Chapter Twenty Seven
Anak yang Nyusahin
POV: Kirana
Aku menangis di dapur rumah orang selama kira-kira empat menit, dan aku ingin mencatat bahwa itu bukan rekor pribadiku.
Waktu aku keluar, dia sudah duduk di kursi kayu, ponsel di meja, layarnya sudah mati.
“Kak, aku minta maaf.”
“Duduk dulu.”
“Aku tau aku nggak berhak—“
“Kirana. Duduk.”
Aku duduk di sofa.
Dia tidak marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk marah, dan aku bahkan sudah menyusun urutan permintaan maafku di dapur tadi, dan sekarang urutan itu tidak ada gunanya sama sekali.
“Bapak nutup telepon nggak pakai salam,” katanya.
“Kak, aku—“
“Tiga tahun. Baru sekali ini.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Aku ngerusak sesuatu.”
“Nggak.”
“Kak, aku ngomong ke bapak Kakak. Aku nggak kenal beliau. Aku bahkan nggak pernah lihat mukanya.”
“Iya.”
“Terus kenapa Kakak nggak marah?”
Dan dia bilang, “Karena aku nggak bisa nyusun kalimat yang kamu bilang barusan selama tiga tahun.”
Kami duduk di ruang tamu itu cukup lama.
Jam sudah setengah sepuluh pagi. Matahari sudah tinggi. Dari luar terdengar suara anak-anak main di gang.
“Kak.”
“Hm.”
“Boleh aku minta satu hal?”
“Apa.”
“Repotin aku.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Apa?”
“Repotin aku,” ulangku. “Sekali aja. Hari ini.”
“Kirana—“
“Aku serius.” Aku menegakkan badan. “Kakak nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun. Aku udah ngitung, Kak. Tiga bulan. Nol.”
“Aku pernah minta kamu ambilin obeng.”
“ITU BUKAN MINTA, ITU NYURUH ORANG YANG LAGI BERDIRI DI SEBELAH KOTAK OBENG.”
Dia diam.
“Kak, aku mau jadi orang yang nyusahin buat Kakak,” kataku. “Sekali aja. Aku mau tau rasanya.”
“Rasanya apa?”
“Rasanya Kakak butuh aku.”
Ruangan itu sepi.
Aku sudah menyiapkan lima kemungkinan jawaban.
Dia bisa bilang “nggak usah”. Dia bisa bilang “oke” lalu meminta sesuatu yang sepele supaya aku puas — ambilkan air, tolong tutup jendela. Dia bisa mengalihkan topik. Dia bisa diam tujuh detik seperti biasa.
Yang dia lakukan bukan salah satu dari kelimanya.
Dia berkata, “Aku nggak tau caranya.”
“Kak.”
“Aku serius.” Dia melihat ke lantai. “Aku nggak bohong dan aku nggak lagi merendah. Aku beneran nggak tau caranya.”
“Kak, itu gampang. Kakak tinggal bilang ‘Kirana, tolong—‘“
“Aku tau kalimatnya.”
“Terus?”
“Aku nggak tau isinya.”
Dia berdiri dan jalan ke jendela. Dia sering melakukan itu kalau tidak tahu harus menaruh badannya di mana.
“Coba kamu tanya aku sesuatu,” katanya.
“Apa?”
“Apa aja. Yang biasanya orang mau.”
Aku berpikir.
“Kakak mau makan apa hari ini?”
“Apa aja.”
“Kak.”
“Aku nggak bohong.”
“Ya masa nggak ada makanan yang Kakak pengen.”
“Ada,” katanya. “Dulu.”
Dia berdiri menghadap jendela.
“Waktu kecil aku suka ayam kecap. Yang kecapnya kebanyakan, sampai nasinya jadi cokelat.” Dia diam sebentar. “Aku minta itu terus. Tiap minggu. Sampai Ibu ngeluh.”
Aku memegang bantal sofa.
“Terus?”
“Terus setelah beliau nggak ada, Bapak masak ayam kecap sekali.” Dia bicara dengan nada biasa, nada yang sama seperti waktu dia menjelaskan soal engsel pintu. “Rasanya beda. Bapak nggak salah, cuma beda. Dan Bapak berdiri di dapur nunggu aku makan.”
“Kak—“
“Aku bilang enak. Terus aku bilang aku udah nggak terlalu suka ayam kecap.”
Aku menutup mata.
“Umur berapa, Kak?”
“Dua belas.”
“Kakak umur dua belas dan Kakak mikirin perasaan bapak Kakak?”
“Ya.”
“Kak, itu—“ Suaraku hilang. “Itu bukan tugas anak umur dua belas.”
“Aku tahu sekarang.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Waktu itu aku nggak tahu itu tugas siapa. Aku cuma tahu kalau aku bilang nggak enak, Bapak bakal masak lagi minggu depan, dan gagal lagi, dan berdiri di dapur lagi.”
Dia berbalik dari jendela.
“Habis itu jadi kebiasaan,” katanya. “Gitu aja. Nggak ada kejadian besar. Cuma satu kali bilang ‘aku udah nggak terlalu suka’, terus lima tahun.”
Aku tidak bisa bicara selama mungkin satu menit.
Waktu aku bisa, yang keluar bukan yang aku rencanakan.
“Kak, tolong minta sesuatu ke aku.”
“Kirana.”
“Apa aja. Sekecil apa pun. Aku nggak peduli kalau itu bodoh.”
“Aku—“
“Kak, tolong.” Suaraku pecah dan aku tidak berusaha menutupinya. “Aku nggak minta Kakak berubah. Aku nggak minta Kakak cerita semuanya. Aku cuma minta satu hal, satu, yang Kakak mau, dari aku.”
Dia berdiri di dekat jendela.
Dan dia berdiri di situ lama sekali.
Aku menghitung. Aku selalu menghitung. Enam puluh delapan detik.
Enam puluh delapan detik untuk memikirkan satu hal yang dia inginkan, dan itu adalah hal paling menyakitkan yang pernah aku saksikan seumur hidupku, karena aku bisa memikirkan lima puluh hal yang aku mau dalam waktu tiga detik.
Lalu dia bicara.
“Belnya.”
Aku mengangkat kepala.
“Bel?”
“Bel rumah ini.” Dia tidak menoleh. “Kalau kamu ke sini, pencet dua kali.”
“...Dua kali?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan dia bilang:
“Karena kalau cuma sekali, aku nggak yakin itu buat rumah ini.”
Aku menangis di ruang tamu itu, di sofa, dengan suara, dan aku tidak berusaha menahannya sama sekali.
Aku menangis karena aku mengerti persis apa artinya kalimat itu.
Bel itu berbunyi setengah. Rusak sebelah. Bunyinya seperti kehabisan napas.
Dan selama dua tahun tidak ada yang pernah membunyikannya, sampai aku, hari Minggu bulan Oktober, memencetnya tiga kali karena panik.
Selama dua tahun, kalau ada bunyi di gang itu, dia tidak pernah punya alasan untuk berpikir bunyi itu untuk dia.
“Kirana.”
“Sebentar, Kak.”
“Kamu nggak usah—“
“AKU BILANG SEBENTAR.”
Dia diam.
Dia berdiri di tengah ruang tamunya sendiri, memegang tangannya sendiri, dan tidak tahu harus berbuat apa terhadap orang yang menangis di sofanya, dan aku bisa melihat itu dari sela jariku dan itu membuatku menangis lebih keras.
Aku selesai. Akhirnya.
Aku mengelap muka dengan lengan bajuku, kasar, dan menarik napas tiga kali.
“Oke.”
“Oke?”
“Dua kali. Aku catat.” Aku mengeluarkan buku catatanku dari tas, membukanya, dan menulis di halaman hari itu dengan huruf besar-besar sampai satu baris penuh. “Nih. Udah. Permanen. Nggak bisa dihapus.”
Dia melihat bukunya.
Itu pertama kalinya dia melihat isi buku itu, dan aku baru menyadarinya setengah detik kemudian, dan aku hampir menutupnya.
Aku tidak menutupnya.
Dia membaca satu baris itu. Cuma satu baris, yang paling besar, yang paling baru.
Dia tidak membaca yang lain, walaupun halaman itu terbuka penuh dan ada tiga baris lain di atasnya.
“Kak, Kakak boleh baca yang lain.”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Itu punya kamu.”
Aku menutup bukunya dan memeluknya di dada.
Aku pulang jam empat, seperti biasa.
Dia mengantar sampai pagar, seperti biasa.
“Kak.”
“Hm.”
“Minggu depan aku dateng lagi ya.”
“Iya.”
“Aku pencet dua kali.”
“Iya.”
Aku sudah jalan lima langkah waktu aku berhenti, dan berbalik, dan lari kembali ke pagar.
Dia masih berdiri di situ.
“Kak.”
“Kenapa?”
Aku memegang pagar hijau itu dengan dua tangan.
“Kalau nanti aku pencet belnya dua kali, dan Kakak nggak buka pintunya,” kataku, “aku bakal pencet terus sampai Kakak buka. Aku nggak peduli sampai berapa lama.”
Dia melihatku dari balik pagar.
“Kirana.”
“Iya.”
“Kamu nggak akan sampai pencet dua kali.”
“Kok?”
“Aku bakal udah di teras.”
- 1 Enam Belas Menit Sebelum Bel
- 2 Cahaya dan Sisanya
- 3 Adik Siapa
- 4 Klub Jurnalistik Punya Alasan
- 5 Rapat yang Tidak Perlu Dua Orang
- 6 Bekal
- 7 Payung Satu
- 8 Manajer Bayangan
- 9 Dua Tahun Catatan
- 10 Minggu, Jam Delapan
- 11 Rumah yang Terlalu Rapi
- 12 Yang Naka Tahu
- 13 Yang Kira Bawa
- 14 Tangga Pertama
- 15 Bukan Karena Kasihan
- 16 Hari Pertama dan Tidak Ada yang Berubah
- 17 Berita yang Tidak Terbit
- 18 Ketua dan Sekretaris
- 19 Studi Tour
- 20 Kamar yang Tidak Boleh Dibuka
- 21 Poni
- 22 Perang Bekal
- 23 Festival
- 24 Yang Anindya Serahkan
- 25 Kliping
- 26 Telepon Kedua
- 27 Anak yang Nyusahin reading
- 28 Pak Herman
- 29 Yang Naka Tidak Pernah Ceritakan
- 30 Delapan Detik
- 31 Yang Pertama Kali Memeluk
- 32 Pintu yang Nanti
- 33 Mama Tunggu Pialanya
- 34 Yang Diajarkan Mama
- 35 Sekutu
- 36 Pertandingan Terakhir
- 37 Marah
- 38 Telepon Ketiga
- 39 Yang Anindya Ucapkan Terakhir
- 40 Poni
- 41 Lapangan
- 42 Yang Kira Lihat
- 43 Iya. Aku.
- 44 Kelulusan