← Bukan Aku, Kok

Chapter Ten

Minggu, Jam Delapan

POV: Sadewa


Minggu pagi aku bangun jam lima, karena badan tidak peduli hari apa.

Aku cuci baju, jemur, sapu ruang depan, pel dapur. Jam tujuh selesai semua dan masih ada seharian penuh yang tidak tahu harus diapakan.

Rumah ini dua kamar. Yang satu kamarku, yang satu kamar Bapak dan Ibu. Yang kedua tidak dibuka sejak Bapak berangkat.

Aku tidak menguncinya. Cuma tidak dibuka.

Aku membersihkan bagian luarnya tiap Minggu. Gagangnya, kusennya, lantai di depannya. Itu saja.

Aku masak nasi, telur, dan sisa sayur kemarin. Makan di meja dapur sambil membaca. Cuci piring. Satu piring, satu gelas, satu sendok. Kalau cuma segitu, mencucinya empat puluh detik, jadi aku biasanya mencuci sekalian gelas yang sudah bersih supaya ada yang dikerjakan lebih lama.

Aku sadar itu kedengarannya aneh. Aku tidak pernah menceritakannya ke siapa pun, jadi tidak ada yang perlu kujelaskan.

Jam delapan kurang lima, aku duduk di ruang tengah dan menaruh ponsel di meja.

Aku tidak menyiapkan apa-apa. Aku cuma duduk, karena kalau aku sedang mengerjakan sesuatu waktu teleponnya masuk, aku harus berhenti di tengah, dan aku tidak suka berhenti di tengah.

Jam delapan lewat satu, ponselnya bergetar.

BAPAK


“Halo, Pak.”

“Dewa. Sehat?”

“Sehat.”

“Bapak juga sehat. Di sini hujan terus dua minggu.”

“Iya, di sini juga.”

Suaranya agak jauh, seperti biasa, karena sinyal di sana kurang bagus dan Bapak selalu menelepon dari luar mes supaya tidak berisik.

“Uang sudah masuk?”

“Sudah, Pak. Kamis.”

“Bulan ini Bapak lebihkan dua ratus. Buat buku sama seragam. Seragammu masih muat?”

“Masih.”

“Kalau sudah sempit bilang. Jangan dipakai terus.”

“Iya, Pak.”

“Makan gimana? Jangan mi terus.”

“Aku masak, Pak.”

“Masak apa?”

“Tadi telur.”

“Ya jangan telur terus juga.”

“Iya.”

Kami sampai di titik itu, yang selalu datang di menit kedua atau ketiga, di mana urusan yang harus dibicarakan sudah selesai dan yang tersisa cuma waktu.

“Sekolah gimana?”

“Baik.”

“Nilai?”

“Aman.”

“Bagus. Kelas dua belas ini penting, Dew. Jangan main-main.”

“Iya.”

“Sudah mikir mau kuliah di mana?”

“Belum.”

“Ya jangan lama-lama. Nanti keburu.”

“Iya, Pak.”

Aku dengar suara motor lewat di ujung sana. Bapak menunggu suaranya hilang sebelum melanjutkan.

“Naka gimana?”

“Baik.”

“Masih basket?”

“Masih. Kapten.”

“Wah.” Bapak ketawa pendek. “Hebat anak itu. Dari kecil emang berbakat.”

“Iya.”

“Kamu masih main sama dia?”

“Kadang.”

“Ya bagus. Punya teman itu penting.”

“Iya, Pak.”

Ada jeda enam detik. Aku menghitungnya, seperti biasa, karena aku selalu menghitung.

“Di rumah ada apa-apa nggak?”

“Nggak ada.”

“Genteng yang bocor sudah dibenerin?”

“Sudah.”

“Kapan?”

“Bulan lalu.”

“Siapa yang benerin?”

“Aku.”

“Naik ke atas sendiri?”

“Iya.”

“Ya ampun, Dew. Bahaya. Panggil tukang, dong.”

“Cuma dua genteng geser, Pak.”

Bapak diam sebentar.

“Ya sudah. Tapi lain kali panggil tukang. Uangnya minta ke Bapak.”

“Iya.”

Aku tidak bilang bahwa tukang genteng di komplek ini minimal dua ratus lima puluh ribu untuk datang, dan bahwa aku sudah menghitung itu, dan bahwa dua ratus lima puluh ribu adalah angka yang akan dikirim Bapak tanpa berkedip lalu diingat sebagai beban.

Aku juga tidak bilang bahwa aku naik ke atap jam empat sore supaya masih terang, dan bahwa aku sempat berpikir kalau aku jatuh, yang menemukan pertama kali kemungkinan besar Bu Sari sebelah, hari Senin, waktu jemurannya tidak diangkat-angkat.

Hal-hal seperti itu tidak perlu diceritakan lewat telepon.


Menit kedelapan, biasanya, dia mulai bicara soal pekerjaannya. Itu bagian yang paling lama dan paling gampang, karena aku cuma perlu mendengarkan.

Proyek jalan di sana molor karena tanahnya labil. Ada mandor baru yang ceroboh. Kontraknya kemungkinan diperpanjang sampai Juni tahun depan, mungkin lebih.

“Bapak mau pulang Lebaran, tapi belum pasti.”

“Iya.”

“Kalau nggak pulang, Bapak kirim lebih.”

“Nggak usah, Pak.”

“Ya nggak apa-apa. Buat kamu.”

“Bapak kangen rumah, sebenernya,” katanya, agak pelan.

Aku menunggu.

“Tapi ya begini kerjaan. Nanti kalau proyeknya kelar, Bapak cari yang deket.”

Kalimat itu sudah dia ucapkan tiga kali sepanjang tahun ini. Aku tidak mencatatnya. Aku cuma ingat.

Aku pindah posisi duduk. Sofanya bunyi.

“Pak.”

“Ya?”

Aku sudah membuka mulut. Aku punya kalimatnya, dan kalimatnya sudah ada di kepalaku entah sejak kapan, mungkin berbulan-bulan, dan bentuknya sederhana sekali.

Bapak bisa pulang sebentar aja nggak?

Enam kata. Tidak ada yang sulit dari enam kata itu.

Aku sudah hampir mengucapkannya dua kali sebelumnya. Bulan Juni dan bulan Agustus.

Yang menghentikan aku selalu hal yang sama. Kalau aku bilang itu, Bapak akan pulang. Aku tahu dia akan pulang, karena dia selalu melakukan apa yang diminta. Dia akan minta izin, naik bus dua hari, sampai di sini hari Rabu, dan hari Kamis dia akan berdiri di ruang tengah ini dan bertanya ada apa.

Dan aku tidak punya jawabannya.

Tidak ada apa-apa. Itu masalahnya. Aku tidak bisa memanggil orang delapan ratus kilometer untuk “tidak ada apa-apa”.

“Dew?”

“Nggak jadi.”

“Apa? Suaranya putus-putus tadi.”

“Nggak ada, Pak. Cuma mau bilang di sini semua aman.”

“Oh.” Bapak terdengar lega, dan aku tahu persis lega itu bunyinya bagaimana, karena aku sudah dengar bertahun-tahun. “Ya bagus.”

Dan lalu dia mengucapkannya. Seperti selalu, di menit terakhir, sebelum menutup, seperti tanda tangan di bawah surat.

“Bapak tenang, kamu kan anak yang nggak pernah nyusahin.”


“Ya sudah, Bapak tutup ya. Mau ke proyek.”

“Iya, Pak.”

“Jaga kesehatan.”

“Iya.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Klik.


Sebelas menit dua puluh detik.

Aku meletakkan ponsel di meja dan duduk di ruang tengah rumah itu.

Ini bagian yang selalu sama, dan aku sudah tahu urutannya. Selama beberapa menit setelah telepon ditutup, ruangan ini terasa lebih besar dari sebelumnya. Itu tidak masuk akal secara fisik. Ruangannya tetap tiga kali empat.

Tapi begitulah rasanya, dan aku sudah berhenti mendebatnya.

Kulkas menyala. Bunyinya berdengung, lalu berhenti sendiri setelah dua menit, dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi.

Aku mau memperjelas sesuatu, karena kalau tidak dijelaskan, ini kedengarannya seperti keluhan, dan ini bukan keluhan.

Bapak orang baik. Dia bekerja delapan ratus kilometer dari sini supaya ada uang. Dia tidak pernah telat sekali pun, tiga tahun. Dia menelepon tiap Minggu jam delapan dan tidak pernah lupa satu minggu pun, bahkan waktu dia demam berdarah tahun lalu, dia tetap menelepon dan baru bilang sakitnya di minggu berikutnya setelah sembuh.

Dia tidak melakukan satu pun hal yang salah.

Dan kalimat terakhir itu — kalimat yang dia ucapkan tiap minggu — dia ucapkan sebagai pujian. Aku tahu itu. Dia benar-benar bangga.

Masalahnya cuma satu, dan masalahnya kecil sekali sampai konyol kalau ditulis:

Kalau kamu orang yang tidak pernah menyusahkan, tidak ada alasan untuk datang.

Itu saja. Itu seluruh masalahnya.

Bapak tidak pulang karena tidak ada yang perlu diurus di sini. Tidak ada anak yang nilainya jatuh, tidak ada yang berkelahi di sekolah, tidak ada yang sakit, tidak ada genteng yang bocor karena gentengnya sudah kubetulkan sendiri.

Aku yang membuat sistem ini. Setiap minggu aku memberi laporan bahwa semuanya aman, dan setiap minggu laporan itu benar, dan setiap minggu laporan itu adalah alasan yang sah untuk tidak pulang.

Kalau aku ingin dia pulang, aku cuma perlu berhenti membetulkan segalanya.

Aku sudah memikirkan itu. Beberapa kali, sebenarnya. Malam-malam tertentu.

Tapi aku tidak bisa. Bukan karena mulia. Karena setelah sekian lama, aku benar-benar tidak tahu lagi caranya jadi anak yang menyusahkan, dan aku curiga kalau aku mencoba, aku akan melakukannya dengan buruk sekali.


Aku duduk di situ sampai jam sembilan.

Lalu aku berdiri, karena duduk terlalu lama di ruangan yang sepi itu tidak ada gunanya, dan aku mengambil buku dari kamar dan membawanya ke meja dapur karena dapur lebih terang.

Aku baca dua bab. Aku tidak ingat isinya sama sekali.

Jam sepuluh kurang, aku memutuskan akan ke perpustakaan kota. Perpustakaan kota buka jam sepuluh hari Minggu, ada AC, ada orang, dan tidak ada yang bicara denganku di sana. Itu kombinasi yang bagus.

Aku ganti baju. Ambil tas. Pakai kacamata.

Aku sudah memegang gagang pintu waktu bel berbunyi.

Aku berhenti.

Bel rumah ini rusak sebelah, jadi bunyinya cuma setengah nada, seperti bel yang kehabisan napas.

Aku tahu bunyinya karena aku yang mengetesnya waktu memasang. Setelah itu tidak pernah kudengar lagi.

Bukan jarang. Tidak pernah.

Dua tahun.

Belnya bunyi lagi. Dua kali berturut-turut sekarang, cepat, seperti orang yang tidak sabar atau orang yang sedang gugup.

Aku berdiri di depan pintu rumahku sendiri dengan tangan di gagang, dan untuk beberapa detik aku tidak melakukan apa-apa.