Chapter Six
Bekal
POV: Kirana
Aku bangun jam setengah lima pagi dan Ibu hampir menjatuhkan panci waktu melihatku masuk dapur.
“Kirana?”
“Pagi, Bu.”
“Kamu sakit?”
“Nggak.”
“Terus kenapa bangun?”
“Aku mau bikin bekal.”
Ibu meletakkan pancinya, menyeka tangan ke celemek, dan menatapku dengan ekspresi yang menurutku berlebihan untuk situasi ini.
“Bekal buat kamu?”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah bawa bekal seumur hidup kamu.”
“Sekarang mau.”
“Kirana.”
“Bu, aku cuma mau bawa bekal. Ini bukan berita nasional.”
Ibu diam. Lalu dia mengambil dua kotak dari lemari atas — dua, bukan satu — dan menaruhnya di meja tanpa berkata apa-apa.
Aku pura-pura tidak melihat.
Kami masak bareng empat puluh menit. Ayam goreng tepung, telur dadar, tumis buncis, nasi. Aku merusak telur dadar pertama dan Ibu membuatkan yang kedua sambil bilang bahwa telur dadar itu soal sabar, bukan soal api besar, dan aku bilang iya iya iya.
Kak Naka turun jam enam, rambutnya masih berantakan, dan berhenti di tengah tangga waktu mencium bau ayam goreng.
“Ada acara apa?”
“Nggak ada.”
Dia masuk dapur, membuka tutup wajan, dan langsung ditepuk tangannya sama Ibu.
“Itu bukan buat kamu.”
“Buat siapa?”
“Buat Kirana.”
Kak Naka menoleh ke aku. Aku sedang menutup kotak kedua dan berusaha keras kelihatan seperti orang yang sedang menutup satu kotak.
Dia tidak bertanya apa-apa.
Tapi dia berdiri di situ agak lama, dan waktu aku mengangkat kepala, mukanya sedang tidak menunjukkan apa pun, yang untuk Kak Naka sama anehnya dengan tidak bernapas.
Waktu aku memasukkan kotak kedua ke tas, Ibu bicara lagi, pelan.
“Kalau nggak dimakan sama orangnya, kamu jangan sedih.”
“Bu.”
“Ya sudah. Hati-hati.”
Aku tidak menemukan Kak Dewa waktu istirahat pertama.
Aku tidak menemukannya di kantin, di koridor barat, di depan ruang OSIS, atau di perpustakaan. Aku sudah hampir menyerah waktu Nadin menepuk bahuku dan menunjuk ke luar jendela lantai dua.
“Yang lo cari itu bukan sih?”
Di belakang gedung, di dekat gudang olahraga, ada tangga beton tiga anak yang menghadap ke pagar belakang. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada yang ke sana.
Dia duduk di anak tangga paling atas, sendirian, dengan buku di pangkuan.
“Nadin, aku sayang kamu.”
“Traktir aja, nggak usah sayang.” Nadin menyipit ke jendela. “Eh, tapi serius. Dia tiap hari di situ?”
“Nggak tau.”
“Bohong.”
“Nadin.”
“Lo tau.” Dia menepuk punggungku. “Ya udah sana. Kalau ditolak, lari ke kelas, gue siapin tisu.”
Aku turun, keluar lewat pintu samping, dan berjalan ke belakang gedung dengan tas di depan badan karena isinya berat.
Dia mengangkat kepala waktu aku masih sepuluh meter.
“Kirana.”
“Kak Dewa udah makan?”
“Belum.”
Aku berhenti.
“...Belum?”
“Belum.”
“Kakak ngaku?”
“Kamu nanya.”
“Minggu lalu Kakak bilang udah!”
“Minggu lalu aku bohong.”
Aku berdiri di depan tangga itu dengan mulut terbuka selama kira-kira tiga detik.
“Kakak tuh—“ Aku menghela napas. “Ya udah. Bagus. Duduk yang bener.”
“Aku udah duduk.”
“Geser.”
Dia menggeser. Aku duduk di anak tangga yang sama, sisa dua puluh sentimeter di antara kami, dan mengeluarkan dua kotak dari tas.
Dia melihat kotak-kotak itu.
“Dua?”
“Satu buat aku, satu buat—“ Aku berhenti.
Oke. Ini bagian yang sudah aku latih.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak jam lima pagi. Aku sudah mengucapkannya di kamar mandi, di bus, dan sekali di kelas sampai Nadin bertanya aku ngomong sama siapa.
Aku menaruh kotak kedua di lututnya.
“Ini bekal buat orang yang aku suka,” kataku. “Kakak jangan kepedean.”
Hening.
Dari sini aku bisa dengar suara kantin di kejauhan, dan bola basket di lapangan, dan burung entah apa di atap gudang.
Kak Dewa melihat kotak di lututnya.
“Oh,” katanya.
Lalu dia membuka tutupnya.
Aku langsung mengangkat kotakku sendiri dan menutupi seluruh mukaku dengan itu, karena mukaku panas sekali dan aku tidak mau ada makhluk hidup melihatnya, termasuk burung di atap gudang.
“Kirana.”
“APA.”
“Kamu nggak bisa makan kalau kotaknya di muka.”
“AKU LAGI MIKIR.”
“Oke.”
Aku menurunkan kotaknya lima sentimeter dan mengintip.
Dia sudah makan. Tenang saja, seperti orang yang tidak mendengar apa-apa sepuluh detik yang lalu.
Bukan begitu cara kerjanya. Aku sudah menyiapkan tiga skenario dan tidak satu pun berisi “cowoknya makan dengan tenang”.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak nggak mau nanya sesuatu?”
“Enak.”
“BUKAN ITU.”
“Kamu nanya aku mau nanya apa nggak. Aku nggak.”
Aku menendang kerikil di depan tangga dan kerikilnya meleset.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak biasanya makan siang apa?”
“Roti.”
“Tiap hari?”
“Kadang nggak.”
“Kadang nggak roti, atau kadang nggak makan?”
Dia mengunyah. Menelan. “Yang kedua.”
Aku menoleh ke dia dan dia tidak menoleh ke aku, dan dia bilang itu dengan nada orang menyebutkan cuaca, dan untuk sesaat aku tidak bisa memikirkan satu pun kalimat lucu untuk menutupinya.
Yang terjadi berikutnya di luar kendaliku sepenuhnya.
Ada suara langkah dari arah pintu samping, dan seorang perempuan kelas dua belas muncul membawa dua bungkus mi ayam. Rambutnya diikat tinggi, dasinya longgar, dan ekspresinya seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang berharga.
Dia berhenti sepuluh meter dari kami.
Dia melihat aku. Dia melihat Kak Dewa. Dia melihat dua kotak bekal.
“WAH.”
“Kak Wulan,” kata Kak Dewa, datar.
“Jangan ‘Kak Wulan’ aku.” Dia jalan mendekat dan berdiri di depan tangga dengan kedua tangan di pinggang, mi ayamnya masih menggantung di jari. “Ini apa.”
“Makan siang.”
“Bukan itu pertanyaannya dan kamu tahu itu, Sadewa.”
Dia menoleh ke arahku.
“Kamu adiknya Naka, ya?”
“Kirana.”
“Oke, Kirana.” Dia jongkok supaya sejajar denganku, yang menurutku sangat tidak perlu. “Bekalnya kamu yang bikin?”
“Iya.”
“Bangun jam berapa?”
“Setengah lima.”
“SETENGAH LIMA.”
“Kak, pelan-pelan.”
“Buat siapa bekal keduanya?”
“Buat—“ Aku melirik Kak Dewa. Kak Dewa sedang makan dengan sangat tekun. “Buat temen.”
“Temen.”
“Iya.”
“Adik kelas sepuluh, bangun setengah lima pagi, masak dua kotak, terus jalan ke belakang gudang olahraga tempat yang nggak ada manusianya, buat temen.”
“...Iya.”
Kak Wulan berdiri, menoleh ke Kak Dewa, lalu ke aku, lalu ke Kak Dewa lagi.
“Sadewa.”
“Iya.”
“Kamu ngerti nggak sih.”
“Ngerti apa?”
Kak Wulan menutup mukanya dengan satu tangan dan mendesah panjang sekali seperti orang yang baru menerima kabar buruk dari rumah sakit.
“Aku pergi,” katanya. “Aku nggak sanggup. Aku pergi.”
Dan dia benar-benar pergi, sambil bergumam sendiri, dan setengah jalan dia berbalik dan menunjuk aku.
“Kirana!”
“Iya, Kak?”
“Sabar ya.”
“Kak—“
“SABAR YA.”
Aku menunggu sampai dia jauh sebelum berani menoleh ke Kak Dewa.
“Kak Wulan itu siapa?”
“Sekretaris OSIS.”
“Galak?”
“Nggak. Cuma keras.”
“Kakak temenan sama dia?”
Dia berpikir sebentar, seperti soal itu perlu dihitung dulu. “Kami sering satu ruangan.”
Itu bukan jawaban yang sama, dan aku menyimpannya.
Kotaknya habis.
Aku memperhatikan itu diam-diam, dan aku tidak akan mengaku ke siapa pun bahwa aku menghitung berapa lama dia makan. Sebelas menit. Tidak ada sisa. Bahkan buncisnya, dan buncisku terlalu asin.
Dia menutup kotaknya, meletakkannya di sebelahku, dan bilang, “Makasih.”
Cuma itu.
Bukan “enak banget” atau “kamu bisa masak ya” atau apa pun yang seharusnya diucapkan orang. Satu kata.
Tapi ada sesuatu yang lain.
Dia menutup kotaknya dengan hati-hati sekali. Karetnya dipasang dua-duanya, atas bawah, padahal kotak itu kosong dan tidak akan tumpah. Lalu dia meluruskan posisinya di anak tangga supaya sejajar dengan kotakku.
Aku memperhatikan tangannya waktu melakukan itu, dan entah kenapa dadaku terasa aneh.
Bel berbunyi.
Kami berdiri. Aku memasukkan dua kotak ke tas, dan tasnya sekarang jauh lebih ringan, dan itu terasa seperti sesuatu.
Kami jalan ke pintu samping bareng. Dia melambat lagi tanpa aku minta.
Dan di situlah aku sadar.
Bukan pas dia bilang makasih. Bukan pas dia menghabiskan buncis yang keasinan.
Waktu aku mengeluarkan kotak dari tas tadi, dia bertanya “dua?”.
Bukan “buat siapa yang satu lagi”. Bukan “kamu bawa dua?”.
Cuma “dua?”, dengan nada orang yang sedang melihat sesuatu yang jumlahnya salah.
Aku berhenti jalan.
Dua minggu aku memperhatikan orang ini. Aku tahu jam berapa dia datang, di mana dia duduk, wastafel mana yang dia cek. Aku punya empat belas halaman di buku catatanku.
Dan tidak ada satu baris pun yang menyebut dia membawa bekal.
Tidak sekali pun. Tidak pernah ada kotak, tidak pernah ada tas kresek, tidak pernah ada apa pun kecuali roti dari kantin dan satu botol air mineral.
“Kirana?”
Dia sudah tiga langkah di depan, menoleh ke belakang, menungguku.
“Iya,” kataku. “Iya, jalan.”
Aku jalan. Tapi malam itu aku membuka buku catatanku dan membalik semua halaman dari awal, satu per satu, sampai jam sebelas.
Empat belas halaman. Dua minggu.
Nol.
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal reading
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan