku menemukannya di kantin, yang mengejutkan, karena setahuku dia tidak pernah ke kantin. Dia berdiri di antrean paling belakang, sendirian, membawa satu botol air mineral dan tidak membawa apa-apa lagi.
Kantin jam segini penuh sampai orang berdiri di lorong antarmeja. Tapi ada satu hal aneh yang aku perhatikan sejak minggu pertama, dan aku sudah mengeceknya empat kali sekarang biar yakin.
Orang-orang tidak menabrak Kak Dewa.
Bukan karena mereka menghormati dia. Justru sebaliknya. Mereka tidak melihatnya, tapi badan mereka tetap menghindar, seperti dia tiang. Ada yang lewat lima sentimeter dari bahunya dan tidak menoleh sama sekali.
Aku sudah mencatat ini di buku, tanggalnya Selasa minggu lalu, tulisannya: orang menghindar dari dia tanpa ngeliat dia. Kayak refleks. Aku belum tahu artinya apa. Tapi kalau sesuatu terjadi empat kali, itu bukan kebetulan.
Aku jalan menembus dua meja dan berhenti di sebelahnya.
“Kak Dewa.”
Dia menoleh. Turun. Aku memang harus didongaki dari atas kalau orangnya setinggi itu, dan itu tidak adil.
“Kirana.”
Oke. Dia ingat lagi. Dua kali dalam satu minggu. Aku tidak akan menghitung ini di buku, aku tidak akan menghitung ini di buku, aku pasti akan menghitung ini di buku.
“Aku mau kenalan yang bener.”
“Kita udah kenal.”
“Belum. Yang kemarin itu kayak ketemu di jalan.” Aku menegakkan badan dan mengulurkan tangan. “Kirana Adiwangsa. Kelas sepuluh IPA tiga. Adiknya Kak Naka.”
Kenapa aku bilang bagian terakhir. Kenapa. Aku sudah latihan tanpa bagian itu semalaman.
Dia melihat tanganku. Tidak menyambut.
Aku hitung sampai tiga di dalam hati dan menarik tanganku sendiri sebelum kelihatan menyedihkan.
“Aku tahu,” katanya.
“Tapi jangan panggil aku gitu.”
“Panggil apa?”
“‘Adiknya Naka.’ Aku baru bilang barusan, tapi tolong lupain.” Aku mengibaskan tangan. “Itu kayak alamat, bukan nama.”
Dia diam sebentar.
“Oke.”
“Oke gimana?”
“Oke, nggak akan.”
Antrean maju. Dia maju satu langkah, aku ikut maju satu langkah, dan aku tahu ini agak memaksa tapi aku sudah terlanjur di sini.
“Kakak nggak nanya kenapa?”
“Nggak.”
“Kenapa nggak nanya?”
“Karena kamu udah kasih alasannya.”
Aku membuka mulut untuk membalas dan tidak menemukan apa-apa untuk dibalas, yang jarang sekali terjadi dan bikin aku kesal setengah mati.
Dia beli satu roti dan satu air mineral. Itu saja.
Aku ikut dia keluar kantin. Dia tidak mengusir, tapi juga tidak melambat, jadi aku harus jalan cepat, dan kaki dia panjang dan kakiku tidak.
“Kak.”
“Hm.”
“Roti itu buat makan siang?”
“Iya.”
“Cuma itu?”
“Cukup.”
“Cukup buat apa? Buat burung?”
Dia tidak menjawab, tapi ada sesuatu di sudut mulutnya yang bergerak sepersekian detik sebelum kembali datar. Aku melihatnya. Aku bersumpah aku melihatnya.
“Kak, aku serius. Nanti kakak sakit.”
“Nggak.”
“Orang yang bilang ‘nggak’ itu biasanya yang duluan sakit.”
“Oke.”
“‘Oke’ doang?”
“Iya.”
Ngomong sama dia itu seperti main lempar bola ke tembok. Bolanya balik terus, tapi temboknya tidak pernah pindah.
Kami sampai di koridor barat. Sepi, karena semua orang masih di kantin. Dia berhenti di depan wastafel ketiga dari ujung dan mengecek bagian bawahnya dengan ujung sepatu, cepat, seperti orang yang cuma kebetulan lewat.
Kering.
“Nggak bocor lagi kan?” kataku.
“Kayaknya.”
“Kayaknya,” ulangku.
“Iya.”
Dia jalan lagi, dan di situlah aku melakukan sesuatu yang tidak ada di rencana semalam dan tidak ada di poin satu, dua, atau tiga.
Aku pegang ujung lengan seragamnya.
Bukan tangannya. Ujung lengannya, di dekat siku, kain putihnya, dua jari saja.
Dia berhenti.
Aku juga berhenti. Jantungku mendadak jadi hal paling berisik di koridor ini.
Sekarang begini. Aku sudah menyiapkan mental untuk tiga kemungkinan. Satu, dia menarik tangannya. Dua, dia bilang “jangan”. Tiga, dia bilang sesuatu yang datar sekali sampai aku harus pura-pura tidak mendengar dan kabur ke kelas.
Aku sudah siap ketiganya. Sungguh. Aku sudah latihan wajahnya di kaca semalam.
Dia tidak melakukan satu pun.
Dia cuma berhenti, menoleh ke tanganku, lalu ke wajahku.
“Kenapa?”
Kenapa. Aku juga mau tahu kenapa.
“Kakak jalannya cepet banget,” kataku. Suaraku keluar setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya dan aku benci itu.
“Oh.”
Dan dia melambat.
Dia benar-benar melambat. Sisa koridor itu, sekitar dua puluh langkah, dia jalan dengan kecepatan yang bisa aku ikuti tanpa lari-lari kecil, dan selama dua puluh langkah itu aku tidak melepaskan lengan seragamnya karena aku tidak tahu bagaimana caranya melepaskan tanpa membuatnya jadi kejadian besar.
Dia juga tidak menyuruhku lepas.
Di ujung koridor dia belok ke tangga. Aku lepas. Dia naik dua anak tangga, lalu berhenti.
“Kirana.”
“Ya?”
“Kelas kamu di lantai satu.”
“...Iya.”
“Kamu barusan jalan ke arah yang salah.”
Dia naik. Aku berdiri di bawah tangga dengan muka yang aku yakin warnanya sudah tidak wajar.
Sepuluh detik. Dua puluh. Aku masih berdiri di situ.
Bukan karena malu. Maksudku, iya, malu. Tapi bukan cuma itu.
Dia sadar aku salah arah. Artinya dia tahu kelasku di lantai satu. Artinya dia pernah mengecek, atau pernah mendengar, atau pernah — entahlah, sesuatu.
Orang yang tidak peduli tidak hafal kelas orang lain.
Aku lari ke kelas dan telat dua menit dan tidak peduli sama sekali.
Sisa jam pelajaran hari itu aku tidak menyerap apa pun. Bu guru Biologi menjelaskan sesuatu tentang jaringan tumbuhan dan aku menulis empat kata di buku sebelum berhenti.
Nadin menyikutku dua kali. “Lo kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Muka lo merah.”
“Panas.”
“Kipasnya nyala, Kir.”
Aku pura-pura mencari sesuatu di tas sampai dia bosan.
Sampai rumah jam empat. Kak Naka belum pulang, latihan.
Aku naik ke kamar, tutup pintu, taruh tas, dan duduk di lantai bersandar ke ranjang.
Lalu aku ambil buku catatan bersampul cokelat dari tas.
Buku ini sudah kupakai sejak SMP. Halamannya tinggal seperempat. Isinya bukan diary — aku pernah coba bikin diary dan gagal dalam empat hari karena aku terlalu malas menulis perasaan.
Isinya cuma tanggal, dan hal-hal yang aku lihat.
Aku mulai menulis waktu kelas satu SMP. Waktu itu alasannya sederhana dan agak bodoh: aku takut lupa. Ada satu kejadian waktu aku kelas enam yang aku ceritakan ke Kak Naka, dan Kak Naka bilang aku salah ingat. Dia bilangnya baik-baik. Tapi malamnya aku tidak bisa tidur, karena kalau aku salah ingat yang itu, aku bisa salah ingat yang lain juga.
Jadi aku mulai menulis. Tanggal, tempat, apa yang kulihat. Tanpa perasaan, tanpa pendapat.
Yang begitu tidak bisa dibantah orang.
Aku buka halaman hari ini. Tanggalnya sudah kutulis pagi tadi, di anak tangga, sebelum bel.
Di bawahnya aku tulis:
Wastafel koridor barat. Dicek lagi pakai ujung sepatu. Ini kedua kali dia ngecek ulang sesuatu yang udah dia benerin.
Makan siang: roti. Satu.
Aku berhenti. Pulpennya kuputar-putar.
Lalu aku tulis satu baris lagi di paling bawah, lebih kecil, di pojok, di tempat yang tidak akan langsung terbaca kalau bukunya dibuka orang.
Aku pegang lengannya. Dia nggak nepis.
Aku menatap kalimat itu agak lama.
Lalu aku tulis angka satu di sebelahnya, dan langsung menutup bukunya keras-keras seperti orang yang ketahuan, padahal di kamar ini cuma ada aku.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa reading
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan