Chapter Sixteen
Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
POV: Kirana
Aku bangun jam empat pagi hari Sabtu dan tidak bisa tidur lagi, jadi aku menulis daftar.
Judulnya HAL-HAL YANG DILAKUKAN ORANG PACARAN.
Aku menulis dua belas poin. Aku menghapus empat karena terlalu memalukan bahkan untuk buku catatanku sendiri. Sisa delapan.
- Chat pagi
- Berangkat bareng
- Duduk bareng istirahat
- Panggilan sayang
- Foto berdua
- Pulang bareng
- Nonton
- Dipeluk kalau kedinginan
Aku menatap daftar itu selama sepuluh menit dan menyadari sesuatu yang penting.
Kami sudah melakukan nomor dua, tiga, dan enam selama dua bulan sebelum jadian.
Jadi secara teknis, aku pacaran mundur.
Senin pagi, koridor barat, jam enam empat puluh.
Dia sedang mengganti lampu di depan ruang UKS. Berdiri di kursi. Kursinya kursi kayu yang goyang.
“KAK, ITU GOYANG.”
“Nggak.”
“Aku pegangin.”
“Nggak usah.”
Aku memegangi kursinya.
Dia turun tiga puluh detik kemudian, dan lampunya menyala, dan dia mengambil kursinya untuk dikembalikan ke ruang UKS.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak nggak lupa sesuatu?”
Dia berpikir. Aku bisa melihat dia benar-benar berpikir, mengecek daftar di kepalanya, mencari hal yang belum dia kerjakan pagi ini.
“Papan piket sudah.”
“BUKAN ITU.”
“Terus apa?”
“Kita pacaran, Kak. Sejak hari Jumat.”
“Iya.”
“Iya doang?”
“Iya, aku tahu.”
Aku menghitung sampai lima di dalam hati.
“Kak, aku bikin daftar.”
Aku menyerahkan daftarnya waktu istirahat pertama, di belakang gudang, di tangga beton yang sudah jadi tempat kami.
Dia membacanya.
Dia membacanya dengan serius. Dari atas ke bawah, lalu dia baca ulang dari atas lagi, seperti orang membaca prosedur.
“Nomor empat,” katanya.
“Kenapa?”
“‘Panggilan sayang’ itu apa?”
Aku hampir menjatuhkan kotak bekal.
“Kak, umur Kakak tujuh belas.”
“Iya.”
“Kakak nggak pernah denger orang manggil pacarnya pakai panggilan?”
“Pernah.”
“Nah.”
“Aku cuma nggak tahu itu masuk kategori kewajiban.”
Aku menutup mukaku dengan dua tangan.
“Kakak tahu nggak, ngomong sama Kakak itu kayak ngisi formulir?”
“Iya.”
“KAKAK SETUJU?”
“Kamu yang bilang.”
Dia mengembalikan kertasnya.
“Nomor satu sampai tiga bisa,” katanya. “Enam bisa. Lima aku nggak suka difoto. Tujuh kapan-kapan. Delapan—“
Dia berhenti.
“Delapan kenapa?”
“Nanti kalau kejadian.”
Aku merebut kertasnya kembali dan menulis di pinggirnya dengan huruf besar: NOMOR 4 WAJIB.
Dan mulai hari itu, hidupku jadi seri komedi.
Nomor satu, chat pagi.
Aku berharap sesuatu seperti “selamat pagi” atau setidaknya emotikon.
Yang aku dapat, tiap pagi jam 05.50, tepat, seperti alarm:
Kak Dewa: Sudah bangun?
Itu saja. Tiap hari. Kata yang sama, jam yang sama, sampai aku curiga dia menyalin-tempel.
Hari ketiga aku membalas: kakak nggak bisa ganti kata-katanya?
Kak Dewa: Bisa.
Besoknya, jam 05.50:
Kak Dewa: Apakah kamu sudah bangun?
Aku berteriak ke bantal.
Nomor tiga, duduk bareng istirahat.
Ini berhasil, kecuali dia membawa buku dan membaca selama dua puluh menit sambil sesekali bilang “hm” waktu aku bicara.
Hari keempat aku protes.
“Kak, Kakak dengerin aku nggak sih?”
“Dengerin.”
“Aku ngomong apa barusan?”
“Kamu bilang Nadin ketuker sepatu olahraga sama anak kelas sebelas dan sepatunya kegedean empat nomor dan dia jalan kayak badut selama satu jam pelajaran.”
Aku diam.
“Terus aku bilang apa lagi?”
“Kamu bilang guru Biologi kamu bilang ‘oke’ tiga puluh delapan kali hari ini, turun empat dari kemarin, dan kamu curiga dia sadar kamu ngitung.”
Aku menutup mukaku lagi. Aku sering menutup muka sejak jadian.
Nomor empat, panggilan sayang.
Ini yang paling parah.
Hari pertama aku bilang, “Kak, panggil aku sesuatu.”
“Kirana.”
“BUKAN NAMA.”
“Kir.”
“ITU JUGA NAMA, CUMA DIPOTONG.”
“Aku nggak punya referensi.”
“Kakak nggak pernah nonton drama?”
“Nggak.”
“Sinetron?”
“Nggak.”
“KAKAK HIDUP DI MANA?”
Besoknya, waktu aku datang ke tangga beton, dia mengangkat kepalanya dari buku dan bilang, dengan nada paling datar yang pernah aku dengar dari makhluk hidup:
“Halo, Sayang.”
Aku menjatuhkan kotak bekal.
Kotaknya jatuh, tutupnya terbuka, nasinya tumpah ke rumput.
“Kirana—“
“KAK, JANGAN GITU.”
“Kamu yang minta.”
“IYA TAPI JANGAN KAYAK ORANG BACAIN PENGUMUMAN UPACARA!”
“Aku baru pertama kali.”
“YA JANGAN LATIHAN KE AKU!”
“Terus ke siapa?”
Aku tidak punya jawaban untuk itu, dan aku duduk di rumput sambil memunguti nasi selama lima menit sementara dia berdiri memegang dua botol air mineral yang entah kenapa dia beli dua hari itu.
Nomor enam, pulang bareng.
Ini yang berubah paling banyak, dan bukan karena aku yang minta.
Selama dua bulan sebelum ini, dia selalu berbelok di gang sebelum halte. Selalu. Aku sudah hafal titiknya, lima puluh meter sebelum persimpangan.
Hari Rabu, dia tidak berbelok.
Dia jalan terus, sampai halte, dan berdiri di sana bersamaku.
“Kak, halte Kakak yang sana.”
“Iya.”
“Terus?”
“Bus kamu duluan.”
Dia menunggu sampai busku datang. Delapan menit. Lalu dia jalan balik ke haltenya sendiri, lima puluh meter ke belakang.
Aku duduk di bus dan menghitung: berangkat lebih lambat delapan menit, plus jalan balik dua menit, jadi dia sampai rumah sepuluh menit lebih malam.
Setiap hari.
Aku tidak protes. Kalau aku protes, dia akan berhenti melakukannya, karena dia orang yang seperti itu.
Jadi aku diam saja dan menulisnya di buku.
Nomor delapan.
Hari Kamis hujan lagi, dan kami menunggu di halte, dan angin dari arah timur membuat halte itu tidak berguna sama sekali.
Aku menggigil. Bukan pura-pura. Seragamku basah di bagian bahu.
Ini kesempatan yang sudah aku tunggu sejak hari Sabtu subuh waktu menulis daftar itu.
“Kak.”
“Hm.”
“Pacar itu harusnya dipeluk kalau kedinginan.”
Dia menoleh.
“Ini aturan,” lanjutku, cepat, sebelum nyaliku habis. “Bukan permintaan.”
Dia melihatku beberapa detik.
Lalu dia melepas jaketnya.
Dia melepas jaketnya, dan menyerahkannya ke aku, dan bilang, “Pakai.”
“KAK.”
“Kamu kedinginan.”
“AKU BILANG DIPELUK.”
“Ini lebih efektif.”
“ITU BUKAN INTINYA!”
“Jaketnya kering di dalem. Kalau aku peluk, seragamku juga basah, jadi kamu tetep dingin.” Dia berkata itu dengan wajah orang yang sedang menjelaskan soal fisika. “Ini lebih efektif.”
Aku memakai jaketnya karena aku benar-benar kedinginan dan karena aku tidak punya argumen tandingan yang tidak memalukan.
Jaketnya kebesaran. Lengannya lewat ujung jariku sepuluh sentimeter.
Aku berdiri di halte itu dengan jaket yang wangi entah apa dan aku sangat, sangat marah, dan sangat, sangat senang, dan dua-duanya sekaligus dengan kadar yang sama persis.
Dia berdiri di sebelahku tanpa jaket, di angin, dengan lengan kemeja basah.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak dingin nggak?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Iya.”
Malamnya aku pulang, mandi, makan, dan menaruh jaketnya di kursi kamar.
Aku tidak akan mengembalikannya besok. Aku sudah memutuskan itu di bus.
Jam sembilan lewat, aku sedang mengerjakan tugas Kimia waktu ponselku bunyi.
Kak Dewa: Kirana.
Aku: iya kak?
Titik-titik pengetikan muncul. Hilang. Muncul lagi.
Empat puluh detik. Aku menghitung karena aku selalu menghitung.
Kak Dewa: Hari ini di halte, waktu kamu bilang aturan.
Aku: iya
Kak Dewa: Aku bukan nggak mau.
Aku menatap layar.
Kak Dewa: Aku belum pernah meluk siapa-siapa sejak kelas enam SD.
Kak Dewa: Jadi aku nggak tahu caranya.
Kak Dewa: Nanti aku belajar.
Kak Dewa: Selamat malam.
Aku membaca lima pesan itu.
Lalu aku membacanya lagi.
Lalu aku meletakkan ponselku di meja dengan sangat hati-hati, berdiri, jalan ke ranjang, menempelkan seluruh mukaku ke bantal, dan berteriak selama kira-kira delapan detik penuh.
Kak Naka menggedor dinding dari kamar sebelah.
“KIR, LO KENAPA?”
“NGGAK APA-APA!”
“YAKIN?”
“NGGAK APA-APA, KAK!”
Aku kembali ke meja, mengambil ponsel, dan mengetik enam kali sebelum akhirnya mengirim yang paling pendek.
Aku: iya kak. pelan pelan aja.
Lalu aku menarik jaket itu dari kursi, memakainya, dan mengerjakan sisa tugas Kimia sampai jam sebelas dengan lengan yang kepanjangan sepuluh sentimeter.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah reading
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan