Chapter Four
Klub Jurnalistik Punya Alasan
POV: Kirana
Aku masuk klub jurnalistik bukan karena aku suka menulis.
Aku masuk klub jurnalistik karena anggota klub jurnalistik boleh membawa kamera ke mana-mana, boleh masuk ruangan mana saja dengan alasan liputan, boleh bertanya apa pun ke siapa pun, dan tidak ada yang curiga.
Kak Naka bilang itu “penyalahgunaan wewenang”. Aku bilang itu efisiensi.
Rapat klub hari Rabu, jam tiga, di ruang jurnalistik yang sebenarnya bekas gudang dan masih bau kardus.
“Tema edisi bulan ini,” kata Kak Rasti, ketua klub, “sosok tersembunyi.”
Semua orang mengeluh.
“Maksudnya gimana, Kak?”
“Orang di sekolah ini yang kerjanya nggak keliatan tapi penting. Bebas. Petugas kebersihan, tukang kantin, siapa aja.”
Satu anak angkat tangan. “Boleh Kak Naka nggak?”
Aku menoleh secepat itu sampai leherku bunyi.
“Naka itu kapten basket, dek. Dia paling keliatan sesekolah.”
“Tapi kan dia banyak bantuin orang diam-diam.”
“Diam-diam gimana? Semua orang tau.”
Kelas ketawa. Anak itu ikut ketawa.
Aku tidak ketawa, karena aku sedang menahan diri untuk tidak berdiri dan menjelaskan sesuatu yang tidak boleh aku jelaskan.
Kak Rasti menunjuk papan. “Deadline Senin. Satu orang satu draf.”
Nadin, yang ikut klub cuma karena aku yang ngajak, menyikutku. “Lo mau nulis siapa?”
“Belum tau.”
“Bohong.”
“Kok bohong?”
“Muka lo udah kayak orang yang tau.” Dia menyipitkan mata. “Lo tuh kalau udah punya rencana, alis lo naik sebelah.”
Aku menutup alisku pakai tangan. Nadin ketawa sampai ditegur Kak Rasti.
Aku keluar ruang klub jam setengah lima dan ada tiga orang di depan pintu.
Aku kenal satu. Namanya Bagas, kelas dua belas, tim basket, yang minggu lalu berhenti di depan kelasku cuma buat bilang namanya.
“Kirana, kan?” katanya.
“Iya.”
“Eh, keren. Gue kira lo bakal lupa nama gue.”
“Bagas.”
Dia ketawa dan menoleh ke dua temannya seperti baru menang taruhan. Dua temannya juga ketawa. Aku tidak tahu apa yang lucu, tapi anak kelas dua belas memang begitu, mereka ketawa dulu baru cari alasannya.
Bagas orangnya tidak menyebalkan, sebenarnya. Itu bagian yang bikin repot. Kalau dia menyebalkan, gampang.
“Lo pulang jam segini terus?”
“Rabu doang.”
“Kita mau ke depan, beli minum. Ikut, yuk.”
“Nggak, makasih.”
“Sepuluh menit doang.”
“Nggak, Kak. Beneran.” Aku mengatur tali tas. “Aku nunggu kakakku.”
“Naka?”
“Iya.”
“Ya udah gue temenin nunggu.”
“Nggak usah.”
Aku tidak bermaksud jutek. Sungguh. Tapi ada satu hal yang aku pelajari sejak minggu pertama, yaitu kalau kamu bilang “nggak” sambil senyum terlalu lama, orang mendengarnya sebagai “nanti”.
Jadi aku bilangnya sekali, jelas, terus diam.
Bagas mengangkat tangan, menyerah. “Oke oke. Santai.”
Dan tepat di detik itu, Kak Dewa lewat.
Dari arah tangga, membawa dua kardus, jalan pelan karena kardusnya menghalangi pandangan ke bawah. Dia tidak berhenti. Dia tidak menoleh. Dia lewat di belakang Bagas dengan jarak mungkin satu meter, dan tidak satu pun dari tiga orang di depanku menyadari ada orang lewat.
Aku menyadarinya. Aku selalu menyadarinya.
“Kak, aku duluan ya,” kataku, dan langsung jalan.
“Eh—“
Aku sudah belok.
Aku turun tangga dua-dua dan hampir menabrak anak kelas sebelas di belokan.
Aku menyusulnya di koridor lantai satu. Dia meletakkan kardus di depan ruang OSIS, menumpuknya jadi dua, lalu meluruskan punggung.
“Kak Dewa!”
Bahunya naik sedikit. Cuma sedikit. Tapi aku lihat.
“Kamu ngagetin.”
“Kakak yang jalan diem-diem.”
“Aku bawa dua kardus.”
“Ya tapi tetep diem-diem.” Aku berdiri di depannya. “Itu apa?”
“Kertas.”
“Buat?”
“Mading.”
“Isinya kertas doang?”
“Sama paku payung.”
“Dua kardus paku payung?”
“Satu kardus kertas, satu kardus macam-macam.”
“Kakak anggota OSIS?”
“Bukan.”
“Terus kenapa Kakak yang bawa?”
Dia melihatku sebentar. “Kebetulan lewat.”
Bohong. Orang tidak “kebetulan” membawa dua kardus naik turun tangga. Tapi aku sudah belajar sesuatu tentang dia dalam dua minggu ini, yaitu kalau kamu mendorongnya, dia menutup. Kalau kamu diam, kadang pintunya kebuka satu senti sendiri.
Jadi aku tidak mendorong.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku dapet tugas nulis. Temanya sosok tersembunyi di sekolah.”
“Tugas sekolah?”
“Klub.”
Tidak ada reaksi. Sama sekali. Kalau aku tidak sedang memperhatikan tangannya, aku pasti tidak menyadari bahwa dia berhenti merapikan tumpukan kardus selama satu detik penuh sebelum melanjutkan.
“Terus?”
“Menurut Kakak aku harus nulis siapa?”
“Pak Timin.”
“Satpam?”
“Dia buka gerbang jam enam tiap hari. Sudah sembilan tahun.” Dia mengangkat kardus paling atas dan memindahkannya ke sisi lain, entah untuk apa. “Nggak ada yang tahu namanya.”
“Kakak tahu.”
“Aku dateng pagi.”
“Nah, sama.”
“Aku tahu namanya.”
“Karena kamu dateng pagi.”
“Iya.”
“Kenapa kamu dateng pagi?”
Nah.
Ini pertanyaan yang aku tunggu dua minggu, dan sekarang dia yang bertanya, dan aku tidak siap sama sekali.
Ada beberapa jawaban jujur. Semuanya terdengar buruk kalau diucapkan keras-keras.
Jadi aku memilih jalan lain.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku cantik nggak, di mata Kakak?”
Hening.
Kardus itu berhenti di tangannya, setengah jalan.
Aku sudah menyiapkan kalimat itu tiga hari. Aku bahkan sudah menghitung kemungkinannya: kalau dia bilang cantik, aku menang. Kalau dia bilang tidak, aku pura-pura marah dan tetap menang. Kalau dia diam, aku bisa ketawa dan bilang bercanda.
Aku sudah menyiapkan semuanya.
Yang tidak aku siapkan adalah kemungkinan keempat.
Dia menurunkan kardus. Membetulkan letak kacamatanya.
“Kacamataku minus.”
Aku menatapnya.
“...Hah?”
“Minus dua setengah.” Dia mengangkat kardus lagi. “Jadi kurang bisa dipercaya.”
“KAK.”
“Kenapa.”
“ITU BUKAN JAWABAN.”
“Kamu nanyanya ‘di mata Kakak’.”
Aku berdiri di koridor lantai satu SMA Negeri 4 Anjasmara, jam lima kurang, dengan muka panas dan tangan mengepal, dan orang di depanku sedang menumpuk kardus dengan wajah paling datar sedunia seolah baru saja membacakan pengumuman.
“Kakak nyebelin banget.”
“Oke.”
“Aku serius nanya!”
“Aku serius jawab.”
Dan dia jalan masuk ke ruang OSIS sambil membawa dua kardus itu, dan pintunya menutup, dan aku masih berdiri di situ selama entah berapa lama sambil mengulang kalimat “kacamataku minus” di kepala sampai akhirnya, di luar kendaliku sepenuhnya, aku ketawa sendirian di koridor kosong seperti orang sakit.
Aku menulis drafku malam itu, sekali jadi, tanpa berhenti.
Empat ratus dua puluh tiga kata. Aku tidak menyebut namanya sekali pun. Aku menulis tentang seseorang — “seorang siswa” — dan hal-hal yang terjadi di sekolah ini sebelum jam tujuh pagi. Wastafel. Kursi. Papan piket. Jam dinding koridor yang lambat dua puluh detik.
Aku tidak menulis kesimpulan apa pun. Aku cuma menulis apa yang aku lihat, seperti biasa.
Aku baca ulang jam sebelas malam dan berpikir, ini bagus. Ini bagus banget. Kak Rasti pasti suka.
Dan sekitar tiga detik kemudian aku baru sadar bahwa aku menulis empat ratus kata tentang orang yang enam tahun ini sengaja tidak mau ditulis.
Aku duduk di lantai kamar cukup lama.
Aku pernah baca di suatu tempat bahwa berita itu bukan soal apa yang benar, tapi soal apa yang orang belum tahu. Kalau begitu, tulisanku ini benar dua-duanya. Semua isinya kejadian yang beneran terjadi, dan tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang tahu.
Itu artinya bagus, kan.
Aku mengulang kalimat itu tiga kali di kepala dan tetap tidak enak rasanya.
Lalu aku dengar pintu depan, dan suara Kak Naka pulang latihan, dan tangga bunyi.
“Kir, masih bangun?”
“Masuk aja, Kak.”
Dia masuk sambil ngunyah sesuatu, rambutnya masih basah, dan langsung duduk di lantai bersandar ke lemariku seperti yang dia lakukan sejak aku SD. Kak Naka tidak pernah duduk di kursi kalau ada lantai.
Dia lihat laptopku. “Tugas?”
“Klub.”
“Boleh baca?”
Aku ragu setengah detik. Lalu aku putar laptopnya.
Kak Naka duduk di ujung ranjangku dan membaca.
Aku memperhatikan mukanya, karena aku selalu memperhatikan muka orang, itu kebiasaan burukku.
Di paragraf pertama dia masih ngunyah.
Di paragraf kedua dia berhenti ngunyah.
Di paragraf ketiga dia meletakkan bungkusnya ke lantai, pelan sekali, seperti orang yang tidak mau bikin suara.
Dia selesai. Dia tidak bilang apa-apa selama beberapa detik.
Aku menunggu. Biasanya kalau aku menunjukkan tulisanku, dia langsung heboh. Dia tipe kakak yang memuji berlebihan sampai memalukan, bahkan waktu aku bikin poster daur ulang kelas empat yang jelek sekali.
Kali ini tidak.
Dia menggulir ke atas dan membaca ulang bagian awalnya. Aku lihat matanya bergerak dua kali di baris yang sama.
Lalu dia bicara, dan suaranya bukan suara Kak Naka yang biasa. Bukan keras, bukan bercanda. Pelan, dan agak serak.
“Kir.”
“Ya?”
“Jangan diterbitin.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan reading
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan